oleh : Sutihat rahayu suadh

1Pengertian Globalisasi

Globalisasi adalah proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspekkebudayaan lainnya.[1][2] Kemajuan infrastruktur transportasi dan telekomunikasi, termasuk kemunculan telegraf dan Internet, merupakan faktor utama dalam globalisasi yang semakin mendorong saling ketergantungan (interdependensi) aktivitas ekonomi dan budaya.[3]

Meski sejumlah pihak menyatakan bahwa globalisasi berawal di era modern, beberapa pakar lainnya melacak sejarah globalisasi sampai sebelum zaman penemuan Eropa dan pelayaran ke Dunia Baru. Ada pula pakar yang mencatat terjadinya globalisasi pada milenium ketiga sebelum Masehi.[4][5] Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, keterhubungan ekonomi dan budaya dunia berlangsung sangat cepat.

Istilah globalisasi makin sering digunakan sejak pertengahan tahun 1980-an dan lebih sering lagi sejak pertengahan 1990-an.[6] Pada tahun 2000, Dana Moneter Internasional (IMF) mengidentifikasi empat aspek dasar globalisasi: perdagangan dan transaksi, pergerakan modal daninvestasi, migrasi dan perpindahan manusia, dan pembebasan ilmu pengetahuan.[7] Selain itu, tantangan-tantangan lingkungan sepertiperubahan iklim, polusi air dan udara lintas perbatasan, dan pemancingan berlebihan dari lautan juga ada hubungannya dengan globalisasi.[8] Proses globalisasi memengaruhi dan dipengaruhi oleh bisnis dan tata kerja, ekonomi, sumber daya sosialbudaya, dan lingkungan alam. (http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi)

Menurut asal katanya, kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dannegara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.

Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama. Theodore Levitte merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah Globalisasi pada tahun 1985.

Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan globalisasi:

  • Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.
  • Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.
  • Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.
  • Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal.
  • Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda dengan keempat definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masing-masing negara masih mempertahankan status ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia global memiliki status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.

 Ciri globalisasi

Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena globalisasi di dunia;

Hilir mudiknya kapal-kapal pengangkut barang antar negara menunjukkan keterkaitan antar manusia di seluruh dunia.

  • Perubahan dalam Konstantin ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, daninternet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda.
  • Pasardan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO).
  • Peningkatan interaksikultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional). saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.
  • Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional,inflasi regional dan lain-lain.

Kennedy dan Cohen menyimpulkan bahwa transformasi ini telah membawa kita pada globalisme, sebuah kesadaran dan pemahaman baru bahwa dunia adalah satu. Giddens menegaskan bahwa kebanyakan dari kita sadar bahwa sebenarnya diri kita turut ambil bagian dalam sebuah dunia yang harus berubah tanpa terkendali yang ditandai dengan selera dan rasa ketertarikan akan hal sama, perubahan dan ketidakpastian, serta kenyataan yang mungkin terjadi. Sejalan dengan itu, Peter Drucker menyebutkan globalisasi sebagai zaman transformasi sosial.

Teori globalisasi

Cochrane dan Pain menegaskan bahwa dalam kaitannya dengan globalisasi, terdapat tiga posisi teoritis yang dapat dilihat, yaitu:

  • Paraglobalis percaya bahwa globalisasi adalah sebuah kenyataan yang memiliki konsekuensi nyata terhadap bagaimana orang dan lembaga di seluruh dunia berjalan. Mereka percaya bahwa negara-negara dankebudayaanlokal akan hilang diterpa kebudayaan dan ekonomi global yang homogen. meskipun demikian, para globalis tidak memiliki pendapat sama mengenai konsekuensi terhadap proses tersebut.
    • Paraglobalis positif dan optimistis menanggapi dengan baik perkembangan semacam itu dan menyatakan bahwa globalisasi akan menghasilkan masyarakat dunia yang toleran dan bertanggung jawab.
    • Paraglobalis pesimis berpendapat bahwa globalisasi adalah sebuah fenomena negatif karena hal tersebut sebenarnya adalah bentuk penjajahan barat (terutamahttp://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat”>Amerika Serikat) yang memaksa sejumlah bentuk budaya dan konsumsi yang homogen dan terlihat sebagai sesuatu yang benar dipermukaan. Beberapa dari mereka kemudian membentuk kelompok untuk menentang globalisasi (antiglobalisasi).

Globalisasi ini tidak terjadi serta merta. Pada awalnya manusia kebanyakan bekerja sebagai petani/agrarian. Pada fase ini mereka bertahan hidup baik secara individu maupun kelompok, tetapi menggantungkan hidupnya pada tanah, dan para pekerja yang bersifat komunitas local.  Para petani masih dengan peralatan yang sangat sederhana, bahkan tidak jarang berpindah dari satu lahan ke lahan lainnya, ketika kesuburan tanah sudah mulai berkurang.

Karena pertumbuhan jumlah penduduk yang menyebabkan keterbatasan kepemilikan lahan, dan mulai berkembangnya pengetahuan, manusia mulai menjalani fases berikutnya, yaitu industrialisasi. Industrialisasi ini ditandai oleh beberapa hal, antaralain:

  1. literacy – manusia sudah mulai melakukan komunikasi secara intesive tidak hanya secara langsung melainkan sudah mulai menggunakan teknologi dan sistem organisasi yang efisien.
  2. Para pekerja pada fase ini pun tidak lagi hanya berasal dari satu daerah saja melainkan sudah bercampur dengan para pekerja dari daerah lain. Artinya bahwa di era modernisasi dari segi informasi, komunikasi dan telekomunikasi sudah jauh lebih baik dibandingkan pada masa primitif, karena sudah dengan cempat dapat melampui batas-batas wilayah bahkan negara.

Interaksi dan cara berfikir yang sudah lebih maju di era globalisasi tidak hanya menyebabkan terjadinya sharing budaya dalam artian fisik seperti bercampurnya bahasa satu dengan lainnya, melainkan juga memungkinkan terjadinya sharing cara berfikir. Bahkan keragaman yang ditemukan juga mendorong terjadinya upaya melakukan standardisasi terhadap persepsi yang berkembang di tengah masyarakat supaya nilai subjektifitas yang berkembang bisa diminimalisir. Interaksi yang mendalam di tengah masyarakat ini berlangsung secara berkelanjutan, baik dalam bidang sosial, ekonomi, dan berbagai aspek kehidupan lainnya.

2Islam dan Globalisasi

Era ini sering disebut sebagai era global. Manusia hidup dengan segala bentuk kemajuan. Modernisasi yang berlangsung disegala bidang menyebabkan banyak komentar bahwa globalisasi merupakan suatu kemestian yang tidak bisa dihindari. Siap atau tidak siap, globalisasi sudah masuk dalam ruang kehidupan kita sehari-hari. Handphone, televisi, internet, dan sejenisnya merupakan media globalisasi yang kita pakai. Pertukaran budaya dan pemikiran lintas wilayah dan negara menggejala. Dalam konteks ini, islam mempunyai persoalan serius dengan globalisasi. Barat menuduh islam sebagai agama yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Islam adalah agama abad ke-7 yang bersumber dari Alquran dan sunnah yang statis, sementara kehidupan senantiasa dinamis berkembang. Tentu saja islam dinilai tidak mampu mengimbangi kemajuan yang begitu cepat.

Lebih dari itu, sekarang di kenal adanya global chaos theories. Maksudnya bahwa sekarang sudah terjadi perang baru pasca berlangsungnya perang dingin. Perang baru itu, bukan lagi atas nama ekonomi, atau sekedar ideologi, tapi lebih konkret dalam bentuk perang antar agama, misalnya islam dan kristen. Menurut barat, perang seperti ini tidak lagi bisa dihindari.

Franciscus Fukuyama misalnya, ia menulis buku yang berjudul  the end of history, yang menggambarkan bahwa sekarang ini tidak ada lagi perang serius dalam hal pemikiran/ideology. Barat dengan paham liberalismenya sudah memenangkan peperangan melawan komunisme. Terbukti bahwa uni soviet sudah kolaps. Dan seterusnya semua ideology harus sesuai dengan ideology barat sebagai pemenang.

Pendapat Fukuyama tersebut “dibantah”[1] oleh Samuel Huntington. Huntington justru menggambarkan bahwa barat sekarang mempunyai musuh baru, yaitu Islam. Menurut Huntington salah satu penyebab konflik ini adalah karena penolakan islam terhadap globalisasi sementara barat melahirkan dan mendukung globalisasi tersebut. Islam dinilai tidak mampu menyesuaikan diri terhadap perkembangan kondisi. Islam mengganggap globalisasi hanya akan merugikan, karena menyebabkan beberapa kondisi.

Paling tidak ada beberapa hal yang menjadi pengaruh globalisasi di tengah umat islam, antaralain:

  1. keterasingan agama dalam proses globalisasi (religion’s salience within globalizing processes).
  2. munculnya gerakan Islam radikal (radical Islam’s)
  3. peningkatan jumlah sekularisme sebagai diskursus (the rise of secularism as a dominant discourse)

Dalam proses globalisasi ini, menurut Sadowski, akan terjadi proses yang terpragmentasi, penghilangan kedaulatan Negara, dan lahirnya loyalitas kepada system sosial, budaya dan agama baru, yaitu globalisasi. Karena itu, dalam pandangan Islam, globalisasi sebenarnya tidak lebih dari bentuk dominasi barat terhadap dunia Islam karena peradaban yang muncul adalah hakikatnya peradaban barat – kapitalisme, demokrasi, dan liberalisme.

Pandangan tersebut muncul dari pandangan bahwa globalisasi dilahirkan dari modernisasi. Menurut barat, modernisasi hanya bisa dilakukan ketika dilakukan sekularisme, yaitu pembedaan urusan agama dengan dunia. Hal ini rill terjadi dalam sejarah Kristen di Eropa.

Jika globalisasi sudah sedemikian berkembang di dunia, termasuk di Negara-negara Islam, maka sebenarnya ada kemiripan dalam hal hubungan yang tidak mengenal batas-batas Negara dengan Islam. Islam mengenal konsep ummah, yang dinilai sebagai sebuah komunitas masyarakat muslim yang hidup dalam ikatan persaudaraan yang melintasi batas-batas negara dengan prinsip syariat yang mereka jalankan atau ingin dijalankan.

Hanya saja oleh barat, mereka sering dikenal sebagai kelompok islam fundamental karena dinilai menerapkan islam dengan cara yang sangat literal, tanpa adanya kompromi, interpretasi atau penyesuaian terhadap perkembangan zaman. Kelompok ini menurut barat adalah mereka yang sudah menjadikan islam sebagai budaya, dan budaya itu sebagai islam. Satu hal lagi yang sulit dipahami oleh barat adalah ketaatan mereka terhadap ulama sebagai pemimpin mereka.

Menurut barat, seharusnya yang dilakukan adalah tidak dengan membangun bangsa berdasarkan ikatan agama, melainkan berdasarkan budaya etnis. Ikatan agama dalam bernegara hanyalah peninggalan dari ajaran agama abad ketujuh yang tidak pernah berubah. Bagaimana mungkin suatu dinamisasi yang berlangsung dan berubah cepat di tengah masyarakat hanya diselesaikan dengan Alquran dan hadits yang bersifat stagnan.

Barat berfikir bahwa islam tidak mampu menyesuaikan diri dari globalisasi yang berkembang. Padahal seharusnya dunia islam merupakan subjek atau aktor yang mempunyai potensi sama seperti negara-negara non muslim yang berhasil. Oleh karena itulah seharusnya simbol-simbol agama yang selama ini banyak digunakan harus ditinggalkan dan menggantikannya dengan budaya etnis.

Atau yang lebih halus adalah pendapat Gellner (Gellner 1992, p. 22), yang menyatakan bahwa,

the world of Islam demonstrates that it is possible to run a modern, or at any rate modernizing, economy, reasonably permeated by the appropriate technological, educational, organizational principles, and combine it with a strong, pervasive, powerfully internalized Muslim conviction and identi.cation.

 

Hanya saja menurut beliau bahwa islam harus memberikan tafsir baru yang tidak sama dipahami dengan kebanyakan umat islam selama ini. Artinya islam adalah agama yang benar, tetapi dari segi penafsiran harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Sebenarnya mungkin tidak ada masalah dengan pemikiran ini apabila dibawah dalam urusan mu’amalah, justru membawa kemajuan yang lebih baik di kalangan umat islam. Namun ketika konsep tersebut menabrak sistem yang ada dalam pemahaman akidah, syariah dan ibadah umat islam, tentu akan menjadi persoalan serius.

Singkat cerita, apa yang ditawarkan barat tentang upaya mencapai kemajuan di tengah umat islam memunculkan perpecahan di kalangan muslim. Ada yang serta merta mengikuti pemikiran barat, tetapi banyak juga yang mencoba untuk tetap bertahan dengan pemahaman keislaman mereka. Kelompok pertama biasanya mereka yang sudah tinggal di daerah kota, borju, dan ketika memahami sesuatu selain dengan melihat tekstual Alquran dan Hadits, juga dengan intens melakukan penamsiran-penafsiran baru. Merekalah yang sering disebut sebagai the high muslim. Sementara kelompok kedua, dinilai sebagai barisan masyarakat yang keras, percaya magic, dan memahami sangat saklak dalam artian tekstual (low muslim). Kelompok inilah yang sering disebab ibu yang melahirkan sikap fundamentalisme di tengah umat islam.

Kaum fundmentalisme senantiasa bertahan dengan konsep ummah. Landasan pemahaman kelompok ini berdasarkan sejarah nabi, para sahabat dan kekhalifahan islamiyah. Jika tidak sampai pada taraf mendirikan kembali khalifah islamiyah, minimal mereka menginginkan tegaknya syar’iat islam di negara masing – masing. sumber : (gondayumitro.com/wp-content/uploads/2014/…/Islam-dan-globalisasi.do.id)

3. Dampak Globalisasi terhadap Islam

Tak ayal, kaum Muslim dunia telah memasuki sebuah era baru. Akhir dari Perang Dunia I diikuti dengan pembentukan Liga Nasional (League of Nations) dan Amerika berupaya membangun sebuah tatanan dunia yang didasarkan pada Asas Wilson yang selanjutnya menjadi bagian dari Deklarasi Amerika tentang Hak Asasi Manusia.

Sebagai dampak dari globalisasi terhadap dunia Islam telah dicatat oleh Feisal Abdul Rauf. Menurutnya, dalam kurun delapan puluh tahun, telah terjadi sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Islam, di antaranya:

  1. 1924, Dinasti Utsmaniyah berakhir dan Inggris, Prancis, dan Rusia memisahkan dinasti tersebut  menjadi sejumlah negara yang terpisah.
  2. 1947, India terpecah menjadi Pakistan dan India. Sebuah upaya terencana untuk menciptakan sebuah negara-bangsa Islam yang ditetapkan berdasarkan pertimbangan geografis.
  3. 1948, Israel dibentuk sebagai negara-bangsa Yahudi yang dalam batas wilayah dunia Muslim.
  4. 1979, Revolusi Khomeini di Iran.
  5. 1989, Tembok Berlin runtuh dan berakhirnya Perang Dingin yang mengubah kalkulasi politik dengan memandang Afganista dan dunia Islam.
  6. 11 September 2001, drama penyerangan bom bunuh diri dalam sejarah yang terjadi di daratan Amerika.
  7. 2003, untuk pertama kalinya militer Amerika menduduki Irak dengan ratusan ribu pasukan guna membentuk sebuah negara Irak baru.

Pada era globalisme, gerakan-gerakan Islam modern pun bermunculan dengan varian bentuknya. Oleh Bruce Lawrence disebutnya sebagai “pola interaksi antara Eropa dan dunia Islam”.

Gerakan militan Islam dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu: teologi, politik, budaya, dan pendidikan. Adalah aspek teologis yang menjadi isu sentral dalam uraian ini. Dalam konteks ini, aspek teologis dapat dijelaskan dari dua hal.Pertama, ajaran Islam sangat “resisten” terhadap perbedaan pandangan tentang sekularisasi. Fenomena modern tak ayal memunculkan pandangan bahwa sekularisasi hanya akan menihilkan peran agama dalam kehidupan umat manusia. Agama dan sekularisasi acap kali diposisikan sebagai dua entitas yang berlawanan, sehingga meniscayakan terjadinya penentangan terhadap konsep sekularisasi. Kedua, interpretasi terhadap dogma agama yang tertuang dalam teks. Fenomena ini adalah yang paling dominan dalam membentuk perbedaan paradigma keagamaan. Asumsi ini juga terbukti pada fenomena perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab fikih yang didasarkan oleh cara pembacaan terhadap teks ilahi yang sama namun menghasilkan produk fikih yang berbeda. Demikian halnya dengan gerakan militansi Islam besar peluangnya untuk dipengaruhi oleh cara pembacaannya terhadap teks al-Qur’an dan hadis.

Terkait dengan itu, fenomena “kebangkitan Islam” oleh John L. Esposito menyebutkan ada dua kecenderungan besar, yaitu identitas komunal dan demokratisasi. Keduanya adalah representasi tuntutan terhadap pemberdayaan rakyat dan pengakuan identitas dalam konteks aktivitas dan pengalaman manusia yang semakin global. Situasi dan kondisi yang khas di setiap wilayah dunia membentuk ekspresi kedua kecenderungan tersebut, sehingga terkadang saling melengkapi dan terkadang pula saling bertentangan. Kendati berbeda, namun perkembangan regional turut memengaruhi dan dipengaruhi oleh perkembangan global yang keduanya tidak dapat dipisahkan.

Tidak ada subjek diskusi publik kontemporer yang lebih menarik perhatian dan kebingungan kecuali diskusi seputar hubungan antara ‘Islam’ dan ‘Barat’; baik yang berkaitan dengan hubungan antara pemikiran Islam dan pemikiran Barat, hubungan antara negara-negara Islam dan negara-negara non-Islam, maupun hubungan antara orang Muslim dan orang non-Muslim yang terjadi di negara Barat; semua hubungan tersebut memiliki kecenderungan di kedua belah pihak, yakni kecenderungan untuk menuju ke arah sikap optimis dan kritis. Di sini sengaja dipilih term ‘kritis’ karena kelompok kedua ini tidak bisa dibilang pesimis terhadap globalisasi, namun mereka menerima globalisasi dengan kritis. Kekritisan tersebut kemudian memunculkan sikap kreatif dan inovatif dalam membendung dampak negatif globalisasi.

Bagaimana umat Islam menanggapi globalisasi yang telah mengubah banyak hal dalam kehidupan mereka?

  1. Optimis :Globalization from Below sebagai Sebentuk Perlawanan

Pihak yang optimis melihat globalisasi sebagai peluang bagi umat Islam untuk memberikan kontribusi sumbangan pemikiran agar Islam bisa diterima oleh peradaban global yang kini dominan. Akber S. Ahmed, adalah representasi dari sikap optimis semacam ini. Ahmed menguraikan temuannya ini dalam kapasitasnya sebagai intelektual Muslim yang banyak terlibat dengan media Barat sehingga tidak heran kalau realitas posmodernisme baginya adalah realitas media. Dalam hal ini, Ahmed memposisikan diri sebagai seorang posmodernis afirmatif.

            Hal ini bisa terlihat dari kegirangannya untuk menyambut semangat pluralisme-posmodernisme yang gaungnya di Barat sudah sangat kuat. Bila diterjemahkan dalam kontes hubungan Barat dan Islam, Ahmed membayangkan bahwa pluralism posmodernisme menjanjikan situasi yang lebih dialogis.

Dalam analisis Ahmed, globalisasi media yang disokong jaringan korporasi modal internasional telah menembus batasan kultural, geografis, dan negara sedemikian rupa sehingga beragam cara pandang bertemu dalam tingkat yang intensif. Dengan dukungan ajaib teknologi, media audio-visual bahkan mampu menghadirkan secara serentak beragam wacana menjadi satu paket sajian media. Dalam media; ide filsafat, khotbah, agama, fakta sejarah, science-fiction, dan budaya pop berkelindan menjadi satu.

Dalam Islam in the Age of Postmodernity, Ahmed menegaskan bahwa posmodernisme telah menyentuh sisi terdalam agama Islam; meliputi studi-studi Islam dan cara pandang para intelektual Muslim. Para intelektual Muslim yang menularkan perubahan drastis dalam paradigma studi Islam ini mayoritas berdiam di negeri-negeri Barat. Perubahan drastis ini, menurut Ahmed, dinisbatkan kepada fenomena yang disebut ‘globalisasi’. Merujuk definisi yang diberikan Anthony Giddens, Ahmed memaknai globalisasi identik dengan perkembangan secara di ranah teknologi, transportasi, serta informasi yang menyebabkan ujung dunia sekalipun bisa dijangkau dengan mudah.

Sebagai seorang intelelektual Muslim yang mengalami fase-fase awal perkembangan posmodernisme, Ahmed mengetengahkan contoh yang bagus dari proses globalisasi dengan mengamati kontroversi seputar Salman Rushdie yang terjadi di akhir tahun 1980-an di Inggris akibat penyebaran buku The Satanic Verses. Dalam waktu beberapa jam saja, perkembangan yang terjadi di Inggris langsung mendapat respon dari orang-orang Muslim yang hidup di belahan benua lain; mereka yang ada di Islamabad dan Bombay. Pada akhirnya, orang-orang Muslim yang memprotes tersebut rela mati demi mengutarakan protes keras mereka terhadap buku Salman Rusdie yang isinya menghina figur suci umat Islam, yakni Rasulullah Muhammad SAW. Timbul reaksi dari berbagai kalangan; pemerintah mengeluarkan pernyataan, media berbicara, editorial, ketegangan dan protes mewarnai perdebatan di media cetak maupun elektronik. Tidak pernah ada dalam sejarah sebuah peristiwa berkembang dan mendapat respon begitu cepat serta luas seperti kasus Salman Rusdie ini.

Bagaimana dengan internet? Menilik fenomena worldwide world atau yang populer dengan nama internet, sangat menarik ketika fenonema ini dihubungkan dengan keberadaan umat Islam yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Internet memunculkan apa yang dinamakan “globalizing the local”, yakni memasukkan wacana Islam normatif ke wacana Barat melalui teknologi informasi. Konteks ini berbicara tentang diaspora umat Islam, terutama yang berimigrasi di Eropa dan Amerika Utara. Mereka membangun komunitas Muslim yang solid di negara-negara Barat, yang oleh Benedict Anderson disebut “creole” dari information superhighway; aktor-aktor politik yang kekuatan politiknya terletak pada adopsi yang mereka lakukan terhadap teknologi yang memungkinkan mereka untuk mencetak secara elektronik dan mentransfer informasi. Internetlah yang telah menjadikan diaspora umat Islam di negeri Barat mampu mengekspresikan keyakinan agama mereka dengan sangat masif. Hal ini semakin menguatkan identitas mereka sebagai Muslim.

Lebih dari itu, Karim H. Karim memandang ‘encounter’ atau persentuhan diaspora umat Islam dengan internet di negara-negara Barat – terutama di Amerika Utara, Eropa dan Australia; sekaligus memunculkan fenomena baru yang dinamakan ‘diasporic faithful’. Fenomena ini menarik untuk dicermati karena ‘diasporic faithful’ telah menjadi salah satu aspek dari gerakan perlawanan yang disebut ‘globalization from below’. Ide mengenai ummah melingkupi seluruh dunia namun bersatu dalam beberapa ide dasar, prefigure sifat dasar diaspora yang mengglobal. Diaspora Muslim transnasional (yang dihubungkan oleh kelompok, asal negara, dan/atau aliansi politik) menggunakan teknologi yang menjadi bagian dari top-down globalization seperti telepon, fax, handphone, digital broadcasting satellite, dan internet. Uniknya, diaspora Muslim transnasional menggunakan teknologi ini untuk mengembangkan komunikasi alternatif dengan network yang mensupport sebuah globalization from below. Dalam beberapa kasus, network-network semacam ini mampu melakukan counter terhadap pembatasan yang dilakukan pemerintah negara-negara Muslim, misalnya the Kurdish MED-TV dan televisi yang dimiliki oleh Ahmadiyyah Internasional.

Seperti yang telah dijelaskan oleh Giddens, globalisasi pada pokoknya berarti proses interkoneksi yang terus meningkat di antara berbagai masyarakat sehingga kejadian-kejadian yang berlangsung di sebuah negara mempengaruhi negara dan masyarakat lainnya. Dunia yang terglobalisasi adalah dunia dimana peristiwa-peristiwa politik, ekonomi, budaya, dan sosial semakin terjalin erat dan merupakan dunia dimana kejadian-kejadian tersebut berdampak secara besar. Dengan kata lain, kebanyakan masyarakat dipengaruhi secara ekstensif dan lebih intensif oleh peristiwa yang terjadi di masyarakat lain. Peristiwa itu pada dasarnya berkaitan dengan kehidupan sosial, ekonomi, dan politik.

Menurut IMF (International Monetary Fund) sebagai salah satu institusi pilar globalisasi, globalisasi ekonomi adalah sebuah proses historis. Globalisasi merujuk pada integrasi ekonomi yang terus meningkat di antara bangsa-bangsa di muka bumi, terutama lewat arus perdagangan dan keuangan.

Sementara itu institusi pilar lain dari globalisasi, yakni Bank Dunia (World Bank), menyatakan bahwa inti globalisasi ekonomi adalah proses sharing kegiatan ekonomi dunia yang berjalan melanda semua masyarakat di berbagai negara dengan mengambil tiga bentuk kegiatan, yakni perdagangan internasional, investasi asing langsung dan aliran pasar modal.

  1. Kritis : Globalisasi Sarat denganWorldview Barat

Pihak yang pesimis memandang curiga pada globalisasi dengan beberapa alasan; antara lain :

Pertama, istilah ’globalisasi’ perlu ditelaah secara teliti. Ia bukanlah istilah yang bisa dimaknai secara subjektif. Artinya, globalisasi membawa agenda yang penuh dengan world-view Barat.

Dalam diskusi seputar globalisasi, jelas sudah bahwa istilah ‘globalisasi’ tidak melulu menjadi milik bidang ilmu bisnis namun menjadi diskusi interdisipliner dalam bidang ilmu sosial. Dalam konteks ini mungkin ada sebuah argumen yang menyatakan bahwa masing-masing definisi mengindikasikan istilah dari perspektif tertentu, namun pada akhirnya, seluruh definisi menggiring kepada globalisasi Anglo Saxon; yang pada akhirnya akan menuju ke satu bentuk comprehensive globalization yang melibatkan seluruh kekuatan yang akan mengarahkan dunia kepada sebuah desa buana (global village), mempersempit jarak, menghomogenkan budaya, mereduksi kedaulatan nasional dan batas-batas hubungan politik. Dalam konteks ini, para intelektual sepakat dengan Ali Mazrui serta intelektual-intelektual lain yang memiliki argumen bahwa ‘globalisasi’ merupakan “desanisasi dunia (villagization of the world)”. Bagaimanapun juga, konsep desanisasi dunia tidak dimaknai sebagai sebuah kulminasi positif dimana seluruh penduduk bumi akan bisa terlibat, sejajar, dan bahkan terintegrasi secara harmonis, namun globalisasi lebih mengacu kepada proses homogenisasi global yang dengan sengaja dikonstruk oleh kepentingan Amerika dan negara-negara Barat lainnya.

Mark Levine mengatakan bahwa pengalaman umat Islam terkait globalisasi dimaknai sebagai sebuah ‘a post-modern culturalism, yang berkaitan erat dengan apa yang disebut kulturalisasi politik dan ekonomi, sebagai momen yang menegaskan terjadinya globalisasi kontemporer. Mensikapi diskursus semacam ini, para intelektual Muslim meminta apa yang dinamakan ‘hak untuk berbeda’ secara kultural. Fokus para sarjana Muslim pada hak untuk berbeda secara kultural ini menjadi sangat krusial, sebab globalisasi dimaknai sebagai dasar pikiran atau legitimasi bagi semakin tingginya tingkat kemiskinan serta kesenjangan di antara negara-negara di dunia.

            Kedua, para intelektual Muslim sepakat, bahwa globalisasi menandai sebuah kontinuitas dominasi dan hegemoni Barat yang telah berlangsung selama ratusan tahun, dimana sekarang ini Amerika memanfaatkan globalisasi untuk meruntuhkan norma-norma politik, ekonomi, dan budaya yang eksis di negara-negara non Barat. Dalam konteks ini, Amerika menggunakan yayasan-yayasan budaya/ideologi globalisasi. Lewat yayasan-yayasan ini, Amerika ingin merealisasikan tujuan-tujuan imperialismenya tanpa menyebabkan reaksi-reaksi revolusioner, seperti yang pernah dilakukan oleh imperialisme Barat pada masa lalu. ‘Fine power’ (kekuatan yang menyenangkan),merupakan istilah yang sangat tepat untuk menggambarkan pemanfaatan yayasan-yayasan milik Amerika tersebut.

Pesimisme para sarjana Muslim seperti yang dijelaskan Mark Levine di atas, mendapatkan momennya ketika globalisasi tiba pada fase ketiga perjalanannya, yakni pasca Perang Dingin. Setelah Uni Soviet runtuh, praktis gravitasi politik internasional terpusat ke Amerika sehingga muncul istilah ’center’ dan ‘periphery’ yang dipopulerkan oleh Barry Buzan. Dominasi dan hegemoni politik kebijakan luar negeri Amerika Serikat semakin signifikan manakala peristiwa WTC 9/11 terjadi. Secara sepihak, George W. Bush yang kala itu menjabat sebagai presiden, mengeluarkan frase “axis of evil” yang ditujukan kepada siapapun yang berani menentang politik kebijakan luar negerinya.

Jika menilik pada latar belakang penolakan umat Islam terhadap globalisasi, maka globalisasi di sini diasosiasikan dengan Westernisasi, yang mereduksi bahkan mendekonstruksi nilai-nilai (values) non Barat. Westernisasi, secara spesifik dikatakan sebagai ghazwul fikri (perang pemikiran). Istilah ini mulai popular sejak tahun 1990. Buku pertama yang mengulas tentang ghazwul fikri adalah buku yang ditulis oleh A.S.Marzuq berjudul “Ghazwul Fikri” terbitan Pustaka al-Kautsar tahun 1990.

Istilah Westernisasi sendiri menandakan terdapatnya proses pengadopsian budaya Barat dalam bidang industri, teknologi, hukum, politik, ekonomi, gaya hidup, abjad, agama, filsafat, serta nilai-nilai.

Terlepas dari ketidaksepakatannya terhadap pihak-pihak yang melihat globalisasi sebagai sarana menyebarkan Westernisasi, serta menjadi semacam ”kutukan Barat” terhadap budaya serta nilai-nilai non Barat; Amartya Sen mengakui bahwa globalisasi merupakan world heritage (warisan dunia), bukan sekedar kumpulan dari budaya lokal yang berbeda.

Globalisasi sebagai ’world heritage’ ditanggapi secara kritis oleh S.M.Mohamed Idris. Dalam makalahnya yang berjudulMenyanggah Globalisasi-Agenda Bertindak Dunia Islam’, S.M. Mohamed Idris mengemukakan analisanya, bahwa gloabalisasi adalah suatu proyek yang khusus, dicetuskan, dirancang, dan diperkenalkan oleh negara-negara kaya yang konon maju serta canggih.  Negara-negara kaya ini kemudian memaksa negara-negara lain yang sedang berkembang dan miskin agar turut aktif terlibat dalam proses globalisasi tanpa kekritisan. Imbas negatif globalisasi juga melanda Dunia Islam. Globalisasi menjadi ancaman serius bagi umat Islam; tidak hanya terbatas dalam bentuk eksploitasi ekonomi dan pemiskinan, namun ia juga mengikis keyakinan, nilai, budaya, dan tradisi Islam.

Westernisasi yang dihantarkan secara masif oleh globalisasi, telah menimbulkan problem yang semakin serius ketika filsafat posmodernisme dilaunching oleh para pemikir Barat kontemporer anti modernisme semacam Friedrich Nietzsche, Martin Heidegger, Thomas Samuel Kuhn, Jacques Derrida, Michele Foucault, Jean Francois Lyotard, Richard Rorty, Jean Baudrillard, dan Fredric Jameson. Posmodernisme menawarkan sebuah konsep yang tidak terstruktur dan berbasis relativisme. Posmodernisme menghancurkan icon, struktur, cara berpikir lama untuk diganti dengan cara berpikir baru.

Filsafat posmodernisme yang membawa konsekuensi globalisasi dikritik dengan keras oleh Ziauddin Sardar. Dalam bukunya Posmodernism and Other, Sardar mengemukakan keberatannya atas posmodernisme yang tidak lebih dari kelanjutan episode dalam peradaban Barat yang dimulai dengan kolonialisme dan perluasan pengaruh guna menjajah pemikiran orang-orang dan masyarakat non-Barat.

Ketika merasuki pemikiran umat Islam, posmodernisme meruntuhkan bangunan Islam sebagai agama dan worldview.Doktrin relativisme mendekonstruksi konsep kebenaran. Tidak ada kebenaran absolut sebab kebenaran itu relatif. Konsekuensinya, tafsir kitab suci menjadi relatif. Pada akhirnya, keyakinan terhadap agama menjadi tidak ada artinya lagi.

Hamid Fahmy Zarkasyi mempunyai tesis yang secara tepat mampu menjelaskan posisi agama dalam dunia posmodernisme. Menurutnya, agama tidak lagi berhak mengklaim punya kuasa lebih terhadap sumber-sumber nilai yang dimiliki manusia seperti yang telah diformulasikan oleh para filosof. Jadi, agama dipahami sebagai sama dengan persepsi manusia sendiri yang tidak memiliki kebenaran absolut. Oleh sebab itu agama mempunyai status yang kurang lebih sama dengan filsafat dalam pengertian tradisional.

Transendensi agama di era globalisasi dihadapkan pada ketegangan-ketegangan dialektis, antara implikasi-implikasi globalisasi dengan keharusan agama untuk tetap mempertahankan aspek transendetal.

Bagaimana globalisasi mampu mereduksi Islam sedemikian dahsyatnya? Dalam hal ini Akbar S. Ahmed dengan brilian mampu memberikan analisanya mengenai ciri-ciri posmodernisme yang menimbulkan konsekuensi globalisasi. Dalam bukunya yang fenomenal, Postmodernism and Islam : Predicament and Promise, dijelaksan bahwamedia merupakan ciri pendefinisi, dinamika sentral, Zeitgeist dari posmodernisme. Media menjadi instrumen yang kuat dalam memproyeksikan kultur dominan dari peradaban global.

4. Reaksi Pemikiran Islam Terhadap Globalisasi

Murtadho Muthahhari (1992: 133) berkata bahwa Alqur’an merupakan kitab suci untuk membangun manusia. Apabila Al-Qur’an dipahami dengan baik oleh siapa pun, termasuk oleh orang-orang diluar Islam, maka akan mendorong kandungan dan pesan-pesannya yang bersifat teoritis ( gagasan ) dapat diwujudkan menjadi realita. Itu sebabnya, sejumlah ilmuan barat juga mempercayai Al-Qur’an sebagai wahyu Tuhan. Sebuah keyakinan yang muncul setelah mereka menemukan sejumlah temuan sain modern yang sejalan dengan kandungan Al-Qur’an. Sebagai contoh Simson adalah salah seorang ilmuan tahun 1980-an yang pernah mengungkapkan bahwa A-Qur’an pastilah wahyu Allah karena mampu memprediksi temuan-temuan modern dalam embrio dan genetika.

Rendahnya dalam penguasaan dan pengembangan sains dan teknologi, umat Islam menjadi kelompok yang terbelakang. Mereka hampir diidentikkan dengan kebodohan, kemiskinan, dan tidak berperadaban. Sedangkan di sisi lain umat agama lain begitu maju dengan berbagai teknologi, dari teknologi pengamatan terhadap luar angkasa hingga teknologi pertanian atas dasar itulah, terjdi berbagai reaksi terhadap kemajuan pemeluk agama-agama lain. Secara umum, reaksi tersebut dapat dibedakan menjadi empat, yaitu tradisionalis, modernis, revivalis, dan transformatif.

  1. Tradisionalis

Pemikiran tradisionalis percaya bahwa kemunduran umat Islam adalah ketentuan dan rencana Tuhan. Hanya tuhan yang Maha Tahu tentang arti dan hikmah di balik kemunduran dan keterbelakangan umat Islam. Makhluk, termasuk umat Islam, tidak tahu tentang gambaran besar sekenario Tuhan, dari perjalanan panjang umat manusia. Kemunduran dan keterbelakangan umat Islam dinilai sebagai ujian atas keimanan, dan kita tidak tahu malapetaka apa yang terjadi dibalik kemajuan dan pertumbuhan umat manusia (Mansour Fakih dalam Ulumul Qur’an, 1997:11).

Akar teologi pemikiran tradisionalis bersandar pada aliran Ahl al-sunnah wa al-Jama’ah, terutama aliran ‘Asy’ariyah, yang juga merujuk kepada aliran Jabariyah mengenai prederteminisme (takdir), yakni bahwa manusia harus menerima ketentuan dan rencana tuhan yang telah terbentuk sebelumnya. Paham Jabariyah yang dilanjutkan oleh aliran ‘Asy’ariyah ini, menjelaskan bahwa manusia tidak memiliki free will untuk menciptakan sejarah mereka sendiri. Meskipun manusia didorong untuk berusaha, akhirnya Tuhan jualah yang menentukan.

Cara berfikir Tradisionalis tidak hanya terdapat di kalangan muslim pedesaan atau yang diidentikkan dengan NU, tapi sesungguhnya pemikiran tradisionalis terdapat di berbagai organisasi dan berbagai tempat. Banyak diantara mereka yang dalam sector kehidupan sehari-hari menjalani kehidupan yang sangat modern, dan mengasosiasikan diri sebagai golongan modernis, namun ketika kembali kepada persoalan teologi dan kaitannya dengan usaha manusia, mereka sesungguhnya lebih layak dikategorikan sebagai golongan tradisionalis (Mansour Fakih dalam Ulumul Qur’an, 1997:11).

  1. Modernis

Pengertian yang mudah tentang modernisasi ialah pengertian yang identik atau hamper identik dengan pengertian rasionalisasi. Dan hal itu berarti proses perombakan pola berpikir dan tata kerja lama yang tidak akliyah (rasional), dan menggantinya dengan pola berpikir dan tata kerja baru yang akliyah (rasional). Jadi sesuatu dapat disebut modern, kalau ia bersifat rasional, ilmiah dan bersesuaian dengan hukum-hukum yang berlaku dalam alam.[4]

Kaum modernis percaya bahwa keterbelakangan umat Islam lebih banyak disebabkan oleh kesalahan sikap mental, budaya, atau teologi mereka. Mereka menyerang teologi Sunni (‘Asy’ariyah) yang dijuluki sebagai teologi fatalistik (Mansour Fakih dalam Ulumul Qur’an, 1997:11).

Pandanagn kaum modernis merujuk p-ada pemikiran modernis Mu’tazilah, yang cenderung bersifat antroposentris dengan doktrinnya yang sangat terkenal, yaitu al-Khamsah. Bagi Mu’tazilah, manusia dapat menentukan perbuatannya sendiri. Ia hidup tidak dalam keterpaksaan (Jabbar). Akar teologi Mu’tazilah dalam bidang af’al al-‘ibad (perbuatan manusia) adalah Qadariah sebagai anti tesis dari jabariyyah

Di Indonesia, gerakan rasionalis pernah mempengaruhi Muhammadiyah sebelum perang dunia kedua. Agenda mereka dalah pemberantasan takhayul, bid’ah dan khurafat dan berlomba dalam kebaikan. Oleh karena itu mereka juga dikenal sebagai golongan purfikasi (Mansour Fakih dalam Ulumul Qur’an, 1997:11).

  1. Revivalis-fundamentalis

Kecenderungan umat Islam ketiga dalam menghadapi globalisasi adalah revivalis. Revivalis menjelaskan factor dalam (internal) dan factor luar (eksternal) sebagai dasar analisis tentang kemunduran umat Islam.

Bagi revivalis umat Islam terbelakang, karena mereka justru menggunakan ideology lain atau “isme” lain sebagai dasar pijakan dari pada menggunakan Al-Qur’an sebagai acuan dasar. Pandangan ini berangkat dari asumsi bahwa Al-Qur’an pada dasarnya telah menyediakan petunjuk secara komplit, jelas dan sempurna sebagai dasar bermasyarakat dan bernegara. Di samping itu mereka juga memandang isme lain seperti marxisme, kapitakisme dan zionisme sebagai ancaman. Globalisasi dan kapitalisme bagi mereka merupakan salah satu agenda barat dan konsepo non Islami yang dipaksakan kepada masyarakat muslim. Mereka menolak kapitalisme dan globalisasi karena keduanya dinilai berakar pada paham liberalism. Karena itulah, merka juga disebut kaum fundamentalis, mereka di pinggirkan sebagai ancaman bagi kapitalisme. (Mansour Fakih dalam Ulumul Qur’an, 1997:12).

  1. Transformative

Gagasan transformative merupakan alternative dari ketiga respon umat Islam di atas. Mereka penggagas (transformative) percaya bahwa keterbelakangan umat Islam disebabkan oleh ketidakadilan system dan struktur ekonomi, politik dan kultur. Ini adalah proses panjang penciptaan ekonomi yang tidak eksploitatif, politik tanpa kekerasan, kultur tanpa dominasi dan hegemoni, serta penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia (human right). Keadilan menjadi prinsip fundamental bagi penganut transformative. Focus kerja mereka adalah mencari akar teologi, metodologi, dan aksi yang memungkinkan terjadinya transformasi social. (Mansour Fakih dalam Ulumul Qur’an, 1997:13)

Sumber : Azis Fahrurrozi & Erta Mahyudin 2010, FIQIH MANAJERIAL  Jakarta PT. Pustaka Al-Mawardi

Madjid,Nurcholis.1998.ISLAM, KEMODERNAN DAN KEINDONESIAAN.Bandung;Penerbit Mizan.

Advertisements