oleh :Sutihat Rahayu Suadh


Gambar

KHILAFAH MENURUT KITAB FIKIH HAJI SULAIMAN RASYIDIlmu Pengetahuan itu milik orang mukmin yang hilang. Di mana saja ia menemukannya, dia lebih berhak atasnya (Hadis Riwayat At-Turmudzy)Salah satu wujud keindahan dan kesempurnaan ajaran agama Islam adalah fikih. Di dalamnya setiap orang bisa membaca aturan-aturan yang praktis. Sebuah ajaran yang, mengutip kata-kata Muhamad Iqbal, mengarahkan manusia pada tindakan dan bukan sekadar wacana.

Kecintaannya pada Islam membawa Sulaiman Rasjid (1926) belajar ke sekolah Mualim, sekolah guru, di Mesir. Kemudian ia melanjutkan ke Perguruan Tinggi Al-Azhar Kairo Mesir, Jurusan Takhashus Fiqh (Ilmu Hukum Islam) dan selesai 1935.

Di sinilah lelaki bersahaja ini lebih mendalami bahasa Arab sebelum akhirnya menyusun kitab fikih. Ini bukanlah sekadar usaha menyalin atau menerjemahkan hukum Islam ke dalam bahasa Indonesia. Sulaiman Rasjid harus “menaklukkan” kompleksitas bahasa Arab. Tata bahasa Arab pun sangat rasional dan saksama, tapi rumit, apalagi jika dibanding dengan bahasa Indonesia. Bahkan, bunyi suatu kata dapat mengakibatkan perbedaan arti yang sangat jauh. Namun, semua ini tidak membuat semangat Rasjid berkurang sedikit pun. Justru ia makin gigih memahami keunikan dan kekayaan bahasa Arab.

Berkat usaha Sahabat Utsman bin Affan ra., mengumpulkan ayat-ayat Alquran yang berserakan, kemudian dibukukan, umat Islam (bahkan non-Islam) banyak memetik manfaat besar dari Alquran. Demikian pula, berkat upaya Haji Sulaiman Rasjid menyusun buku fikih versi Indonesia, umat Islam di negeri ini bisa meraih hikmah sebanyak-banyaknya.

Namun, pengabdian Rasjid bukan cuma untuk agamanya. Ia juga seorang pemikir dan pejuang bangsa. Pada 1936, bapak delapan anak ini ditunjuk Belanda sebagai ketua Penyelidik Hukum Agama di Lampung. Dalam rentang 1937–1942, dia menjadi pegawai tinggi agama pada kantor Syambu dalam era pendudukan Jepang. Namun, kedudukan yang diembannya tidak menghalanginya mengangkat senjata. Setahun menjelang kemerdekaan, Sulaiman berjuang di Kalianda bersama tokoh setempat, H. Ali.

Setelah Indonesia merdeka, Presiden Sukarno menugaskannya ke Departemen Agama Republik Indonesia, lantas menjadi kepala Jawatan Agama Republik Indonesia Jakarta (1947–1955) lalu memangku amanat sebagai kepala Perjalanan Haji Indonesia.

Dalam tahun itu pula ia menjadi staf ahli Kementerian Agama Republik Indonesia sekaligus menjadi asisten dosen Perguruan Tinggi Agama Islam (PTIAN) Jakarta sembari mengajar sebagai dosen PTAIN Yogyakarta. Tahun 1960, Sulaiman Rasjid diangkat menjadi guru besar Ilmu Fikih.

Ayah delapan putra-putri dan kakek 20 cucu ini juga tercatat sebagai pendiri IAIN Radin Intan Lampung tahun 1964 silam. Sulaiman, yang amat menekankan nilai-nilai pendidikan dan mewajibkan semua anaknya menempuh pendidikan tinggi, wafat 26 Januari 1976 dan dimakamkan di TPU Pakiskawat Enggal, Bandar Lampung.

Salah satu kitab fiqih lengkap paling populer yang ditulis dalam bahasa Indonesiaoleh penulis asli Indonesia adalah Kitab “Fiqh Islam” karya H. Sulaiman Rasjid. Kitab fiqih ini –menurut penerbit, Sinar Baru Algesindo–menjadi salah satu rujukan di sekolah menengah dan perguruan tinggi Islam di Indonesia dan Malaysia. Popularitas buku ini bisa dilihat dari seringnya cetak ulang terhadap buku ini. Buku yang saya miliki merupakan cetakan ke 40, tahun 2007. Cetakan pertama tak disebutkan, namun ‘Kata Pengantar’ dari HAMKA sedikit memberi gambaran.‘Kata Pengantar’ tersebut bertahun 1954.

Salah satu kekuatan buku ini adalah merujuk langsung kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, tak fanatik terhadap satu madzhab, namun sekaligus tidak menafikan pendapat ulama-ulama madzhab tersebut. Ini merupakan kewajaran, karena sang penulis memang berasal dari kalangan ‘kaum muda’.
Perlu diketahui juga, H. Sulaiman Rasjid yang lahir tahun 1896 ini memperolehpendidikan agama di Perguruan Tawalib, Padang Panjang, kemudian dilanjutkan di sekolah guru Mualimin, Mesir, setelah itu dilanjutkan ke Perguruan Tinggi Al-Azhar jurusan Takhashshush Fiqh di Kairo, Mesir. Dalam karir intelektual, beliau tercatat pernah menjadi Rektor mata kuliah Ilmu Fiqh di IAIN Jakarta pada tahun 1962 – 1964, dan menjelang masa pensiun, beliau diangkat menjadi Rektor IAIN Lampung.
H. Sulaiman Rasjid di kitab beliau Fiqh Islam mencantumkan satu kitab (ket: yang dimaksud dengan ‘kitab’ adalah ‘bab’ menurut lazimnya penulisan sekarang) bernama Kitab al-Khilafah. H. Sulaiman Rasjid mendefinisikan al-Khilafah dengan “suatu susunan pemerintahan yang diatur menurut ajaran agama Islam, sebagaimana yang dibawa dan dijalankan oleh Nabi Muhammad Saw. semasa beliau hidup, dan kemudian dijalankan oleh Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abu Talib). Kepala negaranya dinamakan khalifah.”
Beliau, sebagaimana banyak penulis kitab fiqih lainnya, menyatakan bahwa hukum mendirikan khilafah adalah kewajiban atas semua kaum muslimin. Berikut pernyataan beliau,“Kaum muslim (ijma’ yang mu’tabar) telah bersepakat bahwa hukum mendirikan khilafah itu adalah fardu kifayah atas semua kaum muslim.” Beliau menyebutkan alasan kewajiban mendirikan khilafah adalah berdasarkan:(1) Ijma’ Shahabat, sehingga mereka (para shahabat) mendahulukan musyawarah untuk memilih khalifah daripada menyelesaikan pengurusan jenazah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; (2) Kaidah Maa laa yatimmu al-waajib Illaa bihi fahuwa waajib, tidak mungkin dapat menyempurnakan kewajiban –misalnya membela agama, menjaga keamanan, dan sebagainya– selain dengan adanya khilafah; dan (3)beberapa ayat al-Quran dan al-Hadits.
Tentang berbilangnya pemimpin bagi umat Islam, H. Sulaiman Rasjid menulis,“Menurut asal hukum syara’ Islam, diwajibkan adanya pimpinan pemerintahan yang satu di seluruh negeri Islam sebagaimana yang ada di masa khalifah-khalifah di zaman keemasannya. Kata Mawardi dalam kitab Al-Ahkamus Sultaniyah,‘Apabila terdapat dua imam di dua negeri Islam, pimpinan keduanya tidak sah, sebab pada umat Islam tidak boleh ada dua khalifah’.”
Memang H. Sulaiman Rasjid termasuk ulama yang mentolerir berbilangnya pemimpin bagi umat Islam, seperti pernyataan beliau,“Adapun sesudah agama Islam tersiar meluas di seluruh dunia, timur dan barat, selatan dan utara, serta didorong pula oleh beberapa kepentingan dan dipaksa oleh keadaan-keadaan serta kesulitan-kesulitan politik, mau tak mau pimpinan Islamiyah (khalifah) pada abad kedelapan Masehi (kedua Hijriah) terjadi dua daulah Islamiyyah:(1) Daulah Abbasiyah di timur (Bagdad),(2) Daulah Umawiyyah di barat, di Andalus, yaitu Spanyol.”
Atau pernyataan beliau,“Al-Khilafah dapat ditegakkan dengan perjuangan umat Islam yang teratur menurut keadaan dan tempat masing-masing umat, baik berbentuk nasional untuk sebagian kaum muslim yang merupakan suatu bangsa yang memperjuangkan suatu negara yang telah mereka tentukan batas-batasnya,–sebagaimana telah terjadi mulai dari Khilafah Umawiyah, Khilafah Abbasiyah, dan lain-lain sesudah itu; khilafah-khilafah itu diakui dan ditaati oleh ulama muslim– ataupun berbentuk umum (internasional) untuk seluruh umat Islam sedunia.”
Namun hal ini harus dilihat dari sisi:(1) Beliau dengan sangat gamblang menyatakan bahwa hukum asal dalam Islam adalah hanya boleh ada satu khalifah bagi seluruh umat Islam;(2) Kebolehan berbilangnya pemimpin merupakan kajian fakta dan sejarah umat Islam. Jika ada kajian fakta kontemporer dengan analisa yang lebih tajam dan kajian yang lebih mendalam yang menyebutkan bahwa sangat mungkin umat Islam bersatu dalam satu negara, di bawah pimpinan satu orang khalifah, maka tentu kita harus kembali ke hukum asal seperti di poin (1) tersebut.

(3) H. Sulaiman Rasjid tetap menegaskan bahwa fardhu kifayah atas umat Islam sedunia berusaha mencari jalan untuk menyatukan pimpinan. Kewajiban ini tetap hingga tercapainya tujuan yang diinginkan, yaitu bersatunya seluruh umat Islam di bawah pimpinan seorang khalifah.

Sekarang, mari kita lihat apa yang terjadi dengan banyaknya negara-negara yang dihuni oleh mayoritas umat Islam, tak mungkinkah mereka bersatu? Atau masalah sebenarnya bukan mungkin atau tidak mungkin, melainkan mau atau tidak mau?
Masalah besar berikutnya adalah seluruh negara-negara tersebut tak menerapkan Syariah Islam secara kaffah, paling banter mungkin Arab Saudi, namun Arab Saudi pun tak menerapkan Syariah Islam dalam sistem pemerintahan dan politik luar negeri. Apalagi Indonesia, alih-alih menerapkan Syariah Islam, yang ada para pejuang syariah malah dicurigai dan dituduh teroris.
Lihatlah juga bagaimana masing-masing negara tak peduli dengan nasib saudara muslimnya di negara lain. Umat Islam Indonesia banyak yang tak peduli dengan nasib saudara seimannya di Palestina, Irak, Afghanistan, dan negeri-negeri lain yang sedang dijajah kaum kuffar. Fakta kontemporer ini harus dikaji secara mendalam, diketahui akar masalahnya dan diberikan solusinya.
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.
janji Allah sangat benar….tiada keraguan lagi…
|Tujuan Hizbut Tahrir adalah melangsungkan kembali kehidupan Islam, mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Tujuan ini bermakna mengembalikan kaum Muslim ke kehidupan islami di Darul Islam dan masyarakat Islam. Di dalamnya seluruh urusan kehidupan masyarakat berjalan sesuai dengan hukum-hukum Islam dan sudut pandang masyarakat adalah halal dan haram di bawah naungan Daulah Islamiyah, yakni Daulah Khilafah, yang di dalamnya kaum Muslim mengangkat seorang khalifah yang dibaiat atas dasar pendengaran dan ketaatan, untuk berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, dan untuk mengemban Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad (Hizb at-Tahrir, hlm. 6).Benar, kekuasaan dibutuhkan untuk bisa melanjutkan kehidupan Islam, namun itu bukanlah tujuan. Kekuasaan hanyalah thariqah (metode) untuk melanjutkan kehidupan Islam dengan menerapkan syariah Islam secara menyeluruh.
Advertisements