bukharawrite

Masa Depan Tuhan

Thinking Out Loud – Ed Sheeran Lyrics

Thinking Out Loud – Ed Sheeran Lyrics.

Riba dalam Prespektif Islam

Oleh : Sutihat Rahayu Suadh

BAB I
PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang

Dalam  bingkai  ajaran  Islam,  aktivitas  ekonomi  yang  dilakukan  oleh  manusia  untuk  dikembangkan  memiliki  beberapa  kaidah  dan  etika  atau  moralitas  dalam  syari’at  Islam.  Allah  telah  menurunkan  rizki  ke  dunia  ini  untuk  dimanfaatkan  oleh  manusia  dengan  cara  yang  telah  dihalalkan  oleh  Allah  dan  bersih dari segala perbuatan yang mengandung riba.  Diskursus  mengenai  riba  dapat  dikatakan  telah  “klasik”  baik  dalam  perkembangan  pemikiran  Islam  maupun  dalam  peradaban  Islam  karena  riba  merupakan  permasalahan  yang  pelik  dan  sering  terjadi  pada  masyarakat,  hal  ini  disebabkan  perbuatan  riba  sangat  erat  kaitannya  dengan  transaksi-transaksi  dibidang  perekonomian  (dalam  Islam  disebut  kegiatan  muamalah)  yang  sering  dilakukan  oleh  manusia  dalam  aktivitasnya  sehari-hari.  Pada  dasarnya  transaksi  riba  dapat  terjadi  dari  transaksi  hutang  piutang,  namun  bentuk  dari  sumber  tersebut  bisa  berupa  qard,  buyu’ dan  lain  sebagainya.  Para  ulama  menetapkan  dengan  tegas  dan  jelas  tentang  pelarangan  riba,  disebabkan  riba  mengandung  unsur  eksploitasi  yang  dampaknya  merugikan  orang  lain,  hal  ini  mengacu  pada  Kitabullah  dan  Sunnah  Rasul  serta  ijma’  para  ulama.  Bahkan  dapat  dikatakan  tentang  pelarangannya  sudah  menjadi  aksioma  dalam  ajaran  Islam.³  Babarapa  pemikir Islam berpendapat bahwa riba tidak hanya dianggap sebagai sesuatu yang  tidak  bermoral  akan  tetapi  merupakan  sesuatu  yang  menghambat  aktifitas  perekonomian  masyarakat,  sehingga  orang  kaya  akan  se makin  kaya  sedangkan   orang miskin akan semakin miskin dan tertindas.

Bagi orang  Islam, al-Qur’an adalah petunjuk untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang absolut. Sunnah Rasulullah saw berfungsi menjelaskan kandungan al-Qur’an. Riba sebagai persoalan pokok dalam makalah ini, disebutkan dalam Al-Qur’an dibeberapa tempat secara berkelompok. Dari ayat-ayat tersebut para ‘ulama’ membuat rumusan riba, dan dari rumusan itu kegiatan ekonomi diidentifikasi dapat dimasukkan kedalam kategori riba atau tidak. Dalam menetapkan hukum, para ‘ulama’ biasanya mengambil langkah yang dalam Ushul Fiqh dikenal dengan ta’lil (mencari ‘illat). Hukum suatu peristiwa atau keadaan itu sama dengan hukum peristiwa atau keadaan lain yang disebut oleh nash  apabila sama ‘illat-nya.[1]

Manusia  merupakan  makhluk  yang  ” rakus ” ,  mempunyai  hawa  nafsu  yang  bergejolak  dan  selalu  merasa  kekurangan  sesuai  dengan  watak  dan  karakteristiknya,  tidak  pernah  merasa  puas,  sehingga  transaksi – transaksi  yang  halal  susah  didapatkan  karena  disebabkan  keuntungannya  yang  sangat  minim,  maka  harampun  jadi  (riba).  Ironis  memang,  justru  yang  banyak  melakukan  transaksi  yang  berbau  riba  adalah  dikalangan  umat  Muslim  yang  notabene  mengetahui  aturan – aturan  ( the  rules  of  syariah)  syari’at  Islam.  Sarjana  barat  pernah  berkomentar  “I  found  muslim  in  Indonesian,  but  I  didn’t  find  Islam  in  Indonesian,  I  didn’t  find  muslim  in  West  Country,  but  I  found  Islam  in  West  country”. Maksudnya  adalah  bahwa  ia  menemukan  orang  Islam  di  Indonesia, tetapi  perbuatan  orang  Islam  tidak  Islami,  sebaliknya  ia  tidak  menemukan  orang Islam  di  negara  barat  tetapi  perbuatan  atau  pekerjaannya  mencerminkan kebudayaan  Muslim. Kalau  demikian  kondisi  umat  Islam,  maka  celakalah  “mereka”.  Karena  seorang  muslim  sejati  hanya  akan  “melongok”  dunia  perekonomian  melalui  kaca  mata  Islam  yang  selalu  mengumandangkan  “ini  halal  dan ini haram, ini yang diridhoi Allah dan yang ini dimurkai oleh-Nya” Riba  merupakan  suatu  tambahan  lebih  dari  modal  asal,  biasanya  transaksi  riba  sering  dijumpai  dalam  transaksi  hutang  piutang  dimana  kreditor  meminta  tambahan  dari  modal  asal  kepada  debitor.  tidak  dapat  dinafikkan  bahwa  dalam  jual  beli  juga  sering  terjadi  praktek  riba,  seperti  menukar  barang yang tidak sejenis, melebihkan atau mengurangkan timbangan atau dalam takaran.

  • Rumusan Masalah
  1. Apa pengertian riba dalam prespektif islam dan bagaimana riba dalam pandangan agama islam dan agama samawi ?
  2. Apa saja jenis-jenis atau macam-macam riba dalam islam ?
  3. Bagaiamana tahapan pelarangan riba dalam Al-Qur’an?
  4. Apa saja perbedaan investasi dan riba ?
  5. Bagaimana pandangan kaum modernis terhadap riba dan bagaimana praktik riba dalam kehidupan masyarakat?
    • Tujuan Penelitian
  6. Mengetahui pengertian riba dalam prespektif islam dan bagaimana riba dalam pandangan agama islam dan agama samawi
  7. Mengetahui jenis-jenis atau macam-macam riba dalam islam
  8. Mengetahui tahapan pelarangan riba dalam Al-Qur’an beserta dalil yang menjelaskannya.
  9. Mengetahui perbedaan investasi dan riba.
  10. Mengetahui pandangan kaum modernis terhadap riba dan praktik riba dalam kehidupan masyarakat.

1.4 Metedologi

Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode/cara pengumpulan data atau informasi melalui : Penelitian melalui data primer dan juga melalui penelitian kepustakaan (Library Research) yaitu penelitian yang dilakukan melalui studi literature, internet, dan sebagainya yang sesuai atau yang ada relevansinya (berkaitan) dengan masalah yang dibahas.

  • Sistematika Penulisan

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang penulisan ini, maka terlebih dahulu penulis akan menguraikan sistematika penulisannya agar lebih mudah dipahami dalam memecahkan masalah yang ada, di dalam penulisan ini dibagi dalam 3 (tiga) bab yang terdiri dari:

Bab I : Bab ini merupakan bab pendahuluan yang memuat latar belakang, rumusan masalah, tujuan, metodologi, dan sistimatika penulisan.

Bab II : Bab ini merupakan bab yang berisi tentang analisis terhadap masalah efektivitas hukum dalam masyarakat.

Bab III : Bab ini merupakan bab penutup yang memuat kesimpulan dan saran.

BAB II

PEMBAHASAN

II.1 Landasan Syar’i

II.1.1 Pengertian Riba

Riba  berarti menetapkan  bunga atau melebihkan jumlah  pinjaman  saat pengembalian berdasarkan  persentase  tertentu  dari  jumlah  pinjaman  pokok, yang dibebankan kepada peminjam. Riba secara bahasa bermakna: ziyadah (tambahan). Dalam pengertian lain, secara linguistik riba juga berarti tumbuh dan membesar . Sedangkan menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara bathil. Ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba, namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam-meminjam secara bathil atau bertentangan dengan prinsip muamalat dalam Islam.

Adapun menurut istilah syara’ adalah akad yang terjadi dengan penukaran yang tertentu, tidak diketahui sama atau tidaknya menurut aturan syara’, atau terlambat menerimanya. Sehubungan  dengan  arti  riba  dari  segi  bahasa  tersebut,  ada  ungkapan orang  Arab  kuno  menyatakan  sebagai  berikut;  arba  fulan  ‘ala  fulan  idza  azada ‘alaihi  (seorang  melakukan  riba  terhadap  orang  lain  jika  di  dalamnya  terdapat unsur tambahan atau disebut liyarbu ma a’thaythum min syai’in lita’khuzu aktsara minhu (mengambil dari sesuatu yang kamu berikan dengan cara berlebih dari apa  yang diberikan).

Menurut terminologi ilmu fiqh, riba merupakan tambahan khusus yang dimiliki salah satu pihak yang terlibat tanpa adanya imbalan tertentu. Riba sering juga diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai “Usury” dengan arti tambahan uang atas modal yang diperoleh dengan cara yang dilarang oleh syara’, baik dengan jumlah tambahan yang sedikit atau pun dengan jumlah tambahan banyak.

Adapun menurut istilah syariat para fuqahâ sangat beragam dalam mendefinisikannya, diantaranya aitu :

  1. Menurut Al-Mali riba adalah akad yang terjadi atas penukaran barang tertentu yang tidak diketahui tmbangannya menurut ukuran syara’ ketika berakad atau dengan mengakhirkan tukarana kedua belah pihak atau salah satu keduanya.
  2. Menurut Abdurrahman Al-Jaziri, yang dimaksud dengan riba adalah akad yang terjadi dengan penukaran tertentu, tidak diketahui sama atau tidak menurut aturan syara’ atau terlambat salah satunya.
  3. Syaikh Muhammad Abduh berendapat riba adalah penambahan-penambahan yang disayaratkan oleh orang yang memiliki harta kepada orang yang meminjam hartanya karena pengunduran janji pembayaran oleh peminjam dari waktu yang telah ditentukan.

اَلذَّ هَبُ بِا لذَّ هَبِ وَ زْ نًا بِوَزْنٍ مِثْلاً بِمِثْلٍ وَاْلفِضَّةِ بِالْفِضَّةِ وَزْنًا بِوَزْنٍ

مِثْلاًبِمِثْلٍ فَمَنْ زَا دَ أَوْ اسْتَزَادَ فَهُوَ رِبًا

Artinya: Rasulullah saw. bersabda: “Emas dengan emas sama timbangan dan ukurannya, perak dengan perak sama timbangan dan ukurannya. Barang siapa yang meminta tambah maka termasuk riba.”[2]

Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa apabila tukar-menukar emas atau perak maka harus sama ukuran dan timbangannya, jika tidak sama maka termasuk riba. Dari situ dapat dipahami bahwa riba adalah ziyâdah atau tambahan. Akan tetapi tidak semua tambahan adalah riba.Dalam istilah fiqh, riba adalah pengambilan tambahan dari harta pokok secara bathil baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam meminjam.

Berbicara riba identik dengan bunga bank atau rente, sering kita dengar di tengah-tengah masyarakat bahwa rente disamakan dengan riba. Pendapat itu disebabkan rente dan riba merupakan “bunga” uang, karena mempunyai arti yang sama yaitu sama-sama bunga, maka hukumnya sama yaitu haram.

Dalam prakteknya, rente merupakan keuntungan yang diperoleh pihak bank atas jasanya yang telah meminjamkan uang kepada debitur dengan dalih untuk usaha produktif, sehingga dengan uang pinjaman tersebut usahanya menjadi maju dan lancar, dan keuntungan yang diperoleh semakin besar. Tetapi dalam akad kedua belah pihak baik kreditor (bank) maupun debitor (nasabah) sama-sama sepakat atas keuntungan yang akan diperoleh pihak bank.

Timbullah pertanyaan, di manakah letak perbedaan antara riba dengan bunga? Untuk menjawab pertanyaan ini, diperlukan definisi dari bunga. Secara Timbullah pertanyaan, di manakah letak perbedaan antara riba dengan bunga? Untuk menjawab pertanyaan ini, diperlukan definisi dari bunga. Secara leksikal, bunga sebagai terjemahan dari kata interest yang berarti tanggungan pinjaman uang, yang biasanya dinyatakan dengan persentase dari uang yang dipinjamkan.9 Jadi uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa riba “usury” dan bunga “interest” pada hakekatnya sama, keduanya sama-sama memiliki arti tambahan uang.

Abu Zahrah dalam kitab Buhūsu fi al-Ribā menjelaskan mengenai haramnya riba bahwa riba adalah tiap tambahan sebagai imbalan dari masa tertentu, baik pinjaman itu untuk konsumsi atau eksploitasi, artinya baik pinjaman itu untuk mendapatkan sejumlah uang guna keperluan pribadinya, tanpa tujuan untuk mempertimbangkannya dengan mengeksploitasinya atau pinjaman itu untuk di kembangkan dengan mengeksploitasikan, karena nash itu bersifat umum.

Abd al-Rahman al-Jaziri mengatakan para ulama’ sependapat bahwa tambahan atas sejumlah pinjaman ketika pinjaman itu dibayar dalam tenggang waktu tertentu ‘iwadh (imbalan) adalaha riba.11 Yang dimaksud dengan tambahan adalah tambahan kuantitas dalam penjualan asset yang tidak boleh dilakukan dengan perbedaan kuantitas (tafadhul), yaitu penjualan barang-barang riba fadhal: emas, perak, gandum, serta segala macam komoditi yang disetarakan dengan komoditi tersebut.

Riba (usury) erat kaitannya dengan dunia perbankan konvensional, di mana dalam perbankan konvensional banyak ditemui transaksi-transaksi yang memakai konsep bunga, berbeda dengan perbankan yang berbasis syari’ah yang memakai prinsip bagi hasil (mudharabah) yang belakangan ini lagi marak dengan diterbitkannya undang-undang perbankan syari’ah di Indonesia nomor 7 tahun 1992.

II.1.2 Pandangan Para Pakar Mengenai Riba

Para pakar ekonomi memahami lebih banyak lagi bahaya riba mengikuti perkembangan praktik-praktik ekonomi. Di antaranya adalah: buruknya distribusi kekayaan, kehancuran sumber-sumber ekonomi, lemah nya perkembangan ekonomi, pengangguran, dan lain-lain.

Para ulama sepakat bahwa riba adalah haram dan termasuk dosa besar. Keadaan seperti yang digambarkan oleh Ibnu Taimiyah rahimahullahu sebagai berikut: “Tidak ada suatu ancaman hukuman atas dosa besar selain syirik yang disebut dalam Al-Qur`an yang lebih dahsyat daripada riba.”Kesepakatan ini dinukil oleh Al-Mawardi rahimahullahu. Mohammad  Ali al-Saayis di dalam Tafsiir  Ayat Ahkaam menyatakan, telah terjadi kesepakatan atas keharaman riba di dalam dua jenis ini  (riba nasii’ah dan riba fadlal). Keharaman riba jenis pertama Al-Quran; sedangkan keharaman riba jenis kedua ditetapkan  berdasarkan hadits shahih. Abu Ishaq di dalam Kitab al-Mubadda’ menyatakan; keharaman riba telah menjadi konsensus, berdasarkan al-Quran dan Sunnah.

Secara garis besar pandangan tentang hukum riba ada dua kelompok, yaitu:

  1. Kelompok pertama mengharamkan riba yang berlipat ganda/ad’âfan mudhâ’afa, karena yang diharamkan al-Qur’an adalah riba yang berlipat ganda saja, yakni riba nas’ah, terbukti juga dengan hadis tidak ada riba kecuali nasî’ah. Karenanya, selain riba nasî’ah maka diperbolehkan.
  2. Kelompok kedua mengharamkan riba, baik yang besar maupun kecil. Riba dilarang dalam Islam, baik besar maupun kecil, berlipat ganda atupun tidak. Riba yang berlipat ganda haram hukumnya karena zatnya, sedang riba kecil tetap haram karena untuk menutup pintu ke riba yang lebih besar (harâmun lisyadudzari’ah).

Meski demikian ada beberapa pandangan yang berbeda. Perbedaan-perbedaan itu  umumnya  disebabkan  oleh  beragamnya  interpretasi terhadap riba. Kendati riba dalam al-Qur’an dan al-Hadits secara tegas  dihukumi  haram,  tetapi  karena  tidak  diberi  batasan yang jelas, sehingga hal ini menimbulkan  beragamnya  interpretasi  terhadap  riba.  Selanjutnya persoalan ini berimplikasi  juga terhadap  pemahaman  para  ulama  sesudah  generasi  sahabat.  Bahkan, sampai saat ini persoalan ini (interpretasi riba) masih menjadi perdebatan  yang tiada henti. Namun demikian, ulama mutaqaddimin pada umumnya sepakat tentang  keharamannya.

II.1.3 Riba : Tinjauan Historis

Riba bukan cuma persoalan masyarakat Islam, tapi berbagai kalangan di luar Islam pun memandang serius persoalan riba. Kajian terhadap masalah riba dapat dirunut mundur hingga lebih dari 2.000 tahun silam. Masalah riba telah menjadi bahasan kalangan Yahudi, Yunani, demikian juga Romawi. Kalangan Kristen dari masa ke masa juga mempunyai pandangan tersendiri mengenai riba.

Dalam Islam, memungut riba atau mendapatkan keuntungan berupa riba pinjaman adalah haram. Ini dipertegas dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 275 : …padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…. Pandangan ini juga yang mendorong maraknya perbankan syariah dimana konsep keuntungan bagi penabung didapat dari sistem bagi hasil bukan dengan bunga seperti pada bank konvensional, karena menurut sebagian pendapat (termasuk Majelis Ulama Indonesia), bunga bank termasuk ke dalam riba. bagaimana suatu akad itu dapat dikatakan riba? hal yang mencolok dapat diketahui bahwa bunga bank itu termasuk riba adalah ditetapkannya akad di awal. jadi ketika kita sudah menabung dengan tingkat suku bunga tertentu, maka kita akan mengetahui hasilnya dengan pasti. berbeda dengan prinsip bagi hasil yang hanya memberikan nisbah bagi hasil bagi deposannya. dampaknya akan sangat panjang pada transaksi selanjutnya. yaitu bila akad ditetapkan di awal/persentase yang didapatkan penabung sudah diketahui, maka yang menjadi sasaran untuk menutupi jumlah bunga tersebut adalah para pengusaha yang meminjam modal dan apapun yang terjadi, kerugian pasti akan ditanggung oleh peminjam. berbeda dengan bagi hasil yang hanya memberikan nisbah tertentu pada deposannya. maka yang di bagi adalah keuntungan dari yang didapat kemudian dibagi sesuai dengan nisbah yang disepakati oleh kedua belah pihak. Contoh nisbahnya adalah 70% : 30%, maka bagian deposan 70% dari total keuntungan yang didapat oleh pihak bank.

Pertama, dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 275 – 276, Allah SWT menyatakan bahwa:

“Orang–orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran tekanan penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata, sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang–orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Oran yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni – penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya(275).

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa (276).”

Di dalam ayat tersebut Allah menegaskan bahwa Dia mengharamkan riba untuk dijadikan sebuah instrument mencari keuntungan dalam kegiatan sosial ekonomi. Namun, Allah menyuburkan sedekah dan menghalalkan jual beli sebagai salah satu jalan untuk memperoleh harta dengan cara yang baik. Berdasarkan uraian diatas, pandangan Islam sudah sangat jelas bahwa konsep riba adalah haram. Secara bahasa riba berarti kelebihan atau tambahan. Para ulama fiqh mendefiniskan riba sebagai sebuah kelebihan harta dalam suatu muamalah dengan tidak ada imbalan atau gantinya. Sedangkan secara umum dijelaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam meminjam secara batil atau bertentangan dengan prinsip muamalah dalam Islam.

Sistem ekonomi syariah yang salah satu prinsip di dalamnya adalah larangan mengambil harta secara batil dengan menggunakan instrument riba telah menimbulkan kecenderungan bahwa konsep larangan riba hanya terdapat pada Islam. Hal ini akhirnya menimbulkan kesan bahwa larangan riba ini hanya diperuntukkan oleh umat Islam saja dan merugikan umat agama lain yang selama ini telah nyaman dengan sistem ekonomi kapitalisnya. Namun, riba ternyata bukanlah persoalan kalangan Islam saja, tetapi sudah menjadi persoalan serius yang dibahas oleh kalangan non-muslim.

Konsep riba sebenarnya telah lama dikenal dan telah mengalami perkembangan dalam pemaknaan. Kajian mengenai riba, ternyata bukan hanya diperbincangkan oleh umat Islam saja, tetapi berbagai kalangan di luar Islam-pun memandang serius persoalan ini. Jika dirunut mundur hingga lebih dari dua ribu tahun silam, kajian riba ini telah dibahas oleh kalangan non-Muslim, seperti Hindu, Budha (Rivai, dkk, 2007: 761), Yahudi, Yunani, Romawi dan Kristen (Antonio, 2001: 42).

Konsep riba di kalangan Yahudi, yang dikenal dengan istilah “neshekh” dinyatakan sebagai hal yang dilarang dan hina. Pelarangan ini banyak terdapat dalam kitab suci mereka, baik dalam Old Testament (Perjanjian lama) maupun dalam undang-undang Talmud. Banyak ayat dalam Old Testament yang melarang pengenaan bunga pada pinjaman kepada orang miskin dan mengutuk usaha mencari harta dengan membebani orang miskin dengan riba (Antonio, 2001: 43) diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Kitab Exodus (Keluaran) pasal 22 ayat 25 menyatakan sebagai berikut: “Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engakau berlaku sebagai penagih utang terhadap dia; janganlah engkau bebankan bunga uang terhadapnya”.
  • Kitab Deuteronomy (Ulangan) pasal 23 ayat 19 menyebutkan sebagai berikut: “Janganlah engkau membungakan kepada saudaramu, baik uang maupun bahan makanan atau apapun yang dapat dibungakan”.
  • Kitab Levicitus (Imamat) pasal 25 ayat 36-37 menyatakan sebagai berikut:  “Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba darinya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu bisa hidup di antaramu. Janganlah engkau memberi uangmu kepadanya dengan meminta bunga, juga makananmu janganlah kau berikan dengan meminta riba”.

Sedangkan pada masa Yunani dan Romawi Kuno, praktek riba merupakan tradisi yang lazim berlaku (Islahi, 1988: 124). Pada masa Yunani sekitar abad VI SM hingga 1 M, terdapat beberapa jenis bunga yang bervariasi besarnya (Antonio, 2001: 43). Sementara itu, pada masa Romawi, sekitar abad V SM hingga IV M, terdapat undang-undang yang membolehkan penduduknya mengambil bunga selama tingkat bunga tersebut sesuai dengan “tingkat maksimal yang dibenarkan hukum (maximum legal rate). Nilai suku bunga ini berubah-ubah sesuai dengan berubahnya waktu, namun pengambilannya tidak dibenarkan dengan cara bunga berbunga (double countable).

Pada masa Romawi terdapat 4 jenis tingkat bunga (Antonio, 2001: 44), yaitu sebagai berikut:

  1. Bunga maksimal yang dibenarkan: 8%-12%
  2. Bunga pinjaman biasa di Roma: 4%-12%
  3. Bunga di wilayah taklukan Roma: 6%-100%
  4. Bunga khusus Byzantium: 4%-12%

Meskipun demikian, praktik pengambilan bunga tersebut dicela oleh para ahli filsafat Yunani, diantaranya Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM), begitu pula para ahli filsafat Romawi, seperti Cato (234-149 SM), Cicero (106-43 SM) dan Seneca (4 SM-65 M)mengutuk praktik bunga, yang digambarkannya sebagai tindakan tidak manusiawi (Islahi, 1988: 124)

Konsep riba di kalangan Kristen mengalami perbedaan pandangan, yang Secara umum dapat dikelompokkan menjadi tiga periode sebagai berikut:

Pertama, pandangan para pendeta awal Kristen (abad  I-XII) yang  mengharamkan  riba  dengan merujuk  pada  Kitab Perjanjian Lama  dan  undang- undang dari gereja. Pada abad IV M, gereja Katolik Roma melarang praktik riba  bagi para pendeta, yang kemudian diperluas bagi kalangan awam pada abad V M.  Pada  abad  VIII  M,  di  bawah  kekuasaan  Charlemagne,  gereja  Katolik  Roma mendeklarasikan  praktik  riba  sebagai  tindakan  kriminal  (Iqbal  dan  Mirakhor,  2007: 71).

Kedua, pandangan para sarjana Kristen (abad  XII-XVI) yang cenderung membolehkan bunga, dengan melakukan terobosan baru melalui upaya melegitimasi  hukum, bunga dibedakan  menjadi  interest dan  usury.  Menurut  mereka,  interest adalah bunga yang diperbolehkan sedangkan usury adalah bunga  yang  berlebihan.  Para  sarjana  Kristen  yang  memberikan  kontribusi  pemikiran bunga ini adalah Robert of Courcon (1152-1218), William of  Auxxerre (1160- 1220), St. Raymond of Pennaforte (1180-1278), St. Bonaventure (1221-1274) dan  St. Thomas Aquinas (1225-1274) (Antonio, 2001: 47).

Ketiga, pandangan para reformis Kristen (abad XVI-1836) seperti Martin  Luther  (1483-1536),  Zwingli  (1454-1531),  Bucer  (1491-1551) dan John Calvin  (1509-1564)  yang  menyebabkan  agama  Kristen  menghalalkan bunga  ( interest ).  Pada periode ini, Raja Henry VIII memutuskan berpisah dengan Gereja Katolik  Roma, dan pada tahun 1545 bunga ( interest ) resmi dibolehkan di Inggris asalkan  tidak lebih dari 10%. Kebijakan ini kembali diperkuat oleh Ratu Elizabeth I pada  tahun 1571 (Karim, 2001: 72; Rivai, dkk, 2007: 763).

Dari berbagai perspektif yang telah terurai diatas, praktek riba tidak hanya dilarang di agama Islam namun juga telah menjadi pembahasan yang serius di kalangan umat Kristiani, Yahudi, bangsa Yunani dan Romawi. Ada beberapa alasan penting yang mendasari pelarangan praktik riba yaitu karena dari praktik ini telah tercipta ruang hilangnya keseimbangan tata kehidupan sosial ekonomi kemasyarakatan. Prinsip pengambilan bunga menjadi sebuah senjata bagi penganut sistem kapitalis (golongan kaya) untuk mengambil keuntungan yang sebesar besarnya yang mana hal ini semakin melemahkan posisi orang – orang miskin. Salah satu alat dalam menyuburkan riba adalah kehadiran uang yang saat ini telah berubah fungsi dari alat tukar menjadi alat komoditas untuk menghasilkan keuntungan.

Dengan latar belakang sejarah tersebut diatas, maka seluruh praktik  operasionalisasi  perbankan  modern  yang  mulai tumbuh  dan  berkembang  sejak  abad  XVI  M  ini  menggunakan  sistem  bunga.  Sistem  bunga  ini  mulai  tumbuh, mengakar, dan mendarah-daging dalam industri perbankan modern sehingga sulit  untuk  dipisahkan.  Bahkan  mereka  beranggapan  bahwa  bunga  adalah  pusat  berputarnya sistem perbankan. Jika tanpa bunga, maka sistem perbankan menjadi tak bernyawa dan akhirnya perekonomian akan lumpuh (Mannan, 1997: 165).

II. 2 Jenis-Jenis Riba

Secara garis besar riba dikelompokkan menjadi dua.Yaitu riba hutang-piutang dan riba jual-beli.Riba hutang-piutang terbagi lagi menjadi riba qardh dan riba jahiliyyah. Sedangkan riba jual-beli terbagi atas riba fadhl dan riba nasi’ah.

1.         Riba dalam Utang (Hutang-Piutang)

  1. Riba Qardh

Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang (muqtaridh).

  1. Riba Jahiliyyah

Hutang dibayar lebih dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan.

Pada masa jahiliyah, riba terjadi dalam pinjam meminjam uang. Karena masyarakat Mekah merupakan masyarakat pedangang, yang dalam musim-musim tertentu mereka memerlukan modal untuk dagangan mereka. Para ulama mengatakan, bahwa jarang sekali terjadi pinjam meminjam uang pada masa tersebut yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif.

Pinjam meminjam uang terjadi untuk produktifitas perdatangan mereka. Namun uniknya, transaksi pinjam meminjam tersebut baru dikenakan bunga, bila seseorang tidak bisa melunasi hutangnya pada waktu yang telah ditentukan. Sedangkan bila ia dapat melunasinya pada waktu yang telah ditentukan, maka ia sama sekali tidak dikenakan bunga. Dan terhadap transaksi yang seperti ini, Rasulullah SAW menyebutnya dengan riba jahiliyah.

Penjelasan Riba dalam Utang:

Riba akibat hutang-piutang disebut Riba Qard ( ربرر قرقض ), yaitu suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang (muqtarid), dan Riba Jahiliyah ( ربر قرا ليهر ), yaitu hutang yang dibayar dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan. Perbedaan antara utang yang muncul karena qardh  dengan utang karena jual-beli adalah asal akadnya. Utang qardh muncul karena semata-mata akad utang-piutang, yaitu meminjam harta orang lain untuk dihabiskan lalu diganti pada waktu lain. Sedangkan utang dalam jual-beli muncul karena harga yang belum diserahkan pada saat transaksi, baik sebagian atau keseluruhan.

Contoh riba dalam utang-piutang (riba qardh), misalnya, jika si A mengajukan utang sebesar Rp. 20 juta kepada si B dengan tempo satu tahun. Sejak awal keduanya telah menyepakati bahwa si A wajib mengembalikan utang ditambah bunga 15%, maka tambahan 15% tersebut merupakan riba yang diharamkan.

Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya menyatakan, “kaum muslimin telah bersepakat berdasarkan riwayat yang mereka nukil dari Nabi mereka (saw) bahwa disyaratkannya tambahan dalam pinjam meminjam (qardh) adalah riba, meski hanya berupa segenggam makanan ternak”.

Bahkan, mayoritas ulama menyatakan jika ada syarat bahwa orang yang meminjam harus memberi hadiah atau jasa tertentu kepada si pemberi pinjaman, maka hadiah dan jasa tersebut tergolong riba, sesuai kaidah, “setiap qardh yang menarik manfaat maka ia adalah riba”.

2.          Riba Dalam Jual-Beli

  1. Riba Fadhl

Pertukaran antarbarang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan itu termasuk dalam jenis barang ribawi.

  1. Riba Nasi’ah

Penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba dalam nasi’ah muncul karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan kemudian.

Penjelasan riba dalam jual beli :

Riba akibat jual-beli disebut Riba Fadl ( رلضرق ربر), yaitu pertukaran antar barang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda dan barang yang dipertukarkan termasuk dalam jenis barang ribawi. Dalam jual-beli, terdapat dua jenis riba, yakni riba fadhl dan riba nasi’ah. Keduanya akan kita kenal lewat contoh-contoh yang nanti akan kita tampilkan.

Berbeda dengan riba dalam utang yang bisa terjadi dalam segala macam barang, riba dalam jual-beli tidak terjadi kecuali dalam transaksi enam barang tertentu yang disebutkan oleh Rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda:

“Jika emas ditukar dengan emas, perak ditukar dengan perak, bur (gandum) ditukar dengan bur, sya’ir (jewawut, salah satu jenis gandum) ditukar dengan sya’ir, kurma dutukar dengan kurma, dan garam ditukar dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1584)

Ada beberapa poin yang bisa kita ambil dari hadits di atas:

Pertama, Rasulullah saw dalam kedua hadits di atas secara khusus hanya menyebutkan enam komoditi saja, yaitu: emas, perak, gandum, jewawut, kurma dan garam. Maka ketentuan/larangan dalam hadits tersebut hanya berlaku pada keenam komoditi ini saja tanpa bisa diqiyaskan/dianalogkan kepada komoditi yang lain. Selanjutnya, keenam komoditi ini kita sebut sebagai barang-barang ribawi.

Kedua, Setiap pertukaran sejenis dari keenam barang ribawi, seperti emas ditukar dengan emas atau garam ditukar dengan garam, maka terdapat dua ketentuan yang harus dipenuhi, yaitu: pertama takaran atau timbangan keduanya harus sama; dan kedua keduanya harus diserahkan saat transaksi secara tunai/kontan.

Disamping harus sama, pertukaran sejenis dari barang-barang ribawi harus dilaksanakan dengan tunai/kontan. Jika salah satu pihak tidak menyerahkan barang secara tunai, meskipun timbangan dan takarannya sama, maka hukumnya haram, dan praktek ini tergolong riba nasi’ah atau ada sebagian ulama yang secara khusus menamai penundaan penyerahan barang ribawi ini dengan sebutan riba yad.

Ketiga, Pertukaran tak sejenis di antara keenam barang ribawi tersebut hukumnya boleh dilakukan dengan berat atau ukuran yang berbeda, asalkan tunai. Para ulama menggolongkan praktek penundaan penyerahan barang ribawi ini kedalam jenis riba nasi’ah tapi ada pula ulama yang memasukkannya dalam kategori sendiri dengan nama riba yad.

II.3 Tahapan Pelarangan Riba

‎Tahapan Pelarangan Riba ‎Dalam Al-Qur’an;

Pelarangan riba diturunkan tidak sekaligus melainkan secara bertahap. Proses ini sama dengan pelarangan khamr (minuman keras). Dari proses kedua pelarangan tersebut dapat kita lihat persamaan antara riba dan khamr. Kedua fenomena itu sudah merupakan kebiasaan yang mengakar pada masyarakat. Untuk meruntuhkan nilai-nilai yang sudah sedemikian tertanam dalam masyarakat dibutuhkan cara yang tepat, bijaksana namun tegas. Hal ini sangat sesuai dengan teori sosiologi modern, dimana untuk menggantikan sesuatu yang sudah memasyarakat digunakan melting method. Nilai lama tidak serta merta dilarang melainkan didudukkan dulu permasalahannya, dikaji secara objektif keuntungan serta kerugiannya, dilakukan pemasyarakatan nilai pengganti, “pemutihan”, dan tentu saja law enforcement. Inilah hikmah diturunkannya al-Quran secara bertahap dimana ayat yang diturunkan mampu menjawab permasalahan-permasalahan aktual yang timbul dalam masyarakat. Selain tercantum dengan sangat jelas dalam al-Quran, pelarangan riba juga terdapat dalam hadits yang merupakan kontrol yang dilakukan oleh Rasulullah atas aplikasi pelaksanaan perintah dan larangan dalam kehidupan nyata masyarakat.

  1. Tahap Pertama, menolak anggapan bahwa pinjaman riba pada zahirnya menolong mereka yang memerlukan sebagai suatu perbuatan mendekati atau taqarrub kepada Allah SWT.

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia. Maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya)” (Qs. Ar-Rum: 19)

Dalam surat Ar-Rum ayat 39 Allah menyatakan secara nasehat bahwa Allah tidak menyenangi orang yang melakukan riba. Dan untuk mendapatkan hidayah Allah ialah dengan menjauhkan riba. Di sini Allah menolak anggapan bahwa pinjaman riba yang mereka anggap untuk menolong manusia merupakan cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Berbeda dengan harta yang dikeluarkan untuk zakat, Allah akan memberikan barakah-Nya dan melipat gandakan pahala-Nya. Pada ayat ini tidaklah menyatakan larangan dan belum mengharamkannya

  1. Tahap kedua, riba digambarkan sebagai suatu yang buruk dan balasan yang keras kepada orang Yahudi yang memakan riba.

Pada tahap kedua, Allah menurunkan surat An-Nisa’ ayat 160-161. “Maka disebabkan kedzaliman orang-orang Yahudi, kami harankan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi manusia dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang bathil. Kami telah menyediakan orang-orang yang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih” (Qs. An-Nisa: 160-161).”

Riba digambarkan sebagai sesuatu pekerjaan yang dhalim dan batil. Dalam ayat ini Allah menceritakan balasan siksa bagi kaum Yahudi yang melakukannya. Ayat ini juga menggambarkan Allah lebih tegas lagi tentang riba melalui riwayat orang Yahudi walaupun tidak terus terang menyatakan larangan bagi orang Islam. Tetapi ayat ini telah membangkitkan perhatian dan kesiapan untuk menerima pelarangan riba. Ayat ini menegaskan bahwa pelarangan riba sudah pernah terdapat dalam agama Yahudi. Ini memberikan isyarat bahwa akan turun ayat berikutnya yang akan menyatakan pengharaman riba bagi kaum Muslim.

  1. Tahap ketiga, riba itu diharamkan dengan dikaitkan kepada suatu tambahan yang berlipat ganda.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapatkan keberuntungan” (Qs. Ali-Imran: 130).

Dalam surat Ali Imran ayat 130, Allah tidak mengharamkan riba secara tuntas, tetapi melarang dalam bentuk lipat ganda. Hal ini menggambarkan kebijaksanaan Allah yang melarang sesuatu yang telah mendarah daging, mengakar pada masyarakat sejak zaman jahiliyah dahulu, sedikit demi sedikit, sehingga perasaan mereka yang telah biasa melakukan riba siap menerimanya.

  1. Tahap keempat, ayat riba diturunkan oleh Allah SWT. Yang dengan jelas sekali mengharamkan sebarang jenis tambahan yang diambil daripada jaminan.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba yang belum dipungut, jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.” (Qs. Al-Baqoroh: 278-279).

Turun surat al-Baqarah ayat 275-279 yang isinya tentang pelarangan riba secara tegas, jelas, pasti, tuntas, dan mutlak mengharamannya dalam berbagai bentuknya, dan tidak dibedakan besar kecilnya. Bagi yang melakukan riba telah melakukan kriminalisasi. Dalam ayat tersebut jika ditemukan melakukan kriminalisasi, maka akan diperangi oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.

Ayat ini merupakan peringatan keras dan ancaman yang sangat tegas bagi orang yang masih tetap mempraktekkan riba setelah adanya peringatan tersebut. Ibnu Juraij menceritakan Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwasannya ayat ini maksudnya ialah, yakinilah bahwa Allah dan Rasul akan memerangi kalian. Sedangkan menurut ‘Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu ‘Abbas mengenai firman Allah tentang riba, makasudnya, barangsiapa yang masih tetap melakukan praktek riba dan tidak melepaskan diri darinya, maka wajib atas Imam kaum Muslimin untuk memintanya bertaubat, jika ia mau melepaskan diri darinya, maka keselamatan baginya, dan jika menolak, maka ia harus dipenggal lehernya.

II.4 Perbedaan Investasi dengan Riba

II.4.1 Perbedaan Investasi dengan Membungakan Uang

Ada dua perbedaan mendasar antara investasi dengan mem-bungakan uang. Perbedaan tersebut dapat ditelaah dari definisi hingga makna masing-masing.

  1. Investasi adalah kegiatan usaha yang mengandung risiko karena berhadapan dengan unsur ketidakpastian. Dengan demikian, perolehan kembaliannya (return) tidak pasti dan tidak tetap.
  2. Membungakan uang adalah kegiatan usaha yang kurang mengandung risiko karena perolehan kembaliannya berupa bunga yang relatif pasti dan tetap.

Islam mendorong masyarakat ke arah usaha nyata dan produktif. Islam mendorong seluruh masyarakat untuk melakukan investasi dan melarang membungakan uang. Sesuai dengan definisi di atas, menyimpan uang di bank Islam termasuk kategori kegiatan investasi karena perolehan kembaliannya (return) dari waktu ke waktu tidak pasti dan tidak tetap. Besar kecilnya perolehan kembali itu ter-gantung kepada hasil usaha yang benar-benar terjadi dan dilakukan bank sebagai mudharib atau pengelola dana.

Dengan demikian, bank Islam tidak dapat sekadar menyalurkan uang. Bank Islam harus terus berupaya meningkatkan kembalian atau return of investment sehingga lebih menarik dan lebih memberi kepercayaan bagi pemilik dana.

II.4.2 Perbedaan Hutang Uang dan Hutang Barang

Ada dua jenis hutang yang berbeda satu sama lainnya, yakni hutang yang terjadi karena pinjam-meminjam uang dan hutang yang terjadi karena pengadaan barang. Hutang yang terjadi karena pinjam-meminjam uang tidak boleh ada tambahan, kecuali dengan alasan yang pasti dan jelas, seperti biaya materai, biaya notaris, dan studi kelayakan. Tambahan lainnya yang sifatnya tidak pasti dan tidak jelas, seperti inflasi dan deflasi, tidak diperbolehkan. Hutang yang terjadi karena pembiayaan pengadaan barang harus jelas dalam satu kesatuan yang utuh atau disebut harga jual. Harga jual itu sendiri terdiri dari harga pokok barang plus keuntungan yang disepakati. Sekali harga jual telah disepakati, maka selamanya tidak boleh berubah naik, karena akan masuk dalam kategori riba fadl. Dalam transaksi perbankan syariah yang muncul adalah kewajiban dalam bentuk hutang pengadaan barang, bukan hutang uang.

II.4.3 Perbedaan antara Bunga dan Bagi Hasil

Sekali lagi, Islam mendorong praktik bagi hasil serta mengharamkan riba. Keduanya sama-sama memberi keuntungan bagi pemilik dana, namun keduanya mempunyai perbedaan yaitu;

  • Bagi hasil:
  1. Penentuan besarnya rasio/ nisbah bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi
  2. Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh
  3. tergantung pada keuntungan proyek yang dijalankan. Bila usaha merugi, kerugian akan ditanggung bersama oleh kedua belah pihak.
  4. Tidak ada yang meragukan keabsahan bagi hasil
  • Bunga bank (Riba):
  1. Penentuan bunga dibuat pada waktu akad dengan asumsi harus selalu untung
  2. Besarnya persentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan
  3. Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan apakah proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi
  4. Jumlah pembayaran bunga tidak meningkat sekalipun jumlah keuntungan berlipat atau keadaan ekonomi sedang “booming”
  5. Eksistensi bunga diragukan (kalau tidak dikecam) oleh beberapa kalangan.

Islam mendorong masyarakat kearah usaha nyata dan produktif. Islam mendorong seluruh masyarakat untuk melakukan investasi dan melarang membungakan uang. Menyimpan uang dibank Islam termasuk kategori kegiatan investasi karena perolehan kembaliannya dari waktu ke waktu tidak pasti dan tidak tetap. Besar kecilnya perolehan kembali itu tergantung kepada hasil usaha yang benar-benar terjadi dan dilakukan bank sebagai mudharib atau pengelola dana.

Dengan demikian, bank Islam tidak dapat sekedar menyalurkan uang. Bank Islam harus berupaya meningkatkan kembalian atau return off investment sehingga lebih menarik dan lebih memberi kepercayaan kepada pemilik dana.

1.5 Pandangan kaum Modern terhadap Riba

Kaum modernis memandang riba lebih menekankan pada aspek moralitas atas pelarangannya, dan menomor-duakan “legal-form” riba, seperti yang ditafsirkan dalam fiqh. Mereka (kaum modernis) adalah Fazlur Rahman (1964), Muhammad Asad (1984), Sa’id al-Najjar (1989), dan Abd al-Mun’im al-Namir (1989).

Menurut Muhammad Asad:

Garis besarnya, kekejian riba (dalam arti di mana istilah digunakan dalam al-Qur’an dan dalam banyak ucapan Nabi SAW) terkait dengan keuntungan-keuntungan yang diperoleh melalui pinjaman-pinjaman berbunga yang mengandung eksploitasi atas orang-orang yang berekonomi lemah orang-orang kuat dan kaya…dengan menyimpan definisi ini di dalam benak kita menyadari bahwa persolan mengenai jenis transaksi keuangan mana yang jatuh ke dalam kategori riba, pada akhirnya, adalah persoalan moralitas yang sangat terkai dengan motivasi sosio-ekonomi yang mendasari hubungan timbal-balik antara si peminjam dan pemberi pinjaman.

Menurut pemikir modern yang lain adalah Abdullah Yusuf Ali, beliau mendefiniskan riba adalah:

Tidak dapat disangsikan lagi tentang pelarangan riba. Pandangan yang biasa saya terima seakan-akan menjelaskan, bahwa tidak sepantasnya memperoleh keuntungan dengan menempuh jalan perdagangan yang terlarang, di antaranya dengan pinjam meminjam terhadap emas dan perak serta kebutuhan bahan makanan meliputi gandum, gerst (seperti gandum yang dipakai dalam pembuatan bir), kurma, dan garam. Menurut pandangan saya seharusnya larangan ini mencakup segala macam bentuk pengambilan keuntungan yang dilakukan secara berlebih-lebihan dari seluruh jenis komoditi, kecuali melarang pinjaman kredit ekonomi yang merupakan produk perbankan modern.

Sedangkan Fazlur Rahman berpendapat bahwa riba:

Mayoritas kaum muslim yang bermaksud baik dengan bijaksana tetap berpegang teguh pada keimanannya, menytakan bahwa al-Qur’an melarang

seluruh bunga bank. (menanggapi penjelasan tersebut) sedih rasanya pemahaman yang mereka dapatkan dengan cara mengabaikan bentuk riba yang bagaimanakah yang menurut sejarah dilarang, mengapa al-Qur’an mencelanya sebagai perbuatan keji dan kejam mengapa menganggapnya sebagai tindakan eksploitatif serta melarangnya, dan apa sebenarnya fungsi bunga bank pada saat ini.

Bagi kaum modernis tampak dengan jelas bahwa apa yang diharamkan adalah adanya eksploitasi atas orang-orang miskin, bukan pada konsep bunga itu sendiri (legal-form) menurut hukum Islam, apa yang diharamkan adalah tipe peminjaman yang berusaha mengambil untung dari penderitaan orang lain.

II.6 Praktik Riba Dalam Kehidupan

Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa riba adalah segala tambahan yang disyaratkan dalam transaksi bisnis tanpa adanya padanan yang dibenarkan syariah. Praktek seperti ini dapat terjadi dihampir seluruh muamalah maliyah kontemporer, diantaranya adalah pada :

  1. Transaksi Perbankan.

Sebagaimana diketahui bersama, bahwa basis yang digunakan dalam praktek perbankan (konvensional) adalah menggunakan basis bunga (interest based). Dimana salah satu pihak (nasabah), bertindak sebagai peminjam dan pihak yang lainnya (bank) bertindak sebagai pemberi pinjaman. Atas dasar pinjaman tersebut, nasabah dikenakan bunga sebagai kompensasi dari pertangguhan waktu pembayaran hutang tersebut, dengan tidak memperdulikan, apakah usaha nasabah mengalami keuntungan ataupun tidak.

Praktek seperti ini sebenarnya sangat mirip dengan praktek riba jahiliyah pada masa jahiliyah. Hanya bedanya, pada riba jahiliyah bunga baru akan dikenakan ketika si peminjam tidak bisa melunasi hutang pada waktu yang telah ditentukan, sebagai kompensasi penambahan waktu pembayaran. Sedangkan pada praktek perbankan, bunga telah ditetapkan sejak pertama kali kesepakatan dibuat, atau sejak si peminjam menerima dana yang dipinjamnya. Oleh karena itulah tidak heran, jika banyak ulama yang mengatakan bahwa praktek riba yang terjadi pada sektor perbankan saat ini, lebih jahiliyah dibandingkan dengan riba jahiliyah.

Selain terjadi pada aspek pembiyaan sebagaimana di atas, riba juga terjadi pada aspek tabungan. Dimana nasabah mendapatkan bunga yang pasti dari bank, sebagai kompensasi uang yang disimpannya dalam bank, baik bank mengalami keuntungan maupun kerugian. Berbeda dengan sistem syariah, di mana bank syariah tidak menjanjikan return tetap, melainkan hanya nisbah (yaitu prosentasi yang akan dibagikan dari keuntungan yang didapatkan oleh bank). Sehingga return yang didapatkan nasabah bisa naik turun, sesuai dengan naik turunnya keutungan bank. Istilah seperti inilah yang kemudian berkembang namanya menjadi sistem bagi hasil.

  1. Transaksi Asuransi.

Dalam sektor asuransi pun juga tidak luput dari bahaya riba. Karena dalam asuransi (konvensional) terjadi tukar menukar uang dengan jumlah yang tidak sama dan dalam waktu yang juga tidak sama. Sebagai contoh, seseorang yang mengasuransikan kendaraannya dengan premi satu juta rupiah pertahun. Pada tahun ketiga, ia kehilangan mobilnya seharga 100 juta rupiah. Dan oleh karenanya pihak asuransi memberikan ganti rugi sebesar harga mobilnya yang telah hilang, yaitu 100 juta rupiah. Padahal jika diakumulasikan, ia baru membayar premi sebesar 3 juta rupiah. Jadi dari mana 97 juta rupiah yang telah diterimanya? Jumlah 97 juta rupiah yang ia terima masuk dalam kategori riba fadhl (yaitu tukar menukar barang sejenis dengan kuantitas yang tidak sama).

Pada saat bersamaan, praktek asuransi juga masuk pada kategori riba nasi’ah (kelebihan yang dikenakan atas pertangguhan waktu), karena uang klaim yang didapatkan tidak yadan biyadin dengan premi yang dibayarkan. Antara keduanya ada tenggang waktu, dan oleh karenanya terjadilah riba nasi’ah. Hampir semua ulama sepekat, mengenai haramnya asuransi (konvensional) ini. Diantara yang mengaramkannya adalah Sayid Sabiq dan juga Sheikh Yusuf Al-Qardhawi. Oleh karenanya, dibuatlah solusi berasuransi yang selaras dengan syariah Islam. Karena sistem asuransi merupakan dharurah ijtima’iyah (kebutuhan sosial), yang sangat urgen.

  1. Transaksi Jual Beli Secara Kredit.

Jual beli kredit yang tidak diperbolehkan adalah yang mengacu pada “bunga” yang disertakan dalam jual beli tersebut. Apalagi jika bunga tersebut berfruktuatif, naik dan turun sesuai dengan kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah. Sehingga harga jual dan harga belinya menjadi tidak jelas (gharar fitsaman). Sementara sebenarnya dalam syariah Islam, dalam jual beli harus ada “kepastian” harga, antara penjual dan pembeli, serta tidak boleh adanya perubahan yang tidak pasti, baik pada harga maupun pada barang yang diperjual belikan. Selain itu, jika terjadi “kemacetan” pembayaran di tengah jalan, barang tersebut akan diambil kembali oleh penjual atau oleh daeler dalam jual beli kendaraan. Pembayaran yang telah dilakukan dianggap sebagai “sewa” terhadap barang tersebut.

Belum lagi komposisi pembayaran cicilah yang dibayarkan, sering kali di sana tidak jelas, berapa harga pokoknya dan berapa juga bunganya. Seringkali pembayaran cicilan pada tahun-tahun awal, bunga lebih besar dibandingkan dengan pokok hutang yang harus dibayarkan. Akhirnya pembeli kerap merasa dirugikan di tengah jalan. Hal ini tentunya berbeda dengan sistem jual beli kredit secara syariah. Dimana komposisi cicilan adalah flat antara pokok dan marginnya, harga tidak mengalami perubahan sebagaimana perubahan bunga, dan kepemilikan barang yang jelas, jika terjadi kemacetan. Dan sistem seperti ini, akan menguntungkan baik untuk penjual maupun pembeli.

Masih banyak sesungguhnya transaksi-transaksi yang mengandung unsur ribawi di tengah-tengah kehidupan kita. Intinya adalah kita harus waspada dan menghindarkan diri sejauh-jauhnya dari muamalah seperti ini. Cukuplah nasehat rabbani dari Allah SWT kepada kita “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. Annisa’ : 29)

II.7 Pelarangan Riba dalam Sistem Keuangan Islam

Pelarangan riba, menurut Qardhawi memiliki hikmah yang tersembunyi dibalik pelarangannya yaitu perwujudan persamaan yang adil di antara pemilik harta (modal) dengan usaha, serta pemikulan resiko dan akibatnya secara berani dan penuh rasa tanggung jawab. Prinsip keadilan dalam Islam ini tidak memihak kepada salah satu pihak, melainkan keduanya berada pada posisi yang seimbang. Konsep pelarangan riba dalam Islam dapat dijelaskan dengan keunggulannya secara ekonomis dibandingkan dengan konsep ekonomi konvensional. Riba secara ekonomis lebih merupakan sebuah upaya untuk mengoptimalkan aliran investasi dengan cara memaksimalkan kemungkinan investasi melalui pelarangan adanya pemastian (bunga). Semakin tinggi tingkat suku bunga, semakin besar kemungkinan aliran investasi yang terbendung. Hal ini dapat diumpamakan seperti sebuah bendungan. Semakin tinggi dinding bendungan, maka semakin besar aliran air yang terbendung (Ascarya, 2007: 17).

Dengan pelarangan riba, maka dinding yang membatasi aliran investasi tidak ada sehingga alirannya lancar tanpa halangan. Hal ini terlihat jelas pada saat Indonesia dilanda krisis keuangan dan perbankan pada 1997-1998. Pada saat itu, suku bunga perbankan melambung sangat tinggi mencapai 60%. Dengan suku bunga setinggi itu bisa dikatakan hampir tidak ada orang yang berani meminjam ke bank untuk investasi.

Dari penjelasan di atas, implikasi pelarangan riba pada sektor riil, menurut Ascarya (2007: 19) antara lain:

  1. Mengoptimalkan aliran investasi tersalur lancar ke sektor riil.
  2. Mencegah penumpukan harta pada sekelompok orang, ketika hal tersebut berpotensi mengeksploitasi perekonomian (eksploitasi pelaku ekonomi atas pelaku yang lain; eksploitasi sistem atas pelaku ekonomi);
  3. Mencegah timbulnya gangguan-ganguan dalam sektor riil, seperti inflasi dan penurunan produktivitas ekonomi makro;
  4. Mendorong terciptanya aktivitas ekonomi yang adil, stabil dan sustainable melalui mekanisme bagi hasil (profit-loss sharing) yang produktif.

Dengan demikian, adanya pelarangan riba dalam Islam, maka aliran investasi menjadi optimal dan tersalur ke sektor produktif. Sementara itu, dalam sistem konvensional sistem bunga membuat aliran investasi menjadi tidak optimal dan tidak lancar karena sebagiannya terhambat. Sedangkan dengan tidak adanya  pelarangan judi, sebagian investasi tidak tersalur ke sektor produktif sebagaimana Sistem Konvensional.(Sumber: Ascarya, 2007: 21)

Lebih jauh lagi, ketika riba hanya mencakup usury, maka fokus pengembangan ekonomi Islam akan mengarah kepada penyempurnaan dan kelengkapan regulasi dari infrastruktur ekonomi Islam saja, yang di dalamnya mencakup lembaga keuangan Islam (bank syari’ah, asuransi syari’ah, pasar modal syari’ah, dan sebagainya). Namun, ketika riba termasuk interest, maka fokus pengembangan ekonomi Islam juga mengarah kepada tatanan makroekonomi dan pengelolaan moneter yang berbasis emas (full bodied money) pada dimensi jangka panjang (Ascarya, 2007: 21).

II.8 Cara-Cara Pengembangan Uang yang Tidak Mengandung Riba

Riba merupakan suatu bentuk transaksi ekonomi yang keharamannya bukan disebabkan karena dzatnya, namun disebabkan oleh transaksi yang dilakukan (haram lighairihi).

Solusi Islam untuk menghindarkan riba dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan aktivitas ekonomi syari’ah yakni Investasi. Investasi ini dapat dilakukan melalui kerjasama ekonomi yang dilakukan dalam semua lini kegiatan ekonomi, baik produksi, konsumsi dan distribusi. Salah satu bentuk kerjasama dalam bisnis ekonomi Islam adalah musyarakah atau mudharabah. Melalui transaksi musyarakah dan mudharabah ini, kedua belah pihak yang bermitra tidak akan mendapatkan bunga, tetapi mendapatkan bagi hasil atau profit dan loss sharing dari kerjasama ekonomi yang disepakati bersama. Profit-loss sharing ini dapat dianggap sebagai sistem kerjasama yang lebih mengedepankan keadilan dalam bisnis Islam, sehingga dapat dijadikan sebagai solusi alternatif pengganti sistem bunga. Profit-Loss Sharing: Solusi Islam terhadap Alternatif Pengganti Bunga Sebagai alternatif sistem bunga dalam ekonomi konvensional, ekonomi Islam menawarkan sistem bagi hasil (profit and loss sharing) ketika pemilik modal (surplus spending unit) bekerja sama dengan pengusaha (deficit spending unit) untuk melakukan kegiatan usaha. Apabila kegiatan usaha menghasilkan, keuntungan dibagi bersama dan apabila kegiatan usaha menderita kerugian, kerugian juga ditanggung bersama. Sistem bagi hasil ini dapat berbentuk mudharabah atau musyarakah dengan berbagai variasinya. Dalam mudharabah terdapat kerja sama usaha antara dua pihak dimana pihak (shahibul mal) menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak lainnya sebagai mudharib (pengelola). Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian mudharib. Namun, seandainya kerugian itu diakibatkan karena kelalaian mudharib, maka mudharib juga harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut (Antonio, 2001: 95).

Alternatif pengganti bunga yang lain adalah partisipasi modal (equity participation) melalui ekspektasi rate of return yang disebut sebagai musyarakah. Sektor riil merupakan sektor yang paling penting disorot dalam ekonomi Islam karena berkaitan langsung dengan peningkatan output dan akhirnya kesejahteraan masyarakat. Segala komponen dalam perekonomian diarahkan untuk mendorong sektor riil ini, baik dalam memotivasi pelaku bisnis maupun dalam hal pembiayaannya (Masyhuri, 2005: 108-109).

Ekspektasi return, berbeda dengan suku bunga yang selalu dijustifikasi pleh time value of money, namun justru dikaitkan dengan economic value of money. Dengan demikian, faktor yang menentukan nilai waktu adalah bagaimana seseorang memanfaatkan waktu itu. Semakin efektif dan efisien, maka akan semakin tinggi nilai waktunya. Dengan pemanfaatan waktu sebaik-baiknya untuk bekerja dan berusaha akan menghasilkan pendapatan yang dapat dinilai dengan uang. Hal ini bertentangan dengan time value of money, yang tidak secara proporsional mempertimbangkan probabilitas terjadinya deflasi, selain adanya  inflasi. Karena pada realitanya, ketidakpastian (uncertainty) selalu terjadi, dan sangat menjadi tidak adil jika hanya menuntut adanya kepastian, seperti yang berlaku dalam ekonomi konvensional melalui konsep time value of money-nya.

Oleh karena itu, pemodal dalam Islam tidak berhak meminta rate of return yang nilainya tetap dan tidak seorangpun berhak mendapatkan tambahan dari pokok modal yang ditanamkannya tanpa keikutsertaannya dalam menanggung resiko (Masyhuri, 2005: 109-110).

Dengan demikian, menurut Ascarya (2007: 26) kedua sistem profit and loss sharing ini, baik mudharabah dan musyarakah akan mampu menjamin adanya keadilan dan tidak adanya pihak yang tereksploitasi (terdzalimi). Melalui sistem bagi hasil ini juga akan terbangun pemerataan dan kebersamaan serta menciptakan suatu tatanan ekonomi yang lebih merata. Sedangkan dalam perekonomian konvensional, sistem riba, fiat money, commodity money, dan pembolehan spekulasi akan menyebabkan penciptaan uang (kartal dan giral) dan tersedotnya uang di sektor moneter untuk mencari keuntungan tanpa resiko. Akibatnya, uang atau investasi yang seharusnya tersalur ke sektor riil untuk tujuan produktif sebagian besar lari ke sektor moneter dan menghambat pertumbuhan bahkan menyusutkan sektor riil.

BAB III

PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Dari uarain makalah di atas, maka dapat disimpulkan bahwa riba merupakan kegiatan eksploitasi dan tidak memakai konsep etika atau moralitas. Allah mengharamkan transaksi yang mengandung unsur ribawi, hal ini disebabkan mendholimi orang lain dan adanya unsur ketidakadilan (unjustice). Para ulama sepakat dan menyatakan dengan tegas tentang pelarangan riba, dalam hal ini mengacu pada Kitabullah dan Sunnah Rasul serta ijma’ para ulama’.

Transaksi riba biasanya sering terjadi dan ditemui dalam transaksi hutang piutang dan jual beli. Hutang piutang merupakan transaksi yang rentan akan riba, di mana kreditor meminta tambahan kepada debitor atas modala awal yang telah dipinjamkan sebelumnya. Sejak pra-Islam riba telah dikenal bahkan sering dilakukan dalam kegiatan perekonomian sehari-hari. Secara garis besar riba ada dua yaitu: riba akibat hutang piutang dan riba akibat jual beli.

Pelarangan Riba tidak hanya Islam saja yang melarang pengambilan riba, tetapi agama-agama samawi juga melarang dan mengutuk pelaku riba. Riba juga bukan hanya persoalan masyarakat Islam, tapi berbagai kalangan di luar Islam pun memandang serius persoalan riba. Kajian terhadap masalah riba dapat dirunut mundur hingga lebih dari 2.000 tahun silam. Pelarangan riba telah menjadi bahasan kalangan Yahudi, Yunani, demikian juga Romawi. Kalangan Kristen dari masa ke masa juga mempunyai pandangan tersendiri mengenai riba yang sangat tidak adil.

Kaum modernis memandang riba lebih menekankan kepada aspek moralitas, bukan pada aspek legal formalnya, tetapi mereka (kaum modernis) tidak membolehkan kegiatan pengambilan riba.

III.2 Saran

Islam mengharamkan riba selain telah tercantum secara tegas dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 278-279 yang merupakan ayat terakhir tentang pengharaman riba, juga mengandung unsur eksploitasi. Dalam surat al-baqarah disebutkan tidak boleh menganiaya dan tidak (pula) dianiaya, maksudnya adalah tidak boleh melipat gandakan (ad’afan mudhaafan) uang yang telah dihutangkan, juga karena dalam kegiatannya cenderung merugikan orang lain.

Maka dari itu jauhilah riba, dan lakukanlah aktivitas  ekonomi untuk  dikembangkan sehingga memiliki  beberapa  kaidah  dan  etika  atau  moralitas  dalam  syari’at  Islam.  Allah  telah  menurunkan  rizki  ke  dunia  ini  untuk  dimanfaatkan  oleh  manusia  dengan  cara  yang  telah  dihalalkan  oleh  Allah  dan  bersih dari segala perbuatan yang mengandung riba.

DAFTAR PUSTAKA

Wikipedia. 2014. Riba. (Online). Tersedia di http://id.wikipedia.org/wiki/Riba. [di akses pada 6 Mei 2014, 06:54]

Fauzi, Abu Amar. 2014. Riba  dalam  Prespektif  Islam,  Kristen,  Yahudi, Yunani dan Romawi. Surabaya. (Online). Tersedia di (http://ekonomi.kompasiana.com/moneter/2014/12/10/riba-dalam-prespektif-islam-kristen-yahudi-yunani-dan-romawi-691193.html). [diakses pada 10, Desember 2014 12:55]

Maulan, Rizka. 2014. Larangan Riba dalam Islam. (Online). Tersedia di https://investasisyariahonline.wordpress.com/seputar-riba/larangan-riba-dalam-islam/. [Sumber; eramuslim.com]

Dien, Hisyam Ad. 2013. Pengertian Riba, Jenis-Jenis Riba, Contoh-Contoh Riba. (Online). Tersedia di http://www.globalmuslim.web.id/2013/01/pengertian-riba-jenis-jenis-riba-contoh.html. [diakses pada Januari 2013, 08:01]

KoperasiSyariah. 2009. Perbedaan Investasi dengan Membungakan Uang. (Online). Tersedia di http://www.koperasisyariah.com/perbedaan-investasi-dengan-membungakan-uang/. [diakses pada, 8 Februari 2009, 07:01]

Lubis, Tagor Mulya. 2014. Perbedaan Bagi Hasil dan Bunga Bank. (Online). Tersedia di http://mulyalubis.weebly.com/perbedaan-bagi-hasil-dan-bunga-bank.html. [diakses pada 2014, 12:07]

Chair, Waisul. 2012. Riba dalam Prespektif Islam. (Online). Tersedia di http://fe.unira.ac.id/wp-content/uploads/2012/10/RIBA-DALAM-PERSPEKTIF-ISLAM.pdf. [diakses pada 2012,

Munawwir, Ahmad Warson, al-Munawwir, Kamus Arab-Indonesia, cet. 14.

Yogyakarta: P. al-Munawwir, 1997

Perwaatmadja, Karnaen, “Apakah Bunga sama dengan Riba?”, Kertas Kerja

Seminar Ekonomi Islam, Jakarta LPPBS, 1997

Rahmawaty, Anita. 2014. Riba dalam Prespektif Keuangan Islam. (Online). Tersedia di http://p3m.stainkudus.ac.id/files/Anita.pdf

[1]Fathi al-Daraini, al-Fiqh al-Islâm al-Muqarin ma’a al-Mazâhib (Dimasyqa: Jami’ah Dimasyqa, 1979). Hlm. 49-54.

  1. Muslim

Analisis Tingkat Inflasi, Kemiskinan dan Ketimpangan Di Indonesia

Oleh : Sutihat Rahayu Suadh

BAB I
PENDAHULUAN
I. 1 Latar Belakang
Inflasi di Indonesia diumpamakan seperti penyakit kronis dan berakar di sejarah. Tingkat inflasi di Malaysia dan Thailand senantiasa lebih rendah. Inflasi di Indonesia tinggi sekali pada zaman Presiden Soekarno, karena kebijakan fiskal dan moneter sama sekali tidak prudent (“kalau perlu uang, cetak saja”). Di zaman Soeharto, pemerintah berusaha menekan inflasi akan tetapi tidak bisa di bawah 10 persen setahun rata-rata, antara lain oleh karena Bank Indonesia masih punya misi ganda, antara lain sebagai agent of development, yang bisa mengucurkan kredit likuiditas tanpa batas. Baru pada zaman reformasi, mulai pada zaman Presiden Habibie maka fungsi Bank Indonesia mengutamakan penjagaan nilai rupiah. Tetapi karena sejarah dan karena inflationary expectations masyarakat (yang bertolak ke belakang, artinya bercermin kepada sejarah) maka “inflasi inti” masih lebih besar daripada 5 persen setahun.
Masalah besar yang dihadapi negara sedang berkembang adalah disparitas (ketimpangan) distribusi pendapatan dan tingkat kemiskinan. Tidak meratanya distribusi pendapatan memicu terjadinya ketimpangan pendapatan yang merupakan awal dari munculnya masalah kemiskinan. Membiarkan kedua masalah tersebut berlarut-larut akan semakin memperparah keadaan, dan tidak jarang dapat menimbulkan konsekuensi negatif terhadap kondisi sosial dan politik. Masalah kesenjangan pendapatan dan kemiskinan tidak hanya dihadapi oleh negara sedang berkembang, namun negara maju sekalipun tidak terlepas dari permasalahan ini. Perbedaannya terletak pada proporsi atau besar kecilnya tingkat kesenjangan dan angka kemiskinan yang terjadi, serta tingkat kesulitan mengatasinya yang dipengaruhi oleh luas wilayah dan jumlah penduduk suatu negara. Semakin besar angka kemiskinan, semakin tinggi pula tingkat kesulitan mengatasinya. Negara maju menunjukkan tingkat kesenjangan pendapatan dan angka kemiskinan yang relative kecil dibanding negara sedang berkembang, dan untuk mengatasinya tidak terlalu sulit mengingat GDP dan GNP mereka relative tinggi. Walaupun demikian, masalah ini bukan hanya menjadi masalah internal suatu negara, namun telah menjadi permasalahan bagi dunia internasional.
Berdasarkan data resmi yang dikeluarkan pemerintah, dan dari penelitian-penelitian akademik menunjukkan bahwa angka kemiskinan di Indonesia masih sangat tinggi. Data BPS bulan Maret tahun 2007 menunjukkan angka 37.168.300 orang berada di bawah garis kemiskinan. Jumlah ini sebagian besar bertempat tinggal di perdesaan (20,37%), tetapi ada pula kemiskinan di perkotaan (12,52%). Para ekonom banyak menyoroti permasalahan ini, terutama terhadap kebijakan pembangunan bidang ekonomi yang diambil pemerintah. Ada yang pro, pun tidak sedikit yang mengkritik. Sistem distribusi pendapatan nasional yang tidak pro menjadi isu bagi mereka yang mengkritik kebijakan pemerintah dengan keyakinan bahwa sistem distribusi pendapatan sangat menentukan bagaimana pendapatan nasional yang tinggi mampu menciptakan perubahan-perubahan dan perbaikan-perbaikan dalam kehidupan bernegara, seperti mengurangi kemiskinan, pengangguran dan kesulitan-kesulitan lain dalam masyarakat. Distribusi pendapatan nasional yang tidak merata, tidak akan menciptakan kemakmuran bagi masyarakat secara umum. Sistem distribusi yang tidak pro hanya akan menciptakan kemakmuran bagi golongan tertentu saja, sehingga ini menjadi isu sangat penting dalam menyikapi tingginya angka kemiskinan hingga saat ini.
I.2. Maksud dan Tujuan Penulisan
Tulisan ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran tentang profil laju inflasi, tingkat kemiskinan dan ketimpangan di Indonesia, melalui pengkajian berbagai jurnal, artikel, dan penelitian-penelitian terkait. Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk memperoleh data dan informasi tentang Laju inflasi, disparitas distribusi pendapatan (Ketimpangan) dan tingkat kemiskinan di Indonesia, serta menentukan langkah-langkah yang dianggap efektif dan efisien dalam upaya penanggulangannya, melalui studi berbagai literatur akademik.
I.3 Metedologi
Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode/cara pengumpulan data atau informasi melalui : Penelitian melalui data primer dan juga melalui penelitian kepustakaan (Library Research) yaitu penelitian yang dilakukan melalui studi literature, internet, dan sebagainya yang sesuai atau yang ada relevansinya (berkaitan) dengan masalah yang dibahas.

I.4 Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang penulisan ini, maka terlebih dahulu penulis akan menguraikan sistematika penulisannya agar lebih mudah dipahami dalam memecahkan masalah yang ada, di dalam penulisan ini dibagi dalam 3 (tiga) bab yang terdiri dari:
Bab I : Bab ini merupakan bab pendahuluan yang memuat latar belakang, rumusan masalah, tujuan, metodologi, dan sistimatika penulisan.
Bab II : Bab ini merupakan bab yang berisi tentang analisis terhadap masalah efektivitas hukum dalam masyarakat.
Bab III : Bab ini merupakan bab penutup yang memuat kesimpulan dan saran.

BAB II
PEMBAHASAN
Analisis Tingkat Inflasi, kemiskinan dan ketimpangan diindonesia
II.1 Analisis Perkembangan Inflasi di Indonesia
II.1.1 Pengertian Inflasi
Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (continue) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang.[1]Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-memengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator.
Secara sederhana inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Kebalikan dari inflasi disebut deflasi.
Indikator yang sering digunakan untuk mengukur tingkat inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK). Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Sejak Juli 2008, paket barang dan jasa dalam keranjang IHK telah dilakukan atas dasar Survei Biaya Hidup (SBH) Tahun 2007 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Kemudian, BPS akan memonitor perkembangan harga dari barang dan jasa tersebut secara bulanan di beberapa kota, di pasar tradisional dan modern terhadap beberapa jenis barang/jasa di setiap kota.
a. Indikator inflasi lainnya berdasarkan international best practice antara lain:
o Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB). Harga Perdagangan Besar dari suatu komoditas ialah harga transaksi yang terjadi antara penjual/pedagang besar pertama dengan pembeli/pedagang besar berikutnya dalam jumlah besar pada pasar pertama atas suatu komoditas. [Penjelasan lebih detail mengenai IHPB dapat dilihat pada web site Badan Pusat Statistik http://www.bps.go.id]

o Deflator Produk Domestik Bruto (PDB) menggambarkan pengukuran level harga barang akhir (final goods) dan jasa yang diproduksi di dalam suatu ekonomi (negeri). Deflator PDB dihasilkan dengan membagi PDB atas dasar harga nominal dengan PDB atas dasar harga konstan.
b. Pengelompokan Inflasi
Inflasi yang diukur dengan IHK di Indonesia dikelompokan ke dalam 7 kelompok pengeluaran (berdasarkan the Classification of individual consumption by purpose – COICOP), yaitu :
o Kelompok Bahan Makanan
o Kelompok Makanan Jadi, Minuman, dan Tembakau
o Kelompok Perumahan
o Kelompok Sandang
o Kelompok Kesehatan
o Kelompok Pendidikan dan Olah Raga
o Kelompok Transportasi dan Komunikasi.

II.1.2 Mengukur Inflasi
Inflasi diukur dengan menghitung perubahan tingkat persentase perubahan sebuah indeks harga. Indeks harga tersebut di antaranya:
 Indeks harga konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI), adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang tertentu yang dibeli oleh konsumen.
 Indeks biaya hidup atau cost-of-living index (COLI).
 Indeks harga produsen adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang-barang yang dibutuhkan produsen untuk melakukan proses produksi. IHP sering digunakan untuk meramalkan tingkat IHK di masa depan karena perubahan harga bahan baku meningkatkan biaya produksi, yang kemudian akan meningkatkan harga barang-barang konsumsi.
 Indeks harga komoditas adalah indeks yang mengukur harga dari komoditas-komoditas tertentu.
 Indeks harga barang-barang modal
 Deflator PDB menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua barang baru, barang produksi lokal, barang jadi, dan jasa.
II.1.3 Penggolongan Inflasi
a. Inflasi Menurut Asalnya,
inflasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu inflasi yang berasal dari dalam negeri (Domestic Inflation) dan inflasi yang berasal dari luar negeri. Inflasi berasal dari dalam negeri misalnya terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal. Sementara itu, inflasi dari luar negeri ( Imported Inflation) adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang.
b. Inflasi Menurut Penyebabnya
o Inflasi tarikan permintaan (Ingg: demand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan dimana biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditas di pasar sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya volume alat tukar atau likuiditas yang terkait dengan permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi tersebut. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment dimanana biasanya lebih disebabkan oleh rangsangan volume likuiditas dipasar yang berlebihan. Membanjirnya likuiditas di pasar juga disebabkan oleh banyak faktor selain yang utama tentunya kemampuan bank sentral dalam mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan suku bunga bank sentral, sampai dengan aksi spekulasi yang terjadi di sektor industri keuangan.
o Inflasi desakan biaya (Ingg: cost push inflation) terjadi akibat adanya kelangkaan produksi dan/atau juga termasuk adanya kelangkaan distribusi, walau permintaan secara umum tidak ada perubahan yang meningkat secara signifikan. Adanya ketidak-lancaran aliran distribusi ini atau berkurangnya produksi yang tersedia dari rata-rata permintaan normal dapat memicu kenaikan harga sesuai dengan berlakunya hukum permintaan-penawaran, atau juga karena terbentuknya posisi nilai keekonomian yang baru terhadap produk tersebut akibat pola atau skala distribusi yang baru. Berkurangnya produksi sendiri bisa terjadi akibat berbagai hal seperti adanya masalah teknis di sumber produksi (pabrik, perkebunan, dll), bencana alam, cuaca, atau kelangkaan bahan baku untuk menghasilkan produksi tsb, aksi spekulasi (penimbunan), dll, sehingga memicu kelangkaan produksi yang terkait tersebut di pasaran. Begitu juga hal yang sama dapat terjadi pada distribusi, dimana dalam hal ini faktor infrastruktur memainkan peranan yang sangat penting.
c. Inflasi Menurut Besarnya Cakupan Pengaruh terhadap Harga
Jika kenaikan harga yang terjadi hanya berkaitan dengan satu atau dua barang tertentu, inflasi itu disebut inflasi tertutup (Closed Inflation). Namun, apabila kenaikan harga terjadi pada semua barang secara umum, maka inflasi itu disebut sebagai inflasi terbuka(Open Inflation). Sedangkan apabila serangan inflasi demikian hebatnya sehingga setiap saat harga-harga terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama disebabkan nilai uang terus merosot disebut inflasi yang tidak terkendali (Hiperinflasi).
d. Inflasi Menurut Sifatnya
1. Inflasi ringan (kurang dari 10% / tahun)
2. Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% / tahun)
3. Inflasi berat (antara 30% sampai 100% / tahun)
4. Hiperinflasi (lebih dari 100% / tahun)

II.1.4 Perkembangan Inflasi di Indonesia

Table Inflasi dan IHK Indonesia Tahun 2000-2013 Menurut Bulan, Indonesia 2000-2014.
INDONESIA 2000 – 2014
BULAN TAHUN 2000 TAHUN 2001 TAHUN 2002 TAHUN 2003 TAHUN 2004
IHK INFLASI IHK INFLASI IHK INFLASI IHK INFLASI IHK INFLASI

INDONESIA 2000 – 2014
BULAN TAHUN 2000 TAHUN 2001 TAHUN 2002 TAHUN 2003 TAHUN 2004
IHK INFLASI IHK INFLASI IHK INFLASI IHK INFLASI IHK INFLASI
Jan 205.12 1.32 222.1 0.33 254.12 1.99 276.33 0.8 110.45 0.57
Feb 205.27 0.07 224.04 0.87 257.93 1.5 276.87 0.2 110.43 -0.02
Mar 204.34 -0.45 226.04 0.89 257.87 -0.02 276.23 -0.23 110.83 0.36
Apr 205.48 0.56 227.07 0.46 257.26 -0.24 276.65 0.15 111.91 0.97
Mei 207.21 0.84 229.63 1.13 259.31 0.8 277.23 0.21 112.9 0.88
Jun 208.24 0.5 233.46 1.67 260.25 0.36 277.49 0.09 113.44 0.48
Jul 210.91 1.28 238.42 2.12 262.38 0.82 277.58 0.03 113.88 0.39
Agt 211.99 0.51 237.92 -0.21 263.13 0.29 279.92 0.84 113.98 0.09
Sep 211.87 -0.06 239.44 0.64 264.53 0.53 280.93 0.36 114 0.02
Okt 214.33 1.16 241.06 0.68 265.95 0.54 282.48 0.55 114.64 0.56
Nov 217.15 1.32 245.18 1.71 270.87 1.85 285.32 1.01 115.66 0.89
Des 221.37 1.94 249.15 1.62 274.13 1.2 287.99 0.94 116.86 1.04
Tahunan 9.35 12.55 10.03 5.06 6.4
BULAN TAHUN 2005 TAHUN 2006 TAHUN 2007 TAHUN 2008 TAHUN 2009
IHK INFLASI IHK INFLASI IHK INFLASI IHK INFLASI IHK INFLASI
Jan 118.53 1.43 138.72 1.36 147.41 1.04 158.26 1.77 113.78 -0.07
Feb 118.33 -0.17 139.53 0.58 148.32 0.62 159.29 0.65 114.02 0.21
Mar 120.59 1.91 139.57 0.03 148.67 0.24 160.81 0.95 114.27 0.22
Apr 121 0.34 139.64 0.05 148.43 -0.16 161.73 0.57 113.92 -0.31
Mei 121.25 0.21 140.16 0.37 148.58 0.1 164.01 1.41 113.97 0.04
Jun 121.86 0.5 140.79 0.45 148.92 0.23 110.08 2.46 114.1 0.11
Jul 122.81 0.78 141.42 0.45 149.99 0.72 111.59 1.37 114.61 0.45
Agt 123.48 0.55 141.88 0.33 151.11 0.75 112.16 0.51 115.25 0.56
Sep 124.33 0.69 142.42 0.38 152.32 0.8 113.25 0.97 116.46 1.05
Okt 135.15 8.7 143.65 0.86 153.53 0.79 113.76 0.45 116.68 0.19
Nov 136.92 1.31 144.14 0.34 153.81 0.18 113.9 0.12 116.65 -0.03
Des 136.86 -0.04 145.89 1.21 155.5 1.1 113.86 -0.04 117.03 0.33
Tahunan 17.11 6.6 6.59 11.06 2.78
BULAN TAHUN 2010 TAHUN 2011 TAHUN 2012 TAHUN 2013 TAHUN 2014
IHK INFLASI IHK INFLASI IHK INFLASI IHK INFLASI IHK INFLASI
Jan 118.01 0.84 126.29 0.89 130.9 0.76 136.88 1.03 110.99 1.07
Feb 118.36 0.3 126.46 0.13 130.96 0.05 137.91 0.75 111.28 0.26
Mar 118.19 -0.14 126.05 -0.32 131.05 0.07 138.78 0.63 111.37 0.08
Apr 118.37 0.15 125.66 -0.31 131.32 0.21 138.64 -0.1 111.35 -0.02
Mei 118.71 0.29 125.81 0.12 131.41 0.07 138.6 -0.03 111.53 0.16
Jun 119.86 0.97 126.5 0.55 132.23 0.62 140.03 1.03 112.01 0.43
Jul 121.74 1.57 127.35 0.67 133.16 0.7 144.63 3.29 113.05 0.93
Agt 122.67 0.76 128.54 0.93 134.43 0.95 146.25 1.12 113.58 0.47
Sep 123.21 0.44 128.89 0.27 134.45 0.01 145.74 -0.35 113.89 0.27
Okt 123.29 0.06 128.74 -0.12 134.67 0.16 145.87 0.09 114.42 0.47
Nov 124.03 0.6 129.18 0.34 134.76 0.07 146.04 0.12 116.14 1.5
Des 125.17 0.92 129.91 0.57 135.49 0.54 146.84 0.55 N.A N.A
Tahunan 6.96 3.79 4.3 8.38

Tingkat perkembangan Inflasi dari tahun 2000 hingga 2013. Dari data diatas Analisis Perkembangan Inflasi di Indonesia ( Sumber : BPS) Laju Inflasi pada tahun 2000 – 2001 tumbuh sebesar 3,2 % dari 9,35% ditahun 2000 dan 12,55% ditahun 2001, Inflasi pada tahun 2002 turun sebesar 2.52% dari total 12,55% ditahun 2001 dan 10,03% pada tahun 2002, Inflasi tahun 2003 kembali turun sebesar 4.97% dari total 10,03 % ditahun 2002 dan 5,06% pada tahun 2003, Inflasi tahun 2004 naik sebesar 1.34% dari total5,06% pada tahun 2003 dan 6,40% pada tahun 2004, tahun 2005 inflasi naik sebesar 10.71 % dan ditahun 2006 turun sebesar 10,51%, tahun 2007 turun 0.01 % kemudian pada tahun 2008 naik sebesar 5,01 % dan pada tahun 2009 turun sebesar 8.82%, tahun 2010 inflasi naik sebesar 4.18 , tahun 2011 turun sebesar 3.17% pada tahun 2012 naik 0.51%, dan Inflasi pada tahun 2013 naik sebesar 4,08% dari total 4,30% ditahun 2012 dan 8,38% pada tahun 2013.
Inflasi tahunan Desember 2013 tergolong tinggi, 8,38 persen, jauh lebih tinggi dari inflasi tahunan Desember 2012, sebesar 4,3 persen. Namun, tingginya inflasi lebih didorong kenaikan harga BBM Mei 2013. Kenaikan harga yang dipengaruhi pemerintah (administered price) 16,65 persen dan harga pangan 11,3 persen. Inflasi inti sebenarnya relatif rendah, 4,98 persen. Efek harga BBM sebelumnya lebih besar lagi. Pada 2005 kenaikan mendorong inflasi tahunan menjadi 17 persen. Kenaikan Inflasi juga disebabkan karena kenaikan harga BBM, pertama kali dilakukan pada 1 Maret 2005 dari Rp1.810/liter menjadi Rp2.400/liter. Tujuh bulan kemudian pada 1 Oktober 2005, pemerintah kembali menaikkan harga BBM sebesar 87,5%dari Rp2.400/liter menjadi Rp4.500 per liter. Saat itu pada 30 Desember 2005, crude oil price ditutup diharga USD 61,04/barel. Karena itu pada tahun 2005 inflasi mencapai level 17,11% dan untuk menahan tingginya inflasi, maka Bank Indonesia menaikan suku bunga acuan dari bulan Juli-Desember dari 8,50% ke level 12,25%. Saat itu inflasi impor juga meningkat seiring pergerakan kurs Rupiah terhadap US Dollar yang melemah dari Rp9.090 ke level Rp9.803,92 pada akhir tahun 2005, sehingga terlihat adanya capital flight akibat pertumbuhan inflasi yang terlalu tinggi. cadangan devisa sepanjang tahun 2005 menurun dari USD 36 miliar ke USD 34,723 miliar di akhir tahun 2005. Meskipun setiap kali kenaikan harga BBM subsidi selalu memberikan pengaruh negatif ke Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) namun jika kita perhatikan sepanjang tahun 2005 IHSG tetap menunjukan kenaikan dari 1000,88 ke level 1162,64 (+16,16%) pada akhir tahun 2005. Dan pada 2008 menaikkan inflasi jadi 11 persen. Pada tahun 2008, tepatnya 24 Mei 2008 pemerintah kembali menaikkan harga BBM dari Rp4.500/liter ke hargaRp6.000/liter karena pada tanggal 23 Mei 2008, crude oil price mencapai harga maksimumnya di harga USD 132,19/barel sehingga menyebabkan peningkatan inflasi kembali mencapai double digit ke 11,06% dan akhirnya kembali Bank Indonesia menggunakan haknya untuk mengintervensi pasar dengan menaikan suku bunga acuan dari 8% ke 9,25% pada akhir tahun 2008. Sepanjang tahun 2008 kurs Rupiah melemah dengan drastis terhadap US Dollar dari Rp9.433,96 ke level Rp11.235,96 pada akhir tahun 2008. Jika kita ingat, Tahun 2008 adalah saat dimana terjadinya krisis ekonomi global yang disebabkan masalah subprime mortgage di Amerika yang akhirnya menular ke negara-negara lainnya. Kembali kenaikan harga minyak menyebabkan kurs Rupiah melemah dengan drastis yang kembali disebabkan capital flight karena jelas investor asing mulai merasakan depresiasi asset Rupiah dengan pertumbuhan inflasi yang sebesar itu sehingga tidak heran adanya oversold di bursa saham yang menyebabkan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) melemah tajam dari 2715,06 ke level 1355,41 (-50,08%) pada akhir tahun 2008. cadangan devisa sepanjang tahun 2008 menurun dari USD 55,999 miliar ke USD 51,639 miliar di akhir tahun 2008. Meski dampak kenaikan harga BBM terasa lebih ringan terhadap inflasi, kali ini tantangan makroekonomi domestik dan global bisa jadi lebih berat. (Lihat table 1.1 dan 1.2 )
Inflasi Indonesia Menurut Kelompok Pengeluaran
2006, 2007, Jan-Mei 2008 (2002=100), Juni 2008 – Desember 2013 (2007=100), Januari-Desember 2014 (2012=100)
Tabel 1.6
Tahun/Bulan Bahan Makanan Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar Sandang Kesehatan Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan Umum

Tahun/Bulan Bahan Makanan Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar Sandang Kesehatan Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan Umum
2014 10.57 8.11 7.36 3.08 5.71 4.44 12.14 8.36
2013 11.35 7.45 6.22 0.52 3.70 3.91 15.36 8.38
2012 5.68 6.11 3.35 4.67 2.91 4.21 2.20 4.30
2011 3.64 4.51 3.47 7.57 4.26 5.16 1.92 3.79
2010 15.64 6.96 4.08 6.51 2.19 3.29 2.69 6.96
2009 3.88 7.81 1.83 6.00 3.89 3.89 -3.67 2.78
2008 16.35 12.53 10.92 7.33 7.96 6.66 7.49 11.06
2007 11.26 6.41 4.88 8.42 4.31 8.83 1.25 6.59
2006 12.94 6.36 4.83 6.84 5.87 8.13 1.02 6.60

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi nasional pada 2014 mencapai 8,36 persen, atau sedikit lebih rendah dari laju inflasi pada 2013 sebesar 8,38 persen. Inflasi nasional lebih rendah dari 2013, meskipun sama-sama tinggi, akibat terjadi kenaikan harga BBM. Tingkat inflasi yang relatif tinggi ini dipengaruhi oleh komoditas yang harganya berfluktuasi sepanjang tahun 2014, diantaranya bensin yang menyumbang andil 1,04 persen. Selain itu, tarif listrik menyumbang andil inflasi pada 2014 sebesar 0,64 persen, angkutan dalam kota 0,63 persen, cabai merah 0,43 persen, beras 0,38 persen dan bahan bakar rumah tangga 0,37 persen. Komoditas lainnya seperti tarif angkutan udara juga ikut menyumbang laju inflasi nasional 2014 yaitu 0,22 persen, diikuti oleh cabai rawit sebesar 0,19 persen dan nasi dengan lauk 0,18 persen.Secara keseluruhan, tingkat inflasi nasional dipengaruhi oleh tingginya laju inflasi pada Desember 2014 yang tercatat mencapai 2,46 persen, karena terkena dampak kenaikan harga BBM bersubsidi pada November lalu.Sementara, inflasi komponen inti Desember 2014 tercatat sebesar 1,02 persen dan inflasi inti secara tahunan (yoy) mencapai 4,93 persen.Kelompok yang menjadi penyumbang inflasi tinggi pada Desember antara lain kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 5,55 persen, diikuti kelompok bahan makanan 3,22 persen.Kemudian, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, inflasi sebesar 1,96 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 1,45 persen dan kelompok kesehatan 0,74 persen.Terakhir, kelompok sandang ikut menyumbang inflasi pada Desember 2014 yaitu sebesar 0,64 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga yang hanya menyumbang inflasi 0,36 persen. Indeks Harga Konsumen (IHK) seluruhnya mengalami inflasi pada Desember, dengan inflasi tertinggi di Merauke 4,53 persen dan terendah di Meulaboh 1,17 persen. (Sumber :http://bisniskeuangan.kompas.com/).
Pada table (1.3), (1.4), (1.5) hingga tahun 2012 perkembangan inflasi Banten cenderung terjaga stabil, namun memburuk ditriwulan 1 tahun 2013dengan laju inflasi sepanjang januari s.d. maret sebesar 3,09% (ytd) dan tertinggi dikota serang sebesar 3,76% (ytd). Sepanjang Triwulan 1 2013 tekanan inflasi terbesar dari komoditas kelompok bahan makanan dengan harga yang bergejolak mencapai 7,47% yang berarti memberikan kontribusi besar terhadap laju inflasi di Banten yang naik 48% (Bahan Makanan) dari tahun 2012 triwulan IV.
Dari data diatas dapat saya simpulkan tekanan inflasi terbesar berasal dari dampak kenaikan harga BBM dan kelompok komoditas bahan makanan (Memberikan kontribusi besar terhadap inflasi di Indonesia). Selain itu tarif listrik, angkutan dalam kota, biaya pendidikan, sewa rumah dan lainnya juga menyumbang terhadap pertumbuhan inflasi.
II.2 Analisis Kemiskinan di Indonesia
II.2.1 Pengertian Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan.
II.2.2 Profil Kemiskinan di Indonesia
Tahun 1987-1996 (BPS), terjadi penurunan angka garis kemiskinan yang lebih lambat. Hal ini terutama terjadi di daerah pedesaan, sedangkan pada tahun 1976-1987 jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan di daerah pedesaan menurun hampir 7% per tahun, dan antara 1987 – 1996, tingkat penurunan angka kemiskinan tiap tahun melambat menjadi hanya sekitar 3% per tahun. Pengalaman dari tahun 1987-1999 menunjukan bahwa elastisitas.
kemiskinan terhadap pertumbuhan ekonomi menurun di Indonesia. Dengan kata lain, pertumbuhan yang cepat pada tahun 1987-1999 disertai dengan peningkatan ketidakmerataan, terutama di daerah perkotaan, dan peningkatan ketidakmerataan ini mengurangi dampak pertumbuhan pada penurunan tingkat kemiskinan.
Pada tahun 1996, 43% dari penduduk miskin berada di luar Jawa dan Bali. Lebih dari 20% berada di Kalimantan, Sulawesi dan kepulauan bagian timur (NTT, NTB, Timor Timur dan Maluku). Tampaknya masih banyak yang meragukan teori yang mengatakan bahwa sektor pertanian yang relative terbelakang ditambah lagi dengan kepemilikan tanah yang sempit merupakan faktor utama yang menyebabkan tingginya angka kemiskinan di daerah pedesaan.
Tidak bisa disangkal bahwa pada masa pemerintahan soeharto Indonesia mengalami penurunan dalam angka kemiskinan absolute dan ada kenaikan dalam indikator-indikator kesejahreaan lainnya seperti tingkat kematian bayi dan angka melek huruf. Studi comparative menunjukkan bahwa akhir tahun 1980-an tingkat kemiskinan di Indonesia berada di bawah Filipina, meskipun jauh di atas Thailand dan Malaysia (Booth, 1997; Ahuja et al., 1997; Mizoguchi dan Yoshida, 1998; dalam Booth, 2000). Tetapi penurunan angka kemiskinan relatif melambat. Angka kemiskinan relatif yang meningkat begitu tajam di beberapa kota-kota terbesar di Indonesia antara tahun 1987 dan 1996 pada saat rata-rata pendapatan dan pengeluaran konsumen juga meningkat dengan cepat setidaknya merupakan sebagian penjelasan tentang adanya pertumbuhan sosial, ketegangan rasial dan agama yang menjadi lebih jelas bahkan sebelum dampak krisis keuangan menghantam Indonesia pada akhir tahun 1997.
Pada tahun 2002 – 2007, terdapat indikasi kuat bahwasanya meskipun terdapat kecenderungan positif dalam penanggulangan kemiskinan, tetapi ternyata implikasinya belum seperti yang diharapkan. Proporsi penduduk yang hamper miskin masih cukup tinggi, dan apabila terjadi sedikit ‘gejolak’, maka dengan sangat mudah mereka akan kembali menjadi miskin. Namun tidak dapat dipungkiri, kesenjangan dan disagregasi kemiskinan memang terjadi di Indonesia. Saat ini (tahun 2007) proporsinya mencapai 16.6%, tetapi ada anggapan bahwa dibalik angka ini sebetulnya terdapat fakta kesenjangan antar provinisi yang cukup besar (Kuncoro, 2008).
II.2.3 Penyebab Kemiskinan
Penyebab kemiskinan ada dua faktor yang melingkarinya. Yang pertama, adalah faktor Internal yaitu kesakitan, kebodohan, ketidaktahuan yang berkaitan dengan tingkat pendidikan yang rendah, keterampilan, ketertinggalan teknologi dan ketidakpunyaan modal. Yang kedua, faktor Eksternal yaitu struktur ekonomi yang menghambat peluang untuk berusaha dan meningkatkan pendapatan (infrastruktur), nilai-nilai budaya yang kurang mendukung peningkatan kualitas keluarga dan kurangnya akses.
II.2.4 Dampak Kemiskinan
o Kesejahteraan yang menurun; salah satu dampak kemiskinan adalah kesejahteraan yang menurun baik dari segi pendapatan, kesehatan, pendidikan, dsb.
o Turunnya Produktivitas; berkaitan dengan produktivitas setiap individu untuk meningkatkan taraf hidupnya, kemiskinan adalah ketidakmampuan uantuk meningkatkan produktivitas atau bahkan menghambatnya.
o Meningkatkan angka putus sekolah bagi anak-anak penduduk miskin. (Lihat table 2.6, 2.7 dimana angka putus sekolah anak-anak penduduk miskin disetiap daerah cukup tinggi.
o Gizi Buruk; Gizi buruk merupakan kondisi kurang gizi yang disebabkan rendahnya konsumsi energi dan protein (KEP) dalam makanan sehari-hari. Penyebab tidak langsungnya adalah Ketahanan pangan keluarga, pola pengasuhan anak dan pelayanan kesehatan dan lingkungan kurang memadai. Dan kemiskinan membuat orang tua tidak bisa memenuhi gizi yang baik pada setiap anak.
o Keterisolasian Sosial
o Gejolak social ( Kecemburuan Sosial)

II.2.5 Analisis Tingkat Kemiskinan diIndonesia

Tabel 2.1
Pada tabel jumlah dan presentase penduduk miskin diindonesia menurut daerah pada tahun 1996-2006. Jumlah dan persentase penduduk miskin (Desa dan kota) menurun dari tahun 2004 ke 2005 dari total 16,66% menjadi 15,97% ( Turun 0,69% atau sekitar 2,494 juta jiwa). Pada tahun 2006 jumlah penduduk miskin menjadi 17, 75% ( naik 1,78% atau sekitar 6,247 juta jiwa) karena harga barang-barang kebutuhan pokok naik tinggi yang digambarkan oleh inflasi umum sebesar 17,95 persen. Namun mulai tahun 2007 sampai 2011 jumlah maupun persentase penduduk miskin kembali mengalami penurunan.
Selama periode 1976-1996 dengan rata-rata laju pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), atas dasar harga konstan 1993, lebih dari 7% pertahun, Indonesia telah berhasil menurunkan jumlah penduduk miskin sebesar 31.7 Juta orang (dari 54.2 Juta orang pada tahun 1976 menjadi 22.5 Juta orang tahun 1996). Dengan perkataan lain rata-rata tiap tahunnya jumlah penduduk miskin di Indonesia selama periode 1976-1996 telah menurun sebesar 1.58 Juta orang. [Lihat tabel 2.1]
Selama periode 1999-2004 terlihat adanya keganjilan dalam peningkatan batas kemiskinan baik untuk daerah perkotaan maupun perdesaan, yaitu dari tahun 2001 ke 2002. Persentasi kenaikan batas kemiskinan pada tahun 2002 untuk daerah perkotaan 30.48 % (dari Rp 100.011 pada tahun 2001 menjadi Rp 130.499 tahun 2002) dan daerah perdesaan 20.07 % (dari Rp 80.382 menjadi Rp 96.512). Sementara itu laju inflasi berdasarkan angka Indeks Harga Konsumen (IHK) Gabungan 43 kota hanya sebesar 15.13 %, antara lain untuk bahan makanan 17.09 % dan makanan jadi 16.63 %. [Lihat tabel perkembangan batas kemiskinan]
Keganjilan dalam peningkatan batas kemiskinan pada tahun 2002, juga terlihat dengan jelas jika kita bandingkan kenaikan batas kemiskinan daerah perkotaan di tiap propinsi dengan laju inflasi daerah perkotaan propinsi yang bersangkutan. [Lihat tabel ]
Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin, Garis Kemiskinan, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1), dan
Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Menurut Provinsi, Maret 2014
Propinsi Jumlah Penduduk Miskin Presentase Penduduk Miskin (%) Garis Kemiskinan (Rp/kapita/bulan) P1 (%) P2 (%)
Kota+Desa Kota+Desa Kota+Desa Kota + Desa Kota + Desa

Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin, Garis Kemiskinan, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1), dan
Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) Menurut Provinsi, Maret 2014
Propinsi Jumlah Penduduk Miskin Presentase Penduduk Miskin (%) Garis Kemiskinan (Rp/kapita/bulan) P1 (%) P2 (%)
Kota+Desa Kota+Desa Kota+Desa Kota + Desa Kota + Desa
Aceh 881.26 18.05 359504 2.91 0.72
Sumatera Utara 1286.67 9.38 318398 1.47 0.37
Sumatera Barat 379.20 7.41 349656 0.94 0.22
Riau 499.89 8.12 364176 1.01 0.21
Kepulauan Riau 127.80 6.70 415800 0.94 0.27
Jambi 263.80 7.92 318262 1.05 0.23
Sumatera Selatan 1100.83 13.91 298824 2.25 0.59
Bangka Belitung 71.64 5.36 444171 0.73 0.16
Bengkulu 320.95 17.48 336930 2.78 0.70
Lampung 1142.92 14.28 306600 2.23 0.53
DKI Jakarta 393.98 3.92 447797 0.39 0.07
Jawa Barat 4327.07 9.44 285013 1.52 0.38
Banten 622.84 5.35 304636 0.83 0.19
Jawa Tengah 4836.45 14.46 273056 2.25 0.57
DI Yogyakarta 544.87 15.00 313452 2.19 0.48
Jawa Timur 4786.79 12.42 282796 1.85 0.44
Bali 185.20 4.53 295210 0.42 0.07
Nusa Tenggara Barat 820.82 17.25 287987 2.56 0.61
Nusa Tenggara Timur 994.68 19.82 265955 3.34 0.83
Kalimantan Barat 401.51 8.54 282835 0.98 0.18
Kalimantan Tengah 146.32 6.03 318094 0.75 0.17
Kalimantan Selatan 182.88 4.68 308512 0.63 0.14
Kalimantan Timur 253.60 6.42 431560 1.08 0.28
Sulawesi Utara 208.23 8.75 261117 1.21 0.26
Gorontalo 194.17 17.44 243547 3.29 0.90
Sulawesi Tengah 392.65 13.93 311993 2.18 0.52
Sulawesi Selatan 864.30 10.28 222003 1.56 0.37
Sulawesi Barat 153.89 12.27 233838 1.44 0.25
Sulawesi Tenggara 342.26 14.05 230627 1.99 0.45
Maluku 316.11 19.13 352208 3.80 1.12
Maluku Utara 82.64 7.30 295787 1.10 0.26
Papua 924.41 30.05 355380 6.84 2.30
Papua Barat 229.43 27.13 397662 6.20 2.05
Indonesia 28280.01 11.25 302735 1.753 0.435

Tabel 2.3
Tidak dapat dipungkiri, kesenjangan dan disagregasi kemiskinan memang terjadi di Indonesia. Saat ini (tahun 2013) proporsinya mencapai 11,66% tetapi ada anggapan bahwa dibalik angka ini sebetulnya terdapat fakta kesenjangan antar provinisi yang cukup besar. Kita lihat pada provinsi papua dan papua barat yang tingkat keparahan kemiskinan > 2% sedangkan provinsi seperti DKI Jakarta dan Bali 0,07, sedangkan provinsi Kalimantan dikisaran 0,17. Kesenjangan tingkat keparahanan ini terlihat jelas.
II.2.6 Upaya Menanggulangi Kemiskinan
Dengan diberlakukannya Undang-Undang Otonomi Daerah, peran Pemerintah Daerah dalam membangun daerah menjadi titik sentral dan menjadi sangat besar, karena daerah telah diberikan kewenangan untuk mengatur otonominya sendiri agar mampu mandiri. Ini merupakan perubahan besar dalam sejarah tata pemerintahan. Kunci utama dari upaya penanggulangan kemiskinan di daerah adalah terbangunnya, serta melembaganya jaringan komunikasi, koordinasi dan kerjasama dari tiga pilar yang ada di daerah: Pemda, Masyarakat dan kelompok peduli (LSM, swasta, perguruan tinggi, ulama/tokoh masyarakat, dan pers). Permasalahan kemiskinan hanya dapat ditanggulangi jika tiga komponen di atas saling bekerjasama dalam semangat kebersamaan, dan berpartisipasi mencari alternatif pemecahan masalah. Memantapkan kembali program-program pembangunan nasional berbasis masyarakat miskin, diikuti dengan kepedulian daerah dalam mengawal dan mengawasi implementasinya dilapangan agar benar-benar tepat sasaran.Serta pemberdayaan ekonomi rakyat berbasis spasial, merupakan solusi yang dianggap tepat dalam mengurangi disparitas pendapatan dan tingkat kemiskinan di Indonesia.

II.3 Analisis Ketimpangan di Indonesia
II.3.1 Indikator Ketimpangan Distribusi Pendapatan
Ada beberapa indikator untuk mengukur tingkat ketimpangan distribusi pendapatan. Berikut beberapa contohnya.
1. Koefisien Gini (Gini Ratio)
Koefisien Gini biasanya diperlihatkan oleh kurva yang disebut Kurva Lorenz, seperti yang diperlihatkan kurva di bawah ini.

Dalam Kurva Lorenz, Garis Diagonal OE merupakan garis kemerataan sempurna karena setiap titik pada garis tersebut menunjukkan persentase penduduk yang sama dengan persentase penerimaan pendapatan. Koefisien Gini adalah perbandingan antara luas bidang A dan ruas segitiga OPE.
Semakin jauh jarak garis Kurva Lorenz dari garis kemerataan sempurna, semakin tinggi tingkat ketidakmerataannya, dan sebaliknya. Pada kasus ekstrim, jika pendapatan didistribusikan secara merata, semua titik akan terletak pada garis diagonal dan daerah A akan bernilai nol. Sebaliknya pada ekstrem lain, bila hanya satu pihak saja yang menerima seluruh pendapatan, luas A akan sama dengan luas segitiga sehingga angka koefisien Gininya adalah satu (1). Jadi suatu distribusi pendapatan makin merata jika nilai koefisien Gini mendekati nol (0). Sebaliknya, suatu distribusi pendapatan dikatakan makin tidak merata jika nilai koefisien Gininya mendekati satu.
Tabel berikut ini memperlihatkan patokan yang mengatagorikan ketimpangan distribusi berdasarkan nilai koefisien Gini.
Nilai Koefisien Gini Distribusi Pendapatan
…. < 0,4 Tingkat ketimpangan rendah
0,4 < 0,5 Tingkat ketimpangan sedang
…. > 0,5 Tingkat ketimpangan tinggi

2. Menurut Bank Dunia

Bank Dunia mengukur ketimpangan distribusi pendapatan suatu negara dengan melihat besarnya kontribusi 40% penduduk termiskin. Kriterianya dapat dilihat pada tabel berikut.
Distribusi Pendapatan Tingkat Ketimpangan
Kelompok 40% termiskin pengeluarannya
< 12% dari keseluruhan pengeluaran Tinggi
Kelompok 40% termiskin pengeluarannya
12%–17% dari keseluruhan pengeluaran Sedang
Kelompok 40% termiskin pengeluarannya
> 17% dari keseluruhan pengeluaran Rendah
II.3.2 Disparitas Distribusi Pendapatan di Indonesia
Distribusi pendapatan nasional adalah mencerminkan merata atau timpangnya pembagian hasil pembangunan suatu negara di kalangan penduduknya (Dumairy, 1999)
Alisjahbana (2005) dalam Noegroho dan Soelistianingsih (2007), mengatakan bahwa ketimpangan juga sering terjadi secara nyata antara daerah kabupaten/kota di dalam wilayah propinsi itu sendiri. Kesenjangan antar daerah terjadi sebagai konsekuensi dari pembangunan yang terkonsentrasi. Berbagai program yang dikembangkan untuk menjembatani kesenjangan baik ketimpangan distribusi pendapatan maupun kesenjangan wilayah belum banyak membawa hasil yang signifikan. Bahkan yang sering terjadi adalah kebijakan pembangunan yang dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tetapi justru dapat menambah kesenjangan baik terhadap distribusi pendapatan maupun kesenjangan wilayah.
Kelompok masyarakat yang tinggal di 15 negara berkembang, memperlihatkan kadar parahnya masalah ketimpangan distribusi pendapatan dan kemiskinan di negara-negara Dunia Ketiga. Pembagian pendapatan untuk masing-masing kelompok masyarakat di Pembagian pendapatan untuk masing-masing kelompok masyarakat di 15 negara tersebut masih relatif sangat timpang. Porsi pendapatan yang diterima oleh 20% penduduk yang paling miskin hanya berkisar 5,2 % dari total pendapatan sedangkan 10% miskin hanya berkisar 5,2% dari total pendapatan, sedangkan 10% serta 20% kelompok penduduk yang paling kaya masing-masing menerima 36,0% dan 51,8% dari pendapatan nasional. Bandingkanlah dengan negara-negara industri maju. Jepang, 20%, penduduknya yang paling miskin menerima 8,7% dari keseluruhan pendapatan nasional, sedangkan 10% dan 20% penduduk terkaya hanya menerima 22,4% dan 37,5% dari pendapatan nasional.
II.3.3 Analisis Ketimpangan di Indonesia
Pada Tabel 3.1 Gini Ratio Indonesia, tahun 2009-2013 (Sumber : Indikator kesejahteraan rakyat, BPS)
Untuk tahun 2002, misalnya, angka koefisien Gini di perkotaan hampir mencapai angka 0,6, jauh lebih tinggi daripada yang tercatat saat ini, yaitu 0,35. Menariknya lagi, hasil perhitungan penulis juga menunjukkan bahwa sumbangan ketidakterwakilan golongan kaya di Jakarta ternyata sangat dominan. Jika dengan memasukkan Jakarta, koefisien Gini Indonesia terhitung sebesar 0,59, koefisien Gini Indonesia tanpa memasukkan Jakarta terhitung sebesar 0,42.
Keduanya tetap saja menunjukkan angka yang jauh lebih tinggi daripada angka yang biasa dihitung oleh BPS dengan data Susenas, yaitu sebesar 0,33. Ini tentunya mengindikasikan bahwa ketimpangan di Ibu Kota sudah sedemikian parahnya dan ini tidak tertangkap oleh angka-angka ketimpangan standar. Dan ini juga memberikan kontribusi dominan terhadap terlalu rendahnya hasil perhitungan ketimpangan secara nasional.
Tingkat ketimpangan di Indonesia, bisa jadi, jauh lebih besar daripada yang terukur dengan menggunakan indikator-indikator standar selama ini. Dalam paparan BPS terungkap, bahwa dalam tiga tahun terakhir ekonomi Indonesia selalu tumbuh di sekitar 6%. Indonesia pun menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi di dunia dimana negara maju pertumbuhan ekonominya di kisaran 2-3 %. Tapi sayangnya, pertumbuhan ekonomi ini malah membuat ketimpangan distribusi pendapatan rakyat menurut Koefisien Gini, dimana jurang (gap) antara orang kaya dan orang miskin semakin lebar. BPS mencatat Koefisien Gini sejak tahun 2010 hingga 2013 meningkat dari 0,38 menjadi 0,41. Ini adalah angka tertinggi dalam sejarah sejak Indonesia merdeka. Sebelum tahun 2010, rasio Gini Indonesia berada di kisaran 0,33-0,38. Namun, mulai 2011 hingga 2013 sudah naik menjadi 0,41. Itu sudah dianggap sebagai zona kuning yang berarti cukup mengkhawatirkan atau indonesia berada dalam ketimpangan sedang berdasarkan kriteria ketimpangan Gini Ratio.Ketimpangan ekonomi ini akan menjadi berbahaya bila sudah mencapai angka 0,6. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan ekonomi yang tidak berkualitas (lihat table 3.1). Dimana laju pendapatan orang miskin tidak bisa mengejar kecepatan tumbuhnya harta dari orang kaya.Dari sisi pendapatan, masyarakat Indonesia terbagi atas 3 kelas. Kelas atas sebesar 20%, kelas menengah sebesar 40%, dan terbawah sebesar 40%. Pada 2005, kelas terbawah yang sebesar 40% itu menerima manfaat dari pertumbuhan ekonomi sebesar 21%, namun pada 2013 menurun menjadi 16,9%. Sementara untuk kelas atas, pada 2005 menerima 40% dan meningkat menjadi 49% dari PDB pada 2013.
Apalagi pada 2015 pemerintah kembali menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 6%, dan akan terus tumbuh pada tahun-tahun selanjutnya. Bila tidak ada perbaikan, maka ketimpangan pun semakin melebar. Dimana pertumbuhan ekonomi tinggi namun rapuh dan tidak berkualitas, Tingkat pengangguran terbuka menurun secara lambat, tingkat kemiskinan berjalan di tempat, ketimpangan semakin melebar, perekonomian menghadapi tekanan inflasi yang dinamis. Dalam data BPS menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia memang tidak berkualitas dan tumbuh 5,78% pada 2013. Kontraksi ini disebabkan sektor tradable (pertanian, peternakan, kehutanan, perikanan) mengalami penurunan cukup signifikan sebesar 22,84%. Bila dibandingkan dengan periode yang sama 2012 (year on year), PDB Indonesia triwulan IV-2013 tumbuh 5,72%, dimana pertumbuhan tertinggi terjadi di sektor nontradable (pengangkutan dan komunikasi) yang mencapai 10,32%. Kesenjangan ekonomi masyarakat yang masih cukup lebar juga menjadi masalahdimana pada tahun 2011-2014 giri ratio mengalami peningkatan > 0,4 yang diakibatkan industri yang lebih padat modal sehingga peningkatan kekayaan orang kaya lebih tinggi dari perbaikan pendapatan orang miskin. Sehingga ketimpangan diindonesia terus melebar.
Perubahan ekonomi di samping mengejar laju pertumbuhan ekonomi juga harus memperhatikan aspek pemerataan. Ada dua argumen yang berhubungan dengan masalah pembangunan ekonomi dengan pemerataan (Todaro, 2000).
a. Argumen tradisional
Argumen tradisional menfokuskan lebih di dalam pengelolaan faktor-faktor produksi, tabungan dan pertumbuhan ekonomi. Distribusi pendapatan yang sangat tidak merata merupakan sesuatu yang terpaksa dikorbankan demi memacu laju pertumbuhan ekonomi secara cepat. Akibat dari pengaruh teori dan kebijakan perekonomian pasar bebas, penerimaan pemikiran seperti itu oleh kalangan ekonom pada umumnya dari negara-negara maju maupun negara-negara berkembang, baik secara implisit maupun eksplisit menunjukan bahwa mereka tidak begitu memperhatikan pentingnya masalah kemiskinan dan ketimpangan distribusi pendapatan. Mereka tidak saja menganggap ketidakadilan pendapatan sebagai syarat yang pantas dikorbankan dalam menggapai proses pertumbuhan ekonomi secara maksimum dan bila dalam jangka panjang hal itu dianggap syarat yang diperlukan untuk meningkatkan taraf hidup penduduk melalui mekanisme persaingan penetesan kebawah (trickle down effect) secara alamiah.
b. Argumen tandingan
Karena terdapat banyak ekonom pembangunan yang merasa bahwa pemerataan pendapatan yang lebih adil di negara-negara berkembang tidak bisa di nomor duakan, karena hal itu merupakan suatu kondisi penting atau syarat yang harus diadakan guna menunjang pertumbuhan ekonomi (Todaro, 2000). Dalam argumen tandingan tersebut terdapat lima alasan yaitu;
Pertama, ketimpangan yang begitu besar dan kemiskinan yang begitu luas telah menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga masyarakat miskin tidak memiliki akses terhadap perolehan kredit. Berbagai faktor ini secara bersama-sama menjadi penyebab rendahnya pertumbuhan GNP per kapita dibandingkan jika terdapat pemerataan pendapatan yang lebih besar. Kedua, berdasarkan observasi sekilas yang ditunjang oleh data – data empiris yang ada kita mengetahui bahwa tidak seperti yang terjadi dalam sejarah pertumbuhan ekonomi negara-negara maju, orang-orang kaya di negara-negara dunia ketiga tidak dapat diharapkan kemampuan atau kesediaannya untuk menabung dan menanamkan modalnya dalam perekonomian domestik. Ketiga, rendahnya pendapatan dan taraf hidup kaum miskin yang berwujud berupa kondisi kesehatannya yang buruk, kurang makan dan gizi dan pendidikannya yang rendah justru akan menurunkan produktivitas ekonomi mereka dan pada akhirnya mengakibatkan rendahnya pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan. Keempat, upaya-upaya untuk menaikkan tingkat pendapatan penduduk miskin akan merangsang meningkatkannya permintaan terhadap barang-barang produksi dalam negeri seperti bahan makanan dan pakaian. Kelima, dengan tercapainya distribusi pendapatan yang lebih adil melalui upaya-upaya pengurangan kemiskinan masyarakat, maka akan segera tercipta banyak insentif atau rangsangan-rangsangan materiil dan psikologis yang pada gilirannya akan menjadi penghambat kemajuan ekonomi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa promosi pertumbuhan ekonomi secara cepat dan upaya-upaya pengentasan kemiskinan serta penanggulangan ketimpangan pendapatan bukanlah tujuan-tujuan yang saling bertentangan sehingga yang satu tidak perlu diutamakan dengan mengorbankan yang lain. Untuk mengukur ketimpangan distribusi pendapatan atau mengetahui apakah distribusi pendapatan timpang atau tidak, dapat digunakan kategorisasi dalam kurva Lorenz atau menggunakan koefisien Gini.
Ketimpangan pendapatan memiliki “dampak yang signifikan secara statistik” pada pertumbuhan ekonomi, menurut penelitian Organisasi untuk Pembangunan dan Kerjasama Ekonomi (OECD). Di Inggris, ketimpangan pendapatan yang semakin tinggi membuat pertumbuhan ekonomi melemah, sekitar 9% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB) antara tahun 1990 dan 2010. Sedangkan di AS hampir tujuh poin. Hal ini membuktikan bahwa mengatasi ketimpangan yang tinggi sangat penting untuk mendorong pertumbuhan yang kuat dan berkelanjutan. Sejumlah negara yang memberikan kesempatan sama bagi semua umur adalah mereka yang akan berkembang dan hidup sejahtera.Kesenjangan antara kaya dan miskin berada pada tingkat tertinggi dalam 30 tahun, di antara ke 34 negara yang tergabung dalam OECD, kata kelompok itu. Sebanyak 10% orang-orang terkaya di sejumlah negara tersebut berpenghasilan rata-rata 9,5 kali dari yang termiskin. Pada 1980-an, mereka berpenghasilan 7 kali lebih banyak. Hanya di Turki dan Yunani, OECD menemukan bahwa kesenjangan itu semakin kecil. Kurangnya investasi di bidang pendidikan adalah faktor kunci di balik meningkatnya ketidaksetaraan.
BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan
Inflasi akan menyebabkan turunnya pendapatan riil masyarakat yang memiliki pendapatan tetap dan inflasi juga akan menyebabkan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi terhambat. Tekanan inflasi dalam beberapa tahun ke terakhir terbesar berasal dalam dari dampak kenaikan harga BBM dan kelompok komoditas bahan makanan (Memberikan kontribusi besar terhadap inflasi di Indonesia). Selain itu tarif listrik, angkutan dalam kota, biaya pendidikan, sewa rumah dan lainnya juga menyumbang terhadap pertumbuhan inflasi.
Penyebab kemiskinan ada dua faktor yang melingkarinya. Yang pertama, adalah faktor Internal yaitu kesakitan, kebodohan, ketidaktahuan yang berkaitan dengan tingkat pendidikan yang rendah, keterampilan, ketertinggalan teknologi dan ketidakpunyaan modal. Yang kedua, faktor Eksternal yaitu struktur ekonomi yang menghambat peluang untuk berusaha dan meningkatkan pendapatan (infrastruktur), nilai-nilai budaya yang kurang mendukung peningkatan kualitas keluarga dan kurangnya akses. Data BPS bulan Maret tahun 2007 menunjukkan angka 37.168.300 orang berada di bawah garis kemiskinan. Jumlah ini sebagian besar bertempat tinggal di perdesaan (20,37%), tetapi ada pula kemiskinan di perkotaan (12,52%). Dalam Hal ini ada beberapa upaya untuk menanggulangi kemiskinan yakni strategi pembangunan pedesaan, perbaikan mutu dan akses terhadap pendidikan, memfasilitasi sector ekonomi informal, Pengelolaan SDA berkonsep jangka panjang, penyederhanaan dan perbaikan sistem pemerintah dan birokrasi, pembangunan sarana dan prasarana public dan sarana pendukung bagi masyarakat, serta komitmen politik dasar pada proses pertumbuhan ekonomi yang melibatkan masyarakat miskin.
Ketimpangan pembangunan berawal dari kesenjangan penguasaan aset, seperti modal dan lahan. Berdasarkan data BPN, ketimpangan lahan saat ini berada dikisara 0,54 (Gini Ratio). Sekitar 70% asset ekonomi berupa tanah, tambak, kebun, dan property di Negara ini hanya dikuasi oleh 0,2% penduduk. Melihat pembangunan yang dijalankan Indonesia selama ini tidak menuju kearah yang benar karena kebijakan yang diambil tidak focus dan sarat akan kepentingan kelompok. Agenda pembangunan telah dibajak oleh kepentingan politik, sehingga pembangunan terkonsentrasi pada daerah atau golongan tertentu saja sehingga memunculkan kesenjangan kesejahteraan. Masalah ketimpangan tidak pernah teratasi karena pemerintah lebih banyak bermain ke hilir padahal masalah ketimpangan ada di hulu. Insentif kebijakan yang dibuat tak tersusun baik sehingga sektor-sektor terntu, seperti pangan dan non minyak bumi mengalami kehancuran. Partisipasi juga tidak dibuka secara lebih luas sehingga akses dan keadilan tidak menyentuh semua kelompok. Aspek kelembagaan juga tidak didesain dengan lengkap dan ditegakkan secara penuh.

III.2 Saran
Dalam analisis tingkat inflasi, kemiskinan, dan ketimpangan di Indonesia, ada beberapa aspek penting yang menjadi pilar perekonomian suatu negara untuk bisa menjadi maju. Begitupun permasalahan-permasalahan dalam perekonomian Indonesia seperti Inflasi, kemiskinan, ketimpangan, pengangguran, ketenagakerjaan serta lainnya yang segera membutuhkan solusi yang riil yang dapat diimplementasikan sehingga dapat mengatasi berbagai permasalahan tersebut. Disini, selain sumber daya alam, modal, dan teknologi, aspek sumber daya manusia dan pengembangannya menjadi sangat penting untuk mengatasi permasalahan tersebut. Semua kinerja harus ditingkatkan karena memiliki keterkaitan antara yang satu dengan yang lain, dan diharapkan Indonesia dapat memenuhi standar hidup yang layak dan kesejahteraan secara merata.

DAFTAR PUSTAKA
Sulekale, DD., (2003). Pemberdayaan Masyarakat Miskin di Era Otonomi Daerah. Jurnal Ekonomi Rakyat, Artikel Th. II No. 2, April 2003. (Online) di http://www.ekonomirakyat.org
Solihin, Dadang. 2005. Ketimpangan Pendapatan dan Kemiskinan Absolut. Jakarta. (Online). Tersedia di file:///D:/My%20Documents/distribusi-pendapatan-dan-kemiskinan-di-indonesia%20.pdf (diakses pada April 18, 2005 at 19:35)

Kumala, Armelia Zukma. 2010. Dinamika Kemiskinan Dan Pengukuran Kerentanan Kemiskinan Dalam Upaya Melindungi Anak-Anak Dari Dampak Kemiskinan. (Online). Tersedia di http://www.smeru.or.id/report/other/cpsp/Paper,%20Abstact,%20CV/0201_Armelia-paper.pdf

Indonesia, Bank. 2014. Pengenalan Inflasi. (Online). Tersedia di http://www.bi.go.id/id/moneter/inflasi/pengenalan/Contents/Default.aspx
Dewangga, Linggar Putra. 2012. Analisis Pengaruh Ketimpangan Distribusi Pendapatan Terhadap Jumlah Penduduk Miskin di Provinsi Jawa Tengah Periode 2000 – 2007. Skripsi pada Program Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang; Tidak diterbitkan.
Suaramerdeka. 2005. Tak Ada Resep Instan Kendalikan Inflasi. Penulis, Ketua Laboratorium Studi Kebijakan Ekonomi dan Dosen Program MIESP FE Undip. (Online). Tersedia di http://www.suaramerdeka.com/harian/0511/15/eko07.htm
Wijaya, Hendri. 2015. Dampak Kenaikan BBM. (Online). Tersedia Online di http://www.ukrida.ac.id/idxcorner/index.php/mnu-events/19-sample dataarticles/joomla/35-dampak-kenaikan-bbm
Distribusi Pendapatan dan Kemiskinan di Indonesia. (Online). Tersedia di file:///D:/My%20Documents/distribusi-pendapatan-dan-kemiskinan-di indonesia%20.pdf
BPS. 2014. Indeks Umum, Inti, Harga Yang Diatur Pemerintah, dan Barang Bergejolak Inflasi Indonesia, Januari 2009 – Desember 2013, Januari-Desember 2014 (2012=100). (Online). Tersedia di http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=2&tabel=1&daftar=1&id_subyek=03%20&notab=8. (diakses pada © 2014 Badan Pusat Statistik Indonesia)
BPS. 2014 .Indeks Harga Konsumen dan Inflasi Bulanan Indonesia. (Online). Tersedia dihttp://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=2&tabel=1&daftar=1&id_subyek=03%20&notab=7. (diakses pada © 2014 Badan Pusat Statistik Indonesia)
BPS. 2014 . Laju Inflasi Tahun ke Tahun Gabungan 66 Kota (2007=100) .(Online). Tersedia di http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?kat=2&tabel=1&daftar=1&id_subyek=03%20&notab=1. (diakses pada © 2014 Badan Pusat Statistik Indonesia)
BPS. 2014. Kemiskinan . (Online). Tersedia dihttp://www.bps.go.id/menutab.php?tabel=1&kat=1&id_subyek=23. (diakses pada © 2014 Badan Pusat Statistik Indonesia)
BBC.2014. Ketimpangan pendapatan berdampak pada pertumbuhan ekonomi. (Online. Tersedia di http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2014/12/141209_bisnis_ketimpangan_pendapatan. (diakses pada © 2014 BBC Indonesia)
Wikipedia. 2014. Kemiskinan. (Online). Tersedia di http://id.wikipedia.org/wiki/Kemiskinan (diakses pada 30 September 2014, 06;30)
Chaerudin. AR. 2014. Perekonomian Indonesia. Banten. (Materi Perekonomian Indonesia Semester 5 Manajemen)

Analisis Perencanaan Fasilitas

Oleh : Sutihat Rahayu Suadh

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang 

Kemajuan dunia teknologi yang semakin pesat disertai dengan ketatnya  persaingan  usaha  di  dunia  industri,  menuntut  perusahaan  untuk  selalu  berkembang  dan  melakukan  inovasi-inovasi  di  berbagai  bidang.  Hanya  dengan  cara  tersebut,  perusahaan  dapat  terus  bertahan  dan  melanjutkan  persaingan di dunia industri sesuai dengan bidang masing-masing.  Banyak cara yang dapat dilakukan agar perusahaan dapat terus bertahan  menghadapi  persaingan,  namun  semuanya  akan  kembali  pada  suatu  tujuan  mendasar,  yakni  bagaimana  membuat  perusahaan  agar  lebih  efisien  dalam segala bidangnya sehingga produktivitas perusahaan dapat meningkat.  Perencanaan  fasilitas  merupakan  salah  satu  upaya  yang  dilakukan  perusahaan untuk dapat mengorganisir berbagai alat produksinya agar mampu  memberikan efisiensi dari segi tata letak. Tujuan perencanaan fasilitas yakni  untuk  menambah  kapasitas  produksi  dengan  cara  yang  paling  ekonomis  melalui  pengaturan  dan  koordinasi  yang  efektif  dari  fasilitas  fisik.  Perancangan  fasilitas  akan  menentukan  bagaimana  aktivitas-aktivitas  dari  fasilitas produksi dapat diatur sedemikian rupa sehingga mampu menunjang  upaya pencapaian tujuan pokok secara efektif dan efisien (Purnomo, 2004).

Perancangan  fasilitas-fasilitas  produksi  yang  baik  akan  mampu  meningkatkan efisiensi penggunaan ruang, waktu, maupun biaya pemindahan  bahan.  Di  sisi  lain,  tata  letak  fasilitas  produksi  yang  kurang  teratur  dapat  menyebabkan panjangnya jarak perpindahan bahan yang dapat berakibat pada lamnya waktu proses produksi, serta meningkatnya biaya perpindahan bahan.  Produktivitas  Perusahaan menggunakan  sumber  dayanya  atau  faktor Analisa tata letak fasilitas dan aliran bahan  produksi.  Ukuran  keberhasilan  produksi dipandang dari sisi output, maka produktivitas dipandang  dari  dua  sisi  sekaligus,  yaitu  sisi output dan input.

Dari rencana produksi, yang mengacu kepada rencana permintaan dibuat rencana kebutuhan sumber daya, yang implementasinya tertuang dalam Penjadwalan Produksi Induk (Master Production Scheduling – MPS).

Dalam proses MRP membutuhkan lima sumber informasi utama, yaitu : MPS, Bill of Material (BOM), item master yang merupakan suatu file berisi informasi status tentang material serta kuantitas yang dibutuhkan, pesanan-pesanan /order dan memberitahukan tentang berapa banyak dari masing-masing item tersebut dibutuhkan sehingga akan mengurangi stock on hand, di masa yang akan datang dan menghindarkan terjadinya stagnasi produksi karena menunggu bahan baku.material, sebab MRP memperhitungkan lead time, safety stock

Out put dari MRP digunakan terutama oleh perencana-perencana dalam fungsi pengendalian produksi, pengendalian inventori atau pembelian, yang membentuk suatu jaringan kerjasama antara departemen-departemen tersebut dan akhirnya tercapai efisiensi, kualitas, daya saing yang tinggi dari out put produksi tersebut dan dapat dipertahankannya loyalitas pelanggan terhadap produk jadi yang mendatangkan profit bagi perusahaan.

I.2. Maksud dan Tujuan Penulisan

Tulisan ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran tentang Perencanaan Tata Letak yang terdiri dari yaitu (1) tata letak fasilitas pabrik berdasarkan proses (process layout),(2) tata letak fasilitas pabrik berdasarkan aliran produk (product layout), (3) tata letak fasilitas pabrik berdasarkan posisi tetap (fixed layout), dan (4) tata letak fasilitas pabrik berdasarkan kelompok (group layout) serta Perencanaan Kebutuhan Materialyang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan Produksi . melalui pengkajian berbagai jurnal, artikel, dan penelitian-penelitian terkait. Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk memperoleh data dan informasi tentang Perencanaan Tata Letak dan Perencanaan Kebutuhan Material serta menentukan langkah-langkah yang dianggap efektif dan efisien dalam upaya penanggulangannya, melalui studi berbagai literatur akademik.

I.3  Metedologi

Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode/cara pengumpulan data atau informasi melalui : Penelitian melalui data primer dan juga melalui penelitian kepustakaan (Library Research) yaitu penelitian yang dilakukan melalui studi literature, internet, dan sebagainya yang sesuai atau yang ada relevansinya (berkaitan) dengan masalah yang dibahas.

I.4 Sistematika Penulisan

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang penulisan ini, maka terlebih dahulu penulis akan menguraikan sistematika penulisannya agar lebih mudah dipahami dalam memecahkan masalah yang ada, di dalam penulisan ini dibagi dalam 3 (tiga) bab yang terdiri dari:

Bab I : Bab ini merupakan bab pendahuluan yang memuat latar belakang, rumusan masalah, tujuan, metodologi, dan sistimatika penulisan.

Bab II : Bab ini merupakan bab yang berisi tentang analisis terhadap masalah efektivitas hukum dalam masyarakat.

Bab III : Bab ini merupakan bab penutup yang memuat kesimpulan dan saran.

BAB II

PEMBAHASAN

II.1 ANALISIS PERENCANAAN TATA LETAK FASILITAS

II.1.2 Pengertian Tata Letak Fasilitas Pabrik

Definisi Tata Letak Pabrik Tata  letak  (plant  layout)  didefinisikan  sebagai  perencanaan  dan  integrasi  daripada aliran  komponen-komponen  suatu  produksi  untuk  mendapatkan  interelasi  yang  paling efektif dan efisien antara pekerja peralatan dan pemindahan  dari  material  mulai  dari penerimaan  melalui  pabrikasi  menuju pengiriman produk jadi (Apple, 1990) .

Tata Letak Pabrik merupakan kegiatan yang berhubungan dengan perancangan susunan fasilitas fisik untuk meningkatkan efisiensi peralatan, material, orang dan energi,sedangkan perancangan fasilitas (facility design) merupakan perancangan yang meliputi lokasi pabrik dan bangunan, tata letak dan penanganan material

Perencanaan tata letak fasilitas merupakan  susunan dari fasilitas-fasilitas dan operasional yang  dibutuhkan  untuk  proses  pengolahan suatu  produk.  Pengaturan  tata  letak  dan fasilitas  telah  dikembangkan  sejak  tahun 1960an  pada  industri-industri  massal/besar seperti  pabrik  dan  perusahaan  yang menghasilkan produk (Apple, 1990). Tata  letak  merupakan  satu  keputusan  penting  yang  menentukan  efisiensi  sebuah operasi  dalam  jangka  panjang.  Tata  letak memiliki banyak dampak strategis karena tata letak  menentukan  daya  saing  perusahaan dalam hal kapasitas,  proses fleksibilitas, dan biaya, serta  kualitas  lingkungan  kerja,  kontak pelanggan,  dan  citra  perusahaan.  Tata  letak yang  efektif  dapat  membantu  organisasi mencapai  sebuah strategi  yang  menunjang diferensiasi,  biaya  rendah,  atau  respon  cepat.

Sebuah tata letak yang efektif memfasilitasi adanya aliran bahan, orang, dan informasi di dalam dan antar wilayah. Beberapa pendekatan dalam tata letak adalah sebagai berikut:

  1. Tata letak dengan posisi tetap, guna memenuhi persyaratan tata letak untuk proyek yang besar dan memakan tempat, seperti proses pembuatan kapal laut dan gedung.
  2. Tata letak yang berorientasi pada proses, berhubungan dengan produksi dengan volume rendah, dan bervariasi tinggi.
  3. Tata letak kantor, menempatkan para pekerja, peralatan, dan ruangan guna melancarkan aliran informasi.
  4. Tata letak ritel, menempatkan rak-rak dan memberikan tanggapan atas perilaku pelanggan.
  5. Tata letak gudang, melihat kelebihan dan kekurangan antara ruangan dan sistem penanganan bahan.
  6.  Tata letak yang berorientasi pada produk, mencari utilisasi karyawan dan mesin yang paling baik dalam produksi yang kontinu atau berulang.

Tata letak yang baik perlu menetapkan beberapa hal berikut:

  1. Peralatan penanganan bahan (Manajer harus memutuskan peralatan yang akan digunakan)
  2. Kapasitas dan persyaratan luas ruang
  3. Lingkungan hidup dan estetika
  4. Aliran informasi
  5. Biaya perpindahan antar wilayah kerja yang berbeda.

II.1.2 Macam / Tipe Tata Letak 

Penentuan tipe layout dilakukan setelah menganalisa jumlah mesin dan peralatan serta area kerja yang dibutuhkan dalam proses operasi. Terdapat empat macam tipe layouts ecara garis besar, yaitu (1) tata letak fasilitas pabrik berdasarkan proses (process layout),(2) tata letak fasilitas pabrik berdasarkan aliran produk (product layout), (3) tata letak fasilitas pabrik berdasarkan posisi tetap (fixed layout), dan (4) tata letak fasilitas pabrik berdasarkan kelompok (group layout). Pada prakteknya keempat tipe tersebut tidak murni diterapkan, akan tetapi berdasarkan kombinasi yang menguntungkan.

  1. Tata Letak  Fasilitas  Berdasarkan Aliran Produksi (product lay –  out) 

Pengaturan tata letak fasilitas produksi berdasar aliran produk. Tipe ini sangat popular dan sering digunakan pada pabrik yang menghasilkan produk secara massal(mass production), dengan tipe produk relatif kecil dan standar untuk jangka waktu relatif lama.  Pengaturannya adalah dengan urutan operasi dari satu bagian ke bagian lain hingga  produk selesai diproses. Tujuanutama layout ini adalah mengurangi pemindahan  bahan dan memudahkan pengawasan. Misalnya pabrik perakitan mobil, lemari pendingin, dan televisi. Layout produk adalah karakteristik yang cocok untuk proses manufacturing yang terus menerus.

Keuntungan tata letak produk ini yaitu:

  • Aliran pemindahan material berlangsung lancar, sederhana, logis, dan OMH-nya rendah.
  • Work-in-processjarang terjadi karena lintasan produksi sudah diseimbangkan.
  • Total waktu yang digunakan untuk produksi relatif singkat.
  • Kemudahan dalam perencanaan dan pengendalian proses produksi.
  • Memudahkan pekerjaan, sehingga memungkinkan operator yang belum ahli untuk mempelajari dan memahami pekerjaan dengan cepat.

Keterbatasan dari tata letak produk yaitu:

  • Kurangnya fleksibilitas dari tata letak untuk membuat produk yang berbeda.
  • Stasiun kerja yang paling lambat akan menjadi hambatan (bottleneck) bagi aliran produksi.
  • Adanya investasi dalam jumlah besar untuk pengadaan mesin, baik dari segi jumlah maupun akibat spesialisasi fungsi yang harus dimilikinya.
  • Kelelahan operator: operator mudah menjadi bosan disebabkan pengulangan tanpa henti dari pekerjaan yang sama.
  • Ketergantungan dari seluruh proses terhadap setiap part: kerusakan pada suatu mesin atau kekurangan operator untuk mengendalikan stasiun kerja bias menghentikan keseluruhan hasil produksi pada satu line
  1. Tata Letak Proses ( Process Lay-Out )

Mesin dan peralatan yang rnempuyai karakter atau fungsi yang sama ditempatkan dalam satu departemen. Misalnya mesin bubut, mesin drill, dan mesin las. Layout proses dapat digunakan sebagai suatu tipe yang menyediakan keluwesan output atau produksi berdasar pesanan, desain produk, dan metode-metode proses pabrikasinya. Layout proses adalah karakteristik yang cocok untuk proses manufacturing yang terputus-putus. Tata letak ini berkaitan dengan proses produksi dengan volume rendah dan variasi tinggi, seperti mesin dan peralatan yang dikelompokkan bersama.  Tata letak yang berorientasi pada proses sangat baik untuk menangani produksi komponen dalam  batch kecil, atau disebut job-lot, dan untuk memproduksi beragam komponen dalam bentuk dan ukuran yang berbeda. Kelemahan tata letak ini aada pada peralatan yang biasanya memiliki kegunaan umum. Pesanan akan menghabiskan waktu lebih lama untuk berpindah dalam sistem karena penjadualan sangat sulit, penyetelan mesin beruba, dan penanganan bahan yang unik. Peralatan yang memiliki kegunaan umum membutuhkan tenaga kerja terampil, dan persediaan barang setengah jadi menjadi lebih tinggi karena adanya ketidakseimbangan proses produksi. Tenaga kerja terampil yang dibutuhkan juga meningkat, dan jumlah barang setengah jadi cukup tinggi sehingga mengakibatkan kebutuhan modal meningkat.

Model ini cocok untuk discrete production dan bila proses produksi tidak baku, yaitu jika perusahaan membuat berbagai jenis produk yang berbeda atau suatu produk dasar yang diproduksi dalam berbagai macam variasi. Jenis tata letak ini dijumpai pada bengkel-bengkel, pergudangan, rumah sakit, universitas atau perkantoran.

Kelebihan dari tata letak proses :

  • Memungkinkan utilisasi mesin yang tinggi.
  • Memungkinan penggunaan mesin-mesin yang multi guna sehingga dapat dengan cepat mengikuti perubahan jenis produksi.
  • Memperkecil terhentinya produksi yang diakibatkan oleh kerusakan mesin.
  • Sangat fleksibel dalam mengalokasikan personil dan peralatan.
  • Investasi yang rendah karena dapat mengurangi duplikasi Peralatan.
  • Memungkinkan spesialisasi supervisi

Tata letak proses juga memiliki kelemahan, yaitu :

  • Meningkatnya kebutuhan material handlingkarena aliran proses yang beragam serta tidak dapat digunakannya ban berjalan.
  • Pegawasan produksi yang lebih sulit.
  • Meningkatnya persediaan barang dalam proses.
  • Total waktu produksi per unit yang lebih lama.
  • Memerlukan skill yang lebih tinggi.
  • Pekerjaan routing, penjadwalan dan acountingbiaya yang lebih sulit, karena setiap ada order baru harus dilakukan perencanaan / perhitungan kembali.
  1. Tata Letak  Material  Tetap  (Fixed Product Lay Out) 

Pengaturan material atau komponen produk akan tetap pada posisinya, sedangkan fasilitas produksi seperti peralatan, perkakas, mesin, dan pekerja yaag bergerak berpindah menuju lokasi material tersebut.  Misalnya pabrik perakitan pesawat terbang, perakitan kapal, dan pembuatan gedung. Layout ini mengatasi kebutuha tata letak proyek yang tidak berpindah atau proyek yang menyita tempat yang luas.

Kelebihan dari tata letak tetap ;

  • Berkurangnya gerakan material
  • Adanya kesempatan untuk melakukan pengkayaan tugas
  • Sangat fleksibel, dapat mengakomodasi perubahan dalam desain produk, bauran produk maupun volume produksi
  • Dapat memberikan kebanggaan pada pekerja karena dapat menyelesaikan seluruh pekerjaan

Kelemahan dari tata letak tetap;

  • Gerakan personal dan peralatan yang tinggi
  • Dapat terjadi duplikasi mesin dan peralatan
  • Memerlukan tenaga kerja yang berketrampilan tinggi
  • Biasanya memerlukan ruang yang besar serta persediaan barang dalam proses yang tinggi
  • Memerlukan koordinasi dalam penjadwalan produksi
  1. Tata Letak  Grup  (Group  Technology Lay Out) 

Pengaturan tata letak  fasilitas  produksi ke dalam departemen tertentu atau kelompok mesin bagi  pembuatan produk yang memerlukan proses operasi yang sama. Setiap produk diselesaikan  pada  daerah  tersendiri dengan seluruh urutan pengerjaan dilakukan pada departemen tersebut.

Ciri tata letak yang baik

  • Pemrosesan digabung dengan pemindahan bahan
  • Pemindahan bergerak  dari  penerimaan menuju pengiriman
  • Operasi pertama dekat dengan penerimaan
  • Operasi terakhir dekat dengan pengiriman
  • Penyimpanan pada tempat pemakaian jika mungkin
  • Tata letak yang dapat disesuaikan dengan perubahan
  • Direncanakan untuk perluasan terencana
  • Barang setengah jadi minimum
  • Sedikit mungkin  bahan  yang  tengah diproses
  • Pemakaian seluruh  lantai  pabrik maksimum
  • Ruang penyimpanan yang cukup

II.1.3 Penggunaan Tata Letak dan Aliran Bahan

Keuntungan penggunaan tata letak dan aliran bahan secara  garis  besar  ialah  mengatur  area  kerja  dan segala fasilitas produksi yang paling ekonomis untuk beroperasi produksi aman, dan nyaman sehingga  akan  dapat  menaikkan  moral  kerja dan performance dari operator. Lebih spesifik lagi  tata  letak  yang  baik  akan  dapat memberikan  keuntungan– keuntungan  dalam  sistem produksi (Wignjosoebroto, 2009), yaitu antara lain sebagai berikut :

  1. Menaikkan output produksi.
  2. Mengurangi waktu tunggu.
  3. Mengurangi proses material handling.
  4. Penghematan penggunaan  areal  untuk  produksi, gudang, dan service.
  5. Pemanfaatan fasilitas produksi dan tenaga kerja dengan lebih optimal.
  6. Mengurangi biaya  simpan  produk  setengah jadi (inventory in-process).
  7. Mempersingkat proses manufacturing.
  8. Mengurangi inventory in-process.
  9. Mengurangi resiko  kesehatan  dan  keselamatan kerja operator.
  10. Mempermudah aktivitas  supervisi  (pengawasan kerja).
  11. Mengurangi kemacetan  dan kesimpangsiuran aliran material.
  12. Mengurangi faktor  yang  bisa  merugikan dan  mempengaruhi  kualitas  dari  bahan baku ataupun produk jadi.
  1. Pola Aliran  Bahan  untuk  Proses Produksi
  1. Layout U

Pada layout berbentuk U, pintu masuk dan keluar material dan produk jadi pada posisi yang sama. Layout ini merupakan variasi bentuk menyerupai huruf u atau setengah melingkar. Tujuannya adalah agar lebih fleksibel dalam menambah atau mengurangi jumlah pekerja apabila terjadi perubahan jumlah permintaan produk.

  1. Layout garis dan fungsi

Layout garis dan fungsi adalah pengaturan tata letak dengan mengkombinasikankedua tipe, yaitu layout proses dan layout produk. Caranya adalah denganmenempatkan mesin-mesin ke dalam departemen-departemen menurut tipe mesinyang sama, sedangkan pengaturan masing-masing departemen didasarkan urutanoperasi produk.   Tujuannya adalah mengeliminir kelemahan dan layout proses danlayout produk.

  1. Layout garis dan U

Pengaturan tata letak fasilitas produksi dengan cara penggabungan seperti ini, alokasi operasi diantara pekerja sebagai respon terhadap variasi jumlah produksi dapat dicapai. Penggunaan layout ini cocok untuk operasi yang bersifat rakitan seperti pabrik kendaraan bermotor, elektronik, karena lebih efisien dan fleksibel dalam menghadapi perubahan permintaan.

Aliran bahan  Perancangan  fasilitas  sangat  penting  karena  merupakan  tulang punngung  terwujudnya  tata  letak  dan  fasilitas yang  efisien  dan  efektif.  Aliran  bahan  harus dirancang  dengan  cermat  sehingga  tidak menjadi suatu pola aliran yang mebingungkan seperti  benang  yang  kusut,  dapat  dikatakan bahwa  keberhasilan  perusahaan  atau  paling tidak  profitabilitasnya  merupakan  pantulan langsung  dari  usaha yang berjalan dalam perencanaan ini (Apple,1990).

  1. Perencanaan Pola  Aliran  Bahan

Perencanaan  pola aliran bahan sebaiknya diterapkan, maka prosedur  tersebut dibawah  ini  akan  banyak  membantu pelaksanaan tersebut:

  1. Perencanaan aliran yang efektif Suatu  jalur  aliran  langsung  adalah  aliran  maju  yang  tidak  terputus,  tidak  mengalami pemotongan lintasan dari awal sampai dengan akhir    Bilamana  aliran  saling berpotongan, maka hal tersebut akan berakibat terjadinya  kemacetan  atau  hambatan  yang tidak diinginkan .
  2. Metode konvensional  untuk menganalisa aliran bahan

Jenis  peta  proses  untuk  dianalisa  disini  adalah :

  • Peta proses  operasi  (Operation  process chart)
  • Peta aliran proses (Flow process chart)
  • Diagram aliran (Flow diagram)
  1. Metode kuantitatif  guna  menganalisa  aliran  bahan  menggunakan  metode from to chart. Teknik  ini  sangat  berguna  untuk  kondisi- kondisi  dimana  banyak  items  yang  mengalir melalui suatu area seperti bengkel permesinan, kantor, dll. Angka-angka yang terdapat dalam atu  from  to  chart  akan  menunjukkan  total  dari berat beban yang harus dipindahkan, jarak perpindahan  bahan,  volume  atau  kombinasi-kombinasi dari faktor-faktor ini.
  2. Metode kualitatif  untuk  menganalisa  aliran  bahan  menggunakan  metode Activity Relationship Chart (ARC). Untuk  menggunakan  metode  kualitatif  digunakan  Activity  Relationship  Chart  (ARC)  atau  sering  disebut  peta  keterkaitan  kegiatan, yaitu marancang tata letak berdasarkan derajat hubungan aktivitas dari masing-masing stasiun kerja.

II.2 Studi Kasus Tata Letak Fasilitas CV Okabawes Karya Logam

CV Okabawes Karya Logam merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengecoran logam. Kondisi pabrik pengecoran logam saat ini, banyak dari pekerja tidak menggunakan APD yang lengkap saat bekerja ditambah lingkungan kerja yang kurang tertata menyebabkan panjang lintasan material handling menjadi jauh sehingga jalannya proses produksi kurang optimal.. Selain itu pengaturan ulang tata letak fasilitas diperlukan untuk meningkatkan efisiensi serta efektivitas proses produksi. metode 5S dan Blocplan digunakan untuk merancang ulang tata letak fasilitas pabrik pengecoran logam.

II.2.1 Kondisi Awal Layout Pabrik CV Okabawes Karya Logam

Dari gambar diatas terlihat bahwa jalan masuk utama ke lokasi area produksi hanya terdiri dari satu pintu utama. Di setiap kanan dan kiri lorong masuk terdapat rak – rak penyimpanan produk yang menyebabkan jalan masuk menjadi sempit. Selain itu tungku peleburan yang berada di tengah – tengah pabrik menyebabkan akses jalan dari bagian pengecoran dan bagian finishing menjadi semakin sempit yang disebabkan konstruksi tungku yang membutuhkan space area yang cukup lebar karena disisi kanan terdapat bagian utilitas sebagai penyedia air pendingin untuk koil tungku dan sebelah kiri terdapat tempat bahan baku. Padahal jalur transportasi sangat penting untuk jalannya proses produksi karena merupakan jalur utama bahan baku dan produk yang akan diproses lebih lanjut menjadi barang jadi. Kendala lain yaitu kondisi alat – alat proses yang masih kurang tertata serta jarak antar bagian yang terlalu jauh seperti bagian gerinda dengan bagian finishing membuat alur jalannya proses produksi menjadi kurang optimal. Disamping itu pabrik hanya mempunyai satu pintu masuk utama dan ventilasi serta jendela yang hanya sedikit membuat kondisi di dalam pabrik menjadi sangat panas dan gelap hal ini tentu membuat para pekerja kurang nyaman apalagi mereka bekerja di suhu yang sangat tinggi. Barang-barang baik produk setengah jadi maupun produk jadi yang hanya diletakkan begitu saja tidak pada tempatnya membuat lingkungan kerja menjadi tidak tertata dan mengganggu jalur lintasan produksi. Kondisi ini juga membuat pekerja kurang leluasa dalam menyelesaikan tugasnya karena menumpuknya barang –barang disekitar mereka membuat ruang kerja menjadi sempit dan dapat mengganggu kinerjanya sehingga proses produksi menjadi terhambat.

II.2.2  Perancangan Dengan Metode Blocplan

Perancangan ulang dengan menggunakan metode Blocplan dimulai dengan membuat peta operasi pembuatan besi cor seperti yang terlihat pada gambar 3 kemudian dilakukan perhitungan jarak material handling layout awal sebelum dilakukan modifikasi.

Dari data urutan proses pembuatan besi cor di industri CV Okabawes Karya Logam dapat dihitung bahwa panjang lintasan material handling dari proses pengolahan bahan baku sampai terbentuknya produk yaitu 68 meter seperti terlihat di tabel 3 dibawah ini.

Langkah selanjutnya adalah analisa yang dimulai dengan penyusunan ARC (Activity Relationship Chart) yang dibuat berdasarkan analisis hubungan keterkaitan aktivitas antar fasilitas produksi dengan mempertimbangkan jarak kedekatan antar ruangan. Hasil analisis ARC selanjutnya digunakan sebagai input data analisis Blocplan, metode Blocplan mempunyai kemampuan untuk mengatur maksimum 20 fasilitas dalam suatu layout, dalam penelitian ini yang dijadikan alternatif model untuk modifikasi tata letak dan layout terbaik dengan menggunakan Blocplan adalah layout yang memiliki layout score yang paling tinggi atau yang paling mendekati nilai 1.

Dari gambar di atas diketahui bahwa layout score terbesar dan yang dipilih berdasarkan hasil pencarian Blocplan secara automatic search terdapat pada layout nomor 16 yang mempunyai layout score (0.92-1) karena layout score terbaik dengan menggunakan metode Blocplan adalah layout yang memiliki layout score yang paling tinggi atau yang paling mendekati nilai 1. Gambar layout perbaikan terpilih secara automatic search seperti pada gambar 6.

II.2.3 Perancangan Dengan Metode 5S

Metode 5S digunakan untuk memperbaiki lingkungan kerja yang kurang tertata agar menjadi lebih baik. Penataan yang dilakukan dengan metode 5 S difokuskan pada rak-rak tempat penyimpanan produk yang terlihat berantakan sehingga mengakibatkan jalannya proses material handling kurang optimal. Berikut penerapan metode 5S pada lingkungan kerja pembuatan besi cor di CV Okabawes Karya Logam.

  1. Seiri (Sort) atau Ringkas

Melakukan pemilahan terhadap produk jadi dan produk setengah jadi dengan produk yang tidak terpakai. Produk jadi ditempatkan menjadi satu di tempat penyimpanan produk sedangkan produk yang tidak terpakai ditempatkan secara terpisah agar memudahkan dalam penangananya misalnya dengan didaur ulang untuk dilebur kembali. Pemindahan rak-rak penyimpanan yang berjajar.

disepanjang jalur produksi dengan menempatkanya disatu area sehingga jalur lintasan menjadi lebih lebar dan jalanya proses produksi menjadi optimal.

  1. Seiton (Set in Order) atau Rapi

Pemberian label dan keterangan pada masing – masing produk diperlukan agar memudahkan pekerja dan untuk membedakan barang pesanan yang satu dan yang lainya sehingga dapat menghindari kesalahan akibat tertukar. Selain itu penataan juga dilakukan pada stasiun proses yang letaknya cukup jauh yaitu pada bagian gerinda, dipindah menjadi lebih dekat dengan bagian bor dan bubut sehingga alur proses produksi menjadi lebih pendek.

  1. Seiso (Shine) atau Resik

Pembersihan yang dilakukan pada area proses produksi yaitu area pencetakan dan area finishing yang meliputi bagian gerinda, bor dan bubut. Pada area pencentakan setelah proses penuangan selesai maka segera dilakukan pembersihan sisa-sisa cairan besi panas yang bercecer karena dapat melukai pekerja jika terkena. Sedangkan pada bagian finishing dilakukan pembersihan dari sisa-sisa serutan besi (gram).

  1. Seiketsu (Standardize) atau Rawat

Pada tahap ini dilakukan suatu upaya bagaimana penerapan yang telah dilakukan sebelumnya yaitu seiri, seiton dan seiso bisa berlangsung secara berkelanjutan bukan untuk sementara saja. Upaya yang telah dilakukan sebelumnya seperti pemisahan produk yang terpakai dengan yang tidak terpakai, penataan rak-rak penyimpanan, pemberian label baik pada produk maupun area kerja serta pembersihan pada lingkungan kerja dan alat-alat proses bisa dilakukan secara terus menerus sehingga dapat melatih kedisiplinan pekerja dan manfaat yang diperoleh dari penerapan metode 5S bisa dirasakan.

  1. Shitsuke (Sustain/Discipline) atau Rajin

Shitsuke artinya mempraktikkan kebiasaan kerja yang baik dalam mempertahankan S lainnya, yakni seiri, seiton, seiso, dan seiketsu. Kedisiplinan dan kesadaran dari para pekerja diperlukan demi menciptakan keamanan dan kenyamanan dalam bekerja yang sesuai dengan metode 5S. Mengingat sifat manusia yang berbeda – beda maka diperlukan seseorang yang bisa mengontrolnya. Dalam hal ini peran pimpinan sangat dibutuhkan untuk dapat mengontrol pekerjanya agar selalu menjaga lingkungan kerja sesuai dengan metode 5S yang telah diterapkan.

II.2.4 Rekomendasi Plant Layout dengan Metode Blocplan dan 5S

Berikut modifikasi plan layout pabrik dengan menerapkan kombinasi metode 5S dan Blocplan seperti terlihat pada gambar di bawah ini ;

Pada rekomendasi ini tungku peleburan yang semula berada ditengah-tengah diletakkan dibagian ujung pabrik sehingga memberikan space area yang lebih lebar selain itu keamanan dan keselamatan pekerja di area pengecoran lebih terjaga . Rak – rak penyimpanan produk yang semula berada disepanjang jalur lintasan ditata menjadi satu diletakkan diujung dekat pintu utama sehingga memudahkan dalam pengangkutan dan pengirimannya. Penataan ulang ditiap bagian terlihat signifikan terutama pada jalur proses yang tadinya sempit menjadi lebih luas sehingga pengangkutan bahan baku maupun produk bisa lebih mudah yang tadinya hanya bisa dilewati satu arah dengan penataan yang lebih baik bisa dilalui dua arah. Stasiun penggerindaan dipindah menjadi satu dengan area.

Hasilnya panjang lintasan material handling layout awal sebesar 68 meter dengan menerapkan metode 5S dan Blocplan panjang lintasan material handling layout alternatif sebesar 60 meter sehingga terjadi penurunan sekitar 11,76%. Selain itu alur proses produksi juga lebih teratur ditiap-tiap bagiannya dari proses penyiapan bahan baku, peleburan, pencetakan sampai dengan proses finishing. Dengan demikian diharapkan produktifitas, keamanan serta keselamatan dalam proses produksi lebih terjamin.

Dari studi kasus diatas dapat saya simpulkan bahwa tata letak fasilitas pabrik bukan saja mempengaruhi keefektifan ruang sesuai dengan fungsinya tapi dalam kasus CV Okabawes Karya Logam, lingkungan kerja pembuatan logam sangat berpengaruh pada keselamatan karyawan, sehingga tata letak harus juga disesuaikan dengan keterkaitan aktivitas antar fasilitas produksi dengan mempertimbangkan jarak kedekatan antar ruangan sehingga dapat meningkatkan tingkat keselamatan bagi pekerja selain mendapatkan keuntungan dari tata letak yang sesuai. Sehingga proses produksi awal hingga finish dapat berjalan lebih efektif dan efisien baik dari segi waktu, biaya maupun keselamatan.

 

II.3 PERENCANAAN KEBUTUHAN MATERIAL

II.3.1 Pengertian Material Requirement Planning (MRP)

  • Menurut Rangkuti (2007), MRP (Material Requirement Planning) adalah suatu system perencanaan dan penjadwalan kebutuhan material untuk produksi yang memerlukan beberapa tahapan proses /fase atau dengan kata lain adalah suatu rencana produksi untuk sejumlah produk jadi yang diterjemahkan ke bahan mentah atau komponen yang dibutuhkan dengan menggunakan waktu tenggang sehingga dapat ditentukan kapan dan berapa banyak yang dipesan untuk masing-masing komponen suatu produk yang akan dibuat.
  • Heizer dan Render (2010), MRP adalah model permintaan terkait yang menggunakan daftar kebutuhan bahan, status persediaan, penerimaan yang diperkirakan dan jadwal produksi induk, yang dipakai untuk menentukan kebutuhan material yang akan digunakan.
  • Schroeder (1994), MRP adalah suatu sistem informasi yang digunakan untuk merencanakan dan mengendalikan persediaan dan kapasitas.

Material Requirement Planning (MRP) adalah suatu prosedur logis  berupa  aturan keputusan  dan  teknik  transaksi yang dirancang untuk menerjemahkan jadwal induk produksi menjadi kebutuhan bersih untuk semua item. Di samping itu MRP dirancang untuk membuat pesanan-pesanan produksi dan pembelian untuk mengatur aliran bahan baku dan persediaan dalam proses sehingga sesuai dengan jadwal produksi untuk produk akhir. Tujuan MRP adalah untuk menghasilkan informasi yang tepat dalam melakukan tindakan yang tepat (pembatalan pesanan, pesan ulang, dan penjadwalan ulang). Tindakan ini juga merupakan dasar untuk membuat keputusan baru mengenai pembelian atau produksi yang merupakan perbaikan atas keputusan yang telah dibuat sebelumnya(Baroto, 2002). Menurut Gasperz (2005) ada empat kemampuan yang menjadi ciri utama dari sistem MRP yaitu;

  1. Mampu menentukan kebutuhan pada saat yang tepat. Maksudnya adalah  menentukan secara tepat “kapan” suatu pekerjaan harus diselesaikan atau “kapan” material harus tersedia untuk memenuhi permintaan  atas produk akhir yang sudah direncanakan pada Jadwal Induk Produksi.
  2. Membentuk kebutuhan minimal untuk setiap item. Dengan diketahuinya akan produk jadi, MRP dapat menetukan secara tepat sistem penjadwalan (berdasarkan prioritas) untuk memenuhi semua kebutuhan minimal setiap item komponen.
  3. Menentukan pelaksanaan rencana pemesanan. Maksudnya adalah memberikan indikasi kapan pemesanan atau pembatalan terhadap pesanan harus dilakukan, baik pemesanan yang diperoleh dari luar atau dibuat sendiri.
  4. Menentukan  penjadwalan  ulang  atau  pembatalan  atas  suatu  jadwal  yang sudah direncanakan. Apabila kapasitas yang ada tidak mampu memenuhi pesanan yang diinginkan,  maka MRP dapat memberikan  indikasi untuk melakukan rencana  penjadwalan  ulang dengan menentukan  prioritas pesanan yang realistis.  Jika Penjadwalan masih tidak memungkinkan  untuk memenuhi pesanan, berarti  perusahaan tidak mampu memenuhi permintaan konsumen, sehingga perlu dilakukan pembatalan atas pesanan konsumen tersebut.

Dari berbagai pendapat para ahli dapat disismpulkan pengertian Material Requirement Planning adalah suatu konsep dalam manajemen produksi dalam menentukan perencanaan kebutuhan barang dalam proses produksi sehingga dapat sesuai dengan yang direncanakan.

 

II.3.2 Tujuan Material Requirement Planning (MRP)

Sistem MRP digunakan untuk mengendalikan tingkat persediaan dengan prioritas utamanya pada persediaan item-item dan merencanakan kapasitas system produksi. Dalam MRP terdapat tiga prinsip yaitu :

  1. Dalam penentuan persediaan dengan prinsip pemesanan komponen yang tepat, pemesanan dalam jumlah yang tepat dan pemesanan pada waktu yang tepat.
  2. Dalam menentukan prioritas meliputi pesanan dengan jatuh tempo yang tepat dan menjaga jatuh tempo yang valid.
  3. Dalam penentuan kapasitas meliputi: merencanakan muatan yang lengkap, merencanakan  muatan yang akurat dan merencanakan waktu yang cukup untuk muatan dimasa yang akan datang.

Tujuan MRP :

  • Meminimalkan persediaan : MRP menentukan seberapa banyak dan kapan suatu komponen diperlukan disesuaikan dengan JIP ( Jadwal Induk Produksi).
  • Mengurangi resiko karena keterlambatan produksi dan pengiriman : MRP mengidentifikasikan banyaknya bahan dan komponen yang diperlukan baik dari segi jumlahnya dan waktunya dengan memperhatikan waktu tenggang produksi maupun pengadaan komponen.
  • Komitmen yang realistis : Dengan MRP, jadwal produksi diharapkan dapat terpenuhi sesuai dengan rencana, sehingga komitmen pengiriman barang dilakukan secara lebih realistis.
  • Meningkatkan efisiensi : MRP juga mendorong peningkatan efisien-si karena jumlah persediaan, waktu produksi dan waktu pengiriman barang dapat direncanakan lebih baik sesuai dengan JIP.

Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa prinsip dari MRP adalah memperoleh material yang tepat pada tempat yang tepat dan diwaktu yang tepat. Dan tujuan MRP adalah memperbaiki layanan pelanggan, meminimalkan investasi persediaan dan memaksimalkan efisiensi operasi produksi .

II.3.3 Komponen Material Requirement Planning MRP (Input MRP)

Dalam memproduksi suatu barang diperlukan perencanaan atau penyiapan komponen sesuai dengan jumlah yang diperlukan. Ketepatan waktu pembuatan komponen juga diperlukan dalam suatu perencanaan. Apabila terjadi kekurangan salah satu komponen, maka proses produksi akan mengalami hambatan. Untuk itu perlu diterapkan metode MRP yang merupakan perencanaan kebutuhan bahan baku (komponen) yangmemungkinkan ketepatan jumlah dan waktu produksi.

MRP mempunyai tiga komponen utama yaitu MPS, BOM dan Catatan persediaan. MPS adalah jadwal produksi utama yang diperoleh berdasarkan order perusahaan. BOM adalah komponen yang diperlukan beserta jumlahnya masing- masing untuk memproduksi suatu unit produk. Catatan persediaan adalah catatan  yang dimiliki baik produk jadi, komponen sedang dipesan serta tenggang waktu pengadaan bagi tiap komponen.  Dari komponen utama tersebut kemudian  dipadukan maka akan diketahui berapa jumlah produk yang akan diproduksi, dan kapan waktu untuk mulai produksi dapat ditentukan.

Tiga komponen atau input utama dari sistem MRP menurut Nasution (2003 :136) ;

  • Data Persediaan (Inventory Record File)–> Data ini menjadi landasan untuk pembuatan MRP karena memberikan informasi tentang jumlah persediaan bahan baku dan barang jadi yang aman (minimum) serta keterangan lainnya, seperti : (1) kapan kita mendapat kiriman barang; (2) berapa jangka waktu pengiriman barang (lead time); (3) berapa bear kelipatan jumlah pemesanan barang (lot size). Semua keterngan itu mendukung penyusunan MRP yang tepat sehingga sesuai dengan tujuan awalnya untuk merencanakan jumlah dan waktu pesanan bahan baku yang tepat agar proses produksi tidak terlambat.
  • Jadwal Produksi  (Master Production Schedule) –> MPS digunakan untuk mengetahui jadwal masing-masing barang yang akan diproduksi, kapan barang tersebut akan dibutuhkan sehingga dapat kita gunakan sebagai landasan penyusunan MRP.
  • Bill of Material File (BOM) –> BOM digunakan Untuk mengetahui susunan barang yang akan diproduksi, menggunakan bahan apa saja, apakah bahan tersebut langsung kita beli atau kita buat dengan bahan dasar yang lain sehingga jelas dalam menentukan pemesanan bahan-bahan baku agar produksi tetap berjalan lancar.

II.3.4 Proses MRP

Langkah – langkah dasar dalam penyusunan Proses MRP (Nasution,1992)

  1. Netting (kebutuhan bersih) : Proses perhitungan kebutuhan bersih untuk setiap periode selama horison perencanaan.
  2. Lotting (kuantitas pesanan) : Proses penentuan besarnya ukuran jumlah pesanan yang optimal untuk sebuah item, berdasarkan kebutuhan bersih yang dihasilkan.
  3. Offsetting (rencana pemesanan): Bertujuan untuk menentukan kuantitas pesanan yang dihasilkan proses lotting. Penentuan rencana saat pemesanan ini diperoleh dengan cara mengurangkan saat kebutuhan bersih yang harus tersedia dengan waktu ancang-ancang (Lead Time).
  4. Exploding: Merupakan proses perhitungan kebutuhan kotor untuk tingkat (level) yang lebih bawah dalam suatu struktur produk, serta didasarkan atas rencana pemesanan.

II.3.5 Penggunaan Sistem MRP (Output MRP)

Out put dari MPR digunakan terutama oleh perencana-perencana dalam fungsi pengendalian produksi, inventori, atau pembelian pada dasarnya dalam sisitem MRP menghasilkan tiga jenis laporan yaitu : MRP primary report, MRP action report dan MRP pegging report.

Secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. MRP Primary Report, yaitu laporan MRP yang biasanya menggunakan salah satu format horizontal dengan waktu dalam buckets atau format vertikal.
  2. MRP Action Reports

MRP Action Report, memberikan informasi kepada perencana tentang item-item yang perlu mendapat perhatian segera, dan merekomendasikan tindakan-tindakan yang perlu diambil.

Pada dasarnya MRP Action Report berisi beberapa informasi yang berkaitan dengan :

  • Pengeluaran suatu pesanan, release an order
  • Pengeluaran pesanan dengan waktu tunggu yang tidak cukup
  • Reschedule in (expedite)
  • Reschedule out (de-expedite)
  • Pembatalan suatu pesanan
  • Review order post due
  1. MRP Pegging Report

Terdapat dua jenis Pegging Report yaitu single – level pegging report dan full pegging report.

  • Single level pegging report berisi laporan yang terperinci mencakup proces secara keseluruhan mengikuti Bill of material sumber-sumber kebutuhan dari semua item yang ada dalam struktur produk ditampilkan dalam single level pegging report.
  • Full pegging report menunjukkan kebutuhan sepenuhnya sampai MPS end item, atau mungkin sampai customer order.

Beberapa perubahan umum yang menyebabkan MRP mengeluarkan action messages adalah :

  1. MPS Revisions, kadang-kadang MPS di revisi dalam time fences, yang akan mempengaruhi kebutuhan disekitar waktu tersebut yang memberikan informasi kepada manajemen bahwa perubahan MPS akan menimbulkan biaya tambahan melalui pengembalian tindakan-tindakan luar biasa atau darurat.
  2. Inventory Corrections, Apabila ditemukan kesalahan-kesalahan dalam data unventory, seperti kehilangan karena menjadi usang, busuk, atau kecurian, maka data inventory akan di koreksi.
  3. Excessive scrap, Jika scrap aktual melebihi kuantitas yang diperkirakan, menyebabkan lebih sedikit material yang diselesaikan, sehingga kebutuhan pesanan tidak terpenuhi. Bila terjadi demikian perencana perlu meningkatkan ukuranscheduled receipt atau membuat new planned orders untuk memenuhi kebutuhan.
  4. Lotsize changes, Perubahan lot-size yang barangkali disebabkan oleh perbaikan asumsi yang berkaitan dengan biaya penetapan pesanan dan biaya penyimpanan akan mempengaruhi MRP dalam menetapkan kuantitas pesanan yang direncanakan.
  5. Custumer order revisions. Perubahan-perubahan pesanan pelanggan yang berkaitan dengan kuantitas, waktu penyerahan, akan mempengaruhi MRP. Kebanyakan perubahan yang diajukan pelanggan direfleksikan dalam MPS.
  6. Bottom Up replanning, yaitu suatu proses penggunaan pagging data, untuk menyelesaikan kekurangan material, tanpa mengambil cara expediting.
  7. Revising Planning data, yaitu mencakup analisisi dan perubahan data perencanaan seperti lot – sizing, lead time, safety stock and /or safety lead time, dan scrap allowances.

II.3.6 Contoh Perhitungan Unit Bahan dan Biaya Material

A. Struktur Produksi untuk membuat 1 unit barang X
X
B (4) C (5)
D (4) E (4) E (4) F (4)
G(2) D (4)
Jika PT. Graha merencanakan memproduksi 1000 unit dan harga komponen ,
B= $20, C=$20, D= $10, E = $10, F = $2 dan G = $=2, maka unit bahan dan biayanya sebagai berikut ;
X 1000
4000 B (4) C (5) 5000

D (4)

E (4) 20000 E (4) F (4) 20000
16000 16000
G(2) D (4)
40000 80000
Perhitungan Unit Bahan dan Biaya untuk 1000 barang X
Perhitungan Unit Bahan;
B  = (4) (1.000)  = 4.000 Unit
C  = (5) (1.000)  = 5.000 Unit
D  = (4) (4.000) + (4) (20.000)  = 96.000 Unit
E  = (4) (4.000) + (4) (5.000)  = 36.000 Unit
F  = (4) (5.000)  = 20.000 Unit
G  = (2) (20.000)  = 40.000 Unit
Perhitungan Biaya;
B  = 4.000 Unit   X $20  =  $      80,000
C  = 5.000 Unit   X $20  =  $      10,000
D  = 96.000 Unit X $10  =  $    960,000
E  = 36.000 Unit X $10  =  $    360,000
F  = 20.000 Unit X $2  =  $      40,000
G  = 40.000 Unit X $2  =  $      80,000
 $ 1,530,000

Bahan baku dipakai dalam satuan uang disebut biaya bahan baku. Biaya bahan baku dalam satuan barang dikali harga pokok barang per satuan disebut biaya bahan baku.

Besarnya bahan baku yang dimiliki perusahaan ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain:

  1. Anggaran produksi

Semakin besar produksi yang dianggarkan semakin besar bahan baku yang disediakan. Sebaliknya semakin kecil produksi yang dianggarkan semakin kecil juga bahan baku yang disediakan.

  1. Harga beli bahan baku

Semakin tinggi harga beli bahan baku, semakin tinggi persediaan bahan baku yang direncanakan. Sebaliknya semakin rendah harga bahan baku yang dibeli, semakin rendah persediaan bahan baku yang direncanakan.

  1. Biaya penyimpanan bahan baku di gudang (carrying cost) dalam hubungannya dengan biaya extra yang dikeluarkan sebagai akibat kehabisan persediaan (stockout cost).
  2. Ketepatan pembuatan standar pemakaian bahan baku.

Semakin tepat standar bahan baku dipakai yang dibuat, semakin kecil persediaan bahan baku yang direncanakan. Sebaliknya bila standar bahan baku dipakai yang dibuat sulit untuk mendekati ketepatan, maka persediaan bahan baku yang direncanakan akan besar.

  1. Ketepatan pemasok (penjual bahan baku) dalam menyerahkan bahan baku yang dipesan.
  2. Jumlah bahan baku setiap kali pesan.

Besarnya pembelian bahan baku tiap kali pesan untuk mendapatkan biaya pembelian minimal dapat ditentukan dengan kuantitas pesanan ekonomis (economical order quantity, EOQ).

  1. Economical order quantity(EOQ)

Adalah kuantitas barang yang dapat diperoleh dengan biaya minimal atau sering dikatakan sebagai jumlah pembelian yang optimal. Dalam menghitung EOQ biasanya mempertimbangkan dua jenis biaya yang bersifat variable, yaitu :

  1. Biaya pemesanan (order costing) yang selalu berubah-ubah sesuai dengan
    frekuensi pemesanan.
  2. Biaya penyimpanan (carryng cost) yang berubah-ubah sesuai dengan jumlah bahan baku yang disimpan.

Jadi EOQ dapat diformulasikan sebagai berikut :

Dimana :

R = Jumlah bahan baku yang akan dibeli dalam suatu jangka waktu tertentu.

S = Biaya pemesanan

P = Harga per unit bahan baku.

I = Biaya penyimpanan setiap (persentase dari persediaan rata-rata)

Contoh :

Misalkan bahan baku berupa kedela iyang diperlukan untuk membuat kecap asli selama tahun 2004 sebanyak 364 ons. Harga bahan baku berupa kedelai per ons sebesar Rp 160. Biaya pesanan setiap kali pesan Rp 728. Biaya penyimpanan bahan baku di gudang 40%.
Berarti cara pembelian yang paling ekonomis untuk setiap kali pesan sebanyak 91 ons kedelai. Bila dalam setahun diperlukan bahan baku kedelai sebanyak 364 ons, maka dalam setahun dilakukan 4 kali pesanan (364 : 91), yaitu tiga bulan sekali memesan.

Kebutuhan kedelai sebanyak 364 ons dapat saja dilakukan dengan cara :

☆ 2 kali pesanan dan setiap kali pesan sebanyak 182 ons

☆ 4 kali pesanan dan setiap kali pesan sebanyak 91 ons

☆ 7 kali pesanan dan setiap kali pesan sebanyak 52 ons

dari ketiga cara tersebut yang paling ekonomis adalah bila dilakukan 4 kali pesanan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan perhitungan jumlah biaya setahun sebagai berikut :

Ternyata jumlah biaya setahun yang terendah (ekonomis) sebesar Rp 62.244 bila pesanan dilakukan 4 kali dalam setahun. Seandainya perusahaan bahan baku (supplier) memberikan potongan harga 10% bila setiap kali pesanan sebanyak 182 ons.
Dengan demikian lebih ekonomis 2 kali pesan apabila terdapat potongan harga 10% karena jumlah biaya setahun lebih murah yaitu sebesar Rp 59.114 perhitungan EOQ dengnan jumlah biaya setahun Rp 62.244. karena itu tawaran supplier memberikan potongan harga 10% untuk setiap pesanan 182 ons dapat disetujui.

II.3.7 Manfaat Material Requirement Planning (MRP)

Manfaat Material Requirement Planning (MRP) adalah;

  • Peningkatan pelayanan dan kepuasan
  • Peningkatan pemanfaatan fasilitas dan tenaga kerja
  • Perencanaan dan penjadwalan persediaan yang lebih baik
  • Tanggapan yang lebih cepat terhadap perubahan dan pergeseran pasar
  • Tingkat persediaan menurun tanpa mengurangi pelayanan kepada konsumen

II.4 Format Perencanaan Kebutuhan Material

Format tampilan dari perencanaan kebutuhan material (Material Requirement Planning = MRP) adalah sebagai berikut (Gambar II.7)

Lot size:1000
Safety stock : 0

Lead time : 3 weeks Time Periods (Weeks)
On hand : 550 1 2 3 4 5
Gross Requirements 250 500 200 350 400
Schedule Receipts 1000
Projected on Hand 300 800 600 250 -150
Projected Available 300 800 600 250 850
Net Requirements 150
Planned Order Recepts 1000
Planned Order Release 1000

Gambar II.7. Material Requirement Planning (MRP)

Keterangan :

  • Lot size,merupakan item yang memberitahukan berapa banyak kuantitas yang harus dipesan, serta teknik lot-sizing apa yang dipakai dalam kasus diatas, memakai fixed quantity lot – size yaitu sebesar 1000 unit.
  • Safety stock, merupakan stock pengaman yang diterapkan perencanaan MRP untuk mengantisipasi fluktuasi dalam permintaan dan /atau penawaran. Dalam kasus diatas stock diasumsikan nol.
  • Lead time, merupakan jangka waktu yang dibutuhkan sejak MRP menyarankan suatu pesanan sampai item yang dipesan siap untuk digunakan
  • On hand,yang menunjukan kuantitas dari item yang secara phisik ada dalam gudang.
  • Gross Requirements, merupakan total dari semua kebutuhan yang diantisipasi, untuk setiap periode waktu.
  • Projected on hand,merupakan projected available balance (PAB) dan tidak termasuk planned order. Projected on – hand = On – hand pada awal periode + schedule receipts – gross requirements Dalam kasus diatas diketahui projected on-hand periode 1 = 550 + 0 – 250 = 300 unit dan seterusnya.
  • Projected available,merupakan ketentuan yang diharapkan ada dalam inventory pada akhir periode, dan tersedia untuk penggunaan dalam periode selanjutnya. Dihitung berasarkan formula sebagai berikut : Projected Available : On hand pada awal periode (atau projected available periode sebelumnya) + schedulled receipts periode sekarang + planned order receipts periode sekarang – gross requirements periode sekarang. Dalam kasus diatas projected available untuk Pada akhir periode 1 = 550 + 0 + 0 – 250 = 300 unit
    Pada akhir periode 2 = 300 + 1000 + 0 – 500 = 800 unit
  • Net requirement, merupakan kekurangan material yang diproyeksikan untuk periode tersebut, sehingga perlu diambil tindakan kedalam perhitunganplanned order receipts agar menutupi kekurangan material pada periode itu. Net requirement dihitung berdasarkan formula berikut : Net requirements = gross requrements – allocations + safety stock – scheduled receipts – projected available pada akhir periode lalu.

Allocation adalah material yang telah dialokasikan untuk keperluan produksi spesifik dimasa mendatang tetapi belum dipergunakan. Dalam kasus diatas allocation sama dengan nol.

Berdasarkan formula diatas, kita dapat menghitung net requirements pada akhir periode 5, sebagai berikut :

Net requirement akhir periode 5 = 400 + 0 + 0 – 0 – 250 = 150 unit

Beberapa catatan yang perlu diperhatikan, disini adalah :

  1. Apabila menggunakan fixed quantity lot size, dan bila ada net requrement, maka banyaknya planned order recipts akan mengambil salah satu nilai yaitu : standar lot size atau net requirement aktual, tergantung mana yang lebih besar.
  2. Dalam kebanyakan kasus, planned order receipts akan melebihi besaran net requirements, sehingga membiarkan beberapa kuantitas inventori disimpan sampai periode berikut.
  • Planned order receipts, merupakan kuantitas pesanan pengisian kembali yang telah direncanakan oleh MRP untuk diterima pada periode tertentu guna memenuhi kebutuhan bersih. Apabila menggunakan teknik lot for lot, maka planned order receipts dalam setiap periode selalu sama dengan net requirement pada periode itu jika memakai lot sing, maka planned order dapat melebihi net requirements. Setiap kelebihan diatas net requirement dimasukkan kedalam projected available inmventory untuk penggunaan pada periode berikutnya.
  • Planned order release, merupakan kuantitas palnned order yang ditempatkan atau dikeluarkan dalam periode tertentu, agar item yang dipesan itu akan tersedia pada saat dibutuhkan.

DAFTAR PUSTAKA

Hadiguna, R. A., dan Setiawan, H., 2008. Tata Letak Pabrik. Andi. Yogyakarta.

Kuliah-Manajemen. 2009. Perencanaan Tata Letak. (Online). Tersedia di http://kuliah-manajemen.blogspot.com/2009/12/perencanaan-tata-letak.html

Apple J. M., 1990. Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan. Edisi ketiga. ITB. Bandung.

Listiani T., 2010. Penerapan Konsep 5S Alam Upaya Menciptakan Lingkungan Kerja        yang Ergonomis di STIA LAN Bandung. Jurnal Ilmu Administrasi, VII (3),     Bandung.

http://www.pendidikanekonomi.com/2013/01/macam-tipe-layout-pabrik.html

Izzati, Sharlita Sara. 2013. Material Requirement Planning (Perencanaan Kebutuhan Bahan). (Online). Tersedia di http://sharlitasara.blogspot.com/2013/07/material-requirement-planning.html. (di akses pada Selasa, 16 Juli 2013).

Anisa, Anaa. 2011. Perencanaan Kebutuhan Bahan Baku pada Proses Produksi Karung Plastik dengan menggunakan metode Material Requirement Planning pada PT HARDO SOLO PLAST Surakarta. (Online). Tersedia di http://eprints.uns.ac.id/7651/1/217090811201103511.pdf

Sukmana, Arif. 2013. Perencanaan Kebutuhan Bahan. Yogyakarta. (Online). Tersediadi https://www.academia.edu/6559490/Perencanaan_Kebutuhan_Bahan.

Distians. 2007. Perencanaan Kebutuhan Material (Sistem MRP II). (Online). Tersedia di

https://distians.wordpress.com/2007/09/28/perencanaan-kebutuhan-material/. (di akses pada September 2007)

Akuntansi Biaya Perhitungan Harga Pokok Produksi ( Sistem Biaya Historis ), Edisi Pertama

Yoppy. 2015. Manajemen Tata Letak. [Online. Tersedia di:      http://yopy12013.blog.teknikindustri.ft.mercubuana.ac.id/?p=23. [diakses 12 Januari 2015, jam 22:10]

Mythologi Theoden. 2012. Perencanaan Tata Letak Fasilitas. [Online]. Tersedia di:      http://mythologitheoden.blogspot.com/2012/09/perencanaan-tata-letak-       fasilitas.html. [diakses 12 Januari 2015, jam 22:11]

Pengantar Pasar Modal

Pengantar Pasar Modal

Oleh : Sutihat Rahayu Suadh

Pasar modal (capital market) merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik surat utang (obligasi), ekuiti (saham), reksa dana, instrumen derivatif maupun instrumen lainnya. Pasar modal merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan maupun institusi lain (misalnya pemerintah), dan sebagai sarana bagi kegiatan berinvestasi. Dengan demikian, pasar modal memfasilitasi berbagai sarana dan prasarana kegiatan jual beli dan kegiatan terkait lainnya.

Instrumen keuangan yang diperdagangkan di pasar modal merupakan instrumen jangka panjang (jangka waktu lebih dari 1 tahun) seperti saham, obligasi, waran, right, reksa dana, dan berbagai instrumen derivatif seperti option, futures, dan lain-lain.

Undang-Undang Pasar Modal No. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal mendefinisikan pasar modal sebagai “kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek”.

Pasar Modal memiliki peran penting bagi perekonomian suatu negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi, yaitu pertama sebagai sarana bagi pendanaan usaha atau sebagai sarana bagi perusahaan untuk mendapatkan dana dari masyarakat pemodal (investor). Dana yang diperoleh dari pasar modal dapat digunakan untuk pengembangan usaha, ekspansi, penambahan modal kerja dan lain-lain, kedua pasar modal menjadi sarana bagi masyarakat untuk berinvestasi pada instrument keuangan seperti saham, obligasi, reksa dana, dan lain-lain. Dengan demikian, masyarakat dapat menempatkan dana yang dimilikinya sesuai dengan karakteristik keuntungan dan risiko masing-masing instrument.

2.1 Saham

Saham (stock) merupakan salah satu instrumen pasar keuangan yang paling popular. Menerbitkan saham merupakan salah satu pilihan perusahaan ketika memutuskan untuk pendanaan perusahaan. Pada sisi yang lain, saham merupakan instrument investasi yang banyak dipilih para investor karena saham mampu memberikan tingkat keuntungan yang menarik.
Saham dapat didefinisikan sebagai tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Dengan menyertakan modal tersebut, maka pihak tersebut memiliki klaim atas pendapatan perusahaan, klaim atas asset perusahaan, dan berhak hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Pada dasarnya, ada dua keuntungan yang diperoleh investor dengan membeli atau memiliki saham:

  1. Dividen

Dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan dan berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividen diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS. Jika seorang pemodal ingin mendapatkan dividen, maka pemodal tersebut harus memegang saham tersebut dalam kurun waktu yang relatif lama yaitu hingga kepemilikan saham tersebut berada dalam periode dimana diakui sebagai pemegang saham yang berhak mendapatkan dividen. Dividen yang dibagikan perusahaan dapat berupa dividen tunai – artinya kepada setiap pemegang saham diberikan dividen berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu untuk setiap saham – atau dapat pula berupa dividen saham yang berarti kepada setiap pemegang saham diberikan dividen sejumlah saham sehingga jumlah saham yang dimiliki seorang pemodal akan bertambah dengan adanya pembagian dividen saham tersebut.

  1. Capital Gain

Capital Gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. Capital gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder. Misalnya Investor membeli saham ABC dengan harga per saham Rp 3.000 kemudian menjualnya dengan harga Rp 3.500 per saham yang berarti pemodal tersebut mendapatkan capital gain sebesar Rp 500 untuk setiap saham yang dijualnya.

Sebagai instrument investasi, saham memiliki risiko, antara lain:

  1. Capital Loss

Merupakan kebalikan dari Capital Gain, yaitu suatu kondisi dimana investor menjual saham lebih rendah dari harga beli. Misalnya saham PT. XYZ yang di beli dengan harga Rp 2.000,- per saham, kemudian harga saham tersebut terus mengalami penurunan hingga mencapai Rp 1.400,- per saham. Karena takut harga saham tersebut akan terus turun, investor menjual pada harga Rp 1.400,- tersebut sehingga mengalami kerugian sebesar Rp 600,- per saham.

  1. Risiko Likuidasi

Perusahaan yang sahamnya dimiliki, dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan, atau perusahaan tersebut dibubarkan. Dalam hal ini hak klaim dari pemegang saham mendapat prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi (dari hasil penjualan kekayaan perusahaan). Jika masih terdapat sisa dari hasil penjualan kekayaan perusahaan tersebut, maka sisa tersebut dibagi secara proporsional kepada seluruh pemegang saham. Namun jika tidak terdapat sisa kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tidak akan memperoleh hasil dari likuidasi tersebut. Kondisi ini merupakan risiko yang terberat dari pemegang saham. Untuk itu seorang pemegang saham dituntut untuk secara terus menerus mengikuti perkembangan perusahaan.

Di pasar sekunder atau dalam aktivitas perdagangan saham sehari-hari, harga-harga saham mengalami fluktuasi baik berupa kenaikan maupun penurunan. Pembentukan harga saham terjadi karena adanya permintaan dan penawaran atas saham tersebut. Dengan kata lain harga saham terbentuk oleh supply dan demand atas saham tersebut. Supply dan demand tersebut terjadi karena adanya banyak faktor, baik yang sifatnya spesifik atas saham tersebut (kinerja perusahaan dan industri dimana perusahaan tersebut bergerak) maupun faktor yang sifatnya makro seperti tingkat suku bunga, inflasi, nilai tukar dan faktor-faktor non ekonomi seperti kondisi sosial dan politik, dan faktor lainnya.

Saham Sebagai  pilihan pilihan Investasi ;

Pemegang saham memiliki hak untuk hadir dalam Rapat

Saham merupakan bukti kepemilikan atau penyertaan modal dalam sebuah perusahaan atau perseroan terbatas

Saham merupakan salah satu surat berharga yang diperjualbelikan di pasar modal

Pemegang saham memiliki hak untuk hadir dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

Saham merupakan aset yang likuid, jadi mudah untuk diperjualbelikan

Memiliki saham berarti memiliki kesempatan untuk mendapatkan dividen Keuntungan Investasi Investasi Saham

Keuntungan berinvestasi di saham:

  1. Dividen Dividen adalah Pembagian Keuntungan Perusahaan kepada Pemegang Saham. Contoh: Salah satu emiten membagi dividen per saham Rp 500,- Rina memiliki sahamnya sebanyak 5.000 saham (10 lot). Jadi dividen yang diterima oleh Rina adalah Rp 2.500.000 (belum termasuk pajak)
  2. Capital Gain Capital Gain adalah Keuntungan ketika kita menjual saham lebih tinggi dari harga beli. Contoh: Johan membeli saham per saham Rp 3.000,- dan kemudian menjual pada harga Rp 4.000,-. Capital Gain yang diperoleh adalah Rp 1.000,- untuk setiap saham yang dijual oleh Johan.

Resiko Investasi Investasi Saham Resiko berinvestasi di saham:

  1. Tidak Mendapat Dividen Umumnya perusahaan membagi dividen ketika perusahaan menunjukkan kinerja yang baik. Jadi ketika perusahaan mengalami penurunan kinerja atau mengalami kerugian maka perusahaan tidak membagikan membagikan dividen dividen kepada para pemegang pemegang saham.
  2. Capital Loss Capital Loss merupakan kebalikan Capital Gain. Hal ini terjadi jika kita menjual saham yang kita miliki lebih rendah dari harga beli. Contoh: Adi membeli saham perusahaan dengan harga per saham Rp 3.000,- dan beberapa waktu kemudian saham ini mengelami penurunan. Adi menjual saham tersebut pada harga Rp 2.500,- sehingga Adi mengalami kerugian Rp 500 untuk setiap saham yang ia jual.

Bagaimana Bagaimana Mendapatkan Mendapatkan Saham

Pada dasarnya terdapat 3 jalan untuk mendapatkan saham:

  1. Membeli Saham di Pasar Perdana atau ketika sebuah perusahaan melakukan Penawaran Umum (go public)
  2. Membeli Saham di Pasar Sekunder atau membeli saham yang telah tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek
  3. Membeli saham melalui pembelian unit penyertaan Reksa Dana (lewat Reksa Dana) Di Bursa Efek Indonesia terdapat sekitar 120 broker saham yang dapat melayani kita untuk melakukan jual dan beli saham.

Khusus untuk di Pasar Sekunder, terlebih dahulu kita harus menjadi nasabah di salah satu broker saham atau Perusahaan Sekuritas yang menjadi anggota di Bursa Efek.

Di Bursa Efek Indonesia terdapat sekitar 120 broker saham yang dapat melayani kita untuk melakukan jual dan beli saham.

2.2 Obligasi

Obligasi merupakan surat utang jangka menengah-panjang yang dapat dipindahtangankan yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut.

  1. Jenis Obligasi

Obligasi memiliki beberapa jenis yang berbeda, yaitu:

Dilihat dari sisi penerbit:

  1. Corporate Bonds: obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan, baik yang berbentuk badan usaha milik negara (BUMN), atau badan usaha swasta.
  2. Government Bonds: obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah pusat.
  3. Municipal Bond: obligasi yang diterbitkan oleh pemerintah daerah untut membiayai proyek-proyek yang berkaitan dengan kepentingan publik (public utility).

Dilihat dari sistem pembayaran bunga:

  1. Zero Coupon Bonds: obligasi yang tidak melakukan pembayaran bunga secara periodik. Namun, bunga dan pokok dibayarkan sekaligus pada saat jatuh tempo.
  2. Coupon Bonds: obligasi dengan kupon yang dapat diuangkan secara periodik sesuai dengan ketentuan penerbitnya.
  3. Fixed Coupon Bonds: obligasi dengan tingkat kupon bunga yang telah ditetapkan sebelum masa penawaran di pasar perdana dan akan dibayarkan secara periodik.
  4. Floating Coupon Bonds: obligasi dengan tingkat kupon bunga yang ditentukan sebelum jangka waktu tersebut, berdasarkan suatu acuan (benchmark) tertentu seperti average time deposit (ATD) yaitu rata-rata tertimbang tingkat suku bunga deposito dari bank pemerintah dan swasta.

Dilihat dari hak penukaran/opsi:

  1. Convertible Bonds: obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk mengkonversikan obligasi tersebut ke dalam sejumlah saham milik penerbitnya.
  2. Exchangeable Bonds: obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk menukar saham perusahaan ke dalam sejumlah saham perusahaan afiliasi milik penerbitnya.
  3. Callable Bonds: obligasi yang memberikan hak kepada emiten untuk membeli kembali obligasi pada harga tertentu sepanjang umur obligasi tersebut.
  4. Putable Bonds: obligasi yang memberikan hak kepada investor yang mengharuskan emiten untuk membeli kembali obligasi pada harga tertentu sepanjang umur obligasi tersebut.

Dilihat dari segi jaminan atau kolateralnya:

  1. Secured Bonds: obligasi yang dijamin dengan kekayaan tertentu dari penerbitnya atau dengan jaminan lain dari pihak ketiga. Dalam kelompok ini, termasuk didalamnya adalah:
  2. Guaranteed Bonds: Obligasi yang pelunasan bunga dan pokoknya dijamin denan penangguangan dari pihak ketiga
  3. Mortgage Bonds: obligasi yang pelunasan bunga dan pokoknya dijamin dengan agunan hipotik atas properti atau asset tetap.
  4. Collateral Trust Bonds: obligasi yang dijamin dengan efek yang dimiliki penerbit dalam portofolionya, misalnya saham-saham anak perusahaan yang dimilikinya.
  5. Unsecured Bonds: obligasi yang tidak dijaminkan dengan kekayaan tertentu tetapi dijamin dengan kekayaan penerbitnya secara umum.

Dilihat dari segi nilai nominal:

  1. Konvensional Bonds: obligasi yang lazim diperjualbelikan dalam satu nominal, Rp 1 miliar per satu lot.
  2. Retail Bonds: obligasi yang diperjual belikan dalam satuan nilai nominal yang kecil, baik corporate bonds maupun government bonds.
  3. Dilihat dari segi perhitungan imbal hasil:
  4. Konvensional Bonds: obligasi yang diperhitungan dengan menggunakan sistem kupon bunga.
  5. Syariah Bonds: obligasi yang perhitungan imbal hasil dengan menggunakan perhitungan bagi hasil. Dalam perhitungan ini dikenal dua macam obligasi syariah, yaitu:

Obligasi Syariah Mudharabah merupakan obligasi syariah yang menggunakan akad bagi hasil sedemikian sehingga pendapatan yang diperoleh investor atas obligasi tersebut diperoleh setelah mengetahui pendapatan emiten.

Obligasi Syariah Ijarah merupakan obligasi syariah yang menggunakan akad sewa sedemikian sehingga kupon (fee ijarah) bersifat tetap, dan bisa diketahui/diperhitungkan sejak awal obligasi diterbitkan.

  1. Karakteristik Obligasi:

Nilai Nominal (Face Value) adalah nilai pokok dari suatu obligasi yang akan diterima oleh pemegang obligasi pada saat obligasi tersebut jatuh tempo.

Kupon (the Interest Rate) adalah nilai bunga yang diterima pemegang obligasi secara berkala (kelaziman pembayaran kupon obligasi adalah setiap 3 atau 6 bulanan) Kupon obligasi dinyatakan dalam annual prosentase.

Jatuh Tempo (Maturity) adalah tanggal dimana pemegang obligasi akan mendapatkan pembayaran kembali pokok atau Nilai Nominal obligasi yang dimilikinya. Periode jatuh tempo obligasi bervariasi mulai dari 365 hari sampai dengan diatas 5 tahun. Obligasi yang akan jatuh tempo dalam waktu 1 tahun akan lebih mudah untuk di prediksi, sehingga memilki resiko yang lebih kecil dibandingkan dengan obligasi yang memiliki periode jatuh tempo dalam waktu 5 tahun. Secara umum, semakin panjang jatuh tempo suatu obligasi, semakin tinggi Kupon / bunga nya.

Penerbit / Emiten (Issuer) Mengetahui dan mengenal penerbit obligasi merupakan faktor sangat penting dalam melakukan investasi Obligasi Ritel. Mengukur resiko / kemungkinan dari penerbit obigasi tidak dapat melakukan pembayaran kupon dan atau pokok obligasi tepat waktu (disebut default risk) dapat dilihat dari peringkat (rating) obligasi yang dikeluarkan oleh lembaga pemeringkat seperti PEFINDO atau Kasnic Indonesia. 

  1. Harga Obligasi:

Berbeda dengan harga saham yang dinyatakan dalam bentuk mata uang, harga obligasi dinyatakan dalam persentase (%), yaitu persentase dari nilai nominal.
Ada 3 (tiga) kemungkinan harga pasar dari obligasi yang ditawarkan, yaitu:

Par (nilai Pari): Harga Obligasi sama dengan nilai nominal Misal: Obligasi dengan nilai nominal Rp 50 juta dijual pada harga 100%, maka nilai obligasi tersebut adalah 100% x Rp 50 juta = Rp 50 juta.

at premium (dengan Premi): Harga Obligasi lebih besar dari nilai nominal Misal: Obligasi dengan nilai nominal RP 50 juta dijual dengan harga 102%, maka nilai obligasi adalah 102% x Rp 50 juta = Rp 51 juta.

at discount (dengan Discount): Harga Obligasi lebih kecil dari nilai nominal Misal: Obligasi dengan nilai nominal Rp 50 juta dijual dengan harga 98%, maka nilai dari obligasi adalah 98% x Rp 50 juta = Rp 49 juta.

  1. Yield Obligasi:

Pendapatan atau imbal hasil atau returnyang akan diperoleh dari investasi obligasi dinyatakan sebagai yieldyaitu hasil yang akan diperoleh investor apabila menempatkan dananya untuk dibelikan obligasi. Sebelum memutuskan untuk berinvestasi obligasi, investor harus mempertimbangkan besarnya yieldobligasi, sebagai faktor pengukur tingkat pengembalian tahunan yang akan diterima.

Ada 2 (dua) istilah dalam penentuan yield yaitu current yield dan yield to maturity.

Currrent yield adalah yield yang dihitung berdasrkan jumlah kupon yang diterima selama satu tahun terhadap harga obligasi tersebut.

Current yield = bunga tahunan

harga obligasi

Contoh:

Jika obligasi PT XYZ memberikan kupon kepada pemegangnya sebesar 17% per tahun sedangkan harga obligasi tersebut adalah 98% untuk nilai nominal Rp 1.000.000.000, maka:

Current Yield     = Rp 170.000.000 atau  17%

Rp 980.000.000          98%

= 17.34%

Sementara itu yiled to maturity (YTM) adalah tingkat pengembalian atau pendapatan yang akan diperoleh investor apabila memiliki obligasi sampai jatuh tempo. Formula YTM yang seringkali digunakan oleh para pelaku adalah YTM approximation atau pendekatan nilai YTM, sebagai berikut:

YTM approximation =       C +   R – P

                 n           x 100%

  R + P     

2

Keterangan:

C = kupon

n = periode waktu yang tersisa (tahun)

R = redemption value

P = harga pemeblian (purchase value)

Contoh:

Obligasi XYZ dibeli pada 5 September 2003 dengan harga 94.25% memiliki kupon sebesar 16% dibayar setiap 3 bulan sekali dan jatuh tempo pada 12 juli 2007. Berapakah besar YTM approximationnya?

C = 16%

n = 3 tahun 10 bulan 7 hari = 3.853 tahun

R = 94.25%

P = 100%

YTM approximation         = 16 +  100 – 94.25 

3.853

= 100 + 94.25

2

= 18.01 %

2.3 Darivatiff

  1. Mengenal Derivatif

Efek derivatif merupakan Efek turunan dari Efek “utama” baik yang bersifat penyertaan maupun utang. Efek turunan dapat berarti turunan langsung dari Efek “utama” maupun turunan selanjutnya. Derivatif merupakan kontrak atau perjanjian yang nilai atau peluang keuntungannya terkait dengan kinerja aset lain. Aset lain ini disebut sebagai underlying assets.

Dalam pengertian yang lebih khusus, derivatif merupakan kontrak finansial antara 2 (dua) atau lebih pihak-pihak guna memenuhi janji untuk membeli atau menjual assets/commodities yang dijadikan sebagai obyek yang diperdagangkan pada waktu dan harga yang merupakan kesepakatan bersama antara pihak penjual dan pihak pembeli. Adapun nilai di masa mendatang dari obyek yang diperdagangkan tersebut sangat dipengaruhi oleh instrumen induknya yang ada di spot market.

  1. Derivatif Keuangan

Derivatif yang terdapat di Bursa Efek adalah derivatif keuangan (financial derivative). Derivatif keuangan merupakan instrumen derivatif, di mana variabel-variabel yang mendasarinya adalah instrumen-instrumen keuangan, yang dapat berupa saham, obligasi, indeks saham, indeks obligasi, mata uang(currency), tingkat suku bunga dan instrumen-instrumen keuangan lainnya.

Instrumen-instrumen derivatif sering digunakan oleh para pelaku pasar (pemodal dan perusahaan efek) sebagai sarana untuk melakukan lindung nilai(hedging) atas portofolio yang mereka miliki.

Dasar Hukum

UU No.8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal;

  1. Peraturan Pemerintah no.45 tahun 1995 tentang Penyelenggaraan Kegiatan di Bidang Pasar Modal.
  2. SK Bapepam No. Kep.07/PM/2003 Tgl. 20 Februari 2003 tentang Penetapan Kontrak Berjangka atas Indeks Efek sebagai Efek
  3. Peraturan Bapepam No. III. E. 1 tgl. 31 Okt 2003 tentang Kontrak Berjangka dan Opsi atas Efek atau Indeks Efek
  4. SE Ketua Bapepam No. SE-01/PM/2002 tgl. 25 Februari 2002 tentang Kontrak Berjangka Indeks Efek dalam Pelaporan MKBD Perusahaan Efek
  5. Persetujuan tertulis Bapepam nomor S-356/PM/2004 tanggal 18 Pebruari 2004 perihal Persetujuan KBIE-LN (DJIA & DJ Japan Titans 100)

Beberapa Jenis Produk Turunan yang diperdagangkan di BEI:

  1. Kontrak Opsi Saham (KOS)
  2. OPTION adalah kontrak resmi yang memberikan Hak (tanpa adanya kewajiban) untuk membeli atau menjual sebuah asset pada harga tertentu dalam jangka waktu tertentu. Option pertama kali secara resmi diperdagangkan melalui Chicago Board Exchange (CBOE) pada tahun 1973
  3. KOS (Kontrak Opsi Saham) adalah Efek yang memuat hak beli (call option) atau hak jual (put option) atas Underlying Stock(saham perusahaan tercatat, yang menjadi dasar perdagangan seri KOS) dalam jumlah dan Strike Price (harga yang ditetapkan oleh Bursa untuk setiap seri KOS sebagai acuan dalamExercise) tertentu, serta berlaku dalam periode tertentu.
  4. Call Optionmemberikan hak (bukan kewajiban) kepada pemegang opsi (taker) untuk membeli sejumlah tertentu dari sebuah instrumen yang menjadi dasar kontrak tersebut. Sebaliknya, Put Option memberikan hak (bukan kewajiban) kepada pemegang opsi (taker) untuk menjual sejumlah tertentu dari sebuah instrumen yang menjadi dasar kontrak tersebut.
  5. Opsi tipe Amerika memberikan kesempatan kepada pemegang opsi (taker) untuk meng-exercise haknya setiap saat hingga waktu jatuh tempo. Sedangkan Opsi Eropa hanya memberikan kesempatan kepada takeruntuk meng-exercise haknya pada saat waktu jatuh tempo.

Adapun karakteristik opsi saham yang diperdagangkan di BEI adalah sebagai berikut :

 Tipe KOS Call Option dan Put Option
Satuan Perdagangan 1 Kontrak = 10.000 opsi saham
Masa Berlaku 1,2 dan 3 bulan
Pelaksanaan Hak (exercise) Metode Amerika (Setiap saat dalam jam tertentu di hari bursa, selama masa berlaku KOS)
Penyelesaian Pelaksanaan Hak  Secara tunai pada T+1, dengan pedoman:
• call option = WMA – strike price
• put option = strike price – WMA
Margin Awal 10% dari nilai kontrak
WMA (weighted moving average)  adalah rata-rata tertimbang dari saham acuan opsi selama 30 menit dan akan muncul setelah 15 menit berikutnya
Strike Price adalah harga tebus (exercise price) untuk setiap seri KOS yang ditetapkan 7 seri untuk call option dan 7 seri untuk put option berdasarkan closing price saham acuan opsi saham
Automatic exercise diberlakukan apabila:
110% dari strike > call option, jika WMA price
90% dari strike price < put option, jika WMA
Jam Perdagangan KOS  • Senin – Kamis : Sesi 1: 09.30 – 12.00 WIB
Sesi 2: 13.30 – 16.00 WIB
• Jum’at : Sesi 1: 09.30 – 11.30 WIB
Sesi 2: 14.00 – 16.00 WIB
Jam Pelaksanaan Hak • Senin – Kamis : 10.01 – 12.15 dan 13.45 – 16.15 WIB
• Jum’at : 10.01 – 11.45 dan 14.15 – 16.15 WIB
Premium diperdagangkan secara lelang berkelanjutan
(continuous auction market)

 

  1. KONTRAK BERJANGKA INDEKS EFEK (KBIE)

1). LQ45 Futures

Kontrak Berjangka atau Futures adalah kontrak untuk membeli atau menjual suatu underlying (dapat berupa indeks, saham, obligasi, dll) di masa mendatang. Kontrak indeks merupakan kontrak berjangka yang menggunakan underlying berupa indeks saham.

LQ45 Futures menggunakan underlying indeks LQ45, LQ45 telah dikenal sebagai benchmark saham-saham di Pasar Modal Indonesia. Di tengah perkembangan yang cepat di pasar modal Indonesia, indeks LQ45 dapat menjadi alat yang cukup efektif dalam rangka melakukan tracking secara keseluruhan dari pasar saham di  Indonesia.

Spesifikasi Kontrak LQ45 Futures:

Underlying : Indeks LQ45
Multiplier : Rp. 500.000 per poin indeks
Periode Kontrak : Kontrak Bulanan (Spot Month)
  Kontrak Bulanan Kedua (Second Month)
Jam Trading : Hari Senin s/d Kamis : Sesi 1: 09.15 – 12.00 WIB
Sesi 2: 13.30 – 16. 15 WIB
Hari Jumat : Sesi 1: 09. 15 – 11.30 WIB
Sesi 2: 14.00 – 16. 15 WIB
Last Trading Day : Setiap Hari Bursa terakhir setiap bulan kontrak
Margin Awal : IDR 3.000.000/ kontrak

2). Mini LQ45 Futures

Mini LQ45 Futures adalah kontrak yang menggunakan underlying yang sama dengan LQ45 Futures yaitu indeks LQ45, hanya saja Mini LQ45 Futures memiliki multiplier yang lebih kecil (Rp 100 ribu / poin indeks atau 1/5 dari LQ45 Futures) sehingga nilai transaksi, kebutuhan marjin awal, dan fee transaksinya juga lebih kecil.

Produk Mini LQ45 Futures ditujukan bagi investor pemula dan investor retail yang ingin melakukan transaksi LQ45 dengan persyaratan yang lebih kecil. Dengan demikian Mini LQ45 dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran investor retail yang baru akan mulai melakukan transaksi di indeks LQ45

Spesifikasi Kontrak Mini LQ45 Futures:

Underlying : Indeks LQ45
Multiplier : Rp. 100.000 per poin indeks
Periode Kontrak : Kontrak Bulanan (Spot Month)
  Kontrak Bulanan Kedua (Second Month)
Jam Perdagangan : Hari Senin s/d Kamis : Sesi 1: 09.15 – 12.00 WIB
Sesi 2: 13.30 – 16. 15 WIB
Hari Jumat : Sesi 1: 09. 15 – 11.30 WIB
Sesi 2: 14.00 – 16. 15 WIB
Last Trading Day : Setiap Hari Bursa terakhir setiap bulan kontrak
Margin Awal : 4% dari nilai kontrak

3). LQ45 Futures Periodik

Kontrak yang diterbitkan pada Hari Bursa tertentu dan jatuh tempo dalam periode Hari Bursa tertentu.
Spesifikasi Kontrak LQ45 Futures Periodik:

Underlying : Indeks LQ45
Multiplier : Rp.500.000,-
Periode Kontrak : Kontrak Periodik Harian (2 Hari Bursa)
Jam Perdagangan : Senin-Kamis : sesi I : 09.15-12.00 WIB
sesi II : 13.30-16.15 WIB
Jum’at : sesi I : 09.15-11.30 WIB
sesi II : 14.00-16.15 WIB
Fraksi Harga : 0,05 poin indeks
Margin Awal : IDR 3.000.000/ kontrak

4). Mini LQ45 Futures Periodik

Kontrak yang diterbitkan pada Hari Bursa tertentu dan jatuh tempo dalam periode Hari Bursa tertentu.
Spesifikasi Kontrak Mini LQ45 Futures Periodik:

Underlying : Indeks LQ45
Multiplier : Rp.100.000,-
Periode Kontrak : Kontrak Periodik Harian (2 Hari Bursa)
Jam Perdagangan : Senin-Kamis : sesi I : 09.15-12.00 WIB
sesi II : 13.30-16.15 WIB
Jum’at : sesi I : 09.15-11.30 WIB
sesi II : 14.00-16.15 WIB
Fraksi Harga : 0,05 poin indeks
Margin Awal : 4% dari nilai kontrak

5). Japan (JP) Futures

Produk ini memberikan peluang kepada investor untuk melakukan investasi secara global sekaligus memperluas rangkaian dan jangkauan produk derivatif BEI ke produk yang menjadi benchmark dunia. Dengan JP Futures memungkinkan investor menarik manfaat dari pergerakan pasar jepang sebagai pasar saham paling aktif setelah pasar AS.

Spesifikasi Kontrak JP Futures:

Underlying : Dow Jones Japan Titan 100
Multiplier : Rp 50.000 per poin indeks
Periode Kontrak : 2 kontrak Bulan Kuartal terdekat (Bulan Kuartal adalah Mar, Jun, Sep dan Des)
Jam Perdagangan : Senin s/d Kamis : Sesi 1: 09.15 – 12.00 WIB
Sesi 2: 13.30 – 16.15 WIB
Jumat : Sesi 1: 09.15 – 11.30 WIB
Sesi 2: 14.00 – 16.15 WIB
Last Trading Day : Hari Kamis kedua setiap Bulan Kontrak
Margin Awal : 4% dari nilai kontrak

2.4 Reksadana

Reksa dana merupakan salah satu alternatif investasi bagi masyarakat pemodal, khususnya pemodal kecil dan pemodal yang tidak memiliki banyak waktu dan keahlian untuk menghitung risiko atas investasi mereka. Reksa Dana dirancang sebagai sarana untuk menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki modal, mempunyai keinginan untuk melakukan investasi, namun hanya memiliki waktu dan pengetahuan yang terbatas. Selain itu Reksa Dana juga diharapkan dapat meningkatkan peran pemodal lokal untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia.

Umumnya, Reksa Dana diartikan sebagai Wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya di investasikan dalam portofolio Efek oleh Manajer Investasi.

Mengacu kepada Undang-Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995, pasal 1 ayat (27) didefinisikan bahwa Reksa Dana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi.
Ada tiga hal yang terkait dari definisi tersebut yaitu, Pertama, adanya dana dari masyarakat pemodal. Kedua, dana tersebut diinvestasikan dalam portofolio efek, dan Ketiga, dana tersebut dikelola oleh manajer investasi.
Dengan demikian, dana yang ada dalam Reksa Dana merupakan dana bersama para pemodal, sedangkan manajer investasi adalah pihak yang dipercaya untuk mengelola dana tersebut.

Manfaat yang diperoleh pemodal jika melakukan investasi dalam Reksa Dana, antara lain:

Pertama, pemodal walaupun tidak memiliki dana yang cukup besar dapat melakukan diversifikasi investasi dalam Efek, sehingga dapat memperkecil risiko. Sebagai contoh, seorang pemodal dengan dana terbatas dapat memiliki portfolio obligasi, yang tidak mungkin dilakukan jika tidak tidak memiliki dana besar. Dengan Reksa Dana, maka akan terkumpul dana dalam jumlah yang besar sehingga akan memudahkan diversifikasi baik untuk instrumen di pasar modal maupun pasar uang, artinya investasi dilakukan pada berbagai jenis instrumen seperti deposito, saham, obligasi.

Kedua, Reksa Dana mempermudah pemodal untuk melakukan investasi di pasar modal. Menentukan saham-saham yang baik untuk dibeli bukanlah pekerjaan yang mudah, namun memerlukan pengetahuan dan keahlian tersendiri, dimana tidak semua pemodal memiliki pengetahuan tersebut.

Ketiga, Efisiensi waktu. Dengan melakukan investasi pada Reksa Dana dimana dana tersebut dikelola oleh manajer investasi profesional, maka pemodal tidak perlu repot-repot untuk memantau kinerja investasinya karena hal tersebut telah dialihkan kepada manajer investasi tersebut.

Seperti halnya wahana investasi lainnya, disamping mendatangkan berbagai peluang keuntungan, Reksa Dana pun mengandung berbagai peluang risiko, antara lain:

Risko Berkurangnya Nilai Unit Penyertaan.
Risiko ini dipengaruhi oleh turunnya harga dari Efek (saham, obligasi, dan surat berharga lainnya) yang masuk dalam portfolio Reksa Dana tersebut.

Risiko Likuiditas
Risiko ini menyangkut kesulitan yang dihadapi oleh Manajer Investasi jika sebagian besar pemegang unit melakukan penjualan kembali (redemption) atas unit-unit yang dipegangnya. Manajer Investasi kesulitan dalam menyediakan uang tunai atas redemption tersebut.

Risiko Wanprestasi
Risiko ini merupakan risiko terburuk, dimana risiko ini dapat timbul ketika perusahaan asuransi yang mengasuransikan kekayaan Reksa Dana tidak segera membayar ganti rugi atau membayar lebih rendah dari nilai pertanggungan saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti wanprestasi dari pihak-pihak yang terkait dengan Reksa Dana, pialang, bank kustodian, agen pembayaran, atau bencana alam, yang dapat menyebabkan penurunan NAB (Nilai Aktiva Bersih) Reksa Dana.

Dilihat dari portfolio investasinya, Reksa Dana dapat dibedakan menjadi:

Reksa Dana Pasar Uang (Moner Market Funds). Reksa Dana jenis ini hanya melakukan investasi pada Efek bersifat Utang dengan jatuh tempo kurang dari 1 (satu) tahun. Tujuannya adalah untuk menjaga likuiditas dan pemeliharaan modal.

Reksa Dana Pendapatan Tetap (Fixed Income Funds). Reksa Dana jenis ini melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari aktivanya dalam bentuk Efek bersifat Utang. Reksa Dana ini memiliki risiko yang relatif lebih besar dari Reksa Dana Pasar Uang. Tujuannya adalah untuk menghasilkan tingkat pengembalian yang stabil.

Reksa Dana Saham (Equity Funds). Reksa dana yang melakukan investasi sekurang-kurangnya 80% dari aktivanya dalam bentuk Efek bersifat Ekuitas. Karena investasinya dilakukan pada saham, maka risikonya lebih tinggi dari dua jenis Reksa Dana sebelumnya namun menghasilkan tingkat pengembalian yang tinggi.

Reksa Dana Campuran. Reksa Dana jenis ini melakukan investasi dalam Efek bersifat Ekuitas dan Efek bersifat Utang.

2.5 ETF (Exchange Traded Fund )

ETF atau Exchange Traded Fund secara sederhana dapat diartikan sebagai Reksa Dana yang diperdagangkan di Bursa. ETF merupakan Kontrak Investasi Kolektif, yaitu Unit Penyertaannya dicatatkan dan diperdagangkan di Bursa seperti saham. Sebagaimana halnya reksa dana konvensional, dalam ETF terdapat pula Manajer Investasi, Bank Kustodian.

Salah satu jenis ETF yang akan dikembangkan di pasar modal Indonesia adalah Reksa Dana Indeks. Indeks yang dijadikan underlying adalah Indeks LQ45.

Perbedaan antara ETF dengan Reksa Dana Open Ended

Fitur ETF Reksa Dana Open – Ended
Perdagangan Diperdagangkan di Bursa Efek selama jam bursa Melalui MI atau Agen Penjual
Minimum Investasi Tidak ada Bervariasi (masing-masing RD)
Harga Khusus Reksa Dana ETF LQ45 mengikuti trend kenaikan / penurunan indeks LQ45 & juga terdapat premium / discount atas Bid / Offer untuk disesuaikan dengan permintaan pasar Ditentukan oleh NAB RD
Pengumuman Harga Ditampilkan secara berkesinambungan oleh Bursa Efek selama jam perdagangan Diumumkan satu kali oleh MI berdasarkan perhitungan NAB
Market Making Hampir semua ETF mempunyai market maker (Liquidity Provider) Tidak ada
Efek Derivatif Beberapa ETF memiliki option dan atau futures atas underlying berupa indeks atau ETF itu sendiri Tidak ada

Keunggulan ETF

No. ETF (INDEKS LQ45)
1. Unit Penyertaan (UP) diperdagangkan di BEI (lebih likuid)
2. Subscription & Redemption hanya diperbolehkan untuk Dealer Partisipan dan Sponsor
3. Gangguan Redemption yang dapat mempengaruhi NAB jauh lebih kecil
4. Portfolio dalam saham lebih transparan (saham LQ45)
5. Trend kenaikan NAB mengikuti trend kenaikan indeks LQ45
6. Minimum jumlah investasi nasabah jauh lebih kecil (1 lot saham = sekitar Rp 500 ribu)

Sumber resmi : http://www.idx.co.id/id-id/beranda/informasi/bagiinvestor/pengantarpasarmodal.aspx

Aspek Persaingan dalam Studi Kelayakan Bisnis

Oleh : Sutihat Rahayu Suadh

BAB I

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang

Persaingan bisnis yang semakin ketat, menimbulkan banyak  konsekuensi dalam persaingan perusahaan. Perusahaan dituntut untuk meningkatkan daya saingnya secara terus menerus. Perusahaan dalam waktu cepat harus mampu mengubah diri menjadi lebih kuat dan mampu menanggapi kebutuhan pasar. Jika dikaitkan dengan aspek pemasaran, perusahaan yang memiliki pemasaran yang kuat akan mampu bersaing dalam persaingan bisnis yang ketat.

Keadaan persaingan antar perusahaan saat ini sangat kompetitif. Para pesaing terus meningkatkan kemampuannya untuk mencapai competitive advantage agar dapat terus bertahan dan bersaing dalam industrinya. Untuk meningkatkan competitive advantage ini banyak sekali caranya, salah satunya dengan meningkatkan kemampuan teknologi informasinya karena peranan teknologi informasi sudah menjadi bagian penting dari perusahaan selain terus menginovasi produk.

Kehadiran teknologi yang demikian nyata menjawab berbagai kebutuhan  dan menciptakan  kegiatan  bisnis baik di sektor hilir maupun hulu. Integrasi antar Industri terlaksana (IT) dan perkembangan  Komputer menjawab berbagai kebutuhan konsumen dan menawarkan berbagai kemudahan. Beragam bentuk Iayanan dan informasi yang dibutuhkan berbagai kalangan masyarakat telah mendorong berkembangnya teknologi jaringan telekomunikasi berdasarkan kriteria yang beragam pula, seperti masalah keamanan, keandalan, kecepatan, cakupan, personalitas, portabilitas, dan harga.

Peran industri komputer, terutama industri perangkat Iunak, sangat menentukan dalam memunculkan Iayanan-Iayanan baru. Sejumlah vendor besar dalam industri perangkat Iunak dewasa ini  tengah bersaing dalarn menciptakan dan merebut pasar Iayanan-Iayanan baru berbasis IT. Disamping itu, perusahaan-perusahaan jasa di berbagai sektor tengah bersaing juga untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada para kastomemya dengan menerapkan layanan berbasis IT services.

Aspek pemasaran erat kaitannya dengan penggunaan periklanan. Iklan adalah sebuah komunikasi persuasif yang mampu mengubah perilaku khalayak. Sebuah iklan diciptakan untuk dapat menggiring pola pikir dan atau tindakan tindakan yang diharapkan oleh pembuat iklan. Daya pikat iklan di bangun untuk mengingatkan khalayak pada pencitraan tertentu, karena iklan berhubungan langsung dalam memperkenalkan produk kepada konsumen. Menurut Lee dan Johnson (2004:03) mengatakan bahwa iklan adalah komunikasi komersil dan non personal tentang sebuah organisasi dan produk-produknya yang ditransmisikan ke suatu khalayak melalui media bersifat misal seperti televisi, radio, koran, majalah, direct mail, reklame luar ruang atau kendaraan umum.

Iklan merupakan salah satu instrument pemasaran modern yang aktivitasnya didasarkan pada konsep komunikasinya maka keberhasilannya dalam mendukung program pemasaran merupakan pencerminan dari keberhasilan komunikasi. Dengan beriklan, perusahaan berusaha mengkomunikasikan baik keberadaan perusahaan itu sendiri maupun produk ataupun jasa yang dihasilkan.

Tidak bisa dipungkiri, hingga saat ini iklan masih menjadi sarana yang tepat dalam menunjang aktivitas pemasaran karena dengan berkomunikasi melalui iklan beberapa tujuan bisa tercapai, seperti meningkatkan awareness, sales dan image suatu produk ataupun jasa. Demi tercapainya tujuan tersebut maka masing-masing perusahaan bersaing untuk memperebutkan pasar konsumen melaui iklan. Akhirnya, yang terjadi adalah persaingan iklan besar-besaran. Oleh sebab itu, iklan dapat dijadikan sebagai salah satu parameter yang dapat digunakan untuk melakukan analisis persaingan untuk mengukur posisi suatu produk ataupun jasa dari suatu perusahaan terhadap produk ataupun jasa dari perusahaan pesaingnya.

Tampilan iklan-iklan pada media televisi berlomba-lomba menarik simpati para pemirsanya dengan berbagai variasi. Salah satunya adalah tampilan iklan yang mengandung unsur persaingan. Persaingan provider celullar paling seru saat ini adalah antara XL dan Telkomsel.

I.2. Maksud dan Tujuan Penulisan

Tulisan ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran tentang Aspek persaingan dalam Industri Telekomunikasi Telkom dan penulisan ini adalah untuk memperoleh data dan informasi tentang persaingan salah satu Produk dari Telkom yakni Telkomsel dengan Kompetitor yang tangguh namun dapat terus bertahan menjadi produk yang menempati posisi pertama dalam Industri tersebut melalui studi berbagai literatur akademik.

I.3  Metedologi

Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode/cara pengumpulan data atau informasi melalui : Penelitian melalui data primer dan juga melalui penelitian kepustakaan (Library Research) yaitu penelitian yang dilakukan melalui studi literature, internet, dan sebagainya yang sesuai atau yang ada relevansinya (berkaitan) dengan masalah yang dibahas.

 

 

I.4 Sistematika Penulisan

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang penulisan ini, maka terlebih dahulu penulis akan menguraikan sistematika penulisannya agar lebih mudah dipahami dalam memecahkan masalah yang ada, di dalam penulisan ini dibagi dalam 3 (tiga) bab yang terdiri dari:

Bab I : Bab ini merupakan bab pendahuluan yang memuat latar belakang, rumusan masalah, tujuan, metodologi, dan sistimatika penulisan.

Bab II : Bab ini merupakan bab yang berisi tentang analisis terhadap masalah efektivitas hukum dalam masyarakat.

Bab III : Bab ini merupakan bab penutup yang memuat kesimpulan dan saran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

II.1 Aspek Persaingan dalam Studi Kelayakan Bisnis

Pesaing adalah perusahaan yang menghasilkan atau menjual barang atau jasa yang sama atau mirip dengan produk yang kita tawarkan. Pesaing suatu perusahaan dapat dikategorikan pesaing yang kuat dan pesaing yang lemah atau ada pesaing yang dekat yang memiliki produk yang sama atau memiliki produk yang mirip.

Hal-hal yang perlu diketahui dari pesaing dan terus-menerus kita pantau adalah produk pesaing, baik mutu kemasan, label, atau lainnya. Kita bandingkan kelebihan produk yang dimiliki pesaing berikut kelemahan yang dimilikinya dengan produk kita. Di samping itu, pengusaha juga harus mampu menangkap peluang yang ada di pasar sebelum ditangkap pesaing. Seorang pengusaha diharapkan mampu menciptakan peluang-peluang baru. Namun, pengusaha juga harus waspada terhadap setiap ancaman yang ada sekarang dan di masa yang akan datang. Ancaman yang dilakukan pesaing dapat secara langsung menyerang kita atau secara pelan-pelan (bergerilya).

Hal-hal yang perlu diketahui dari pesaing adalah tentang:

  1. kelengkapan, mutu, desain dan bentuk produk;
  2. harga yang ditawarkan;
  3. saluran distribusi atau lokasi cabang yang dimiliki;
  4. promosi yang dijalankan;
  5. rencana kegiatan pesaing ke depan.

Dengan kata lain, analisis pesaing berfungsi untuk membuat peta persaingan yang ada sekarang dan di masa yang akan datang. Untuk lebih jelasnya, gambaran mengenai proses analisis pesaing dapat dilihat dalam skema berikut ini.

 

 

II.1.1  Analisis Persaingan

  1. Identifikasi Pesaing    

Untuk mengetahui jumlah dan jenis pesaing serta kekuatan dan kelemahan yang mereka miliki, perusahaan perlu membuat peta persaingan yang lengkap. Pembuatan peta persaingan yang digunakan untuk melakukan analisis pesaing memerlukan langkah-langkah yang tepat. Langkah-langkah ini perlu dilakukan agar analisis pesaing tepat sasaran dan tidak salah arah. Langkah yang pertama yang perlu dilakukan perusahaan adalah dengan Identifikasi seluruh pesaing yang ada. Langkah ini perlu dilakukan agar kita mengetahui secara utuh kondisi pesaing kita. Dengan demikian, memudahkan kita untuk menetapkan langkah selanjutnya.

Identifikasi pesaing meliputi hal-hal berikut.:

  1. Jenis produk yang ditawarkan
  2. Melihat besarnya pasar yang dikuasai (market share) pesaing
  3. Identifikasi peluang dan ancaman
  4. Identifikasi keunggulan clan kelemahan
  1. Bentuk-Bentuk Persaingan

Bentuk persaingan terbagi menjadi empat tingkatan:

  1. Persaingan merek, adalah produk-produk atau jasa yang bersaing secara langsung menawarkan hal yang sama. Misalnya Teh Botol Sosro dan Fres Tea.
  2. Persaingan industri, adalah persaingan dalam satu industri, tidak hanya satu produk saja. Misalnya Teh Botol Sosro industrinya tidak hanya industri teh dalam botol, tetapi semua industri minuman. Karena itu pesaingnya adalah juga Coca Cola, Aqua, dan lain-lain.
  3. Persaingan bentuk, adalah persaingan dalam bentuk produk yang sama. Misalnya persaingan antara Teh Botol Sosro dengan Susu Ultra, Yogurt, dan lain-lain.
  4. Persaingan generik. Adalah persaingan umum pada semua industri, misalnya antara Teh Botol Sosro dengan Sari Roti, dan lain-lain.
  5. Teknik Analisis Pesaing

Untuk menganilis industri dan persaingan, ada empat cara yang harus dilakukan:

  1. Definisikan pasar sasaran (target market). Mendefinisikan pasar sasaran akan memudahkan perusahaan untuk mengetahui produk atau jasa mana saja yang membidik sasaran yang sama.
  2. Identifikasi pesaing langsung. Pesaing langsung adalah perusahaan yang memberikan produk ataupun jasa yang relatif serupa dengan target market yang kurang lebih sama. Identifikasi pesaing langsung akan membantu untuk melihat peta persaingan, posisi perusahaan dibanding pesaing, dan apa yang harus dilakukan untuk memenangkan persaingan.
  3. Ketahui kondisi persaingan. Peta persaingan bisa dilihat dengan menggunakan framework Porter Five Forces. Dari situ bisa dilihat daya tarik persaingannya apakah sudah ketat ataupun belum.
  4. Penilaian keunggulan kompetitif. Keunggulan kompetitif adalah kemampuan utama yang dimiliki oleh perusahaan yang diyakini sebagai modal untuk memenangkan persaingan.

II.1.2 Daya Tarik Persaingan dalam Suatu Industri

Porter Five Forces adalah alat ukur yang dikenalkan oleh Michael Porter untuk melihat daya tarik persaingan dalam suatu industri. Ada lima hal yang harus dianalisa untuk melihat daya tarik persaingan, yaitu;

  1. Persaingan dalam industri

Persaingan dalam industri meliputi banyaknya pesaing langsung dalam bisnis yang dijalankan. Banyaknya persaingan di sini dibandingkan dengan faktor kebutuhan masyarakat akan produk ataupun jasa yang ditawarkan. Jika supply sudah terlalu banyak dan melebihi demand yang ada, maka kondisi persaingan sudah sangat ketat.

  1. Kekuatan tawar menawar pelaku bisnis yang baru (new entrance) Kekuatan tawar menawar pelaku bisnis yang baru terkait dengan apakah memasuki industri tersebut gampang atau tidak. Apakah ada hambatan yang besar (barrier to entry), misalnya dari sisi investasi, teknologi, orang, pengetahuan, dan lain-lain. Jika hambatan masuknya kecil, kemungkinan pemain baru akan masuk juga sangat besar, artinya setiap saat dalam suatu industri akan terjadi persaingan yang sangat ketat.
  2. Kekuatan tawar menawar pembeli

Di sini adalah bagaimana pembeli mendapatkan informasi dan penawaran yang beragam dari berbagai produsen. Dengan tawaran yang begitu banyak di pasar, pembeli memang akan mempunyai kekuatan tawar menawar yang lebih besar karena punya cukup banyak pilihan.

  1. Kekuatan tawar pemasok

Pemasok dalam hal ini adalah perusahaan yang memberikan bahan-bahan, orang, teknologi, dan lainnya yang menjadi bahan produksi. Pemasok akan memiliki kekuatan besar jika sesuatu yang dipasok merupakan hal penting dan tidak banyak perusahaan yang menyediakan. Tetapi jika banyak perusahaan lain yang menyediakan, kekuatan pemasok menjadi tidak terlalu besar.

  1. Kekuatan tawar produk pengganti

Produk pengganti adalah produk lain di luar produk sejenis yang mempunyai fungsi hampir sama dengan produk atau jasa perusahaan yang bisa saling menggantikan. Jasa penerbangan misalnya, produk penggantinya adalah jasa transportasi darat dan laut. Kekuatan tawar produk pengganti besar jika terdapat harga yang sangat berbeda antara produk utama dengan produk pengganti.

 II.1.3 Strategi Bersaing

Michael Porter membagi strategi bersaing menjadi 3 strategi umum:

  1. Differensiasi, adalah strategi memberikan penawaran yang berbeda dibandingkan penawaran yang diberikan oleh kompetitor. Strategi differensiasi mengisyaratkan perusahaan mempunyai jasa atau produk yang mempunyai kualitas ataupun fungsi yang bisa membedakan dirinya dengan pesaing.
  2. Keunggulan biaya (low cost), adalah strategi mengefisienkan seluruh biaya produksi sehingga menghasilkan produk atau jasa yang bisa dijual lebih murah dibandingkan pesaing. Strategi harga murah ini fokusnya pada harga, jadi biasanya produsen tidak terlalu perduli dengan berbagai faktor pendukung dari produk ataupun harga yang penting bisa menjual produk atau jasa dengan harga murah kepada konsumen. Warung Tegal misalnya mengandalkan strategi harga. Mereka tidak perduli dengan kenyamanan orang ketika makan, bahkan juga dengan kebersihan, yang penting bisa menawarkan menu makanan lengkap dengan harga yang sangat bersaing.
  3. Fokus, adalah strategi menggarap satu target market khusus. Strategi fokus biasanya dilakukan untuk produk ataupun jasa yang memang mempunyai karakteristik khusus. Beberapa produk misalnya hanya fokus ditargetkan untuk kaum muslim sehingga semua produknya memberikan benefit dan fungsi yang disesuaikan dengan aturan Islam. Produk yang fokus pada target market kaum muslim biasanya selalu mensyaratkan label halal, tanpa riba, dan berbagai aturan lain yang disesuaikan dengan ketentuan Islam.

Perusahaan biasanya memilih salah satu dari ketiga strategi ini yang akan diterapkan, karena bagaimanapun akan sulit menjalankan ketiga strategi ini secara bersamaan. Namun demikian, jika perusahaan memilih salah satu di antara tiga strategi ini, bukan berarti sama sekali meninggalkan yang lain, tetapi dua strategi lainnya biasanya diterapkan pada level yang paling standar.

II.1.4 Membangun Keunggulan Bersaing

Untuk bisa bertahan dalam persaingan, perusahaan harus mempunyai keunggulan bersaing (competitive advantage) dibandingkan dengan kompetitornya. Keunggulan bersaing akan menjadi senjata untuk menaklukkan pasar dan kompetisi. Untuk membangun keunggulan bersaing, perusahaan bisa melakukan beberapa langkah:

  1. Mencari sumber-sumber keunggulan, misalnya keterampilan yang prima, sumber daya yang berkualitas, dan lain-lain.
  2. Mencari keunggulan posisi dibanding pesaing, dengan mengefisienkan biaya produksi dan memberikan nilai tambah kepada konsumen.
  3. Menghasilkan performa yang prima, dengan melihat kepuasan dan loyalitas pelanggan, pangsa pasar, dan juga kemampulabaan (profitabilty) dari produk ataupun jasa yang dihasilkan.

Keberhasilan bisnis salah satunya ditentukan oleh kemampuan memahami pesaing. Output dari kemampuan tersebut, menopang manajemen dalam memutuskan dimana akan bersaing dan bagaimana posisi diantara pesaing. Demikian karena, analisis dilakukan dengan cara identifikasi industri dan karakteristiknya, identifikasi bisnis di dalam industri, kemudian masing-masing bisnis pun dievaluasi, prediksi aktifitas pesaing termasuk identifikasi pesaing baru yang mungkin menerobos pasar maupun segmen pasar.

Persaingan dalam keberadaannya berlangsung pada berbagai jenis. Persaingan antar merek, persaingan antar jenis produk, persaingan natar kebutuhan generik yang tercipta karena kelangkaan sumber daya dimana variasi geografis pun terjadi. Pemahaman terhadap jenis-jenis persaingan tersebut, merupakan suatu kemampuan.

Analisis persaingan bersifat dinamis. Pesaing dideskripsikan dan dianalisis, pesaing di evaluasi, serta kemudian tindakan pesaing pun diprediksi secara tepat. Yang dimaksud pesaing termasuk didalamnya pesaing baru yang berpeluang mengacungkan jari telunjuk sebagai tanda kehadiran. Analisis persaingan merupakan aktifitas yang terus menerus dan memerlukan koordinasi informasi. Bisnis dan unit bisnis menganalisis pesaing dapat dengan cara menggunakan sistem intelejen pesaing.Untuk kepentingan itu, beberapa teknik dilakukan seperti pencarian database, survey konsumen, wawancara dengan pemasok serta partisipan lainnya yang sesuai, perekrutan karyawan pesaing termasuk mempelajari produk pesaing. Setiap teknik yang telah dikemukakan, tampak didalamnya mengandung unsur titik kedinamisan.

II.1.5  Analisis Kekuatan dan Kelemahan Pesaing

Menurut Rangkuti (1997), Analisis SWOT adalah instrument perencanaaan strategis yang klasik. Dengan menggunakan kerangka kerja kekuatan dan kelemahan dan kesempatan ekternal dan ancaman, instrument ini memberikan cara sederhana untuk memperkirakan cara terbaik untuk melaksanakan sebuah strategi. Instrumen ini menolong para perencana apa yang bias dicapai, dan hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan oleh mereka.

  1. Peluang (Opportunities)

Suatu peluang merupakan situasi utama yang mengguntungkan dalam lingkungan perusahaan. Kecenderungan-kecenderungan utama adalah salah satu dari peluang identifikasi dari segmen pasar yang sebelumnya terlewatkan, perubahan-perubahan dalam keadaan bersaing, atau peraturan, perubahan teknologi, dan hubungan pembeli dan pemasok yang diperbaiki dapat menunjukan peluang bagi perusahaan.

  1. Ancaman (Threaths)

Ancaman adalah rintangan-rintangan utama bagi posisi sekarang atau yang diinginkan dari perusahaan. Masuknya pesaing baru, perumbuhan pasar yang lambat, daya tawar pembeli dan pemasok utama yang meningkat, perubahan teknologi, dan peraturan yang baru atau yang direvisi dapat merupakan ancaman bagi keberhasilan suatu perusahaan.

  1. Kekuatan (Strenghts)

Kekuatan adalah sumber daya, ketrampilan atau keunggulan lain yang relatif terhadap pesaing dan kebutuhan dari pasar suatu perusahaan layani atau hendak layani. Kekuatan merupakan suatu kompetensi yang berbeda (destintive competence) yang memberi perusahaan suatu keunggulan komparatif (comparative advantage) dalam pasar. Kekuatan berkaitan dengan sumber daya, keuangan, citra, kepemimpinan pasar, hubungan pembeli/pemasok, dan faktor-faktor lain.

  1. Kelemahan (weaknesses)

Kelemahan merupakan keterbatasan/kekurangan dalam sumber daya, ketrampilan, dan kemampuan yang secara seerius menghalangi kinerja efektif suatu perusahaan.

Sementara itu, mengetahui kelemahan pesaing memudahkan perusahaan untuk melakukan serangan balik. Identifikasi kelemahan dan kekuatan dapat dilakukan melalui tahaptahap sebagai berikut:

  1. mencari dan mengumpulkan data tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan sasaran, strategi, dan kinerja pesaing;
  2. mencari tahu kekuatan pesaing dalam hal keuangan, sumber daya manusia, teknologi, serta lobi di pasar;
  3. mengetahui market share yang dikuasai pesaing dan tindakan pesaing terhadap pelanggan;
  4. mencari tahu kelemahan pesaing dalam hal keuangan, sumber daya manusia, teknologi, serta lobi di pasar.

Kelengkapan produk pesaing terdekat kita bandingkan dengan produk yang kita miliki, baik dari segi jumlah maupun kelebihan produk itu sendiri. perusahaan yang memiliki produk yang lengkap dan memiliki kelebihan tertentu akan lebih unggul dibandingkan perusahaan kita, paling tidak untuk sementara waktu. Hal itu memudahkan kita untuk menutupi kelemahan yang kita miliki.

Pelayanan yang diberikan kepada pelanggan sangat dipengaruhi oleh teknologi yang dimiliki oleh sebuah perusahaan. Teknologi yang dimiliki tersebut menyebabkan pihak pesaing menjadi unggul apabila kita tidak menyainginya. Teknologi akan mempercepat proses transaksi yang diberikan. Di samping kecepatan, teknologi juga memberikan keakuratan sehingga setiap kesalahan dapat diminimalkan. SDM yang dimiliki pesaing pun perlu dipertimbangkan. SDM yang berkualitas akan berpengaruh terhadap pelayanan yang diberikan karena ia akan dapat memberikan kecepatan, ketepatan, dan keakuratan pelayanan. Namun, jika SDM yang dimiliki tidak berkualitas, yang terjadi adalah sebaliknya.

II.1.6 Pangsa Pasar (Market Share)

Pangsa pasar atau market share adalah presentase dari keseluruhan pasar untuk sebuah kategori produk atau jasa yang telah dipilih. Presentase ini dikuasai satu atau lebih produk atau jasa tertentu yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan dalam kategori yang sama (Malahayati, 2010).

Menurut Lubis (2004), Strategi bersaing bergantung pada besar dan posisi masing-masing perusahaan dalam pasar. Perusahaan besar mampu menerapkan strategi tertentu, yang jelas tidak bisa dilakukan oleh perusahaan kecil. Dan bukanlah merupakan sesuatu hal yang jarang terjadi bahwa perusahaan kecil dengan strateginya sendiri mampu rnenghasilkan tingkat keuntungan yang sama atau bahkan lebih baik daripada yang diperoleh perusahaan besar. Sehubungan dengan besarnya usaha, maka dapat dibedakan menjadi empat kelompok usaha, yaitu market leader menguasai 40% pasar , market challenger menguasai 30% pasar , market follower menguasai 20% pasar, dan market nicher menguasai 10% pasar.

  1. Strategi Market Leader

Perusahaan seperti ini rnemegang bagian terbesar dalam pasar, biasanya perusahaan – perusahaan lain mengikuti tindakan-tindakan perusahaan dalam hal perubahan harga, pengenalan produk baru, pencakupan saluran distribusi, dan intensitas promosi. Perusahaan yang dominan selalu ingin tetap menjadi nomor satu, oleh sebab itu, perusahaan-perusahaan seperti ini biasanya mengembangkan strategi.

  1. Mengembangkan pasar keseluruhan, hal ini dapat dilakukan dengan cara:
  • Mencari konsumen baru dengan cara strategi penerobosan pasar, strategi pasar baru, dan strategi perluasan geografis
  • Mencari dan mengenalkan kegunaan baru suatu produk
  • Meyakinkan masyarakal konsumen agar menggunakan produk lebih banyak pada setiap kesempatan.
  1. Melindungi bagian-bagian pasar yang telah dikuasai. Sementara mencoba memperkuat pasar. Perusahaan yang dominan tetap harus melindungi usahanya secara terus menerus dari serangan saingan-saingannya. Untuk itu yang harus dikerjakan oleh perusahaan pemimpin dalam mempertahankan daerah kekuasaannya adalah inovasi (Pembaharuan ) yang terus menerus.
  2. Meningkatkan bagian pasar. Selain mencari konsumen baru pada pasar yang baru, perusahaan juga dapat meningkatkan jumlah konsumen pada bagian pasar yang sudah dikuasai.
  3. Strategi Market Challenger

Perusahaan yang mempunyai urutan kedua atau lebih rendah lagi didalam pasar bisa disebut “runner up” atau “Penyusul”. Mereka dapat menyerang Market leader dan pesaing-pesaing lainnya dalam suatu usaha yang gencar merebut bagian pasar, perusahaan inilah yang disebut Market Challenger. Dan mereka yang bersikap asal rnenerima tidak menggoncangkan pasar, disebut juga Market Follower.

Beberapa strategi penyerangan yang bisa digunakan oleh market challenger :

  1. Menetapkan sasaran strategi lawan.

Langkah awal yang harus dilakukan oleh penantang pasar adalah menetapkan sasaran strategis dan memilih lawan yang dihadapi, untuk itu perusahaan harus melakukan analisis persaingan yang sistematis.

  1. Memilih strategi penyerangan.

Secara umum ada lima strategi penyerangan yang dapat dipilih dan dilakukan market challenger :

  • Serangan Frontal. Dalam serangan frontal ini, penyerang menandingi produk, iklan, harga, dari lawannya, sehingga apabila lawan tidak kuat maka akan kalah. Biasanya yang memakai strategi ini adalah market challenger yang kuat.
  • Serangan M Prinsip pokok dari serangan modern adalah Konsentrasi kekuatan untuk menyerang kelemahan. Ada dua strategi yang dapat dilakukan oleh market challenger yaitu serangan geografis, yaitu serangan-serangan yang ditujukan pada daerah-daerah pemasaran dimana pesaing tidak menanganinya dengan baik. Dan kedua adalah serangan dengan menutup segmen pasar yang selama ini belum dipenuhi oleh market leader.
  • Serangan mengepung. Serangan ini merupakan usaha menembus daerah pemasaran lawan, yaitu dengan mengadakan penyerangan secara besar-besaran terhadap seluruh pasar lawan dan pada saat bersamaan perusahaan penantang memasarkan segala apa saja yang dipasarkan oleh pesaing, dan melebihi apa yang dimiliki oleh pesaing, sehingga tawaran perusahaan ini tidak mungkin ditolak oleh konsumen.
  • Serangan lintas. Strategi ini adalah strategi yang paling tidak langsung, serta menjauhkan diri dari gerakan yang mengarah kepemasaran pesaing. Ada tiga pendekatan, yaitu: diversifikasi ke produk-produk yang tidak berkaitan, diversifikasi kepasar geografis yang baru dan menciptakan produk yang lebih baik.
  • Serangan gerilya. Serangan ini dilakukan perusahaan-perusahaan yang kekurangan modal dengan menyerang pada berbagai wilayah lawan dengan serangan kecil yang tiba-tiba dan terputus-putus. Tujuannya adalah untuk mengganggu konsentrasi lawan. Serangan dapat dilakukan dengan tindakan memotong harga secara selektif, mengganggu persediaan, membajak eksekutif, kegiatan promosi intensif dan berbagai tindakan ilegal lainnya.
  1. Strategi Market Follower

Perusahaan seperti ini lebih suka menawarkan hal-hal yang serupa, biasanya dengan meniru produk perusahaan yang memimpin. Setiap market follower selalu menonjolkan sifat khasnya kepada target pasar, misalnya lokasi, jasa pelayanan, atau keuangannya. Strategi umum yang biasa dilakukan oleh maeket follower yaitu:

  1. Mengikuti dari dekat. Market follower berusaha menyamai perusahaan pemimpin pasar pada sebanyak mungkin segmen pasar dan wilayah bauran pemasaran.
  2. Mengikuti dari jauh. Dalam strategi ini market follower membuat beberapa differensiasi, namun tetap mengikuti market leader dalam hal pembauran pasar.
  3. Mengikuti secara selektif. Market follower mengikuti dengan dekat beberapa hal yang dilakukan market leader, namum pada hal-hal yang lain perusahaan berjalan dengan sendiri.
  4. Strategi Market Nicher

Perusahaan seperti ini, menyandang berbagai nama seperti; penggarap relung pasar, spesialisasi pasar, perusahaan ambang pintu, atau perusahaan tumpuan. Market nicher menempati sebagian kecil dari seluruh pasar yang ada. Perusahaan jenis ini mencoba masuk kesatu atau lebih celah-celah pasar yang aman dan menguntungkan yang dilupakan atau terlewatkan oleh perusahaan besar. Umumnya market micher adalah perusahaan yang mempunyai spesialisasi tertentu dan keahlian yang khas didalam pasar, konsumen, produk atau lini-lini dalam bauran pemasaran.

II.2 Analisis Kondisi Persaingan PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk

PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (TELKOM) merupakan perusahaan penyelenggara informasi dan telekomunikasi (InfoComm) serta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi secara lengkap (full service and network provider) yang terbesar di Indonesia.

TELKOM  menyediakan jasa telepon tidak bergerak kabel (fixed wire line), jasa telepon tidak bergerak nirkabel (fixed wireless), jasa telepon bergerak (cellular), data & internet dan network & interkoneksi baik secara langsung maupun melalui perusahaan asosiasi.

Perkembangan  industri  Telekomunikasi  yang demikian pesat, khususnya di Indonesia,  mulanya dihuni oleh dua pemain yaitu Telkom dan Indosat, sehingga dikenal adanya duopoli.  Namun, bersamaan dengan  munculnya  bisnis baru, persaingan antar pelaku  dalam industri  telekomunikasi menjadi lebih ketat. Persaingan ini semakin ketat dengan  keluarnya  UU No. 5 Tahun 1999, tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan usaha tidak sehat.  Sampai tahun 2008 diperkirakan ada  10 operator besar di Indonesia, dimana satu dengan  lainnya bersaing dalam berbagai bentuk produk telekomunikasi  diantaranya yang paling ketat adalah persaingan dalam bentuk pemasaran celluler phone.

Persaingan suatu yang lumrah dan dibutuhkan untuk menciptakan barang dan jasa yang lebih efisien dan meningkatkan effort perusahaan untuk lebih berkompetitif. Maka Tidak mengherankan  dengan  keluarnya UU No. 5 muncul lembaga KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) yang menjamin bahwa antar pengusaha dilarang terjadi kolusi dan  harga  barang dan jasa yang ditawarkan berada pada pengawasan mereka.  Dengan  lahirnya UU ini maka berbagai Perusahaan muncul dengan fungsi yang berbeda di industri   telekomunikasi  menjamur, bahkan perusahaan  dari luar negeri diperkenankan terlibat di Indonesia. Secara ekonomi, semakin banyak muncul pengusaha akan  menuntun harga yang ekonomis dan menjamin  terlindunginya kebutuhan perusahaan.

Kondisi demikian dihadapi oleh setiap perusahaan  di industri telekomunikasi ,  tidak terkecuali Telkom  yang merupakan perusahaan besar di Indonesia

  1. Visi perusahaan

Visi dari TELKOM adalah: To become a leading InfoComm player in the region. TELKOM berupaya untuk menempatkan diri sebagai perusahaan InfoComm terkemuka dikawasan Asia Tenggara, Asia dan akan berlanjut kekawasan Asia Pasifik.

  1. Misi Perusahaan

TELKOM mempunyai misi memberikan layanan “One Stop Infocomm Service with Excellent Quality and Comparative Price and to be The Role Model as the Best Managed Indonesian Comporation”  dengan jaminan bahwa pelanggan akan mendapatkan layanan terbaik berupa kemudahan, produk dan jaringan berkualitas dengan harga kopetitif.

TELKOM akan mengelola bisnis melalui praktek-praktek terbaik dengan mengoptimalisasikan sumber daya manusia yang unggul, penggunaan teknologi yang kompetitif, serta membangun kemitraan yang saling menguntungkan dan saling mendukung secara sinergis.

  1. Tujuan Perusahaan

TELKOM mempunyai tujuan yaitu Menjadi posisi terdepan dengan memperkokoh bisnis legacy dan meningkatkan bisnis new wave untuk memperoleh 60% dari pendapatan industri pada tahun 2015.

  1. Strategi Perusahaan
  • Mengoptimalkan layanan POTS dan memperkuat infrastruktur  broadband.
  • Mengkonsolidasikan dan mengembangkan bisnis sambungan telepon nirkabel tidak bergerak/Fixed Wireless Access(“FWA”) serta mengelola portofolio nirkabel.
  • Mengintegrasikan Solusi Ekosistem Telkom Group.
  • Berinvestasi di layanan Teknologi Informasi (TI).
  • Berinvestasi di bisnis media dan edutainment.
  • Berinvestasi pada peluang bisnis wholesaledan internasional yang strategis.
  • Berinvestasi pada peluang domestik yang strategis dengan mengoptimalkan penggunaan aset yang dimiliki.
  • Mengintegrasikan Next Generation Network (“NGN”) dan Operational support System, Business support system, Customer support system and Enterprise relations management (“OBCE”).
  • Menyelaraskan struktur bisnis dengan pengelolaan portofolio.
  • Melakukan transformasi budaya Perusahaan.
  1. Produk Perusahaan

TELKOM sebagai penyedia jasa teleomunikasi terbesar di Indonesia memiliki keunggulan dari sisi infrastruktur  karena didukung pendanaa oleh pemerintah. Dengan keunggulan tersebut TELKOM telah mampu mengembangkan produk yang menjadi 5 (lima) pilar bisnis mereka, yaitu:

  1.   Fixed Phone (TELKOM Phone)

–    Personal Line

–    Corporate Line

–    Wartel & Telum

  1.   Mobile Phone (TELKOMSEL)

–    Prepaid Services (simPATI)

–    Postpaid Services (Halo)

  1. Network & Interconnection (TELKOM Intercarier)

–    Interconnection Services

–    Network Leased Services

  1. Data & Internet

–    Leased Channel Service (TELKOM Link)

–    Internet Service (TELKOMNet)

–    VoIP Service (TELKOM Save & Global 017)

–    SMS Service (from TELKOMSEL, TELKOMFlexi & TELKOM SMS)

  1. Fixed Wireless Access (TELKOM Flexi)

–    Prepaid Services (Flexi Trendy)

–    Postpaid Services (Flexi Classy)

Bagaimanapun produk seperti diatas senantiasa membutuhkan pencerahan kepada pelanggan, baik   perseorangan,  kelompok, perusahaan, korporasi sehingga  mengenali dan dapat menciptakan permintaan. Dengan  demikian maka senantiasa tercipta  permintaan kepada  barang dan jasa yang dihasilkan oleh Telkom.

  1. Analisis Strength , Weakness , Opportunity & Threats (S.W.O.T)
    1. Strengths (Kekuatan)
  2. Telkom memiliki kekuatan finansial yang besar. Hal ini memudahkan Telkom untuk melakukan investasi peralatan telekomunikasi yang mahal. Selain itu, mereka juga telah memiliki jaringan dan infrastruktur yang luas mencakup segenap wilayah tanah air sehingga memudahkan untuk melakukan ekspansi dan penetrasi pasar.
  3. Sepanjang tahun 2008, jumlah pelanggan Perusahaan terus menunjukkan pertumbuhan yang pesat. Jumlah pelanggan akses internet broadband, sambungan tidak bergerak nirkabel dan seluler mengalami pertumbuhan tahunan yang signifikan, masing-masing sebesar 168%, 100% dan 36%. Telkom terus mendominasi pasar domestik di produk-produk: seluler, sambungan tidak bergerak nirkabel dan akses internet broadband.Untuk produk seluler, pangsa pasar (per 31 Desember 2008) adalah 47.0% untuk Telkomsel, 26.0% untuk Indosat, dan 19.0% untuk Excelcomindo. Jumlah pelanggan Telkomsel sebanyak 65.3 juta, Indosat sebanyak 36.5 juta, dan Excelcomindo sebanyak 25,6 juta.
  4. Pilihan produk dan cakupan serta beragam jenis layanan yang ditawarkan merupakan keunggulan strategis yang dimiliki Telkom. Kapasitas dan infrastruktur Telkom juga menyediakan landasan yang kokoh dalam memenuhi kebutuhan di masa mendatang untuk kecepatan, konektivitas dan pilihan yang lebih baik.
  5. Dari sisi keuangan, Telkom terus menunjukkan arus kas yang kuat dan rasio hutang terhadap ekuitas yang sehat. Posisi ini memperkuat kemampuan Telkom untuk mengumpulkan modal guna pengembangan jika dan ketika dibutuhkan.
  6. Sejumlah departemen dan instansi Pemerintah (tidak termasuk BUMN) membeli layanan Telkom sebagai pelanggan langsung, dengan termin yang dinegosiasikan secara komersil. Telkom tidak memberikan layanan secara cuma-cuma atau yang berbasis perusahaan sejenis. Telkom berurusan dengan berbagai departemen dan instansi Pemerintah sebagai pelanggan secara terpisah satu dengan lainnya.
    1. Weakness(Kelemahan)
  7. Jumlah pekerjanya terlampau besar; sehingga kurang efisien dan boros dalam anggaran untuk gaji pegawainya. Selain itu, sebagai BUMN, mereka juga relatif dibebani dengan beragam peraturan dan regulasi yang acap membuat mereka lamban dalam mengambil keputusan strategis. Juga intervensi dari pemerintah kadang membuat mereka juga tidak bisa bersikap dinamis dengan perubahan pasar.
  8. Langkah strategis merger & akuisisi, investasi & divestasi serta pengelolaan anak perusahaan mengandung peluang dan risiko yang dapat mempengaruhi performansi keuangan perusahaan. Telkom masih memerlukan waktu untuk memastikan bahwa langkah-langkah strategis yang diambil membawa dampak positif bagi pertumbuhan perusahaan. Dalam hal ini langkah-langkah yang diambil tersebut dapat menimbulkan dampak negatif yang material bagi perusahaan.
  9. Kepentingan Pemegang Saham Pengendali dapat berbeda dengan kepentingan Pemegang Saham Telkom lainnya. Pemerintah sebagai pemegang saham pengendali sebesar 52,47% dari jumlah saham Telkom yang diterbitkan dan beredar serta memiliki kemampuan untuk menentukan keputusan bagi hampir seluruh tindakan yang memerlukan persetujuan dari para pemegang saham Telkom. Pemerintah juga merupakan pemegang satu lembar saham Dwiwarna Telkom, yang memiliki hak suara khusus dan hak veto untuk hal tertentu, termasuk pemilihan dan pemberhentian Direksi dan Komisaris Telkom.
  10. Kebocoran Pendapatan berpotensi terjadi akibat kelemahan internal dan masalah eksternal dan jika terjadi dapat menimbulkan kerugian pada hasil usaha Telkom. Dalam operasional pelayanan pelanggan sejak saat proses aktivasi awal sebagai pelanggan, penggunaan fasilitas teleomunikasi, proses billing hingga proses penagihan dan pembayaran tagihan terdapat beberapa titik potensi kebocoran pendapatan yang disebabkan oleh kemungkinan terjadinya kelemahan kontrol pada level transaksi, kemungkinan terlambatnya proses transaksi dan kemungkinan adanya kecurangan yang dilakukan oleh pelanggan. Telkom telah melakukan langkah-langkah pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya kebocoran pendapatan melalui peningkatan fungsi kendali pada bisnis proses yang ada saat ini, mengimplementasikan metoda revenue assurance, menerapkan kebijakan dan prosedur yang memadai, serta mengimplemetasikan sistem informasi atau aplikasi untuk mencegah terjadinya kebocoran pendapatan. Namun demikian hal tersebut tidak menjamin di kemudian hari tidak terjadi risiko kebocoran pendapatan yang jika terjadi akan dapat menimbulkan dampak buruk pada hasil usaha Telkom.
    1. Opportunity(Peluang)
  11. Industri telekomunikasi dan informasi akan terus memiliki peranan penting di Indonesia seiring pertumbuhan yang berkesinambungan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Oleh sebab itu, inovasi dan strategi investasi didasari oleh pandangan jangka panjang untuk menempatkan posisi Telkom di industri yang senantiasa berubah dengan cepat serta memastikan bahwa Telkom selalu menjadi pemimpin pasar.
  12. Undang-undang No. 11/2008 terkait dengan transaksi dan informasi secara elektronik, memungkinkan Telkom dapat memperluas peluang usaha di bidang informasi dan transaksi elektronik, termasuk e-payment.
  13. Permintaan masyarakat yang tinggi akan akses internet merupakan pasar yang sangat potensial. Selain itu jumlah penduduk Indonesia yang besar, dan baru sedikit yang telah memiliki akses broadband internet, tentu merupakan peluang pasar yang sangat baik bagi pertumbuhan bisnis Telkom. Telkom memiliki perkembangan teknologi internet yang sangat pesat di Indonesia.
    1. Threats(Ancaman)
  14. Masyarakat semakin menuntut mobilitas dan fleksibilitas dari alat komunikasinya, telepon rumah “tradisional” tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Dengan adanya perubahan terhadap gaya hidup migrasi ke arah seluler dan pilihan produk mobile lainnya tidak lagi dapat dihentikan dan kondisi tersebut dapat berdampak pada bisnis telepon tidak bergerak kabel. Saat ini Telkom masih menguasai 90% dari pangsa pasar yang dan bisnis telepon tradisional dan menjadi pendapatan utama Telkom.
  15. Kondisi persaingan akan menjadi semakin ketat, para operator bertarung untuk mendapatkan pelanggan-pelanggan yang jumlahnya makin kecil. Semakin kompetitifnya pasar telekomunikasi Indonesia sebagai akibat dari reformasi peraturan pemerintah. Menurut Komisaris Utama Telkom, tekanan persaingan dan berbagai perubahan regulasi memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan pendapatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dalam tiga tahun terakhir, persaingan yang berkenaan dengan bisnis multimedia, internet, dan layanan yang terkait dengan komunikasi data semakin ketat terutama sehubungan dengan dikeluarkannya lisensi baru sebagai hasil dari deregulasi industri telekomunikasi Indonesia. Telkom memperkirakan persaingan ini akan terus berlanjut dan semakin ketat. Penyedia layanan multimedia, internet dan layanan yang terkait dengan komunikasi data di Indonesia pada dasarnya bersaing dalam hal harga, rentang layanan yang disediakan, kualitas jaringan, jangkauan jaringan dan kualitas layanan kepada pelanggan.
  16. Reformasi menghasilkan regulasi baru yang berlaku mulai bulan September 2000, yang dimaksudkan untuk meningkatkan persaingan dengan penghapusan monopoli, meningkatkan transparansi dan memberi gambaran mendatang yang jelas tentang kerangka regulasi, menciptakan peluang bagi aliansi strategis dengan mitra asing dan memfasilitasi masuknya pemain baru dalam industri telekomunikasi.
  17. Pada bulan Desember 2007, Menkominfo mengeluarkan keputusan No. 43/2007 yang menuntut pembukaan akses jaringan telepon tidak bergerak kabel dan jaringan telepon tidak bergerak nirkabel untuk operator lain sebelum tenggat waktu itu apabila Indosat atau operator berlisensi lainnya mencapai ambang batas jumlah pelanggan tertentu. Berdasarkan keputusan ini, Telkom diwajibkan membuka akses jaringan telepon tidak bergerak nirkabel kepada Indosat atau operator berlisensi lainnya yang mencapai jumlah pelanggan setara 30% untuk Indosat atau 15% untuk operator lain dari jumlah pelanggan telepon tidak bergerak nirkabel Telkom. Telkom diwajibkan pula membuka akses jaringan telepon tidak bergerak kabel dan jaringan telepon tidak bergerak nirkabel kepada Indosat atau operator berizin lainnya yang mencapai jumlah pelanggan layanan terminal telepon tidak bergerak kabel dan telepon tidak bergerak nirkabel setara 15% dari gabungan pelanggan Telkom. Pada bulan September 2007, Menkominfo menerbitkan lisensi SLI kepada Bakrie Telecom dengan kode akses internasional ”009”. Pada tanggal 16 Desember 2008, Menkominfo juga menerbitkan lisensi SLJJ kepada Bakrie Telecom, sehingga menambah jumlah operator SLJJ menjadi tiga operator. Akibat hal tersebut dua operator lainnya yaitu Telkom dan Indosat diwajibkan untuk membuka kode akses SLJJ masing-masing untuk penyelenggara jaringan tetap tidak bergerak lokal di setiap kode area yang memenuhi persyaratan jumlah LIS.
  18. Tidak ada jaminan bahwa situasi politik di Indonesia akan stabil atau Pemerintah akan menerapkan kebijakan ekonomi yang kondusif untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi atau yang tidak berdampak negatif terhadap kondisi regulasi telekomunikasi pada saat ini.
  19. Kemungkinan krisis keuangan global akan berdampak buruk secara material terhadap Telkom. Indonesia telah merasa efek krisis keuangan global. Laju inflasi meningkat, negara-negara pengimpor menurunkan pesanannya dan nilai ekspor ikut menurun. Beberapa perusahaan melaksanakan program-program penurunan jumlah karyawan dan cuti tanpa gaji. Seluruh faktor tersebut mengakibatkan penurunan tingkat pembelanjaan konsumen, yang telah berdampak negatif terhadap pendapatan Telkom.
  20. Jaringan Telkom, khususnya jaringan akses kabel, dapat menghadapi potensi ancaman keamanan, seperti pencurian atau vandalisme yang dapat berdampak pada hasil usahanya.
  21. Adanya teknologi telpon seluler telah menggerus pendapatan Telkom dalam produk telpon tetap di rumah (fixed phone).
  22. Sebagai BUMN, mereka juga relatif dibebani dengan beragam peraturan dan regulasi yang acap membuat mereka lamban dalam mengambil keputusan strategis. Juga intervensi dari pemerintah kadang membuat mereka juga tidak bisa bersikap dinamis dengan perubahan pasar.
  23. Kondisi Internal Perusahaan
Faktor Intern Strength / Weakness
Produksi + Pilihan produk dan cakupan serta beragam jenis layanan yang ditawarkan merupakan keunggulan strategis yangdimiliki Telkom.
Marketing +  Sepanjang tahun 2008, jumlah pelanggan Perusahaan terus menunjukkan pertumbuhan yang pesat.

+ Telkom terus mendominasi pasar domestik di
produk-produk: seluler, sambungan tidak bergerak nirkabel dan akses internet broadband

Keuangan + Telkom memiliki kekuatan financial yang besar. Hal ini memudahkan Telkom untuk melakukan investasi peralatan telekomunikasi yang mahal

+ Telkom Juga terus menunjukkan arus kas yang kuat dan rasio hutang terhadap ekuitas yang sehat.

– Jumlah pekerjanya terlampau besar; sehingga kurang efisien dan boros dalam anggaran untuk gaji pegawainya.

Litbang –  Terdapat beberapa titik potensi kebocoran pendapatan yang disebabkan oleh kemungkinan terjadinya kelemahan kontrol pada level transaksi, kemungkinan terlambatnya proses transaksi dan kemungkinan adanya kecurangan yang dilakukan oleh pelanggan
Budaya perusahaan –  Sebagai BUMN, mereka juga relatif dibebani dengan beragam peraturan dan regulasi yang acap membuat mereka lamban dalam mengambil keputusan strategis

 

  1. Strategi Bisnis Unit

Posisi PT. Telkom Indonesia Tbk terletak pada kuadran I dan menggunakan strategi umum Diversifikasi Konsentrik,yaitu Menambah produk-produk baru yang saling berhubungan untuk pasar yang samaPenjelasan alternatif strategi yang dipilih adalah sebagai berikut :

  1. Prioritas : Memperkuat portofolio bisnis media and edutainment sekaligus merevitalisasi jaringan kabel dengan membuat produk baru berupa Groovia TV yang memiliki berbagai fitur yang memungkinkan pelanggan untuk record, pause dan rewind tayangan TV favoritnya. Selain itu ada fasilitas video on demand (VoD), game on line bahkan karaoke.
  2. Faktor Penentu Keberhasilan : Inovasi Produk Baru Telkom yang variatif dan beragam dan kualitas pelayanan yang baik yang dibarengi dengan pertumbuhan jumlah pelanggan.
  3. Output : Groovia TV yang memiliki berbagai fitur yang memungkinkan pelanggan untuk record, pause dan rewind tayangan TV favoritnya. Selain itu ada fasilitas video on demand (VoD), game on line bahkan karaoke.
  4. Outcame : Meningkatnya Jumlah volume Penjualan dan Tingkat Loyalitas Pelanggan semakin baik.
  5. Impact : Citra Perusahaan yang semakin baik di mata pelanggan.

Tabel Analisa Persaingan PT. Telkom Tbk VS PT. Indosat Tbk (Pesaing)

4P TELKOM INDOSAT KETERANGAN ACTION
PLAN
PRODUK UNGGUL Macam/Jenis Produk & Teknologi Inovasi Produk yang menarik
PRICE UNGGUL Low Cost, menyesuaikan kebutuhan masyarakat
Indonesia
Low Cost, High Impact
PLACE UNGGUL Jangkuan merata & luas di seluruh
Indonesia
Service & Maintenance
PROMOTION UNGGUL Iklan & Loyalitas Pelanggan Mengadakan Undian dan bonus bagi pelanggan serta iklan di berbagai media

Tabel Analisa Persaingan PT .Telkom Tbk Dengan Produk Pengganti (subtitusi)

4P Mobile Phone TV Kabel Keterangan Action
PRODUCT Lebih
praktis & Efisien
Unggul
pada jaringan dan tampilan namun kurang efektif
Mengancam
jika gaya hidup masyarakat mulai berubah ke arah gadget
Tingkatkan
varian produk dan teknologi dengan akses internet cepat
PRICE Lebih
relatif terjangkau
Relatif
lebih mahal
Harga
Mobile Phone lebih kompetitif di masyarakat
Promosi, harga, discount,event, bonus, dsb untuk meningkatkan loyalitas pelanggan
PLACE Pengguna
Luas
Hampir
seluruh masyarakat Indonesia sudah memiliki mobile phone
Memprioritaskan
pelayanan yang berorientasi kepada kepuasan pelanggan
PROMOTION Unggul Iklan
lebih bervariatif diberbagai media masa & jejaring sosial
Mengefektifkan
iklan Produk yang ada

Setelah Analisis Kondisi PT .Telkom Tbk, kami tertarik membahas Studi kasus tentang salah satu produk Profider dari Telkom yakni TELKOMSEL. Dimana saat ini setelah Indosat yang menjadi competitor yang dari produk seluler Telkomsel, Xl (PT XL Axiata Tbk) saat ini menjadi competitor dari Telkomsel yang tangguh.

II.3  Analisis Persaingan TELKOMSEL VS XL

Persaingan antara XL dan Telkomsel termasuk kedalam persaingan merk, dimana di dalamnya terjadi persaingan dalam penetapan harga, feature yang ditawarkan dan yang paling kentara adalah pada persaingan iklan. Berkali-kali dapat dilihat pada iklan-iklan kartu XL dan kartu As/Simpati (Telkomsel) saling menjatuhkan dengan cara saling memurahkan tarif sendiri. Kini persaingan 2 kartu yang sudah ternama ini kian meruncing dan langsung tak tanggung-tanggung menyindir satu sama lain secara vulgar.

II.3.1 Identifikasi Pesaing (XL)

  1. Profil Pesaing

PT XL Axiata Tbk (dahulu PT Excelcomindo Pratama Tbk), atau disingkat XL, adalah sebuah perusahaan operator telekomunikasi seluler di Indonesia. XL mulai beroperasi secara komersial pada tanggal 8 Oktober 1996, dan merupakan perusahaan swasta pertama yang menyediakan layanan telepon seluler di Indonesia. XL menyediakan layanan korporasi yang termasuk Internet Service Provider (ISP) dan VoIP. XL memiliki dua lini produk GSM, yaitu XL Prabayar dan XL Pascabayar.

XL Prabayar merupakan peleburan dari 3 produk prabayar XL sebelumnya, yaitu Bebas, Jempol, dan Jimat. Peleburan menjadi satu lini produk ini merupakan upaya XL untuk memangkas biaya pemasaran Jempol yang memiliki perkembangan kurang siginifikan jika dibandingkan dengan Bebas. Peleburan ini diawali pada 1 Agustus 2007 dengan menyatukan voucher isi ulang untuk kedua produk dan diresmikan pada 1 Januari 2008 dengan peluncuran merek XL Prabayar. Pelanggan XL Prabayar mendapat nomor dengan awalan 0817, 0818, 0819, 0859, 0878, dan 0877. Bebas diluncurkan pertama kali pada tanggal 1 Juni 2004. Produk ini merupakan kelanjutan produk XL sebelumnya, XL Pascabayar sebelumnya dikenal dengan nama Xplor. Perubahan ini seiring dengan restrukturisasi lini produk XL dimana hanya ada 1 lini produk masing-masing untuk prabayar dan pascabayar.

  1. Market Share Pesaing
  2. XL Axiata Tbk. (XL) didirikan pada tahun 1989 dan dimiliki oleh Axiata Group Berhad melalui perusahaan Indocel Holding Sdn Bhd (66,7%). Perusahaan ini adalah salah satu pemain selular terbesar di area Asia Pasifik, Emirates Telecommunications Corporation (Etisalat) melalui Etisalat International Indonesia Ltd (13,3%). Perusahaan ini adalah penyedia selular terbesar di Timur Tengah dan Afrika, dan sebanyak 20% saham dimiliki oleh publik secara terbuka.XL memulai kegiatan komersialnya di tahun 1996, XL saat ini adalah salah satu penyedia jasa layanan telekomunikasi selular terbesar dan tertinggi untuk pertumbuhan di industri telekomunikasi dengan melayani 31,4 juta pelanggan dari berbagai negara sampai akhir tahun 2009.

Fokus XL pada 2 aspek bisnis utama: Consumer Solutions ditujukan untuk pelayanan selular telepon berkualitas tinggi, dan Business Solutions – ditujukan untuk penyediaan solusi data dan komunikasi yang efisien dan terpercaya bagi pangsa pasar korporat.

XL sebagai perintis dalam teknologi komunikasi tanpa batas untuk pangsa pasar telekomunikasi di Indonesia, sebagai penyelenggara jasa telekomunikasi pertama yang meluncurkan akses internet kecepatan tertinggi 3G-HSDPA (High Speed Downlink Packet Access) melalui paket aplikasi Blackberry.Sedangkan untuk melayani pangsa pasar internasional, XL mengembangkan hubungan mitra kerja secara erat dengan lebih dari 357 penyedia jasa layanan telekomunikasi internasional di lebih dari 140 negara.

Melalui nilai-nilai perusahaan : integritas, Kesempurnaan layanan dan kerja tim, XL memiliki komitmen untuk meningkatkan kemampuannya secara berkesinambungan dalam usahanya menjadi penyedia jasa layanan telekomunikasi yang digemari di Indonesia, dengan memperluas cakupan daerah layanan, kualitas, kapan saja dan dimana saja.

  1. Identifikasi Kekuatan dan Kelemahan Pesaing

Kekuatan dan kelemahan operator seluler XL disajikan pada analisis SWOT berikut ini:

  1. Strength (Kekuatan)

Kekuatan XL antara lain terdapat pada: XL secara terus menerus mencari tempat dimana dapat melakukan praktek yang terbaik dalam menjalankan bisnis. Perusahaan juga menyadari dinamika di seputar tata kelola perusahaan di Indonesia yang telah mengalami kemajuan selama ini.

  1. Weakness (Kelemahan)

Kelemahan XL antara lain terdapat pada: Masalah tarif murah XL juga bisa dikaitkan dengan iklan. Banyak iklan yang menipu untuk industri selular, dalam artian banyak syarat dan ketentuan berlaku sebagai embel-embelnya.

  1. Oppurtunities(Kesempatan)

Peluang bagi XL antara lain: besarnya pasar domestik yang belum tergarap, terutama di daerah – daerah. Perluasan jaringan yang dilakukan oleh XL cukup menguntungkan XL di masa mendatang.

  1. Threat (Ancaman)

Ancaman bagi XL antara lain: banyak masuknya pendatang baru dalam dunia operator selular di Indonesia, pendatang baru tersebut dari dalam negeri dan dari luar negeri. Semua operator menawarkan nilai lebih dari kompetitor nya, hal ini harus benar – benar ditanggapi serius dengan XL.

Setelah menganalisis data-data dan informasi sebelumnya,maka bisa ditarik beberapa kesimpulan mengenai manajemenstrategi XL, yaitu:

  1. XL telah berupaya sepenuhnya untuk dapat memenuhi kebutuhan para pelanggan melalui layanan yang berkualitas tinggi.
  2. Fokus masa, dari yang pada awalnya XL tidak terlalu menargetkan segmen pasarnya, akan tetapi sekarang mengarah ke pasar yang ingin bicara tidak sebentar (anak muda yang mau curhat dan pebisnis yang mau bicara dengan durasi yang lama).
  1. Identifikasi Strategi Pesaing

Setelah sukses besar XL dengan program Rp1/detik, Telkomsel meluncurkan Rp0,5/detik. Menjawab promo dari Telkomsel tersebut, XL saat ini membidik komunikasi antar operator melalui Rp0,1/detik ke semua operator, kemudian mencoba mengikuti pemain baru 3 dengan Rp1/menit. Persaingan ini tentu juga dengan operator CDMA.

II.3.2 Identifikasi Produk (Telkomsel)

  1. Profil Produk

Telkomsel merupakan operator selular terkemuka di Indonesia yang dimiliki PT Telkom dengan kepemilikan saham sebesar 65 persen dan SingTel sebesar 35 persen.Telkomsel didirikan pada tahun 1995 sebagai wujud semangat inovasi untuk mengembangkan telekomunikasi Indonesia yang terdepan. Untuk  mencapai visi tersebut, Telkomsel terus memacu pertumbuhan jaringan telekomunikasi di seluruh penjuru Indonesia secara pesat sekaligus memberdayakan masyarakat. Telkomsel menjadi pelopor untuk berbagai teknologi telekomunikasi selular di Indonesia, termasuk yang pertama meluncurkan layanan roaming internasional dan layanan 3G di Indonesia.

Hingga Juni 2010, Telkomsel dipercaya melayani 88,3 juta pelanggan, menjadikan Telkomsel sebagai pemimpin pasar di industri telekomunikasi selular dengan pangsa pasar sekitar 50 persen.

Sebagai operator selular yang memiliki visi “Best and Leading Mobile Lifestyle and Solutions Provider in the Region”, Telkomsel menyediakan ragam pilihan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan melalui produk paskabayar kartuHALO maupun prabayar simPATI dan Kartu As.

Komitmen kuat Telkomsel dalam menghadirkan layanan mobile lifestyle yang semakin berkualitas sangat jelas terlihat dengan secara konsisten mengimplementasikan roadmap teknologi selular terkini, yakni 3G, HSDPA, HSPA, HSPA+, serta Long Term Evolution. Tahun ini Telkomsel mengembangkan jaringan mobile broadband dengan mencanangkan 24 kota besar sebagai broadband city.

Sebagai pemimpin di industri telekomunikasi selular, Telkomsel telah menggelar 34.000 Base Transceiver Station termasuk lebih dari 6.000 Node B yang menjangkau 95 persen wilayah populasi Indonesia. Seiring diselesaikannya program Universal Service Obligation yang diamanahkan pemerintah untuk menggelar jaringan di 25.000 desa, maka layanan Telkomsel menjangkau hampir 100 persen wilayah populasi Indonesia.

Bahkan kenyamanan berkomunikasi pelanggan Telkomsel yang sedang berada di luar negeri tetap terjamin berkat dukungan 403 mitra operator international roaming dan 300 mitra operator data roaming di lebih dari 200 negara di seluruh belahan dunia.

  1. Market Share Produk

Telkomsel merupakan operator telekomunikasi selular dengan market share terbesar di Indonesia yang kini dipercaya melayani lebih dari 83 juta pelanggan. Pada tahun 2010, Telkomsel menargetkan penambahan sekitar 18 juta pelanggan baru sehingga secara keseluruhan Telkomsel akan melayani sekitar 100 juta pelanggan.

Saat ini Telkomsel telah menggelar lebih dari 32.000 Base Transceiver Station (BTS) termasuk lebih dari 5.000 Node B (BTS 3G) di 150 kota yang menjangkau hampir 100 persen wilayah populasi Indonesia. Bahkan kenyamanan komunikasi saat berada di luar negeri tetap terjamin karena Telkomsel juga bekerjasama dengan sekitar 400 operator mitra International Roaming dan 290 operator mitra data roaming di seluruh dunia.

Dalam upaya memandu perkembangan industri telekomunikasi selular di Indonesia memasuki era baru mobile broadband, Telkomsel secara konsisten mengimplementasikan roadmap teknologi selular GSM terkini, mulai dari 3G, HSDPA, HSPA+, serta dalam waktu dekat melakukan uji coba Long Term Evolution (LTE) yang merupakan teknologi selular GSM generasi keempat (4G). Diharapkan pada tahun ini total 24 kota besar di seluruh Indonesia dapat menikmati full coverage layanan mobile broadband Telkomsel.

  1. Identifikasi Kekuatan dan Kelemahan Produk

Telkomsel menjadi operator seluler pertama di Asia yang menawarkan layanan pra bayar GSM. Telkomsel ini mengklaim sebagai operator seluler terbesar di Indonesia, dengan 81.644.000 pelanggan (pada 31 Desember 2007) dan market share sebesar 51% pada 1 Januari 2007. Telkomsel memiliki tiga produk GSM, yaitu simPATI (prabayar), Kartu AS (prabayar), serta Kartu HALO (pascabayar).

Pertumbuhan pengguna layanan jejaring sosial dan komunitas di Indonesia sangat pesat belakangan ini. Tak heran jika kemudian sejumlah operator telekomunikasi berlomba untuk menjaringnya. Pesatnya pertumbuhan mungkin bisa mengacu pada situs jejaring Facebook yang kini memiliki pengguna aktif lebih dari 11.000.000 di Indonesia. Jumlahnya meningkat 13 kali lipat dibanding akhir 2008 lalu yang hanya berkisar 800.000 orang. Untuk membangun kembali situs “one stop destination” tersebut, Telkomsel kemudian menggandeng PT Access Mobile Indonesia untuk mengembangkan konten yang bisa dinikmati pelanggan dan komunitas berdasarkan minatnya. MyPulau menawarkan fitur seperti Social Status Integrator, My Interests, dan My Buys. Melalui fitur tersebut, pengguna dapat memanfaatkan profil uniknya yang terintegrasi dengan berbagai situs jejaring sosial untuk menciptakan komunitas pertemanan sendiri, menulis blog, serta bertransaksi dalam forum jual-beli secara e-commerce. Selain untuk bersilaturahim dengan kawan dan kerabat, jejaring sosial juga kerap digunakan sebagai media untuk saling berinteraksi dengan para netter yang memiliki persamaan minat. Maka, terbentuklah beragam komunitas di Internet yang jumlahnya kian banyak. Potensi ini yang kemudian dibidik sejumlah operator. Telkomsel adalah contoh paling baru. Operator ini coba mengoptimalkan kembali MyPulau, situs jejaring sosial dan komunitas yang telah dibangunnya sejak 2007.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa kelebihan produk Telkomsel adalah memiliki video blog yang bisa digunakan untuk merekam video klip dan dapat dilihat oleh pengguna lain, jangkauannya lebih luas dibanding dengan operator lain, registernya mudah hanya melalui SMS, memiliki pelayanan-pelayanan seperti movie, entertainment, infotainment, religion, music, dan life style.

Kekurangan utama Telkomsel terletak pada mahalnya tarif. Telkomsel secara keseluruhan merupakan operator dengan presentasi biaya yang paling mahal. Telkomsel mematok harga yang cukup mahal untuk biaya telepon, pengiriman pesan, akses internet dan berbagai layanan lainnya. Selain itu, jika dibandingkan dengan nama besarnya yang memiliki jumlah konsumen paling banyak dengan jaringan yang luas, komunikasi  menggunakan kartu Telkomsel  belum berada pada tingkat kecepatan dan akurasi yang baik. Di beberapa wilayah pelosok, signal Telkomsel juga masih sangat sulit didapat yang artinya jaringan tower mereka belum memenuhi standar sebagai operator ternama. Padahal seharusnya harga dapat disesuaikan dengan servisnya.

  1. Identifikasi Strategi Produk

Persaingan yang terjadi antar operator, tidak lagi hanya berkaitan dengan adu kecanggihan teknologi dan keunggulan produk yang mereka miliki tetapi sudah mengarah ”perang harga”. Untuk mengantisipasi persaingan pasar tersebut disamping mengandalkan kecanggihan teknologi yang dimilikinya, Telkomsel terus mengembangkan kreatifitas dan inovasi dalam memberikan layanan dan fasilitas (content) yang ditawarkan dari setiap produk yang dijualnya sehingga tetap bisa memimpin pasar selular. Kartu As yang diluncurkan pada tahun 2003 sedang memasuki tahap pertumbuhan. Tahap pertumbuhan ini ditandai dengan peningkatan pesat penjualan. Konsumen awal menyukai produk tersebut, dan konsumen berikutnya mulai membeli produk itu. Peluncuran kartu As ini merupakan upaya PT.Telkomsel,Tbk untuk menawarkan produknya yang sesuai kebutuhan pelanggan.

Di saat terjadi perang harga kartu perdana murah dalam industri seluler, PT.Telkomsel,Tbk meluncurkan Kartu As sebagai fighting brand. Kartu As ditujukan bagi konsumen kelas menengah ke bawah yang sensitif terhadap harga. Keputusan dilakukan karena tidak mungkin menurunkan harga simPATI dan Kartu HALO secara drastis karena jika hal ini dilakukan dikhawatirkan para pelanggan Kartu HALO dan simPATI akan mengira ada penurunan kualitas dari produk-produk Telkomsel. Dalam menetapkan harga produk Kartu As, PT.Telkomsel,Tbk menggunakan strategi penetration pricing. Dalam strategi ini, harga ditetapkan relative rendah pada tahap awal Product Life Cycle (PLC). Tujuannya adalah agar dapat meraih pangsa pasar yang besar dan sekaligus menghalangi masuknya para pesaing.

Strategi produk untuk kartu As juga menggunakan strategi diversifikasi tetapi dengan lebih menekankan pada perluasan produk dan pelayanan. Perluasan produk dilakukan dengan meluncurkan kartu As edisi Slank, sedangkan peluasan pelayanan dilakukan dengan melengkapi fitur yang dimiliki kartu As yang pada awalnya hanya memiliki fitur standard yaitu fitur percakapan dan pengiriman pesan singkat (SMS) menjadi memiliki fitur yang lengkap sama seperti kartu Telkomsel lainnya.

Adapun Kartu As, perdana Simpati yang memberikan nomor dan kartu secara cuma-cuma karena harga paket perdana dengan isi pulsanya sama, yaitu Rp 25.000. Dengan berbagai produk barunya itu, tidak berlebihan jika Telkomsel sampai saat ini masih tetap dapat memimpin pasar selular Indonesia.

BAB III

PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Keadaan persaingan antar perusahaan saat ini sangat kompetitif. Para pesaing terus meningkatkan kemampuannya untuk mencapai competitive advantage agar dapat terus bertahan dan bersaing dalam industrinya. Untuk meningkatkan competitive advantage ini banyak sekali caranya, salah satunya dengan meningkatkan kemampuan teknologi informasinya karena peranan teknologi informasi sudah menjadi bagian penting dari perusahaan selain terus menginovasi produk.

PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (TELKOM) merupakan perusahaan penyelenggara informasi dan telekomunikasi (InfoComm) serta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi secara lengkap (full service and network provider) yang terbesar di Indonesia. TELKOM sebagai penyedia jasa teleomunikasi terbesar di Indonesia memiliki keunggulan dari sisi infrastruktur  karena didukung pendanaa oleh pemerintah. Namun kelengkapan Produk yang ditawarkan, strategi dan konsep yang tangguh serta inovasi pada setiap produknya membuat Telkom menjadi pelopor dibidangnya.

Dalam Produk Seluler, Telkomsel memiliki pesaing yang kompetitif. Dari mulai Indosat sampai dengan XL. Dimana ada keunikan dengan persaingan di media masa dalam iklan-iklan yang ditampilkan Pesaingnya. Persaingan antara XL dan Telkomsel termasuk kedalam persaingan merk, dimana di dalamnya terjadi persaingan dalam penetapan harga, feature yang ditawarkan dan yang paling kentara adalah pada persaingan iklan. Berkali-kali dapat dilihat pada iklan-iklan kartu XL dan kartu As/Simpati (Telkomsel) saling menjatuhkan dengan cara saling memurahkan tarif sendiri.

            XL mengeluarkan beberapa gembrakan yaitu berupa pemberian features layanan dan promosi harga. Begitu pula, Telkomsel yang memberikan strategi persaingan untuk menangani macam-macam persaingan. Misalnya saja pada pemberian strategi Rp1/detik dari XL, Telkomsel kemudian meluncurkan Rp0,5/detik. Menjawab promo dari Telkomsel tersebut, XL saat ini membidik komunikasi antar operator melalui Rp0,1/detik ke semua operator, kemudian mencoba mengikuti pemain baru 3 dengan Rp1/menit. Persaingan ini tentu juga dengan operator CDMA. Selain itu juga pemberian features layanan internet, XL memberikan features seperti HotRod 3G sedangkan Telkomsel meluncurkanTelkom flash.

III.2 Saran

Persaingan dalam dunia usaha pasti akan selalu ada. Yang dibutuhkan perusahaan adalah terus meningkatkan kemampuannya untuk mencapai competitive advantage agar dapat terus bertahan dan bersaing dalam industrinya. Dan Perusahaan harus memiliki visi, misi, tujuan, strategi dan kosep yang sesuai dengan segmen pasar yang di inginkannya. Keunggulan Produk yang ditawarkanpun menjadi bagian penting dalam persaingan. Selain Itu perusahaan harus menganalisis faktor internal dan eksternalnya secara menyeluruh. Disarankan agar perusahaan-perusahaan yang terus berkompetisi dan ingin bertahan untuk selalu memperhatikan keinginan pasar agar dapat memberikan produk terbaik dan memuaskan pasar.
 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Sania, Nadia Fairus. 2010. Analisis Persaingan dalam aspek manajemen pemasaran. (Online). Tersedia di http://www.academia.edu/6870979/Analisis_Persaingan_dalam_aspek_manajemen_pemasaran. [diakses pada, 6 April 2010)

Kasmir. Kewirausahaan Edisi 1. pnerbit: Jakarta PT RajaGrafindo Persada, 2006.

Kasmir dan Jafar. Studi kelayakan Bisnis. Edisi ke dua. Jakarta: Persada Media, 2004.

Akram,Gio. 2013. Analisis Pesaing. (Online). Tersedia di http://gioakram13.blogspot.com/2013/04/analisis-pesaing.html. [diakses pada tanggal, 04 April 2013]

Firmansyah, Irwan. 2013. Analisis Kondisi Internal & Eksternal Melalui S.W.O.T pada PT. TELEKOMUNIKASI, Tbk. (online). Tersedia di http://irwan-firmansyah.mhs.narotama.ac.id/2013/04/06/analisis-kondisi-internaleksternal-melalui-strenght-weaknes-pt-telekomunikasi-tbk/. [diakses pada tanggal, 04 Juni 2013]

Herlianto, Endi Fitri. 2010. Analisis Strategi Bersaing Telkom dalam Industri Internet. Jakarta.  Thesis untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana S-2 Fakultas Ekonomika Dan Bisnis Universitas GADJAH MADA. (online). Tersedia di https://endifitri.files.wordpress.com/2011/07/tesis-strategi-bersaing-ef1.pdf. [diakses pada tanggal,  Juli 2011]

Arlina, Nurbaity. 2004. Strategi Pemasaran dalam Persaingan Bisnis. Sumatra Utara: Universitas Sumatra Utara.

Rangkuti, Freddy. 1997. Riset Pemasaran. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.Umar, Husein. 2000. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Nur, Reza Fatimah. 2012. Analisis Persaingan TELKOMSEL VS XL. Malang: Universitas Brawijaya. (Online) di http://www.slideshare.net/ChafidaSchmeling/analisa-persaingan-telkomsel-vs-xl

http://id.shvoong.com/business-management/management/1646527-analisis-persaingan/#ixzz2LsvkTfur

Islam dan Muslimah

oleh :sutihat rahayu suadh

 

Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin. saya yakin akan itu. Agama yang akan menyelamatkan kita dari kekufuran, agama yang akan memberikan kita jalan terbaik dari setiap pilihan. Al-Qur’an menjelaskan syari’at, aturan yang diperuntukan bagi kita yang meyakini kebenarannya. Islam agama yang moderat, dimana selalu ada kemudahan-kemudahan dan syafaat jika kita mau berhusnudzon kepada Allah azza wazala. 

Berbicara prihal muslimah dengan keislaman mereka. Banyak hal yang pada akhirnya membuat saya ingin menulis tentang keadaan wanita muslim saat ini. Banyak penyebab yang membuat muslimah menjadi rapuh, dan terbawa arus zaman yang menyedihkan. Aurat yang terbuka kemana-mana, dan sepotong kesombongan bernama emansipasi yang akhirnya membawa mereka pada keadaan terendah dalam pemikiran islam yang melindungi martabat wanita muslimah.

Sekarang, bukan hal aneh ketika kita melihat dijalan-jalan wanita muslim yang berpakaian seperti kafir. Berlenggak-lenggok memamerkan keindahan tubuh mereka. Make-up yang tebal, baju ketat, dan akhlak yang buruk. Menutup aurat dianggap sesuatu yang kuno dan tidak mengikuti perkembangan zaman, dimana katanya kita sudah tidak hidup dizaman nabi tapi dizaman sekarang. Seorang muslimah yang hendak menutup auratnya seakan diikat dalam sebuah botol, yang sulit diterima dalam dunia yang sekuler. Agama tidak berhak mencampuri urusan manusia, padahal kita yakin bahwa kita diciptakan oleh Allah. Apakah arti dari keyakinan itu ? saya tahu sebagai manusia mustahil kita mengikuti segala aturan yang ada, tapi setidaknya lakukanlah hal-hal yang tidak akan kita sesali pada akhirnya. 

Memakai jilbab itu harus ikhlas karna Allah, bukan karena paksaan, bukan karena ingin terlihat cantik, bukan karena ada acara tertentu, dan bukan karena menutupi aib yg ada di bagian atas tubuh kita. namun sekali lagi memakai jilbab tulus karena mengharapkan ridho Allah, dan sebagai bentuk ibadah kita. karena segala yg kita lakukan bernilai ibadah tatkala itu diniatkan mencari ridho Allah, dan tujuan manusia diciptakan di dunia tidak lain adalah untuk beribadah,”dan tidak lah kami menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah” .menutupi seluruh anggota tubuh dewasa ini manusia semakin kreatif, banyak inovasi dan variasi dalam gaya hidup, hingga cara berpakaian pun juga mengalami perubahan dan variasi. adalah “mode/trend” sesuatu yang membuat manusia berubah dalam gaya hidup dan berpakaianya. berjilbab pun juga terkena virus yang kadang membius sang pemakainya untuk menjadi bebek/budak, lantaran virus mengikuti “mode/trend” menjadikan seseorang budak untuk mengikuti apa yg diinginkanya, serta menyuruhnya taat untuk melakukan apa yang dikehendakinya.

Menyukai kecantikan dan keindahan adalah salah satu fitrah, kecenderungan yg dimiliki setiap wanita. dan perasaan ingin cantik ini adalah nikmat Allah SWT Tetapi seringkali kita salah memaknai nilai kecantikan yang sebenarnya dan menganggap bahwa kecantikan wanita hanya tertumpu pada keindahan fisik atau secara lahiriah saja. seringkali kiat menyaksikan betapa banyak wanita cantik di dunia ini tapi keindahannya hanya sesaat ,pribadinya adalah pribadi yang tak menyenagkan, kehidupannya berantakan dsbnya. Perilakunya tidak cantik bahkan menimbulkan masalah bagi diri sendiri dan orang lain.

Padahal ALLAH menciptakan kita tidak dengan sia-sia. Kita dituntut untuk terus menerus beribadah kepadaNya. Ilmu agama yang harus kita gali adalah ilmu yang Ittibaurrasul (mencontoh Rasulullah). Dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa ALLAH menciptakan manusia dengan sebaik baik bentuk :
“Laqod kholaqnal insaana fii ahsani taqwiim”
artinya : “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” ( Qs. 95 : 4 ).

Siapakah yang membuat standar penilaian terhadap ciptaan ALLAH yang Maha Kuasa ? Wahai para wanita percayalah bahwa wanita tercantik adalah wanita yang mampu memahami bahwa dia diciptakan dengan sebaik baik bentuk dan dia diciptakan adalah untuk beribadah: “wa maa kholaqtuljinna wal insa illa liya’buduun” artinya : “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Qs. 51 : 56).
Rasulullah Shalallahu alaihi Wa Salam bersabda: “Ketahuilah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik maka baik pulalah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak maka rusak pulalah seluruh tubuh. Ketahuilah itu adalah hati.(HR Bukhari dan Muslim)

(Al-Ahzab :59 dan An-nur :31), Buat para muslimah :
Penggunaan jilbab dalam kehidupan umum akan mendatangkan kebaikan bagi semua pihak. Dengan tubuh yang tertutup jilbab, kehadiran wanita jelas tidak akan membangkitkan birahi lawan jenisnya. Sebab, naluri seksual tidak akan muncul dan menuntut pemenuhan jika tidak ada stimulus yang merangsangnya. Dengan demikian, kewajiban berjilbab telah menutup salah satu celah yang dapat mengantarkan manusia terjerumus ke dalam perzinaan; sebuah perbuatan menjijikkan yang amat dilarang oleh Islam.Fakta menunjukkan, di negara-negara Barat yang kehidupannya dipenuhi dengan pornografi dan pornoaksi, angka perzinaan dan pemerkosaannya amat mengerikan. Di AS pada tahun 1995, misalnya, angka statistik nasional menunjukkan, 1,3 perempuan diperkosa setiap menitnya. Berarti, setiap jamnya 78 wanita diperkosa, atau 1.872 setiap harinya, atau 683.280 setiap tahunnya!24 Realitas ini makin membuktikan kebenaran ayat ini: Dzâlika adnâ an yu’rafna falâ yu’dzayn (Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal sehingga mereka tidak diganggu).

Bagi wanita, jilbab juga dapat mengangkatnya pada derajat kemuliaan. Dengan aurat yang tertutup rapat, penilaian terhadapnya lebih terfokus pada kepribadiannya, kecerdasannya, dan profesionalismenya serta ketakwaannya. Ini berbeda jika wanita tampil ‘terbuka’ dan sensual. Penilaian terhadapnya lebih tertuju pada fisiknya. Penampilan seperti itu juga hanya akan menjadikan wanita dipandang sebagai onggokan daging yang memenuhi hawa nafsu saja.

Ini potongan literatur yang sedang saya buat. Tentang bagaimana pandangan cantik bagi sebagian orang dan Islam. Kecantikan yang hakiki adalah bagaimana kita bisa menjaganya untuk tidak menjadi sesuatu yang menyesatkan. Relevannya cantiklah dimata yang menciptakanmu, dengan kesederhanaan dan menutup auratmu sesuai dengan perintahnya.

Beberapa pihak mengatakan bahwa kecantikan itu relatif bagi tiap orang tapi nyatanya secara sadar atau tidak sadar ada banyak kekuatan, seperti Media( lingkungan sosial ), pemerintah, produsen alat-alat kecantikan(industry kecantikan), organisasi perempuan, dan berbagai kontes kecantikan, yang mencoba memberikan definisi dan pola pikir tentang apa yang disebut (perempuan) cantik itu. Ayu Utami dalam Parasit Lajang menegaskan putih per definisi adalah cantik. Definisi cantik memang cenderung diasosiasikan dengan putih. Hampir tidak pernah perempuan berkulit cokelat dibilang cantik. Alih-alih cantik adalah manis, menarik, eksotik dan lain-lain. Saya jadi teringat dengan parodi Srimulat, mereka selalu mengidentifikasikan cantik dengan perempuan berkulit putih, begitu putihnya sehingga kalau minum kopi, hitam kopi tampak mengaliri leher. Namun parodi juga menyiratkan nilai serius. Kriteria putih

sebagai kecantikan yang ideal memang berlaku sungguhan.Pertarungan Sosial Proses penerimaan wacana dominan secara sukarela ini disebut dengan hegemoni, yang dijalankan oleh kelompok tertentu untuk memenangi pertarungan sosial demi mencapai kepentingan tertentu. Menurut Gramsci, hegemoni bekerja melalui konsensus, berbeda dari indoktrinasi atau manipulasi, salah satu kekuatan hegemoni adalah menciptakan wacana dominan tertentu melalui penciptaan kesadaran palsu. Persepsi yang mendasarkan kecantikan pada aspek lahiriah harus segera didekonstruksi. Karena jika tidak, persepsi seperti itu akan mengakibatkan diskriminasi yang kian tajam dan bisa menumbuhkan sikap rasisme. Warna kulit, bentuk hidung, bentuk rambut, dan aspek-aspek lahiriah lainnyaadalah sesuatu yang terbentuk secara alamiah.

 

Tidak fair manakala kecantikan hanya diukur dari aspek lahiriah semata, secara fisik, antara manusia satu dengan yang lain itu berbeda.Oleh karena itu, makna kecantikan sekarang ini harus mulai diarahkan pada aspek ruhaniah seseorang (inner beauty). Kecantikan yang sesungguhnya harus bisa memberikan energi positif bagi sekitarnya, sehingga kriteria kecantikan akan berubah dari yang berkulit putih dan bertubuh langsing menjadi seseorang yang memiliki kemampuan dan prestasi tinggi, yang dapat memberikan maanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain, memiliki perilaku yang baik, mau menolong terhadap sesama dan lain sebagainya. Kemudian, inner beauty itu dengan sendirinya akan terpancar dari seorang wanita yang dalam tingkah laku sehari-harinya mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan dan orang-orang di sekelilingnya.Karena makna kecantikan yang hadir saat ini merupakan konstruksi sosial, yang tidak lagi memaknai cantik sebagaimana cantik, tapi cantik hari ini menjadi sebuah kebutuhan, dimana kebutuhan akan pengakuan sosial, penghargaan dan aktualisasi diri ( bahwa perempuan itu cantik).

 

Disini saya hanya ingin menyampaikan bahwa untuk para wanita terutama muslimah agar lebih memahami arti cantik itu. Sekali lagi bukan dari segi fisik atau penampilan luar yang salah kaprah. Cantik mempunyai definisi yang sangat mulia, bukan sekedar sebuah pandangan manusia tapi lebih kepada pemahaman terhadap diri kita, bagaimana kita melindugi kecantikan itu sebagai bentuk rasa syukur pada Sang pencipta, Allah Azza Wazalla. Dari semua definisi cantik yang penulis paparkan diatas, tentu cantik kapitalis atau feminis memiliki banyak benturan dengan cantik dalam pandangan islam. Karena tak bisa dipungkiri doktrin barat yang mengubah pemahaman muslimah tentang arti cantik, ya cantik selalu diidentikan dengan fisik dan fashion mereka. Lalu aturan yang telah ditetapkan didalam Al-Qur’an tentang kemuliaaan wanita ketika ia menutup auratnya secara sempurna hanya dianggap aturan kuno yang hanya ada dizaman Rosulullah. Menutup aurat secara sempurna dianggap ortodok, kuno, tidak fashionable, dan pendapat-pendapat lain yang pada akhirnya membuat muslimah saat ini keluar pada batas ketetapan aturan yang baku, meninggalkan kewajiban mereka menutup aurat hanya karena saat ini pendapat orang banyak mengatakan jika seorang muslimah menutup auratnya secara sempurna, tentu ruang geraknya terbatas dan kecantikannya terhalangi oleh jilbab mereka yang berkibar.

 

Al-Qur’ân sendiri sebenarnya sangat banyak dalam membicarakan wanita. wanita dalam al-Qur’ân diekspresikan dengan kata al-Nisa’al-Zaujahal-Ummal-Bint, al-Untsâ, kata sifat yang disandarkan pada bentuk mu’annats dan berbagai kata ganti (pronoun) yang menunjuk jenis kelamin perempuan. Khusus mengenai kata al-Nisâ, kata ini adalah bentuk jamak dan kata al-Mar’ah yang dalam al-Qur’ân berarti manusia yang berjenis kelamin perempuan (QS al-Nisâ’ [4]: 7) dan istri-istri (QS al-Baqarah [2 ]: 222). Kata al-Nisâ’ dengan berbagai bentuknya disebutkan dalam al-Qur’ân sebanyak 59 kali. Sehingga jelaslah bahwa al-Qur’ân sebenarnya sangat peduli dan begitu memuliakan wanita.  Lalu bagaimana al-Qur’ân berbicara mengenai kedudukan wanita dalam konteks saat ini? Pertanyaan ini, tentu mengiang-ngiang dibenak kita, lalu bagaimana cantik dalam pandanganNya ? Pembaca jangan galau, permasalahan ini akan coba kita kupas satu persatu agar kita lebih mafhum tentang bagaimana pandangan cantik dalam Islam.

”Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk fisik dan harta kalian, tetapi pada hati dan perbuatan kalian.” (HR Muslim)

Padahal sebenarnya Allah tidak pernah menilai seseorang dari bentuk fisiknya semata. Kecantikan seorang Muslimah harus tercermin dari batinnya (inner beauty). Pada konteks keimanan, seorang Muslimah harus memiliki akhlak yang terpuji.

Intinya, sebagai seorang Muslimah janganlah kita terlalu sibuk mempercantik penampilan fisik karena sesungguhnya kecantikan seorang Muslimah bukan dinilai dari fisiknya, tetapi dinilai dari perbuatannya, akhlak,dan ketaatan kepada Allah SWT.

Saya menyinggung sedikit tentang cantik dalam pandangan islam, untuk kita sama-sama melanjutkan ke BAB berikutnya, bagaimana islam memandang kecantikan sejati seorang muslimah. Persoalan ini kita akan bahas di BAB berikutnya. Disini saya hanya ingin menjelaskan sedikit tentang definisi cantik, agar kita lebih mafhum. Marilah kita berfikir sejenak, untuk mengambil setiap fakta dari tulisan ini, dimana cantik itu hanya bagian dari sesuatu yang pasti berbeda ketika kita tidak menempatkannya ditempat yang tepat. Cantik yang hanya dihargai sebatas kepuasan, value yang sebenarnya tidak bernilai sama sekali dimataNya. Karena cantik disini bertentangan dengan Izzah seorang muslimah. Oleh karena itulah maka perlu kiranya menggali kembali dari ayat-ayat al-Qur’ân yang berbicara tentang kecantikan seorang wanita tanpa melupakan kondisi yang ada saat ini dengan mempertimbangkan secara seimbang dan proporsional tiga hal yang sangat penting dalam penafsiran, yaitu teks, konteks (kondisi sosio-kultural pada saat turunnya al-Qur’ân dan masa kini) serta kontekstualisasinya.

 

 

Paham-Paham Baru yang Lahir sebagai Pengaruh Revolusi Industri

Paham-Paham Baru yang Lahir sebagai Pengaruh Revolusi Industri

  1. Pengertian Revolusi Industri

Revolusi Industri merupakan periode antara tahun 1750-1850 di mana terjadinya perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial,ekonomi, dan budaya di dunia. Revolusi Industri dimulai dari Britania Raya dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa BaratAmerika UtaraJepang, dan akhirnya ke seluruh dunia.

Revolusi Industri menandai terjadinya titik balik besar dalam sejarah dunia, hampir setiap aspek kehidupan sehari-hari dipengaruhi oleh Revolusi Industri, khususnya dalam hal peningkatan pertumbuhan penduduk dan pendapatan rata-rata yang berkelanjutan dan belum pernah terjadi sebelumnya. Selama dua abad setelah Revolusi Industri, rata-rata pendapatan perkapita negara-negara di dunia meningkat lebih dari enam kali lipat. Seperti yang dinyatakan oleh pemenang Hadiah NobelRobert Emerson Lucas, bahwa: “Untuk pertama kalinya dalam sejarah, standar hidup rakyat biasa mengalami pertumbuhan yang berkelanjutan. Perilaku ekonomi yang seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya”.[1]

Inggris memberikan landasan hukum dan budaya yang memungkinkan para pengusaha untuk merintis terjadinya Revolusi Industri.[2]Faktor kunci yang turut mendukung terjadinya Revolusi Industri antara lain: (1) Masa perdamaian dan stabilitas yang diikuti dengan penyatuan Inggris dan Skotlandia, (2) tidak ada hambatan dalam perdagangan antara Inggris dan Skotlandia, (3) aturan hukum (menghormati kesucian kontrak), (4) sistem hukum yang sederhana yang memungkinkan pembentukan saham gabungan perusahaan (korporasi), dan (4) adanya pasar bebas (kapitalisme).[3]

Revolusi Industri dimulai pada akhir abad ke-18, dimana terjadinya peralihan dalam penggunaan tenaga kerja di Inggris yang sebelumnya menggunakan tenaga hewan dan manusia, yang kemudian digantikan oleh penggunaan mesin yang berbasis menufaktur. Periode awal dimulai dengan dilakukannya mekanisasi terhadap industri tekstil, pengembangan teknik pembuatan besi dan peningkatan penggunaan batubara. Ekspansi perdagangan turut dikembangkan dengan dibangunnya terusan, perbaikan jalan raya dan rel kereta api.[4] Adanya peralihan dari perekonomian yang berbasis pertanian ke perekonomian yang berbasis manufaktur menyebabkan terjadinya perpindahan penduduk besar-besaran dari desa ke kota, dan pada akhirnya menyebabkan membengkaknya populasi di kota-kota besar di Inggris.[5]

Awal mula Revolusi Industri tidak jelas tetapi T.S. Ashton menulisnya kira-kira 1760-1830. Tidak ada titik pemisah dengan Revolusi Industri II pada sekitar tahun 1850, ketika kemajuan teknologi dan ekonomi mendapatkan momentum dengan perkembangan kapal tenaga-uap, rel, dan kemudian di akhir abad tersebut perkembangan mesin pembakaran dalam dan perkembangan pembangkit tenaga listrik

Faktor yang melatarbelakangi terjadinya Revolusi Industri adalah terjadinya revolusi ilmu pengetahuan pada abad ke 16 dengan munculnya para ilmuwan seperti Francis Bacon,René DescartesGalileo Galilei serta adanya pengembangan riset dan penelitian dengan pendirian lembaga riset seperti The Royal Improving Knowledge, The Royal Society of England, dan The French Academy of Science. Adapula faktor dari dalam seperti ketahanan politik dalam negeri, perkembangan kegiatan wiraswasta, jajahan Inggris yang luas dan kaya akan sumber daya alam.

Istilah “Revolusi Industri” sendiri diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis-Auguste Blanqui di pertengahan abad ke-19. Beberapa sejarawan abad ke-20 seperti John Clapham dan Nicholas Crafts berpendapat bahwa proses perubahan ekonomi dan sosial yang terjadi secara bertahap dan revolusi jangka panjang adalah sebuah ironi.[6][7]Produk domestik bruto (PDB) per kapita negara-negara di dunia meningkat setelah Revolusi Industri dan memunculkan sistem ekonomi kapitalis modern.[8] Revolusi Industri menandai dimulainya era pertumbuhan pendapatan per kapita dan pertumbuhan ekonomi kapitalis.[9] Revolusi Industri dianggap sebagai peristiwa paling penting yang pernah terjadi dalam sejarah kemanusiaan sejak domestikasi hewan dan tumbuhan pada masa Neolitikum. Sumber (http://id.wikipedia.org/wiki/Revolusi_Industri)

  1. Sebab-Sebab Timbulnya Revolusi Indutri

Revolusi Industri untuk kali pertamanya muncul di Inggris. Adapun faktor-faktornya yang menyebabkannya adalah sebagai berikut:

Situasi politik yang stabil. Adanya Revolusi Agung tahun 1688 yang mengharuskan raja bersumpah setia kepada Bill of Right sehingga raja tunduk kepada undang-undang dan hanya menarik pajak berdasarkan atas persejutuan parlemen.

Inggris kaya bahan tambang, seperti batu barabiji besitimah, dan kaolin. Di samping itu, wol juga yang sangat menunjang industri tekstil.

Adanya penemuan baru di bidang teknologi yang dapat mempermudah cara kerja dan meningkatkan hasil produksi, misalnya alat-alat pemintal, mesin tenun, mesin uap, dan sebagainya.

Kemakmuran Inggris akibat majunya pelayaran dan perdagangan sehingga dapat menyediakan modal yang besar untuk bidang usaha. Di samping itu, di Inggris juga tersedia bahan mentah yang cukup karena Inggris mempunyai banyak daerah jajahan yang menghasilkan bahan mentah tersebut.

Pemerintah memberikan perlindungan hukum terhadap hasil-hasil penemuan baru (hak paten) sehingga mendorong kegiatan penelitian ilmiah. Lebih-lebih setelah dibentuknya lembaga ilmiah Royal Society for Improving Natural Knowledge maka perkembangan teknologi dan industri bertambah maju.

Arus urbanisasi yang besar akibat Revolusi Agraria di pedesaan mendorong pemerintah Inggris untuk membuka industri yang lebih banyak agar dapat menampung mereka.

  1. Perkembangan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi

Sejak abad ke-16, di Eropa telah terjadi revolusi keilmuan yang muncul sebagai pengaruh dari terjadinya abad pencerahan (aufklarung). Pada masa ini muncul para pemikir dan ilmuwan yang telah melahirkan pemikiran dan temuan-temuan baru yang sangat berguna bagi peningkatan kehidupan manusia.

Hasil pemikiran para ilmuwan tersebut telah membuka cakrawala baru untuk berpikir secara kritis dan ilmiah yang sebelumnya dibatasi oleh dogma-dogma yang sebelumnya bersifat mistis dan menyesatkan. Para ilmuwan tersebut di antaranyaGalileo Galilei, Francis Bacon, Rene Descartes, Nicolai Copernicus, Johannes Keppler, Sir Isaac Newton, dan sebagainya. Silahkan kamu cari hasil-hasil pemikiran para ilmuwan di atas. Pencerahan dalam bidang ilmu pengetahuan tersebut mendorong lahirnya para pemikir-pemikir baru yang berusaha mengembangkan teknologi untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Di Inggris kondisi ini sangat memungkinkan dengan terbentuknya lembaga riset seperti The Royal for Improving NaturalKnowledge serta The Royal Society of England. Lembaga riset ini merupakan wadah bagi para ilmuwan dan peneliti untuk dapat menghasilkan penemuanpenemuan baru yang akan digunakan untuk meningkatkan taraf hidup manusia. Melalui lembaga riset tersebut, pada akhirnya di Inggris dapat dihasilkan alat-alat teknologi baru yang menunjang perindustrian. Mesin pintal yang ditemukan oleh James Hargreaves pada tahun 1795 serta model mesin pintal lain yang ditemukan oleh Richard Arkwrightpada tahun 1769 mampu meningkatkan produksi tekstil lebih banyak bila dibandingkan dengan penggunaan teknologi secara manual. Apalagi setelah teknologi mesin pintal tersebut semakin mendapat penyempurnaan oleh Edmund Cartwright(1785) dan Samuel Crompton (1790) menjadikan mesin pintal yang sepenuhnya digerakkan oleh tenaga mesin itu dapat menghasilkan produk tekstil lebih banyak lagi. Penemuan paling revolusioner pada saat itu adalah mesin uap yang dikembangkan olehJames Watt pada tahun 1796. Penemuan mesin uap ini pada akhirnya mendorong peningkatan hasil industri lebih banyak lagi dan mendorong pengembangan temuan-temuan lainnya untuk menunjang industri. Hasil penemuan Watt ini kemudian digunakan oleh sebagian besar industri baru di bidang tekstil, pengolahan gula serta pengolahan gandum. Mesin uap hasil penemuan James Watt Pengembangan mesin uap memiliki peran sangat besar bagi dimulainya revolusi industri di Britania Raya.

Revolusi industri di Inggris mengalami percepatan pada awal abad ke-19 setelah ditemukannya teknologi baru dalam bidang transportasi darat. Penemuan tersebut berupa lokomotif yang dihasilkan oleh seorang penemu yang bernamaGeorge Stephenson pada tahun 1825. Segera penemuan ini diwujudkan dengan membangun jaringan kereta api pertama yang menghubungkan antara Kota Liverpool dan Manchester pada tahun 1830. Penemuan ini sangat

berarti bagi peningkatan industri Inggris, terutama percepatan pendistribusian barang-barang hasil industri. Sebelum ditemukannya lokomotif, terdapat kesulitan dalam memasarkan hasil industri karena tidak tersedianya angkutan yang cukup memadai, sehingga proses pendistribusian menjadi lambat. Dengan ditemukannya lokomotif, kemudian dapat dibangun jaringan transportasi darat berupa jalur kereta api, sehingga lebih mempercepat proses pemasaran hasil industri. Adapun yang menarik adalah bahwa terdapat suatu kerja sama yang cukup baik antara para pengusaha dan para penemu (inovator), sehingga memperlancar dan mempercepat proses revolusi industri. Hasil-hasil penemuan dimanfaatkan oleh para pengusaha untuk membangun industri dengan menggunakan mesin-mesin hasil penemuan tersebut sebagai alat produksi yang sangat penting dalam sistem industri tersebut. Bahkan ada beberapa dari penemu tersebut yang kemudian berkembang menjadi pengusaha di mana setelah dia berhasil menciptakan suatu mesin maka kemudian dia mendirikan suatu industri dengan memanfaatkan mesin hasil temuannya tersebut. Golongan pengusaha inilah yang pada perkembangan berikutnya berkembang menjadi kaum kapitalis.

  1. Paham-Paham Baru di Eropa

1. Nasionalisme

Istilah nasionalisme, liberalisme, sosialisme dan demokrasi merupakan paham-paham baru yang berkembang di Eropa. Paham-paham tersebut muncul sebagai akibat terjadinya Revolusi Industri dan Revolusi Perancis.

Menurut Louis Snyder nasionalisme merupakan campuran dari gagasan yang mengandung faktor-faktor politik, ekonomi, sosial dan budaya sehingga menyatu pada taraf tertentu dalam suatu kurun sejarah.

Menurut Otto Bouer paham nasionalisme muncul oleh adanya persamaan sikap dan tingkah laku dalam memperjuangkan nasib yang sama.

Dua tokoh terakhir mempunyai kesamaan pendapat bahwa nasionalisme suatu bangsa lahir akibat adanya faktor kemanusiaan.

Nasionalisme adalah paham pada mulanya unsur-unsur pokok nasionalisme terdiri atas persaudaraan darah/ keturunan, suku bangsa, tempat tinggal, agama, bahasa dan budaya. Kemudian berubah dengan masuknya dua unsur yaitu persamaan hak bagisetiap orang untuk memegang persamaan dalam masyarakatnya serta adanya persamaan kepentingan dalam bidang ekonomi.

Aspek mendasar timbulnya nasionalisme adalah aspek sejarah. Melalui aspek sejarah biasanya suatu bangsa memiliki rasa senasib sepenanggungan serta harapan untuk menggapai masa depan yang lebih baik. Dengan demikian nasionalisme adalah sikap politik dan sikap sosial suatu kelompok masyarakat yang memiliki kesamaan budaya, wilayah, tujuan dan cita-cita.

Nasionalisme sebagai suatu peristiwa sejarah, selalu bersifat kontekstual (artinya meruang dan mewaktu), sehingga nasionalisme di suatu daerah dengan daerah lain atau antar zaman tidaklah sama. Misalnya saja bagi negara yang sudah lama merdeka, nasionalisme dapat mengarah pada imperialisme. Biasanya nasionalismenya bersifat konservatif. Bagi negara semacam ini akan mempersulit timbulnya nasionalisme di daerah-daerah jajahannya. Sedangkan bagi negara yang masih terbelenggu imperialisme dijajah nasionalisme bersifat revolusioner dan progresif. Dengan demikian nasionalisme sarat dengan kepentingan suatu bangsa. Tumbuh dan berkembangnya nasionalisme sangat dipengaruhi oleh nasionalisme yang dianut kelompok dominan suatu bangsa.

Perlu Anda ingat, bahwa gerakan nasionalisme yang mulanya lebih menekankan pada kesetiaan dan menjaga keutuhan negara, dapat pula berkembang menjadi sikap untuk menguasai wilayah lain. Hal ini disebabkan adanya perasaan sebagai negara paling kuat dan berpengaruh. Sikap yang berlebihan ini dikenal dengan istilah ultranasionalisme.

Gerakan ultransionalisme ini diwujudkan dalam bentuk menguasai bangsabangsa lain. Contohnya bangsa Belanda yang menjajah bangsa Indonesia, bangsa Inggris yang menjajah India dsb.

Selain adanya gerakan ultransionalisme, nasionalisme dapat pula mengarah pada chauvinisme, yaitu paham yang menganggap dirinya sebagai suatu bangsa yang terbaik. Disatu sisi, nasionalisme akan memberi suatu kepercayaan diri yang kuat. Contoh Jerman pada waktu diperintah Adolf Hitler.

Nasionalisme romantik (juga disebut nasionalisme organiknasionalisme identitas) adalah lanjutan dari nasionalisme etnis dimana negara memperoleh kebenaran politik secara semulajadi (“organik”) hasil dari bangsa atau ras; menurut semangatromantisme. Nasionalisme romantik adalah bergantung kepada perwujudan budaya etnis yang menepati idealisme romantik; kisah tradisi yang telah direka untuk konsep nasionalisme romantik. Misalnya “Grimm Bersaudara” yang dinukilkan oleh Herder merupakan koleksi kisah-kisah yang berkaitan dengan etnis Jerman.

Nasionalisme Budaya adalah sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya bersama dan bukannya “sifat keturunan” seperti warna kulitras dan sebagainya. Contoh yang terbaik ialah rakyat Tionghoa yang menganggap negara adalah berdasarkan kepada budaya. Unsur ras telah dibelakangkan di mana golongan Manchu serta ras-ras minoritas lain masih dianggap sebagai rakyat negara Tiongkok. Kesediaan dinasti Qing untuk menggunakan adat istiadat Tionghoa membuktikan keutuhan budaya Tionghoa. Malah banyak rakyat Taiwan menganggap diri mereka nasionalis Tiongkok sebab persamaan budaya mereka tetapi menolak RRC karena pemerintahan RRT berpaham komunisme.

Nasionalisme kenegaraan ialah variasi nasionalisme kewarganegaraan, selalu digabungkan dengan nasionalisme etnis. Perasaan nasionalistik adalah kuat sehingga diberi lebih keutamaan mengatasi hak universal dan kebebasan. Kejayaan suatu negeri itu selalu kontras dan berkonflik dengan prinsip masyarakatdemokrasi. Penyelenggaraan sebuah ‘national state’ adalah suatu argumen yang ulung, seolah-olah membentuk kerajaan yang lebih baik dengan tersendiri. Contoh biasa ialah Nazisme, serta nasionalisme Turki kontemporer, dan dalam bentuk yang lebih kecil, Franquisme sayap-kanan di Spanyol, serta sikap ‘Jacobin‘ terhadap unitaris dan golongan pemusat negeri Perancis, seperti juga nasionalisme masyarakat Belgia, yang secara ganas menentang demi mewujudkan hak kesetaraan (equal rights) dan lebih otonomi untuk golongan Fleming, dan nasionalisBasque atau Korsika. Secara sistematis, bilamana nasionalisme kenegaraan itu kuat, akan wujud tarikan yang berkonflik kepada kesetiaan masyarakat, dan terhadap wilayah, seperti nasionalisme Turki dan penindasan kejamnya terhadap nasionalisme Kurdi, pembangkangan di antara pemerintahan pusat yang kuat di Spanyol dan Perancis dengan nasionalisme Basque, Catalan, dan Corsica.

Nasionalisme agama ialah sejenis nasionalisme dimana negara memperoleh legitimasi politik dari persamaan agama. Walaupun begitu, lazimnya nasionalisme etnis adalah dicampuradukkan dengan nasionalisme keagamaan. Misalnya, diIrlandia semangat nasionalisme bersumber dari persamaan agama mereka yaituKatolik; nasionalisme di India seperti yang diamalkan oleh pengikut partai BJPbersumber dari agama Hindu.

Namun demikian, bagi kebanyakan kelompok nasionalis agama hanya merupakan simbol dan bukannya motivasi utama kelompok tersebut. Misalnya padaabad ke-18, nasionalisme Irlandia dipimpin oleh mereka yang menganut agamaProtestan. Gerakan nasionalis di Irlandia bukannya berjuang untuk memartabatkanteologi semata-mata. Mereka berjuang untuk menegakkan paham yang bersangkut paut dengan Irlandia sebagai sebuah negara merdeka terutamanya budaya Irlandia. Justru itu, nasionalisme kerap dikaitkan dengan kebebasan.

2. Liberalisme

Liberalisme dapat diartikan sebagai paham kebebasan, yaitu paham yang menghendaki adanya kebebasan individu, sebagai titik tolak dan sekaligus tolok ukur dalam interaksi sosial.

Pengertian tersebut dapat dipahami dari konteks kelahirannya di Eropa.

Apakah yang dimaksud dengan kebebasan individu di sini? Untuk lebih jelasnya ikutilah uraian berikutnya.

Menurut paham liberal, individu mempunyai kedudukan sangat fundamental, maka kebebasan individu harus dijamin.

Sebagai reaksi terhadap kondisi zamannya, liberalisme mulanya berorientasi pada kebebasan politik, kemerdekaan agama dan ekonomi.

Pada kehidupan agama, liberalisme dimulai pada masa Renaisanse yang memperjuangkan kebebasan manusia dari kungkungan gereja/agama.

Pada kehidupan ekonomi, liberalisme menentang monopoli atau campur tangan pemerintah dalam berusaha, dengan kata lain menuntut ekonomi bebas. Semboyan mereka : Laisser Faire, Laisser Passer, Le Monde Va De Lui- Meme”. (Produksi bebas, perdagangan bebas, hukum kodrat kalau akan menyelengarakan harmoni dunia). Dan nasionalisme menurut adanya UUD Pendidikan Umum, kemerdekaan pers, kemerdekaan berbicara, kemerdekaan mengeluarkan pendapat, dan beragama. Liberalisme merupakan antitesis dari sistem perdagangan yang menggunakan sistem merkhantilisme. Pedagang besar sering disebut borjuis, mereka ingin memperoleh kebebasan dalam melakukan usaha. Pertumbuhan ekonomi akan ditentukan oleh hukum permintaan dan penawaran. Mereka menyatakan bahwa pemerintahan yang paling baik seharusnya paling sedikit ikut campur dalam bidang ekonomi. Pandangan ini dikemukakan oleh Adam Smith (Bapak Ekonomi liberal kapitalis) yang menyatakan bahwa hukum pasar akan diatur oleh “ invisible hands”.

Negara menurut paham liberalisme tradisional fungsinya sebagai penjaga malam. Dalam sistem liberalisme peluang tumbuhnya sistem kapitalisme sangat besar. Sejak timbulnya kapitalisme dan kemenangan paham liberalisme, imperialisme barat berubah menjadi imperialisme modern.

a. Ciri imperialisme modern adalah:

  • Daerah jajahan sebagai pensuplai bahan baku.
  • Masyarakat jajahan sebagai sasaran penjualan hasil produksi.

Pada kehidupan politik melahirkan pengertian tentang negara yang demokrasi. Pada bidang politik penganut ajaran liberalisme menginginkan adanya pembatasan kekuasaan negara. Monarki absolut dianggap tidak relevan. Dalam bidang ini liberalisme berkaitan dengan demokrasi.

Dalam hubungannya dengan perkembangan nasionalisme di negara Asia – Afrika, liberalisme memberikan gambaran kontradiktif dari bangsa penjajah (Eropa pada waktu itu). Hal ini berarti di satu sisi mendengungkan kebebasan, namun di daerah jajahan sama sekali tidak memberi kebebasan pada bangsa yang dijajah.

Libelarisme muncul di Eropa abad ke 17, memuncak pada abad ke 19 dan tenggalam pada abad ke 20. Istilah liberalisme ini berasal dari kata liberales (bahasa Spanyol), yaitu nama partai pada abad ke-19 yang memperjuangkan pemerintahan konstitusional untuk Spanyol. Waktu itu masyarakat Eropa ingin berontak terhadap kehidupan politik, budaya serta agama yang cenderung bersifat absolut. Masyarakat ingin membebaskan diri dari belenggu absolutisme yang diciptakan golongan bangsawan dan agamawan.

  1. Pokok-pokok Liberalisme

Ada tiga hal yang mendasar dari Ideologi Liberalisme yakni Kehidupan, Kebebasan dan Hak Milik (Life, Liberty and Property). Dibawah ini, adalah nilai-nilai pokok yang bersumber dari tiga nilai dasar Liberalisme tadi:

Kesempatan yang sama. (Hold the Basic Equality of All Human Being). Bahwa manusia mempunyai kesempatan yang sama, di dalam segala bidang kehidupan baik politiksosialekonomi dan kebudayaan. Namun karena kualitas manusia yang berbeda-beda, sehingga dalam menggunakan persamaan kesempatan itu akan berlainan tergantung kepada kemampuannya masing-masing. Terlepas dari itu semua, hal ini (persamaan kesempatan) adalah suatu nilai yang mutlak dari demokrasi.

Dengan adanya pengakuan terhadap persamaan manusia, dimana setiap orang mempunyai hak yang sama untuk mengemukakan pendapatnya, maka dalam setiap penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi baik dalam kehidupan politik, sosial, ekonomi, kebudayaan dan kenegaraan dilakukan secara diskusi dan dilaksanakan dengan persetujuan – dimana hal ini sangat penting untuk menghilangkan egoisme individu.( Treat the Others Reason Equally.)

Pemerintah harus mendapat persetujuan dari yang diperintah. Pemerintah tidak boleh bertindak menurut kehendaknya sendiri, tetapi harus bertindak menurut kehendak rakyat.(Government by the Consent of The People or The Governed)

Berjalannya hukum (The Rule of Law). Fungsi Negara adalah untuk membela dan mengabdi pada rakyat. Terhadap hal asasi manusia yang merupakan hukum abadi dimana seluruh peraturan atau hukum dibuat oleh pemerintah adalah untuk melindungi dan mempertahankannya. Maka untuk menciptakan rule of law, harus ada patokan terhadap hukum tertinggi (Undang-undang), persamaan dimuka umum, dan persamaan sosial.

Yang menjadi pemusatan kepentingan adalah individu.(The Emphasis of Individual)

Negara hanyalah alat (The State is Instrument). Negara itu sebagai suatu mekanisme yang digunakan untuk tujuan-tujuan yang lebih besar dibandingkan negara itu sendiri. Di dalam ajaran Liberal Klasik, ditekankan bahwa masyarakat pada dasarnya dianggap, dapat memenuhi dirinya sendiri, dan negara hanyalah merupakan suatu langkah saja ketika usaha yang secara sukarela masyarakat telah mengalami kegagalan.

Dalam liberalisme tidak dapat menerima ajaran dogmatisme (Refuse Dogatism). Hal ini disebabkan karena pandangan filsafat dari John Locke (1632 – 1704) yang menyatakan bahwa semua pengetahuan itu didasarkan pada pengalaman. Dalam pandangan ini, kebenaran itu adalah berubah.

  1. Dua Masa Liberalisme

Liberalisme adalah sebuah ideologi yang mengagungkan kebebasan. Ada dua macam Liberalisme, yakni Liberalisme Klasik dan Liberallisme Modern. Liberalisme Klasik timbul pada awal abad ke 16. Sedangkan Liberalisme Modern mulai muncul sejak abad ke-20. Namun, bukan berarti setelah ada Liberalisme Modern, Liberalisme Klasik akan hilang begitu saja atau tergantikan oleh Liberalisme Modern, karena hingga kini, nilai-nilai dari Liberalisme Klasik itu masih ada. Liberalisme Modern tidak mengubah hal-hal yang mendasar ; hanya mengubah hal-hal lainnya atau dengan kata lain, nilai intinya (core values) tidak berubah hanya ada tambahan-tanbahan saja dalam versi yang baru. Jadi sesungguhnya, masa Liberalisme Klasik itu tidak pernah berakhir.

Dalam Liberalisme Klasik, keberadaan individu dan kebebasannya sangatlah diagungkan. Setiap individu memiliki kebebasan berpikir masing-masing – yang akan menghasilkan paham baru. Ada dua paham, yakni demokrasi (politik) dankapitalisme (ekonomi). Meskipun begitu, bukan berarti kebebasan yang dimiliki individu itu adalah kebebasan yang mutlak, karena kebebasan itu adalah kebebasan yang harus dipertanggungjawabkan. Jadi, tetap ada keteraturan di dalam ideologi ini, atau dengan kata lain, bukan bebas yang sebebas-bebasnya.

  1. Pemikiran Tokoh Klasik dalam Kelahiran dan Perkembangan Liberalisme Klasik

Tokoh yang memengaruhi paham Liberalisme Klasik cukup banyak – baik itu dari awal maupun sampai taraf perkembangannya. Berikut ini akan dijelaskan mengenai pandangan yang relevan dari tokoh-tokoh terkait mengenai Liberalisme Klasik.

Martin Luther dalam Reformasi Agama.

Gerakan Reformasi Gereja pada awalnya hanyalah serangkaian protes kaum bangsawan dan penguasa Jerman terhadap kekuasaan imperium Katolik Roma. Pada saat itu keberadaan agama sangat mengekang individu. Tidak ada kebebasan, yang ada hanyalah dogma-dogma agama serta dominasi gereja. Pada perkembangan berikutnya, dominasi gereja dirasa sangat menyimpang dari otoritasnya semula. Individu menjadi tidak berkembang, kerena mereka tidak boleh melakukan hal-hal yang dilarang oleh Gereja bahkan dalam mencari penemuan ilmu pengetahuan sekalipun. Kemudian timbullah kritik dari beberapa pihak – misalnya saja kritik oleh Marthin Luther; seperti : adanya komersialisasi agama dan ketergantungan umat terhadap para pemuka agama, sehingga menyebabkan manusia menjadi tidak berkembang; yang berdampak luas, sehingga pada puncaknya timbul sebuah reformasi gereja (1517) yang menyulut kebebasan dari para individu yang tadinya “terkekang”.

John Locke dan Hobbes; konsep State of Nature yang berbeda

Kedua tokoh ini berangkat dari sebuah konsep sama. Yakni sebuah konsep yang dinamakan konsep negara alamaiah” atau yang lebih dikenal dengan konsepState of Nature. Namun dalam perkembangannya, kedua pemikir ini memiliki pemikiran yang sama sekali bertolak belakang satu sama lainnya. Jika ditinjau dari awal, konsepsi State of Nature yang mereka pahami itu sesungguhnya berbeda. Hobbes (1588 – 1679) berpandangan bahwa dalam ‘’State of Nature’’, individu itu pada dasarnya jelek (egois) – sesuai dengan fitrahnya. Namun, manusia ingin hidup damai. Oleh karena itu mereka membentuk suatu masyarakat baru – suatu masyarakat politik yang terkumpul untuk membuat perjanjian demi melindungi hak-haknya dari individu lain dimana perjanjian ini memerlukan pihak ketiga (penguasa). Sedangkan John Locke (1632 – 1704) berpendapat bahwa individu pada State of Nature adalah baik, namun karena adanya kesenjangan akibat harta atau kekayaan, maka khawatir jika hak individu akan diambil oleh orang lain sehingga mereka membuat perjanjian yang diserahkan oleh penguasa sebagai pihak penengah namun harus ada syarat bagi penguasa sehingga tidak seperti ‘membeli kucing dalam karung’. Sehingga, mereka memiliki bentuk akhir dari sebuah penguasa/ pihak ketiga (Negara), dimana Hobbes berpendapat akan timbul Negara Monarkhi Absolute sedangkan Locke, Monarkhi Konstitusional. Bertolak dari kesemua hal tersebut, kedua pemikir ini sama-sama menyumbangkan pemikiran mereka dalam konsepsi individualisme. Inti dari terbentuknya Negara, menurut Hobbes adalah demi kepentingan umum (masing-masing individu) meskipun baik atau tidaknya Negara itu kedepannya tergantung pemimpin negara. Sedangkan Locke berpendapat, keberadaan Negara itu akan dibatasi oleh individu sehingga kekuasaan Negara menjadi terbatas – hanya sebagai “penjaga malam” atau hanya bertindak sebagai penetralisasi konflik.

Adam Smith

Para ahli ekonomi dunia menilai bahwa pemikiran mahzab ekonomi klasik merupakan dasar sistem ekonomi kapitalis. Menurut Sumitro Djojohadikusumo, haluan pandangan yang mendasari seluruh pemikiran mahzab klasik mengenai masalah ekonomi dan politik bersumber pada falsafah tentang tata susunan masyarakat yang sebaiknya dan seyogyanya didasarkan atas hukum alam yang secara wajar berlaku dalam kehidupan masyarakat. Salah satu pemikir ekonomi klasik adalah Adam Smith (1723-1790). Pemikiran Adam Smith mengenai politik dan ekonomi yang sangat luas, oleh Sumitro Djojohadikusumo dirangkum menjadi tiga kelompok pemikiran. Pertama, haluan pandangan Adam Smith tidak terlepas dari falsafah politik, kedua, perhatian yang ditujukan pada identifikasi tentang faktor-faktor apa dan kekuatan-kekuatan yang manakah yang menentukan nilai dan harga barang. Ketiga, pola, sifat, dan arah kebijaksanaan negara yang mendukung kegiatan ekonomi ke arah kemajuan dan kesejahteraan mesyarakat. Singkatnya, segala kekuatan ekonomi seharusnya diatur oleh kekuatan pasar dimana kedudukan manusia sebagai individulah yang diutamakan, begitu pula dalam politik.

3. Sosialisme

Sosialisme adalah paham yang bertujuan membentuk negara kemakmuran dengan usaha kolektif yang produktif dan membatasi milik perseorangan

Titik berat paham ini pada masyarakat bukan pada individu sebagai suatu aliran pemikiran / paham tidak dapat dilepaskan dari pengaruh “liberalisme”.

Inti dari paham sosialisme adalah suatu usaha untuk mengatur masyarakat secara kolektif. Artinya semua individu harus berusaha memperoleh layanan yang layak demi terciptanya suatu kebahagiaan bersama. Hal ini berkaitan dengan hakikat manusia yang bukan sekedar untuk memperoleh kebebasan, tetapi manusia juga harus saling tolong-menolong.

Ciri utama sosialisme adalah pemerataan sosial dan penghapusan kemiskinan. Ciri ini merupakan salah satu faktor pendorong berkembangnya sosialisme. Hal ini ditandai dengan penentangan terhadap ketimpangan kelas-kelas sosial yang terjadi pada negara feodal.

Sosialisme yang kita kenal sekarang ini timbul sebagian besar sebagai reaksi terhadap liberalisme abad ke 19. Pendukung liberalisme abad ke 19 adalah kelas menengah yang memiliki industri, perdagangan dan pengaruh mereka di pemerintahan besar akibatnya kaum buruh terlantar.

Tokoh-tokoh sosialisme diantaranya adalah Thomas Uoge, Robert Owen, Saint Simon, Karl Heinrich Marx dan Proudhon.

Robert Owen (1881 – 1858)
Berasal dari Inggris, merupakan tokoh pertama yang mengembangkan benihbenih pemikiran sosialisme. Semasa hidupnya, Owen selalu memperhatikan nasib orang kecil/ buruh pabrik.

Bagaimanakah dengan pemikiran Owen tentang sosialisme? Silahkan Anda lanjutkan membaca uraian ini.

Pemikirannya tentang sosialisme dituangkan dalam buku berjudul “A View of Society, an Essay on the Formation of human Character”. Dalam bukunya tersebut, ia menyatakan bahwa lingkungan sosial berpengaruh pada pembentukan karakter manusia. Ia berusaha mencari caranya dengan meningkatkan kesejahteraan pekerjanya.

Karl Heinrich Marx (1818 – 1883) 
Ia menciptakan sosialisme yang didasarkan atas ilmu pengetahuan.
Dikenal sebagai teoritikus dan organisator gerakan sosialisme di Jerman. Ia mengembangkan sosialisme secara radikal. Karya Karl Marx yang terkenal adalah “Das Kapital” yang menyatakan bahwa sejarah manusia adalah sejarah perjuangan kelas dan pemenang dari peperangan itu adalah kaum proletar ( kaum buruh ).

Sosialisme pada masa penjajahan banyak mendapat simpati dari bangsa pribumi. Paham sosialisme semakin banyak berpengaruh setelah konsep ini dijadikan sebagai salah satu senjata menghadapi kolonialisme dan imperialisme. Di negara-negara Asia – Afrika, banyak pemimpin yang tertarik dengan ajaran sosialisme.

4. Demokrasi

Secara etimologi pengertian demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yakni “demos” yang artinya rakyat dan “kratos/kratein” artinya kekuasaan/ berkuasa. Jadi demokrasi adalah kekuasaan ada ditangan rakyat

Dalam hal ini demokrasi berasal dari pengertian bahwa kekuasaan ada di tangan rakyat. Maksudnya kekuasaan yang baik adalah kekuasaan yang berasal dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

Sejarah demokrasi berasal dari sistem yang berlaku di negara-negara kota (city state) Yunani Kuno pada abad ke 6 sampai dengan ke 3 sebelum masehi. Waktu itu demokrasi yang dilaksanakan adalah demokrasi langsung yaitu suatu bentuk pemerintahan dimana hak untuk membuat keputusan politik dan dijalankan secara langsung oleh seluruh warga negaranya yang bertindak berdasarkan prosedur mayoritas hal tersebut dimungkinkan karena negara kota mempunyai wilayah yang relatif sempit dan jumlah penduduk tidak banyak (kurang lebih 300 ribu jiwa). Sedangkan waktu itu tidak semua penduduk mempunyai hak :

  • bersifat langsung dari demokrasi Yunani Kuno dapat diselenggarakan secara efektif karena berlangsung dalam kondisi sederhana, wilayahnya terbatas serta jumlah penduduknya sedikit (kurang lebih 300 ribu jiwa dalam satu kota).
  • Ketentuan demokrasi
  • yang hanya berlaku untuk warga negara resmi.
  • Hanya bagian kecil dari penduduk.
  • Gagasan demokrasi Yunani hilang dari dunia Barat ketika Romawi Barat dikalahkakn oleh suku German. Dan Eropa Barat memasukkan Abad Pertengahan (AP).

Abad pertengahan di Eropa Barat dicirikan oleh struktur total yang feodal (hubungan antara Vassal dan Lord). Kehidupan sosial dan spiritual dikuasai Paus dan pejajabat agama lawuja. Kehidupan politiknya ditandai oleh perebutan kekuasaan antar bangsawan.
Dari sudut perkembangan demokrasi AP menghasilkan dokumen penting yaitu Magna Charta 1215. Ia semacam contoh antara bangsawan Inggris dengan Rajanya yatu John. Untuk pertama kali seorang raja berkuasa mengikatkan diri untuk mengakui dan menjamin beberapa hak bawahannya.

Mungkin Anda belum tahu siapa pemikir-pemikir yang mendukung berkembangnya demokrasi. pemikir-pemikir yang mendukung berkembangnya demokrasi antara lain: John Locke dari Inggris (1632-1704) dan Mostesquieu dari Perancis (1689-1755).

Menurut Locke hak-hak politik mencakup atas hidup, hak atas kebebasan dan hak untuk mempunyai milik (life, liberty and property).

Montesquieu, menyusun suatu sistem yang dapat menjamin hak-hak politik dengan pembatasan kekuasaan yang dikenal dengan Trias Politica.

Trias Politica menganjurkan pemisahan kekuasaan, bukan pembagian kekuasaan. Ketiganya terpisah agar tidak ada penyalahgunaan wewenang. Dalam perkembangannya konsep pemisahan kekuasaan sulit dilaksanakan, maka diusulkan perlu meyakini adanya keterkaitan antara tiga lembaga yaitu eksekutif, yudikatif dan legislatif.

Pengaruh paham demokrasi terhadap kehidupan masyarakat cukup besar, contohnya:

  • perubahan sistem pemerintahan di Perancis melalui revolusi.
  • revolusi kemerdekaan Amerika Serikat (membebaskan diri dari dominasi Inggris).

Saat ini demokrasi telah digunakan sebagai dasar dalam sistem pemerintahan di berbagai negara, termasuk dengan Indonesia. Di Indonesia istilah demokrasi ada kalanya digandengkan dengan kata Liberal, Terpimpin dan Pancasila.

Seringkah Anda mendengar kata-kata tersebut?

Namun perlu Anda ketahui, bahwa di sana terdapat perbedaan aliran pemikiran dalam penerapannya. Perbedaan itu menimbulkan berbagai macam penerapan pemerintahan.

Macam-macam demokrasi pemerintahan yang dianut oleh berbagi bangsa di dunia adalah demokrasi parlementer, demokrasi dengan pemisahan kekuasaan dan demokrasi melalui referendum. Marilah kita bahas satu-persatu.

Demokrasi Parlementer, adalah suatu demokrasi yang menempatkan kedudukan badan legislatif lebih tinggi dari pada badan eksekutif. Kepala pemerintahan dipimpin oleh seorang Perdana Menteri. Perdana menteri dan menteri-menteri dalam kabinet diangkat dan diberhentikan oleh parlemen. Dalam demokrasi parlementer Presiden menjabat sebagai kepala negara.

Demokrasi dengan sistem pemisahan kekuasaan, dianut sepenuhnya oleh Amerika Serikat. Dalam sistem ini, kekuasaan legislatif dipegang oleh Kongres, kekuasaan eksekutif dipegang Presiden, dan kekuasaan yudikatif dipegang oleh Mahkamah Agung.

Dengan adanya pemisahan kekuasaan seperti itu, akan menjamin keseimbangan dan menghindari penumpukan kekuasaan dalam pemerintah.

Demokrasi melalui Referendum : Yang paling mencolok dari sistem demokrasi melalui referendum adalah pengawasan dilakukan oleh rakyat dengan cara referendum. Sistem referendum menunjukkan suatu sistem pengawasan langsung oleh rakyat. Ada 2 cara referendum, yaitu referendum obligator dan fakultatif.

Referendum obligator atau wajib lebih menekankan pada pemungutan suara rakyat yang wajib dilakukan dalam merencanakan pembentukan UUD negara, sedangkan referendum fakultatif, menenkankan pada pungutan suara tentang rencana undang-undang yang sifatnya tidak wajib.

Untuk memudahkan Anda memahami uraian materi tersebut diatas, simaklah tabel berikut ini.

Nama Istilah

Penjelasan

Nasionalisme

Paham yang bersifat politik dan sosial dari suatu bangsa yang menempatkan kesetiaan tertinggi dari rakyatnya kepada bangsa dan negaranya.

Liberalisme

Pahan kebebasan yang menghendaki kebebasan Individu dalam bidang politik, ekonomi dan agama.

Sosialisme

Aliran yang digunakan sebagai dasar untuk menentang kepemilikan secara individu atau paham yang bertujuan membentuk negara kemakmuran dengan usaha kolektif dan membatasi milik perseorangan.

Demokrasi

Suatu paham yang mengakui segenap rakyat dalam pemerintahan rakyat.

 Sumber : (http://www.menu.sman3-kag.sch.id/onnet/onnet5/content/sejarah5.htm)

Kutipan Buku ” Teladan Bagi Generasi Pejuang” Karya DR. Samir Abdul Hamid Ibrahim

oleh : Sutihat Rahayu Suadh

Ini adalah sebagian kecil kutipan dari buku ” Teladan Bagi Generasi Pejuang” Karya DR. Samir Abdul Hamid Ibrahim . Yang menceritakan Syeh Abul a’la Al- Maududi antara pribadi, pemikiran dan karya-karyanya. Sangat Luar biasa kontribusinya terhadap jama’ah islamiyah diindia saat itu. Berikut beberapa kutipan yang bagi saya cukup menarik ;

 

“Islam bukanlah sebuah sistem filsafat kehidupan murni, Tetapi islam adalah sistem kehidupan yang sempurna dan komplit yang kita tidak pernah melihat satu contoh pun yang menyerupainya.” (Teladan Bagi Generasi Pejuan: 2004)

 

Bahkan di dalam penjara Al- maududi, Menyempurnakan tafsirnya, yaitu ” Tafhimul Qur’an”. barulah setelah berlalu 25 bulan, Hukum konvensional dihapuskan sesuai dengan keputusan mahkamah. Sehingga pada akhirnya pada tahun 1955 M Al- maududi pun dilepaskan dengan penuh kemuliaan dan dimuliakan, untuk kembali meneruskan mengibarkan panji agama di meban jihad. ( Teladan Bagi Generasi Pejuang : 2004: 35 )

 

Kata-kata ini merupakan garis besar yang diikuti oleh al-maududi dalam hidupnya. Dia meyakinkan pada semua orang bahwa aktivitas demi menegakkan agama itu sangat pantas menjadi tujuan hidup. Jalan ini bukan penuh dengan taman dan pemandangan yang indah , tetapi dipenuhi bahaya disetiap sisisnya dan penuh dengan srigala yang lapar. ( Teladan Bagi Generasi Pejuang : 2004: 19-20)

 

“Kita harus menerima hukum allah sebagai undang-undang negara, dan harus mengumumkan berakhirnya undang-undang yang menyalahi Al Quran Dan Sunnah. Undang-udangpun harus di jalankan dengan apa yang ada didalam syari’at.” ( Teladan Bagi Generasi Pejuan: 2004)

 

“Walau begitu aku telah meletakkan diriku di jalan awal, dan akan ku berikan jiwaku untuk mencapai akhir tujuan “( Teladan Bagi Generasi Pejuan: 2004:60)

 

” Tetapi keputusasaan tidak dapat menemukan jalan untuk masuk kedalam hati kami, kapanpun .” ( Teladan Bagi Generasi Pejuan: 2004:57)

 

“Aku berusaha Memahami Agama bukan dari orang-orang terdahulu atau sekarang, tetapi dari Al-qur’an dan As- sunah ” ( Teladan Bagi Generasi Pejuan: 2004:60)

 

“Sekarang bukan saatnya untuk membuang-buang waktu. Aku percaya bahwa semangatku tidak akan sia-sia jika suaraku penuh ikhlas dan yakin” (Syeh Abul A’la Al maududi : 2004: 46 )

 

“Letakanlah Al-quran ditangan kalian, terangi hidup kalian dan terbanglah diatas angkasa ” (Syeh Abul A’la Al maududi : 2004: 47 )

 

Globalisasi dan Pemikiran Islam

oleh : Sutihat rahayu suadh

1Pengertian Globalisasi

Globalisasi adalah proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek-aspekkebudayaan lainnya.[1][2] Kemajuan infrastruktur transportasi dan telekomunikasi, termasuk kemunculan telegraf dan Internet, merupakan faktor utama dalam globalisasi yang semakin mendorong saling ketergantungan (interdependensi) aktivitas ekonomi dan budaya.[3]

Meski sejumlah pihak menyatakan bahwa globalisasi berawal di era modern, beberapa pakar lainnya melacak sejarah globalisasi sampai sebelum zaman penemuan Eropa dan pelayaran ke Dunia Baru. Ada pula pakar yang mencatat terjadinya globalisasi pada milenium ketiga sebelum Masehi.[4][5] Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, keterhubungan ekonomi dan budaya dunia berlangsung sangat cepat.

Istilah globalisasi makin sering digunakan sejak pertengahan tahun 1980-an dan lebih sering lagi sejak pertengahan 1990-an.[6] Pada tahun 2000, Dana Moneter Internasional (IMF) mengidentifikasi empat aspek dasar globalisasi: perdagangan dan transaksi, pergerakan modal daninvestasi, migrasi dan perpindahan manusia, dan pembebasan ilmu pengetahuan.[7] Selain itu, tantangan-tantangan lingkungan sepertiperubahan iklim, polusi air dan udara lintas perbatasan, dan pemancingan berlebihan dari lautan juga ada hubungannya dengan globalisasi.[8] Proses globalisasi memengaruhi dan dipengaruhi oleh bisnis dan tata kerja, ekonomi, sumber daya sosialbudaya, dan lingkungan alam. (http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi)

Menurut asal katanya, kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dannegara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.

Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama. Theodore Levitte merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah Globalisasi pada tahun 1985.

Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan globalisasi:

  • Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.
  • Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.
  • Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.
  • Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal.
  • Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda dengan keempat definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masing-masing negara masih mempertahankan status ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia global memiliki status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.

 Ciri globalisasi

Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena globalisasi di dunia;

Hilir mudiknya kapal-kapal pengangkut barang antar negara menunjukkan keterkaitan antar manusia di seluruh dunia.

  • Perubahan dalam Konstantin ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, daninternet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda.
  • Pasardan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO).
  • Peningkatan interaksikultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional). saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.
  • Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional,inflasi regional dan lain-lain.

Kennedy dan Cohen menyimpulkan bahwa transformasi ini telah membawa kita pada globalisme, sebuah kesadaran dan pemahaman baru bahwa dunia adalah satu. Giddens menegaskan bahwa kebanyakan dari kita sadar bahwa sebenarnya diri kita turut ambil bagian dalam sebuah dunia yang harus berubah tanpa terkendali yang ditandai dengan selera dan rasa ketertarikan akan hal sama, perubahan dan ketidakpastian, serta kenyataan yang mungkin terjadi. Sejalan dengan itu, Peter Drucker menyebutkan globalisasi sebagai zaman transformasi sosial.

Teori globalisasi

Cochrane dan Pain menegaskan bahwa dalam kaitannya dengan globalisasi, terdapat tiga posisi teoritis yang dapat dilihat, yaitu:

  • Paraglobalis percaya bahwa globalisasi adalah sebuah kenyataan yang memiliki konsekuensi nyata terhadap bagaimana orang dan lembaga di seluruh dunia berjalan. Mereka percaya bahwa negara-negara dankebudayaanlokal akan hilang diterpa kebudayaan dan ekonomi global yang homogen. meskipun demikian, para globalis tidak memiliki pendapat sama mengenai konsekuensi terhadap proses tersebut.
    • Paraglobalis positif dan optimistis menanggapi dengan baik perkembangan semacam itu dan menyatakan bahwa globalisasi akan menghasilkan masyarakat dunia yang toleran dan bertanggung jawab.
    • Paraglobalis pesimis berpendapat bahwa globalisasi adalah sebuah fenomena negatif karena hal tersebut sebenarnya adalah bentuk penjajahan barat (terutamahttp://id.wikipedia.org/wiki/Amerika_Serikat”>Amerika Serikat) yang memaksa sejumlah bentuk budaya dan konsumsi yang homogen dan terlihat sebagai sesuatu yang benar dipermukaan. Beberapa dari mereka kemudian membentuk kelompok untuk menentang globalisasi (antiglobalisasi).

Globalisasi ini tidak terjadi serta merta. Pada awalnya manusia kebanyakan bekerja sebagai petani/agrarian. Pada fase ini mereka bertahan hidup baik secara individu maupun kelompok, tetapi menggantungkan hidupnya pada tanah, dan para pekerja yang bersifat komunitas local.  Para petani masih dengan peralatan yang sangat sederhana, bahkan tidak jarang berpindah dari satu lahan ke lahan lainnya, ketika kesuburan tanah sudah mulai berkurang.

            Karena pertumbuhan jumlah penduduk yang menyebabkan keterbatasan kepemilikan lahan, dan mulai berkembangnya pengetahuan, manusia mulai menjalani fases berikutnya, yaitu industrialisasi. Industrialisasi ini ditandai oleh beberapa hal, antaralain:

  1. literacy – manusia sudah mulai melakukan komunikasi secara intesive tidak hanya secara langsung melainkan sudah mulai menggunakan teknologi dan sistem organisasi yang efisien.
  2. Para pekerja pada fase ini pun tidak lagi hanya berasal dari satu daerah saja melainkan sudah bercampur dengan para pekerja dari daerah lain. Artinya bahwa di era modernisasi dari segi informasi, komunikasi dan telekomunikasi sudah jauh lebih baik dibandingkan pada masa primitif, karena sudah dengan cempat dapat melampui batas-batas wilayah bahkan negara.

 

Interaksi dan cara berfikir yang sudah lebih maju di era globalisasi tidak hanya menyebabkan terjadinya sharing budaya dalam artian fisik seperti bercampurnya bahasa satu dengan lainnya, melainkan juga memungkinkan terjadinya sharing cara berfikir. Bahkan keragaman yang ditemukan juga mendorong terjadinya upaya melakukan standardisasi terhadap persepsi yang berkembang di tengah masyarakat supaya nilai subjektifitas yang berkembang bisa diminimalisir. Interaksi yang mendalam di tengah masyarakat ini berlangsung secara berkelanjutan, baik dalam bidang sosial, ekonomi, dan berbagai aspek kehidupan lainnya.

 2Islam dan Globalisasi

Era ini sering disebut sebagai era global. Manusia hidup dengan segala bentuk kemajuan. Modernisasi yang berlangsung disegala bidang menyebabkan banyak komentar bahwa globalisasi merupakan suatu kemestian yang tidak bisa dihindari. Siap atau tidak siap, globalisasi sudah masuk dalam ruang kehidupan kita sehari-hari. Handphone, televisi, internet, dan sejenisnya merupakan media globalisasi yang kita pakai. Pertukaran budaya dan pemikiran lintas wilayah dan negara menggejala. Dalam konteks ini, islam mempunyai persoalan serius dengan globalisasi. Barat menuduh islam sebagai agama yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Islam adalah agama abad ke-7 yang bersumber dari Alquran dan sunnah yang statis, sementara kehidupan senantiasa dinamis berkembang. Tentu saja islam dinilai tidak mampu mengimbangi kemajuan yang begitu cepat.

Lebih dari itu, sekarang di kenal adanya global chaos theories. Maksudnya bahwa sekarang sudah terjadi perang baru pasca berlangsungnya perang dingin. Perang baru itu, bukan lagi atas nama ekonomi, atau sekedar ideologi, tapi lebih konkret dalam bentuk perang antar agama, misalnya islam dan kristen. Menurut barat, perang seperti ini tidak lagi bisa dihindari.

Franciscus Fukuyama misalnya, ia menulis buku yang berjudul  the end of history, yang menggambarkan bahwa sekarang ini tidak ada lagi perang serius dalam hal pemikiran/ideology. Barat dengan paham liberalismenya sudah memenangkan peperangan melawan komunisme. Terbukti bahwa uni soviet sudah kolaps. Dan seterusnya semua ideology harus sesuai dengan ideology barat sebagai pemenang.

Pendapat Fukuyama tersebut “dibantah”[1] oleh Samuel Huntington. Huntington justru menggambarkan bahwa barat sekarang mempunyai musuh baru, yaitu Islam. Menurut Huntington salah satu penyebab konflik ini adalah karena penolakan islam terhadap globalisasi sementara barat melahirkan dan mendukung globalisasi tersebut. Islam dinilai tidak mampu menyesuaikan diri terhadap perkembangan kondisi. Islam mengganggap globalisasi hanya akan merugikan, karena menyebabkan beberapa kondisi.

Paling tidak ada beberapa hal yang menjadi pengaruh globalisasi di tengah umat islam, antaralain:

  1. keterasingan agama dalam proses globalisasi (religion’s salience within globalizing processes).
  2. munculnya gerakan Islam radikal (radical Islam’s)
  3. peningkatan jumlah sekularisme sebagai diskursus (the rise of secularism as a dominant discourse)

Dalam proses globalisasi ini, menurut Sadowski, akan terjadi proses yang terpragmentasi, penghilangan kedaulatan Negara, dan lahirnya loyalitas kepada system sosial, budaya dan agama baru, yaitu globalisasi. Karena itu, dalam pandangan Islam, globalisasi sebenarnya tidak lebih dari bentuk dominasi barat terhadap dunia Islam karena peradaban yang muncul adalah hakikatnya peradaban barat – kapitalisme, demokrasi, dan liberalisme.

Pandangan tersebut muncul dari pandangan bahwa globalisasi dilahirkan dari modernisasi. Menurut barat, modernisasi hanya bisa dilakukan ketika dilakukan sekularisme, yaitu pembedaan urusan agama dengan dunia. Hal ini rill terjadi dalam sejarah Kristen di Eropa.

Jika globalisasi sudah sedemikian berkembang di dunia, termasuk di Negara-negara Islam, maka sebenarnya ada kemiripan dalam hal hubungan yang tidak mengenal batas-batas Negara dengan Islam. Islam mengenal konsep ummah, yang dinilai sebagai sebuah komunitas masyarakat muslim yang hidup dalam ikatan persaudaraan yang melintasi batas-batas negara dengan prinsip syariat yang mereka jalankan atau ingin dijalankan.

            Hanya saja oleh barat, mereka sering dikenal sebagai kelompok islam fundamental karena dinilai menerapkan islam dengan cara yang sangat literal, tanpa adanya kompromi, interpretasi atau penyesuaian terhadap perkembangan zaman. Kelompok ini menurut barat adalah mereka yang sudah menjadikan islam sebagai budaya, dan budaya itu sebagai islam. Satu hal lagi yang sulit dipahami oleh barat adalah ketaatan mereka terhadap ulama sebagai pemimpin mereka.

            Menurut barat, seharusnya yang dilakukan adalah tidak dengan membangun bangsa berdasarkan ikatan agama, melainkan berdasarkan budaya etnis. Ikatan agama dalam bernegara hanyalah peninggalan dari ajaran agama abad ketujuh yang tidak pernah berubah. Bagaimana mungkin suatu dinamisasi yang berlangsung dan berubah cepat di tengah masyarakat hanya diselesaikan dengan Alquran dan hadits yang bersifat stagnan.

Barat berfikir bahwa islam tidak mampu menyesuaikan diri dari globalisasi yang berkembang. Padahal seharusnya dunia islam merupakan subjek atau aktor yang mempunyai potensi sama seperti negara-negara non muslim yang berhasil. Oleh karena itulah seharusnya simbol-simbol agama yang selama ini banyak digunakan harus ditinggalkan dan menggantikannya dengan budaya etnis.

Atau yang lebih halus adalah pendapat Gellner (Gellner 1992, p. 22), yang menyatakan bahwa,

the world of Islam demonstrates that it is possible to run a modern, or at any rate modernizing, economy, reasonably permeated by the appropriate technological, educational, organizational principles, and combine it with a strong, pervasive, powerfully internalized Muslim conviction and identi.cation.

 

Hanya saja menurut beliau bahwa islam harus memberikan tafsir baru yang tidak sama dipahami dengan kebanyakan umat islam selama ini. Artinya islam adalah agama yang benar, tetapi dari segi penafsiran harus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Sebenarnya mungkin tidak ada masalah dengan pemikiran ini apabila dibawah dalam urusan mu’amalah, justru membawa kemajuan yang lebih baik di kalangan umat islam. Namun ketika konsep tersebut menabrak sistem yang ada dalam pemahaman akidah, syariah dan ibadah umat islam, tentu akan menjadi persoalan serius.

            Singkat cerita, apa yang ditawarkan barat tentang upaya mencapai kemajuan di tengah umat islam memunculkan perpecahan di kalangan muslim. Ada yang serta merta mengikuti pemikiran barat, tetapi banyak juga yang mencoba untuk tetap bertahan dengan pemahaman keislaman mereka. Kelompok pertama biasanya mereka yang sudah tinggal di daerah kota, borju, dan ketika memahami sesuatu selain dengan melihat tekstual Alquran dan Hadits, juga dengan intens melakukan penamsiran-penafsiran baru. Merekalah yang sering disebut sebagai the high muslim. Sementara kelompok kedua, dinilai sebagai barisan masyarakat yang keras, percaya magic, dan memahami sangat saklak dalam artian tekstual (low muslim). Kelompok inilah yang sering disebab ibu yang melahirkan sikap fundamentalisme di tengah umat islam.

            Kaum fundmentalisme senantiasa bertahan dengan konsep ummah. Landasan pemahaman kelompok ini berdasarkan sejarah nabi, para sahabat dan kekhalifahan islamiyah. Jika tidak sampai pada taraf mendirikan kembali khalifah islamiyah, minimal mereka menginginkan tegaknya syar’iat islam di negara masing – masing. sumber : (gondayumitro.com/wp-content/uploads/2014/…/Islam-dan-globalisasi.do.id)

3. Dampak Globalisasi terhadap Islam

Tak ayal, kaum Muslim dunia telah memasuki sebuah era baru. Akhir dari Perang Dunia I diikuti dengan pembentukan Liga Nasional (League of Nations) dan Amerika berupaya membangun sebuah tatanan dunia yang didasarkan pada Asas Wilson yang selanjutnya menjadi bagian dari Deklarasi Amerika tentang Hak Asasi Manusia.

Sebagai dampak dari globalisasi terhadap dunia Islam telah dicatat oleh Feisal Abdul Rauf. Menurutnya, dalam kurun delapan puluh tahun, telah terjadi sejumlah peristiwa penting dalam sejarah Islam, di antaranya:

  1. 1924, Dinasti Utsmaniyah berakhir dan Inggris, Prancis, dan Rusia memisahkan dinasti tersebut  menjadi sejumlah negara yang terpisah.
  2. 1947, India terpecah menjadi Pakistan dan India. Sebuah upaya terencana untuk menciptakan sebuah negara-bangsa Islam yang ditetapkan berdasarkan pertimbangan geografis.
  3. 1948, Israel dibentuk sebagai negara-bangsa Yahudi yang dalam batas wilayah dunia Muslim.
  4. 1979, Revolusi Khomeini di Iran.
  5. 1989, Tembok Berlin runtuh dan berakhirnya Perang Dingin yang mengubah kalkulasi politik dengan memandang Afganista dan dunia Islam.
  6. 11 September 2001, drama penyerangan bom bunuh diri dalam sejarah yang terjadi di daratan Amerika.
  7. 2003, untuk pertama kalinya militer Amerika menduduki Irak dengan ratusan ribu pasukan guna membentuk sebuah negara Irak baru.

Pada era globalisme, gerakan-gerakan Islam modern pun bermunculan dengan varian bentuknya. Oleh Bruce Lawrence disebutnya sebagai “pola interaksi antara Eropa dan dunia Islam”.

Gerakan militan Islam dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu: teologi, politik, budaya, dan pendidikan. Adalah aspek teologis yang menjadi isu sentral dalam uraian ini. Dalam konteks ini, aspek teologis dapat dijelaskan dari dua hal.Pertama, ajaran Islam sangat “resisten” terhadap perbedaan pandangan tentang sekularisasi. Fenomena modern tak ayal memunculkan pandangan bahwa sekularisasi hanya akan menihilkan peran agama dalam kehidupan umat manusia. Agama dan sekularisasi acap kali diposisikan sebagai dua entitas yang berlawanan, sehingga meniscayakan terjadinya penentangan terhadap konsep sekularisasi. Kedua, interpretasi terhadap dogma agama yang tertuang dalam teks. Fenomena ini adalah yang paling dominan dalam membentuk perbedaan paradigma keagamaan. Asumsi ini juga terbukti pada fenomena perbedaan pendapat di kalangan ulama mazhab fikih yang didasarkan oleh cara pembacaan terhadap teks ilahi yang sama namun menghasilkan produk fikih yang berbeda. Demikian halnya dengan gerakan militansi Islam besar peluangnya untuk dipengaruhi oleh cara pembacaannya terhadap teks al-Qur’an dan hadis.

Terkait dengan itu, fenomena “kebangkitan Islam” oleh John L. Esposito menyebutkan ada dua kecenderungan besar, yaitu identitas komunal dan demokratisasi. Keduanya adalah representasi tuntutan terhadap pemberdayaan rakyat dan pengakuan identitas dalam konteks aktivitas dan pengalaman manusia yang semakin global. Situasi dan kondisi yang khas di setiap wilayah dunia membentuk ekspresi kedua kecenderungan tersebut, sehingga terkadang saling melengkapi dan terkadang pula saling bertentangan. Kendati berbeda, namun perkembangan regional turut memengaruhi dan dipengaruhi oleh perkembangan global yang keduanya tidak dapat dipisahkan.

Tidak ada subjek diskusi publik kontemporer yang lebih menarik perhatian dan kebingungan kecuali diskusi seputar hubungan antara ‘Islam’ dan ‘Barat’; baik yang berkaitan dengan hubungan antara pemikiran Islam dan pemikiran Barat, hubungan antara negara-negara Islam dan negara-negara non-Islam, maupun hubungan antara orang Muslim dan orang non-Muslim yang terjadi di negara Barat; semua hubungan tersebut memiliki kecenderungan di kedua belah pihak, yakni kecenderungan untuk menuju ke arah sikap optimis dan kritis. Di sini sengaja dipilih term ‘kritis’ karena kelompok kedua ini tidak bisa dibilang pesimis terhadap globalisasi, namun mereka menerima globalisasi dengan kritis. Kekritisan tersebut kemudian memunculkan sikap kreatif dan inovatif dalam membendung dampak negatif globalisasi.

Bagaimana umat Islam menanggapi globalisasi yang telah mengubah banyak hal dalam kehidupan mereka?

  1. Optimis :Globalization from Below sebagai Sebentuk Perlawanan

Pihak yang optimis melihat globalisasi sebagai peluang bagi umat Islam untuk memberikan kontribusi sumbangan pemikiran agar Islam bisa diterima oleh peradaban global yang kini dominan. Akber S. Ahmed, adalah representasi dari sikap optimis semacam ini. Ahmed menguraikan temuannya ini dalam kapasitasnya sebagai intelektual Muslim yang banyak terlibat dengan media Barat sehingga tidak heran kalau realitas posmodernisme baginya adalah realitas media. Dalam hal ini, Ahmed memposisikan diri sebagai seorang posmodernis afirmatif.

            Hal ini bisa terlihat dari kegirangannya untuk menyambut semangat pluralisme-posmodernisme yang gaungnya di Barat sudah sangat kuat. Bila diterjemahkan dalam kontes hubungan Barat dan Islam, Ahmed membayangkan bahwa pluralism posmodernisme menjanjikan situasi yang lebih dialogis.

Dalam analisis Ahmed, globalisasi media yang disokong jaringan korporasi modal internasional telah menembus batasan kultural, geografis, dan negara sedemikian rupa sehingga beragam cara pandang bertemu dalam tingkat yang intensif. Dengan dukungan ajaib teknologi, media audio-visual bahkan mampu menghadirkan secara serentak beragam wacana menjadi satu paket sajian media. Dalam media; ide filsafat, khotbah, agama, fakta sejarah, science-fiction, dan budaya pop berkelindan menjadi satu.

Dalam Islam in the Age of Postmodernity, Ahmed menegaskan bahwa posmodernisme telah menyentuh sisi terdalam agama Islam; meliputi studi-studi Islam dan cara pandang para intelektual Muslim. Para intelektual Muslim yang menularkan perubahan drastis dalam paradigma studi Islam ini mayoritas berdiam di negeri-negeri Barat. Perubahan drastis ini, menurut Ahmed, dinisbatkan kepada fenomena yang disebut ‘globalisasi’. Merujuk definisi yang diberikan Anthony Giddens, Ahmed memaknai globalisasi identik dengan perkembangan secara di ranah teknologi, transportasi, serta informasi yang menyebabkan ujung dunia sekalipun bisa dijangkau dengan mudah.

Sebagai seorang intelelektual Muslim yang mengalami fase-fase awal perkembangan posmodernisme, Ahmed mengetengahkan contoh yang bagus dari proses globalisasi dengan mengamati kontroversi seputar Salman Rushdie yang terjadi di akhir tahun 1980-an di Inggris akibat penyebaran buku The Satanic Verses. Dalam waktu beberapa jam saja, perkembangan yang terjadi di Inggris langsung mendapat respon dari orang-orang Muslim yang hidup di belahan benua lain; mereka yang ada di Islamabad dan Bombay. Pada akhirnya, orang-orang Muslim yang memprotes tersebut rela mati demi mengutarakan protes keras mereka terhadap buku Salman Rusdie yang isinya menghina figur suci umat Islam, yakni Rasulullah Muhammad SAW. Timbul reaksi dari berbagai kalangan; pemerintah mengeluarkan pernyataan, media berbicara, editorial, ketegangan dan protes mewarnai perdebatan di media cetak maupun elektronik. Tidak pernah ada dalam sejarah sebuah peristiwa berkembang dan mendapat respon begitu cepat serta luas seperti kasus Salman Rusdie ini.

Bagaimana dengan internet? Menilik fenomena worldwide world atau yang populer dengan nama internet, sangat menarik ketika fenonema ini dihubungkan dengan keberadaan umat Islam yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Internet memunculkan apa yang dinamakan “globalizing the local”, yakni memasukkan wacana Islam normatif ke wacana Barat melalui teknologi informasi. Konteks ini berbicara tentang diaspora umat Islam, terutama yang berimigrasi di Eropa dan Amerika Utara. Mereka membangun komunitas Muslim yang solid di negara-negara Barat, yang oleh Benedict Anderson disebut “creole” dari information superhighway; aktor-aktor politik yang kekuatan politiknya terletak pada adopsi yang mereka lakukan terhadap teknologi yang memungkinkan mereka untuk mencetak secara elektronik dan mentransfer informasi. Internetlah yang telah menjadikan diaspora umat Islam di negeri Barat mampu mengekspresikan keyakinan agama mereka dengan sangat masif. Hal ini semakin menguatkan identitas mereka sebagai Muslim.

Lebih dari itu, Karim H. Karim memandang ‘encounter’ atau persentuhan diaspora umat Islam dengan internet di negara-negara Barat – terutama di Amerika Utara, Eropa dan Australia; sekaligus memunculkan fenomena baru yang dinamakan ‘diasporic faithful’. Fenomena ini menarik untuk dicermati karena ‘diasporic faithful’ telah menjadi salah satu aspek dari gerakan perlawanan yang disebut ‘globalization from below’. Ide mengenai ummah melingkupi seluruh dunia namun bersatu dalam beberapa ide dasar, prefigure sifat dasar diaspora yang mengglobal. Diaspora Muslim transnasional (yang dihubungkan oleh kelompok, asal negara, dan/atau aliansi politik) menggunakan teknologi yang menjadi bagian dari top-down globalization seperti telepon, fax, handphone, digital broadcasting satellite, dan internet. Uniknya, diaspora Muslim transnasional menggunakan teknologi ini untuk mengembangkan komunikasi alternatif dengan network yang mensupport sebuah globalization from below. Dalam beberapa kasus, network-network semacam ini mampu melakukan counter terhadap pembatasan yang dilakukan pemerintah negara-negara Muslim, misalnya the Kurdish MED-TV dan televisi yang dimiliki oleh Ahmadiyyah Internasional.

Seperti yang telah dijelaskan oleh Giddens, globalisasi pada pokoknya berarti proses interkoneksi yang terus meningkat di antara berbagai masyarakat sehingga kejadian-kejadian yang berlangsung di sebuah negara mempengaruhi negara dan masyarakat lainnya. Dunia yang terglobalisasi adalah dunia dimana peristiwa-peristiwa politik, ekonomi, budaya, dan sosial semakin terjalin erat dan merupakan dunia dimana kejadian-kejadian tersebut berdampak secara besar. Dengan kata lain, kebanyakan masyarakat dipengaruhi secara ekstensif dan lebih intensif oleh peristiwa yang terjadi di masyarakat lain. Peristiwa itu pada dasarnya berkaitan dengan kehidupan sosial, ekonomi, dan politik.

Menurut IMF (International Monetary Fund) sebagai salah satu institusi pilar globalisasi, globalisasi ekonomi adalah sebuah proses historis. Globalisasi merujuk pada integrasi ekonomi yang terus meningkat di antara bangsa-bangsa di muka bumi, terutama lewat arus perdagangan dan keuangan.

Sementara itu institusi pilar lain dari globalisasi, yakni Bank Dunia (World Bank), menyatakan bahwa inti globalisasi ekonomi adalah proses sharing kegiatan ekonomi dunia yang berjalan melanda semua masyarakat di berbagai negara dengan mengambil tiga bentuk kegiatan, yakni perdagangan internasional, investasi asing langsung dan aliran pasar modal.

  1. Kritis : Globalisasi Sarat denganWorldview Barat

Pihak yang pesimis memandang curiga pada globalisasi dengan beberapa alasan; antara lain :

Pertama, istilah ’globalisasi’ perlu ditelaah secara teliti. Ia bukanlah istilah yang bisa dimaknai secara subjektif. Artinya, globalisasi membawa agenda yang penuh dengan world-view Barat.

Dalam diskusi seputar globalisasi, jelas sudah bahwa istilah ‘globalisasi’ tidak melulu menjadi milik bidang ilmu bisnis namun menjadi diskusi interdisipliner dalam bidang ilmu sosial. Dalam konteks ini mungkin ada sebuah argumen yang menyatakan bahwa masing-masing definisi mengindikasikan istilah dari perspektif tertentu, namun pada akhirnya, seluruh definisi menggiring kepada globalisasi Anglo Saxon; yang pada akhirnya akan menuju ke satu bentuk comprehensive globalization yang melibatkan seluruh kekuatan yang akan mengarahkan dunia kepada sebuah desa buana (global village), mempersempit jarak, menghomogenkan budaya, mereduksi kedaulatan nasional dan batas-batas hubungan politik. Dalam konteks ini, para intelektual sepakat dengan Ali Mazrui serta intelektual-intelektual lain yang memiliki argumen bahwa ‘globalisasi’ merupakan “desanisasi dunia (villagization of the world)”. Bagaimanapun juga, konsep desanisasi dunia tidak dimaknai sebagai sebuah kulminasi positif dimana seluruh penduduk bumi akan bisa terlibat, sejajar, dan bahkan terintegrasi secara harmonis, namun globalisasi lebih mengacu kepada proses homogenisasi global yang dengan sengaja dikonstruk oleh kepentingan Amerika dan negara-negara Barat lainnya.

Mark Levine mengatakan bahwa pengalaman umat Islam terkait globalisasi dimaknai sebagai sebuah ‘a post-modern culturalism, yang berkaitan erat dengan apa yang disebut kulturalisasi politik dan ekonomi, sebagai momen yang menegaskan terjadinya globalisasi kontemporer. Mensikapi diskursus semacam ini, para intelektual Muslim meminta apa yang dinamakan ‘hak untuk berbeda’ secara kultural. Fokus para sarjana Muslim pada hak untuk berbeda secara kultural ini menjadi sangat krusial, sebab globalisasi dimaknai sebagai dasar pikiran atau legitimasi bagi semakin tingginya tingkat kemiskinan serta kesenjangan di antara negara-negara di dunia.

            Kedua, para intelektual Muslim sepakat, bahwa globalisasi menandai sebuah kontinuitas dominasi dan hegemoni Barat yang telah berlangsung selama ratusan tahun, dimana sekarang ini Amerika memanfaatkan globalisasi untuk meruntuhkan norma-norma politik, ekonomi, dan budaya yang eksis di negara-negara non Barat. Dalam konteks ini, Amerika menggunakan yayasan-yayasan budaya/ideologi globalisasi. Lewat yayasan-yayasan ini, Amerika ingin merealisasikan tujuan-tujuan imperialismenya tanpa menyebabkan reaksi-reaksi revolusioner, seperti yang pernah dilakukan oleh imperialisme Barat pada masa lalu. ‘Fine power’ (kekuatan yang menyenangkan),merupakan istilah yang sangat tepat untuk menggambarkan pemanfaatan yayasan-yayasan milik Amerika tersebut.

Pesimisme para sarjana Muslim seperti yang dijelaskan Mark Levine di atas, mendapatkan momennya ketika globalisasi tiba pada fase ketiga perjalanannya, yakni pasca Perang Dingin. Setelah Uni Soviet runtuh, praktis gravitasi politik internasional terpusat ke Amerika sehingga muncul istilah ’center’ dan ‘periphery’ yang dipopulerkan oleh Barry Buzan. Dominasi dan hegemoni politik kebijakan luar negeri Amerika Serikat semakin signifikan manakala peristiwa WTC 9/11 terjadi. Secara sepihak, George W. Bush yang kala itu menjabat sebagai presiden, mengeluarkan frase “axis of evil” yang ditujukan kepada siapapun yang berani menentang politik kebijakan luar negerinya.

Jika menilik pada latar belakang penolakan umat Islam terhadap globalisasi, maka globalisasi di sini diasosiasikan dengan Westernisasi, yang mereduksi bahkan mendekonstruksi nilai-nilai (values) non Barat. Westernisasi, secara spesifik dikatakan sebagai ghazwul fikri (perang pemikiran). Istilah ini mulai popular sejak tahun 1990. Buku pertama yang mengulas tentang ghazwul fikri adalah buku yang ditulis oleh A.S.Marzuq berjudul “Ghazwul Fikri” terbitan Pustaka al-Kautsar tahun 1990.

Istilah Westernisasi sendiri menandakan terdapatnya proses pengadopsian budaya Barat dalam bidang industri, teknologi, hukum, politik, ekonomi, gaya hidup, abjad, agama, filsafat, serta nilai-nilai.

Terlepas dari ketidaksepakatannya terhadap pihak-pihak yang melihat globalisasi sebagai sarana menyebarkan Westernisasi, serta menjadi semacam ”kutukan Barat” terhadap budaya serta nilai-nilai non Barat; Amartya Sen mengakui bahwa globalisasi merupakan world heritage (warisan dunia), bukan sekedar kumpulan dari budaya lokal yang berbeda.

Globalisasi sebagai ’world heritage’ ditanggapi secara kritis oleh S.M.Mohamed Idris. Dalam makalahnya yang berjudulMenyanggah Globalisasi-Agenda Bertindak Dunia Islam’, S.M. Mohamed Idris mengemukakan analisanya, bahwa gloabalisasi adalah suatu proyek yang khusus, dicetuskan, dirancang, dan diperkenalkan oleh negara-negara kaya yang konon maju serta canggih.  Negara-negara kaya ini kemudian memaksa negara-negara lain yang sedang berkembang dan miskin agar turut aktif terlibat dalam proses globalisasi tanpa kekritisan. Imbas negatif globalisasi juga melanda Dunia Islam. Globalisasi menjadi ancaman serius bagi umat Islam; tidak hanya terbatas dalam bentuk eksploitasi ekonomi dan pemiskinan, namun ia juga mengikis keyakinan, nilai, budaya, dan tradisi Islam.

Westernisasi yang dihantarkan secara masif oleh globalisasi, telah menimbulkan problem yang semakin serius ketika filsafat posmodernisme dilaunching oleh para pemikir Barat kontemporer anti modernisme semacam Friedrich Nietzsche, Martin Heidegger, Thomas Samuel Kuhn, Jacques Derrida, Michele Foucault, Jean Francois Lyotard, Richard Rorty, Jean Baudrillard, dan Fredric Jameson. Posmodernisme menawarkan sebuah konsep yang tidak terstruktur dan berbasis relativisme. Posmodernisme menghancurkan icon, struktur, cara berpikir lama untuk diganti dengan cara berpikir baru.

Filsafat posmodernisme yang membawa konsekuensi globalisasi dikritik dengan keras oleh Ziauddin Sardar. Dalam bukunya Posmodernism and Other, Sardar mengemukakan keberatannya atas posmodernisme yang tidak lebih dari kelanjutan episode dalam peradaban Barat yang dimulai dengan kolonialisme dan perluasan pengaruh guna menjajah pemikiran orang-orang dan masyarakat non-Barat.

Ketika merasuki pemikiran umat Islam, posmodernisme meruntuhkan bangunan Islam sebagai agama dan worldview.Doktrin relativisme mendekonstruksi konsep kebenaran. Tidak ada kebenaran absolut sebab kebenaran itu relatif. Konsekuensinya, tafsir kitab suci menjadi relatif. Pada akhirnya, keyakinan terhadap agama menjadi tidak ada artinya lagi.

Hamid Fahmy Zarkasyi mempunyai tesis yang secara tepat mampu menjelaskan posisi agama dalam dunia posmodernisme. Menurutnya, agama tidak lagi berhak mengklaim punya kuasa lebih terhadap sumber-sumber nilai yang dimiliki manusia seperti yang telah diformulasikan oleh para filosof. Jadi, agama dipahami sebagai sama dengan persepsi manusia sendiri yang tidak memiliki kebenaran absolut. Oleh sebab itu agama mempunyai status yang kurang lebih sama dengan filsafat dalam pengertian tradisional.

Transendensi agama di era globalisasi dihadapkan pada ketegangan-ketegangan dialektis, antara implikasi-implikasi globalisasi dengan keharusan agama untuk tetap mempertahankan aspek transendetal.

Bagaimana globalisasi mampu mereduksi Islam sedemikian dahsyatnya? Dalam hal ini Akbar S. Ahmed dengan brilian mampu memberikan analisanya mengenai ciri-ciri posmodernisme yang menimbulkan konsekuensi globalisasi. Dalam bukunya yang fenomenal, Postmodernism and Islam : Predicament and Promise, dijelaksan bahwamedia merupakan ciri pendefinisi, dinamika sentral, Zeitgeist dari posmodernisme. Media menjadi instrumen yang kuat dalam memproyeksikan kultur dominan dari peradaban global.

4. Reaksi Pemikiran Islam Terhadap Globalisasi

Murtadho Muthahhari (1992: 133) berkata bahwa Alqur’an merupakan kitab suci untuk membangun manusia. Apabila Al-Qur’an dipahami dengan baik oleh siapa pun, termasuk oleh orang-orang diluar Islam, maka akan mendorong kandungan dan pesan-pesannya yang bersifat teoritis ( gagasan ) dapat diwujudkan menjadi realita. Itu sebabnya, sejumlah ilmuan barat juga mempercayai Al-Qur’an sebagai wahyu Tuhan. Sebuah keyakinan yang muncul setelah mereka menemukan sejumlah temuan sain modern yang sejalan dengan kandungan Al-Qur’an. Sebagai contoh Simson adalah salah seorang ilmuan tahun 1980-an yang pernah mengungkapkan bahwa A-Qur’an pastilah wahyu Allah karena mampu memprediksi temuan-temuan modern dalam embrio dan genetika.

Rendahnya dalam penguasaan dan pengembangan sains dan teknologi, umat Islam menjadi kelompok yang terbelakang. Mereka hampir diidentikkan dengan kebodohan, kemiskinan, dan tidak berperadaban. Sedangkan di sisi lain umat agama lain begitu maju dengan berbagai teknologi, dari teknologi pengamatan terhadap luar angkasa hingga teknologi pertanian atas dasar itulah, terjdi berbagai reaksi terhadap kemajuan pemeluk agama-agama lain. Secara umum, reaksi tersebut dapat dibedakan menjadi empat, yaitu tradisionalis, modernis, revivalis, dan transformatif.

  1. Tradisionalis

Pemikiran tradisionalis percaya bahwa kemunduran umat Islam adalah ketentuan dan rencana Tuhan. Hanya tuhan yang Maha Tahu tentang arti dan hikmah di balik kemunduran dan keterbelakangan umat Islam. Makhluk, termasuk umat Islam, tidak tahu tentang gambaran besar sekenario Tuhan, dari perjalanan panjang umat manusia. Kemunduran dan keterbelakangan umat Islam dinilai sebagai ujian atas keimanan, dan kita tidak tahu malapetaka apa yang terjadi dibalik kemajuan dan pertumbuhan umat manusia (Mansour Fakih dalam Ulumul Qur’an, 1997:11).

Akar teologi pemikiran tradisionalis bersandar pada aliran Ahl al-sunnah wa al-Jama’ah, terutama aliran ‘Asy’ariyah, yang juga merujuk kepada aliran Jabariyah mengenai prederteminisme (takdir), yakni bahwa manusia harus menerima ketentuan dan rencana tuhan yang telah terbentuk sebelumnya. Paham Jabariyah yang dilanjutkan oleh aliran ‘Asy’ariyah ini, menjelaskan bahwa manusia tidak memiliki free will untuk menciptakan sejarah mereka sendiri. Meskipun manusia didorong untuk berusaha, akhirnya Tuhan jualah yang menentukan.

Cara berfikir Tradisionalis tidak hanya terdapat di kalangan muslim pedesaan atau yang diidentikkan dengan NU, tapi sesungguhnya pemikiran tradisionalis terdapat di berbagai organisasi dan berbagai tempat. Banyak diantara mereka yang dalam sector kehidupan sehari-hari menjalani kehidupan yang sangat modern, dan mengasosiasikan diri sebagai golongan modernis, namun ketika kembali kepada persoalan teologi dan kaitannya dengan usaha manusia, mereka sesungguhnya lebih layak dikategorikan sebagai golongan tradisionalis (Mansour Fakih dalam Ulumul Qur’an, 1997:11).

  1. Modernis

Pengertian yang mudah tentang modernisasi ialah pengertian yang identik atau hamper identik dengan pengertian rasionalisasi. Dan hal itu berarti proses perombakan pola berpikir dan tata kerja lama yang tidak akliyah (rasional), dan menggantinya dengan pola berpikir dan tata kerja baru yang akliyah (rasional). Jadi sesuatu dapat disebut modern, kalau ia bersifat rasional, ilmiah dan bersesuaian dengan hukum-hukum yang berlaku dalam alam.[4]

Kaum modernis percaya bahwa keterbelakangan umat Islam lebih banyak disebabkan oleh kesalahan sikap mental, budaya, atau teologi mereka. Mereka menyerang teologi Sunni (‘Asy’ariyah) yang dijuluki sebagai teologi fatalistik (Mansour Fakih dalam Ulumul Qur’an, 1997:11).

Pandanagn kaum modernis merujuk p-ada pemikiran modernis Mu’tazilah, yang cenderung bersifat antroposentris dengan doktrinnya yang sangat terkenal, yaitu al-Khamsah. Bagi Mu’tazilah, manusia dapat menentukan perbuatannya sendiri. Ia hidup tidak dalam keterpaksaan (Jabbar). Akar teologi Mu’tazilah dalam bidang af’al al-‘ibad (perbuatan manusia) adalah Qadariah sebagai anti tesis dari jabariyyah

Di Indonesia, gerakan rasionalis pernah mempengaruhi Muhammadiyah sebelum perang dunia kedua. Agenda mereka dalah pemberantasan takhayul, bid’ah dan khurafat dan berlomba dalam kebaikan. Oleh karena itu mereka juga dikenal sebagai golongan purfikasi (Mansour Fakih dalam Ulumul Qur’an, 1997:11).

  1. Revivalis-fundamentalis

Kecenderungan umat Islam ketiga dalam menghadapi globalisasi adalah revivalis. Revivalis menjelaskan factor dalam (internal) dan factor luar (eksternal) sebagai dasar analisis tentang kemunduran umat Islam.

Bagi revivalis umat Islam terbelakang, karena mereka justru menggunakan ideology lain atau “isme” lain sebagai dasar pijakan dari pada menggunakan Al-Qur’an sebagai acuan dasar. Pandangan ini berangkat dari asumsi bahwa Al-Qur’an pada dasarnya telah menyediakan petunjuk secara komplit, jelas dan sempurna sebagai dasar bermasyarakat dan bernegara. Di samping itu mereka juga memandang isme lain seperti marxisme, kapitakisme dan zionisme sebagai ancaman. Globalisasi dan kapitalisme bagi mereka merupakan salah satu agenda barat dan konsepo non Islami yang dipaksakan kepada masyarakat muslim. Mereka menolak kapitalisme dan globalisasi karena keduanya dinilai berakar pada paham liberalism. Karena itulah, merka juga disebut kaum fundamentalis, mereka di pinggirkan sebagai ancaman bagi kapitalisme. (Mansour Fakih dalam Ulumul Qur’an, 1997:12).

  1. Transformative

Gagasan transformative merupakan alternative dari ketiga respon umat Islam di atas. Mereka penggagas (transformative) percaya bahwa keterbelakangan umat Islam disebabkan oleh ketidakadilan system dan struktur ekonomi, politik dan kultur. Ini adalah proses panjang penciptaan ekonomi yang tidak eksploitatif, politik tanpa kekerasan, kultur tanpa dominasi dan hegemoni, serta penghormatan terhadap hak-hak asasi manusia (human right). Keadilan menjadi prinsip fundamental bagi penganut transformative. Focus kerja mereka adalah mencari akar teologi, metodologi, dan aksi yang memungkinkan terjadinya transformasi social. (Mansour Fakih dalam Ulumul Qur’an, 1997:13)

 Sumber : Azis Fahrurrozi & Erta Mahyudin 2010, FIQIH MANAJERIAL  Jakarta PT. Pustaka Al-Mawardi

Madjid,Nurcholis.1998.ISLAM, KEMODERNAN DAN KEINDONESIAAN.Bandung;Penerbit Mizan.

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.